Kategori Bahasan : Tauhid
Kamis, 7 Februari 2013 09:34:53 WIB
Pada abad globalisasi ini betapa cepat pertukaran peradaban namun sebagian kita tidak memiliki filter untuk menyaring kebudayaan dan peradaban tersebut. Sehingga sebagian kita terjerumus dan jatuh ke dalam berbagai jurang kesesatan umat-umat yang lain. Sebagaimana telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Sesunguhnya kalian akan mengikuti kebiasaan umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sedepa demi sedepa, sehingga seandainya mereka masuk lubang dhab (sejenis kadal), niscaya akan kalian ikuti," maka para sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, (maksudmu) orang-orang Yahudi dan Nasrani?" (Jawab Rasulullah): "Siapa lagi?!". Jika kita melihat ke tengah masyarakat, tentu kita akan mendapatkan sebagian besar mereka sudah terpengaruh oleh kebudayaan dan peradaban umat-umat lain. Baik dengan sengaja menirunya dengan alasan model dan gaya, atau karena bodoh terhadap ajaran agama kita sendiri, tidak menyadari bahwa kebiasaan dan gaya tersebut merupakan perilaku umat jahiliyah dahulu. Tentang budaya dan kebiasaan orang-orang jahiliyah ini, maka Allah telah menjelaskan dalam banyak ayat, dan begitu pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits, agar umat ini terhindar dan tidak menyerupai kebiasaan mereka yang menyimpang dari kebenara
Kamis, 7 Februari 2013 09:19:30 WIB
Di antara kebiasaan orang-orang jahiliyah, ialah senang mencela keturunan orang lain. Barang kali perilaku ini dampak dari saling berbangga dengan keturunan. Sehingga untuk membela bahwa keturunannya lebih mulia, kemudian ia mencela keturunan orang lain. Misalnya mengingkari keturunan seseorang, mengingkari orang yang mengaku sebagai keturunan suku tertentu, atau menebarkan aib dan kejelekan keturunan seseorang atau suku tertentu. Ini semua merupakan kebudayaan dan kebiasaan jahiliyah yang harus dihindari oleh seorang muslim. Pada masa sekarang sering terjadi adanya orang tua yang mengingkari anaknya. Perbuatan ini termasuk dalam larangan hadits tersebut. Sebaliknya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang seseorang mengaku sebagai keturunan dari suku tertentu, padahal ia bukan dari mereka. Misalnya orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal ia bukan keturunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sesungguhnya kebohongan yang amat besar di sisi Allah, yaitu seseorang yang mengaku kepada selain bapaknya. Atau mengaku matanya melihat apa yang tidak ia lihat. Atau mengatakan terhadap Rasulullah sesuatu yang tidak beliau katakan.
Minggu, 25 Nopember 2012 05:22:46 WIB
Di antara banyak bentuk kesyirikan yang masih tersebar di tengah masyarakat pada umumnya adalah penggunaan jimat. Bagi mereka jimat diyakini sebagai pelindung (selain Allah Azza wa Jalla ) dari berbagai mala petaka, sakit dan celaka. Atau diyakini dapat mendatangkan manfaat tertentu seperti membawa keberuntungan, pelet pemikat, kemudahan rizki, kepercayaan untuk kenaikan jabatan dan lain sebagainya. Ada jimat berupa cincin /ali-ali, gelang, kalung, bahan-bahan logam berbagai bentuk, tali yang diikatkan pada salah satu anggota tubuh tertentu, ataupun bentuk-bentuk jimat lainnya. Penyakit berbahaya ini tidak hanya melanda masyarakat awam, tetapi juga tidak sedikit kalangan terpelajar atau cendikiawan yang ikut terbawa arus fenomena yang menyedihkan sekaligus menyesatkan ini. Ironisnya, ketika seseorang telah menjadi hamba jimat dan diperbudak oleh kesyirikan perangkap setan, ternyata dia tidak segan mengajarkan bahkan mengajak orang lain melakukan hal yang sama dan demikian seterusnya. Sebagai seorang Mukmin kita layak mengetahui hal ini, agar dapat menghindari dan mencegah diri sendiri dan orang lain terjerumus di dalamnya bahkan menyelamatkan mereka yang telah terjerembab masuk ke dalam lumpur kebinasaan
Selasa, 12 Juli 2011 22:57:00 WIB
Mari kita perhatikan komentar-komentar berikut: “Hati-hati lho, ini tempat angker, hih…!”, “Awas, janganjangan, ada penunggunya..!?”, “Jangan sembarangan ah, aku takut mereka marah…!”, “Kalau mau selamat, berikan dulu sesajian…!”, “Hih…, tempat itu ngeri.!”. Semua ini adalah tebak reka penulis terhadap kalimat-kalimat yang mungkin diucapkan oleh sebagian orang saat berada di tempat-tempat yang dianggap seram. Demikian itu sebagai ungkapan rasa takut dan kekhawatiran mendapat celaka yang terjadi atas diri mereka di tempat tersebut. Bukan rahasia, yang mereka takuti itu adalah para jin atau setan yang dianggap dapat memberikan madharat (celaka) pada kondisi-kondisi tertentu. Parahnya, setelah ketakutan itu menghantui diri manusia yang lemah tauhid, sering kali mereka berlindung dari celaka dan ketakutan dengan cara-cara yang dapat merusak kesucian tauhid, bahkan memusnahkannya. Mereka menyandarkan diri kepada berbagai bentuk sesajen; sesajian berbungkus mistik kelam untuk meredam ketakutan mereka dan mencari ketenangan. Tanpa mereka sadari, tauhid dalam jiwa mereka rusak, seakan tiada mengenal Allah Azza wa Jalla. Padahal, tak satu pun yang berhak diminta perlindungannya selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Kuasa. Tiada satu pun yang mampu memberikan perlindungan selain Allah Azza wa Jalla yang Maha Agung lagi Maha Kuasa atas segalanya. Satu hal yang dapat melegakan kita bahwa setan, binatang buas, manusia atau siapapun tidaklah dapat mendatangkan manfaat atau menimpakan madharat melainkan dengan izin Allah Azza wa Jalla.
Minggu, 3 April 2011 22:24:53 WIB
Sesungguhnya, termasuk yang penting bagi seorang pencari kebenaran, sebelum mempelajari sisi-sisi tauhid yang rinci dan mendetail dari Asma’ dan Sifat, hendaklah ia mengerti pentingnya tauhid ini, kedudukan, peranannya secara khusus dan dalam seluruh sisi agama ini secara umum. Keberadaan gambaran tersebut dalam benak seorang muslim akan memberi manfaat kepadanya dengan izin Allah. Sehingga dapat menekuni sisi ini sesuai dengan proporsi keurgenannya. Demikian pula dapat menambah kesenangannya untuk mempelajari, menekuni dan membahas masalah ini dengan segala cabang-cabangnya, sehingga seorang pencari kebenaran tidak akan disepelekan, apalagi untuk meningkatkan penguasaan ilmu yang bermanfaat. Hanyasaja sangat disesalkan, sebagian orang melihat tauhid ini dengan pandangan menyepelekan atau (sesuai dengan) kepentingan dan keadaannya. Mereka menyangka bahwa membahas masalah ini, tidak lebih dari (sekedar) upaya menyebutkan teori-teori yang berbeda-beda dan saling bertentangan dalam masalah dikukuhkan (penetapan) atau tidak dikukuhkan dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dan (menurut mereka), perkaranya tidak melebihi dari itu serta tidak akan keluar dari padanya.
Sabtu, 5 Maret 2011 23:26:22 WIB
Ibrahim At Taimi berkata,“Siapakah yang merasa aman dari bala’ (syirik) setelah Nabi Ibrahim?” Maksudnya, jika Nabi Ibrahim q sang kekasih Allah saja masih khawatir terjatuh ke dalam kesyirikan, masih adakah orang yang tidak khawatir atas dirinya terjatuh ke dalam kesyirikan setelah Nabi Ibrahim? Syirik merupakan kezhaliman yang paling zhalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling adil. Karena jika adil (diartikan dengan, pent.) meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya tanpa mengurangi sedikitpun, maka tauhid merupakan keadilan yang paling adil, karena tauhid merupakan hak Allah atas hambaNya, sebagaimana sabda Rasulullah n ,“Saya (Mu’adz bin Jabal) membonceng Nabi di atas keledai. Beliau berkata kepadaku,“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hamba dan apa hak hamba kepada Allah?” Saya jawab,“Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Beliau bersabda,“Hak Allah atas hambaNya adalah agar mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah tidak menyiksa orang yang tidak berbuat syirik.” Jika tauhid merupakan hak, maka apabila hamba-hambaNya telah mentauhidkanNya (menyerahkan kepada Allah yang menjadi hakNya, pent.) berarti mereka telah berlaku adil dengan seadil-adilnya. Jika mereka berbuat syirik, maka mereka telah berbuat zhalim. Karenanya, tauhid merupakan kewajiban yang paling wajib.
First Prev 1 2 3 4 5 6 Next Last
