Beberapa Hukum Seputar Sujud Tilawah Dalam Shalat

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Telah shahih bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit dari sujud, sehingga sujud tilâwah masuk dalam keumuman ini. Adapun yang dilakukan sebagian imam masjid apabila sujud tilâwah dalam shalat, yaitu bertakbir apabila hendak sujud dan tidak bertakbir ketika bangkit dari sujud, maka ini dibangun diatas pemahaman keliru tanpa ilmu; karena ketika melihat sebagia Ulama memilih dalam sujud tilâwah bertakbir apabila hendak sujud dan tidak bertakbir ketika bangkit, menyangka bahwa itu berlaku dalam shalat dan di luar shalat dan tidak demikian yang benar. Yang benar, apabila melakukan sujud tilâwah dalam shalat maka ia bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit sebagaimana telah lalu

Shalat Awwabin (Shalat Enam Rakaat Setelah Maghrib)

Ada lagi hadits lain yang mirip dengan ini yaitu: "Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma , beliau Radhiyallahu anhuma berkata, "Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib sebelum berkata-kata maka Allâh ampuni dosanya lima puluh tahun. Hadits ini disampaikan ibnu Abi Hâtim rahimahullah dalam al-Ilal 1/78 dann berkata: Abu Zur'ah rahimahullah berkata: Buanglah hadits ini, karena mirip hadits palsu. Abu Zur'ah rahimahullah juga berkata: Muhammad bin Ghazwân ad-Dimasyqi mungkar hadits. Kesimpulan keduanya hadits yang sangat lemah sekali dan tidak bisa dijadikan dasar dalam pensyariatan shalat enam rakaat setelah Maghrib. Wallahu a'lam.

Makmum Tertinggal Bacaan Al-Fatihah

Jika saudara mendirilan shalat sirriyah (shalat yang bacaannya al-fatihah dan suratnya tidak dikeraskan) atau shalat sendirian tidak berjama'ah, maka Ulama sepakat bahwa bacaan al-Fatihah adalah wajib, bahkan rukun shalat, setiap orang yang wajib membacanya. Jika saudara mendirikan shalat jahriyyah (shalat yang bacaannya al-Fatihah dan suratnya dikeraskan) dan saudara sebagai makmum, maka para Ulama berselisih pendapat, apakah makmum yang mendengar bacaan Imam wajib membaca al-Fatihah? Dan dalam masalah ini, pedapat yang lebih kuat menurut hemat penulis ialah makmum tetap berkewajiban membaca al-Fatihah. Saudara bisa membacanya seusai bacaan imam, atau disela-sela bacaan imam.

Makmum Wajib Baca al-Fâtihah?

Bahwa para Ulama sejak zaman dahulu telah berbeda pendapat dalam masalah ini, dan masing-masing memiliki dalil yang dianggap kuat, maka kita harus berlapang dada dengan perbedaan pendapat tentang masalah ini. Karena semua perbedaan pendapat di antara kaum Muslimin wajib dikembalikan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Maka bagi orang-orang yang berilmu bisa memilih pendapat yang paling kuat kemudian mengikutinya, tanpa menghukumi pihak lain berada dalam kesesatan. Adapun orang awam hendaklah dia memilih pendapat Ulama yang dia percayai ilmu dan amanahnya. Perbedaan pendapat ini tidak boleh menjadi sebab kebencian dan permusuhan di antara kaum Muslimin. Demikian juga kita tidak boleh menghukumi tidak sah shalat orang yang berbeda pendapat dengan kita dalam masalah ini.

Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Permasalahan shahih dan tidak shahih hadits yang menganjurkan kita untuk menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahud merupakan salah satu masalah yang juga diperselishkan para Ulama. Secara ringkas masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya dapat dijelaskan sebagai berikut : Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis : Pertama: Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali. Hadits-haditsnya lemah dan dihukumi syâdz oleh para Ulama. Kedua : Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. Ketiga: Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menelunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.

Sifat Duduk Tasyahud Akhir

Bagi yang ingin duduk iftirâsy pada raka'at terakhir mereka memiliki Salaf, yakni: Imam Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan para fuqaha dari Kufah. Demikian juga bagi yang ingin duduk tawarruk pada raka'at terakhir pada setiap shalat juga memiliki Salaf. Yaitu, yang pertama –tentunya- Abu Humaid Radhiyallahu anhu , perawi hadits sifat shalat Nabi itu sendiri, kemudian Imam asy-Syafi'i rahimahullah. Sedangkan bagi yang ingin duduk iftirâsy pada duduk akhir shalat dua raka'at, juga dipersilahkan, dan mereka juga memiliki Salaf, yaitu Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Masing-masing memiliki Salaf, dan masing-masing berhak untuk dikatakan Salafi.
BAHASAN :