Larangan Menyerupai Binatang Dalam Shalat

Dalam hadits disebutkan perintah agar manusia tidak menyerupai semua binatang dalam gerakan-gerakan shalat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin menoleh sebagaimana gaya musang menoleh, melarang duduk sebagaimana duduknya binatang buas, sujud dengan cepat sebagaimana cepatnya burung saat mematuk dan lain sebagainya. Saat shalat, kaum Muslimin bermunajat kepada Rabb mereka disamping shalat juga sebagai penghubung antara seorang hamba dengan Rabbnya. Oleh karena itu, semestinya ketika melaksanakan shalat, ia menunaikannya dengan cara terbaik. Terlebih lagi, gerakan-gerakan yang menyerupai gaya binatang itu memiliki hubungan erat dengan ketidakkhusyu'an pelaku.

Thuma'ninah

Sesungguhnya banyak sekali hadits-hadits yang berisi perintah menjaga kesempurnaan ruku’, sujud dan bangkit dari keduanya, dan menunjukkan bahwa hal itu termasuk rukun shalat. Dan shalat itu tidak sah tanpa dia. Hadits-hadits tersebut diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits, seperti al-Bukhâri, Muslim, Sunan Empat, dan lainnya. Sebagian hadits-hadits itu telah disebutkan di depan. Maka kewajiban setiap Muslim menjaga hal itu dengan sempurna dalam shalatnya. Dia harus menyempurnakan ruku’nya, i'tidalnya, sujudnya dan duduknya. Semua itu dilakukan dengan sempurna dalam shalatnya, dari awal sampai akhir, dengan cara yang bisa mendatangkan ridha Allâh Azza wa Jalla , sebagai pengamalan dari sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Shalat Dengan Pakaian Bergambar

Pada asalnya, hukum memakai pakaian adalah mubah, terserah pada setiap orang mau memakai pakaian berwarna ataupun corak apa saja. Namun, ada beberapa kondisi tertentu atau jenis gambar yang menjadikannya haram dipakai. Gambar di pakaian dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu ada gambar makhluk hidup seperti manusia dan hewan, dan ada pula gambar lainnya, seperti pohon, pemandangan, ukiran, kendaraan dan lain-lain. Untuk jenis gambar pertama, yaitu bergambar makhluk hidup, pakaian seperti ini dilarang memakainya, baik dalam shalat ataupun di luar shalat. Karena, makhluk hidup dilarang untuk digambar atau dilukis. Hal tersebut telah diancam oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya : "Sungguh orang yang melukis gambar ini akan diazab pada hari kiamat kelak. Mereka akan diminta untuk menghidupkan makhluk yang mereka lukis tersebut".

Hukum-Hukum Yang Berkaitan Dengan Shalat Berjama'ah

Batasan minimal untuk shalat jama’ah ialah dua orang. Seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama. Ibnu Qudamah menyatakan,“Shalat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini.” Demikian juga Ibnu Hubairoh menyatakan,“Para ulama bersepakat, batasan minimal shalat jama’ah ialah dua orang. Yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri di sebelah kanannya.” Shalat jama’ah dianggap sah, walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu a'nhu yang berbunyi: "Aku tidur di rumah bibiku, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bangun mengerjakan shalat malam. Lalu aku turut shalat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku ke samping kanannya. Demikian juga hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu : Sesungguhnya Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata,“Beliau menempatkanku di sebelah kanannya dan wanita (ibunya) di belakang kami.” Semakin banyak jumlah makmum, maka semakin besar pahalanya dan semakin disukai Allah.

Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat ‘Ashar

Syaikh al-Albani rahimahullah melanjutkan, "Mengkompromikan kedua hadits di atas mudah sekali. (Yaitu) Setiap perawi meriwayatkan ilmu yang diketahui. Dan orang yang mengetahui merupakan hujjah bagi orang yang tidak mengetahui. Nampaknya, setelah beberapa lama, akhirnya Ali Radhiyallahu anhu mengetahui dari beberapa shahabat Ali Radhiyallahu anhu apa yang telah beliau Radhiyallahu anhu nafikan pada hadits ini. Dan dalam sebuah riwayat yang shahih darinya bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat sesudah ‘Ashar. Dan riwayat itulah yang disebutkan dalam lanjutan perkataan al-Baihaqi, “Adapun riwayat Ali Radhiyallahu anhu yang sejalan dengan hadits Ali (di atas) adalah hadits yang disampaikan kepada kami…” Lalu beliau rahimahullah menyebutkan dari jalur Syu’bah dari Abu Ishaq dari ‘Ashim bin Dhamrah, ia berkata, “Kami pernah bersama Ali Radhiyallahu anhu dalam sebuah safar. Ia mengimami kami shalat ‘Ashar dua rakaat. Sesudah itu ia masuk ke dalam kemahnya, sementara aku melihat ia mengerjakan shalat dua rakaat.

Menyoroti Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi

Sebagian orang tidak lagi bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi setelah menyelesaikan arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan para jamaah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari Masjid Nabawi tidak lagi dijawab sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program arba’in belum selesai. Jika kita melihat kondisi para jamaah haji setelah sampai di negeri masing-masing, kita bisa melihat kondisi yang lebih memperhatikan lagi. Adakah ini karena keyakinan mereka bahwa mereka telah bebas dari neraka dan kemunafikan setelah menyelesaikan program arba’in ? jika demikian, maka amalan yang masih diperselisihkan ini telah memberikan dampal buruk atau dipahami secara salah. Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim – salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini- berkata, ”Perlu diketahui bahwa tujuan dari arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat jamaah. Adapun jika setelah pulang orang meninggalkan shalat jamaah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat baik.”
BAHASAN :