Kategori Risalah : Do'a & Dzikir

Shalawat Nariyah Dalam Timbangan

Kamis, 11 April 2013 21:51:14 WIB

Di kalangan kaum Muslimin Indonesia, amat banyak teks shalawat yang tersebar. Seperti, shalawat Fâtih, shalawat Munjiyât, shalawat Thibbul Qulûb, shalawat Wahidiyyah, dan -tidak lupa sorotan kita- shalawat Nâriyyah. Tidak hanya mencukupkan diri dengan teks shalawat yang dikarang kalangan klasik, mereka juga mengandalkan redaksi-redaksi yang diciptakan kalangan kontemporer. Contohnya, shalawat Wahidiyyah yang dibuat pada tahun 1963 oleh salah satu penduduk Kedunglo Bandar Lor Kediri, KH. Abdul Majid Ma'rûf. Selain itu, mereka juga sangat 'kreatif' dalam membuat aturan-aturan baca berbagai jenis shalawat tersebut, dari sisi jumlah bacaan, waktu pembacaan, hingga fadhilah (keutamaan) yang akan diraih oleh pembacanya. Seakan-akan itu semua ada landasannya dari syariat. Shalawat Nâriyyah merupakan salah satu shalawat yang paling masyhur di antara shalawat-shalawat bentukan manusia. Orang-orang berlomba untuk mengamalkannya, baik dengan mengetahui maknanya, maupun tidak memahami kandungannya. Bahkan justru barangkali orang jenis kedua ini yang lebih dominan. Banyak orang serta merta mengamalkannya hanya karena diperintah tokoh panutannya, kerabat dan teman, atau tergiur dengan "fadhilah" tanpa merasa perlu untuk meneliti keabsahan shalawat tersebut, juga kandungan makna yang terkandung di dalamnya.

Membaca Shalawat Nariyah, Mendatangkan Ketenangan ?

Rabu, 10 April 2013 23:37:08 WIB

Kebiasaan membaca shalawat Nariyâh sudah sangat populer, tidak terkecuali masyarakat Muslim di tanah air. Hal ini tiada lain –diantaranya- disebabkan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar yang disebutkan bagi orang yang membaca shalawat tersebut. Bahkan banyak dari mereka yang meyakini bahwa membaca shalawat ini merupakan perwujudan cinta dan pengagungan besar kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keterangan yang mereka sebutkan tentang shalawat ini, barangsiapa yang membaca shalawat ini sebanyak 4444 kali, dengan niat menghilangkan kesusahan atau memenuhi hajat (kebutuhan), maka semua itu akan terpenuhi (??!!). Ada juga yang mengatakan bahwa dengan membaca shalawat ini hati menjadi tenang dan dada menjadi lapang (??!!). Benarkah semua itu dapat dicapai dengan membaca shalawat tersebut?. Setiap orang yang beriman kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala wajib meyakini bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berdzikir kepada kepada Allâh Azza wa Jalla, membaca al-Qur’ân, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan sibuk dalam ketaatan kepada-Nya.

Baik Dan Halal, Adalah Syarat Diterimanya Doa

Jumat, 15 Maret 2013 16:21:01 WIB

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang makna al-muttaqîn (orang-orang yang bertakwa) pada ayat di atas kemudian ia menjawab: “Yaitu orang yang menjaga dirinya dari hal-hal (yang syubhat) kemudian tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak halal baginya”. Abu Abdullah as-Saji rahimahullah berkata, “Ada lima hal, yang dengannya amal menjadi sempurna: (1) beriman dengan mengenal Allah Azza wa Jalla, (2) mengenal kebenaran, (3) mengikhlaskan amal karena Allah, (4) beramal sesuai dengan Sunnah, dan (5) memakan yang halal. Jika salah satu dari kelima hal tersebut ada yang hilang, amal menjadi tidak naik. Jika engkau mengenal Allah Azza wa Jalla, namun tidak mengenal kebenaran, engkau menjadi tidak berguna. Jika engkau mengenal Allah dengan mengenal kebenaran, namun tidak mengikhlaskan amal, engkau menjadi tidak berguna. Jika engkau mengenal Allah, mengenal kebenaran, dan mengikhlaskan amal, namun tidak sesuai dengan Sunnah, engkau menjadi tidak berguna. Jika engkau memenuhi keempat syarat tersebut, namun makananmu tidak halal, engkau menjadi tidak berguna”. Adapun sedekah dengan uang haram, maka tidak diterima".

Tabarruk Dengan Meminum Air Zamzam

Kamis, 9 Agustus 2012 10:47:14 WIB

Zamzam adalah sumur yang diberkahi lagi terkenal berada di dalam Masjidil Haram di sebelah timur Ka’bah. Adapun asal-usul sumur ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma -dari hadits yang panjang- bahwa Ibunya Isma’il ketika merasakan dahaga, ia dan anaknya -Isma’il- mencari air. Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: “Maka ketika berada di Marwah, ia mendengar suara yang berkata: ‘Diamlah.” (sumber suara tersebut) menginginkan dirinya (Hajar) kemudian ia ingin mendengar dengan seksama lalu ia mendengar suara itu, maka ia berkata: ‘Sesungguhnya engkau telah memperdengarkan kepadaku, adakah bantuan darimu.’ Ternyata ia adalah Malaikat yang berada di tempat zamzam, maka Jibril mencari sumber air dengan tumitnya lalu dengan sayapnya hingga keluarlah air, lalu Ibu Isma’il membuat kolam, ia berkata dengan tangannya begini, lalu ia mulai menggayung air untuk meminumnya, hal tersebut dilakukan dengan cepat setelah menggayung.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Allah telah merahmati Ibu Isma’il, seandainya ia membiarkan zamzam, atau seandainya ia tidak menggayung, maka air zam-zam akan mengalir terus.” Nabi bersabda: “Maka ia meminumnya lalu menyusukan bayinya.” Air zamzam masih terus keluar dan dimanfaatkan oleh penduduk Makkah hingga kabilah Jurhum meremehkan kehormatan Ka’bah dan negeri Haram, lalu tempat keluarnya air zamzam tersebut menghilang.

Sifat Tabarruk Dengan Meminum Air Zam-Zam

Kamis, 9 Agustus 2012 10:28:12 WIB

Dan di antara Sunnahnya juga adalah berdo’a pada saat meminum air zamzam dengan apa yang ia inginkan dari do’a-do’a yang disyari’atkan dan ia berniat sesuka hatinya dari kebaikan dunia dan akhirat seperti berobat atau mengambil manfaat dan semacamnya, atas dasar hadits: “Zamzam itu menurut apa yang diniatkan peminumnya,” sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma ketika minum air zamzam ia berkata: “Ya Allah, aku memohon padamu ilmu yang bermanfaat, rizki yang banyak dan kesembuhan dari seluruh penyakit.” Dan di antara adab ketika minum air zamzam adalah apa yang diriwayatkan di dalam Sunan Ibni Majah dan selainnya bahwasanya seseorang datang kepada Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhu, maka ia (Ibnu ‘Abbas) berkata, “Darimana engkau datang?” Ia menjawab: “Dari sumur zamzam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Apa engkau minum darinya sesuai dengan apa yang seharusnya?” Ia menjawab, “Bagaimana itu?” Ibnu ‘Abbas berkata, “Jika engkau minum zamzam, maka menghadaplah ke Kiblat dan sebutlah Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, bernafaslah tiga kali dan perbanyaklah meminumnya, lalu apabila engkau sudah selesai, maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhya tanda di antara kita...

Hukum Wudhu’, Mandi Junub, Istinja’ (Cebok) Dengan Air Zamzam. Memindahkan Air Zamzam Keluar Negeri

Rabu, 8 Agustus 2012 23:35:26 WIB

Madzhab (pendapat) dari kebanyakan ulama menyebutkan bahwasanya tidak dimakruhkan berwudhu’ dan mandi dengan air zamzam. Dalam suatu riwayat dari Imam Ahmad bahwasanya ia memakruhkannya oleh karena telah ada kabar dari al-‘Abbas Radhiyallahu anhu bahwa ia berkata tentang air zamzam, “Aku tidak menghalalkannya bagi siapa yang mandi, ia hanya halal dan boleh untuk orang yang meminumnya.” Dan karena ia menghilangkan apa yang menghalangi (seseorang) dari shalat, ia seperti menghilangkan najis dengannya. Dan di antara dalil-dalil jumhur seperti apa yang telah disebutkan oleh an-Nawawi: “Nash-nash yang benar, jelas dan mutlak dalam segala air tanpa ada perbedaan, bahwasanya kaum Muslimin berwudhu’ darinya dengan tanpa diingkari.” Lalu ia berkata: “Tidaklah benar apa yang mereka sebutkan tentang al-‘Abbas Radhiyallahu anhu, namun hal itu hanya yang diriwayatkan dari ‘Abdul Muththalib.” Kalau pun hal itu benar dari al-‘Abbas, tidak boleh meninggalkan nash-nash yang ada karenanya. Maka, para sahabat kami menjawab -orang-orang bermazhab Syafi’i- bahwa hal itu mungkin saja dilakukannya pada waktu kesulitan air oleh sebab banyaknya orang yang minum.” Ibnu Qudamah menguatkan ketidakmakruhannya"

First  Prev  1  2  3  4  5  6  Next  Last

Bismillaahirrahmaanirrahiim Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasul termulia, juga kepada seluruh keluarga dan shahabatnya. Amma ba'du. Website almanhaj.or.id adalah sebuah media dakwah sangat ringkas dan sederhana, yang diupayakan untuk ikut serta dalam tasfiyah (membersihkan) umat dari syirik, bid'ah, serta gerakan pemikiran yang merusak ajaran Islam dan tarbiyah (mendidik) kaum muslimin berdasarkan ajaran Islam yang murni dan mengajak mereka kepada pola pikir ilmiah berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari website ini datangnya dari Allah Ta'ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati. Semua tulisan atau kitab selain Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahihah dan maqbul, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan dibenarkan. Barangsiapa yang melihat adanya kesalahan hendaknya meluruskannya. Hati kami lapang dan telinga kami mendengar serta bersedia menerima. Semoga Allah menjadikan upaya ini sebagai amalan shalih yang bermanfaat pada hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, melainkan orang yang menemui Rabb-nya dengan amalan shalih. Jazaakumullahu khairan almanhaj.or.id Abu Harits Abdillah - Redaktur Abu Khaulah al-Palimbani - Web Admin