Menggunakan Kuburan Sebagai Tempat Tinggal, Tempat Tidur, Menggembala

Para ahli fiqih dari kalangan Hanafiyyah menyebutkan bahwa menjadikan kuburan sebagai lahan tempat tinggal sementara hukumnya makruh; dan menjadikannya sebagai rumah tentu lebih dimakruhkan. Kemungkinan yang menjadi faktor dimakruhkan adalah karena ada unsur penghinaan terhadap kubur. Sebagaimana diketahui bahwa kehormatan mayat di dalam kuburnya sama dengan kehormatan orang yang hidup di dalam rumahnya. Kubur merupakan rumah untuk mayat; dan perbuatan -menjadikannya sebagai tinggal- ini juga termasuk hal-hal yang bisa menghilangkan kewibawaan (kehormatan) serta perilaku yang tidak sopan. Ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah menyebutkan makruh tidur di pekuburan. Mereka beralasan bahwa tidur di pekuburan bisa menyebabkan rasa cemas dan tidak tenang di hati karena bisa jadi dia melihat dalam mimpinya sesuatu yang bisa mengganggu akal sehatnya.

Ulama Bicara Tentang Penjagaan Kuburan

Para Ulama telah sepakat bahwa tidak boleh membongkar kuburan atau mengangkat mayat dari kuburannya setelah ditimbun dengan tanah, baik penimbunannya itu sudah lama atau baru saja kecuali ada alasan yang dibenarkan syari'at untuk melakukan pembongkaran. Karena lahan yang dijadikan kubur orang Muslim merupakan wakaf untuknya selama jasad atau anggota badannya masih ada; Sehingga kehormatannya tetap harus dijaga, dan ini disepakati oleh para Ulama. Dalilnya adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas yang artinya, "Sesungguhnya memecahkan tulang orang yang sudah mati sama hukumnya seperti memecahkan tulangnya tatkala dia hidup." Dan membongkar kuburan merupakan sebentuk siksaan dan penghinaan terhadap mayat. Ini juga termasuk kategori memecah tulang mayat, karena dengan demikian tulang belulangnya akan tercerai berai.

Memisahkan Pekuburan Muslim Dari Pekuburan Non Muslim

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Berdasarkan hadist di atas maka pekuburan Muslim harus dipisahkan dari pekuburan orang-orang kafir." Beliau rahimahullah juga menambahkan, "Juga karena praktek orang-orang Islam semenjak zaman Rasûlullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang Muslim tidak dikuburkan bersama orang-orang musyrik.". Ahlul Dzimmah[3] pernah menulis surat kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu , mereka berkata, "Hendaknya orang-orang Muslim tidak berdekatan dengan pekuburan kami." Maksudnya, mereka mengajukan syarat agar pekuburan mereka berada disisi lain tidak berdekatan dengan rumah Muslimin tidak pula dengan kuburan mereka. Ibanu Taimiyah rahimahullah berkata, "Pekuburan ahlu zimmah harus dipisahkan dari pekuburan kaum Muslimin dengan pembeda yang jelas, sehingga mereka tidak bercampur dengan kaum Muslimin, dan agar kaum Muslimin bisa membedakan kuburan mereka.

Pengadaan Kuburan

Imam Nawawi mengatakan, "Menggali kembali kuburan yang ada penghuninya tidak dibolehkan tanpa ada alasan yang dibolehkan oleh syariat. Hal ini telah disepakati oleh seluruh ulama mazhab Syafi’i. Namun, dibolehkan menggali kembali kuburan tersebut bila sudah diyakini bahwa jenazah di dalamnya sudah hancur menjadi tanah. Dalam kondisi seperti ini, boleh untuk dikuburkan jenazah lain di dalamnya, boleh pula memanfaatkan tanah tersebut untuk pertanian, pembangunan, maupun bentuk investasi lainnya. Bila tanah itu adalah tanah pinjaman, pemiliknya sudah boleh untuk memiliki kembali hak penuh pada tanah untuk dimanfaatkan sesukanya. Ini semua baru boleh dilakukan jika tidak ada lagi bekas jenazah di tanah tersebut baik berupa tulang-belulang ataupun bentuk lainnya.

Proporsional Itu Indah ! Studi Ringkas Tentang Keseimbangan Ajaran Islam Terkait Dengan Kuburan

Alangkah menyedihkan perilaku sebagian kalangan yang begitu bersemangat untuk menghiasi kuburan dengan bangunan, padahal itu jelas-jelas haram. Di kesempatan lain, saat mengantar jenazah ke pemakaman, dengan santai sambil ngobrol, mereka duduk-duduk di atas kuburan. Padahal ini juga terlarang. Jadi, larangan mana yang tidak mereka langgar? Terus maslahat apa yang sudah mereka realisasikan? Dari studi ringkas di atas, insya Allâh kita bisa melihat betapa ajaran Islam mengenai kuburan sangatlah proporsional dan tidak timpang sudut pandangannya. Semua mendapat porsi perhatian yang memadai. Baik kepentingan ahli kubur, maupun kepentingan orang yang masih hidup. Kehormatan orang yang meninggal tetap dihargai. Akidah masyarakat pun tetap terjaga. Jika aturan di atas tidak dijalankan, bisa dipastikan ada pihak yang dirugikan. Bisa jadi yang dirugikan adalah ahli kubur, karena kehormatannya dinodai. Atau lebih parah lagi, yang dirugikan adalah umat manusia, karena akidah mereka rusak. Ujung-ujungnya keindahan proporsionalitas ajaran Islam tentang kuburan, akan nampak buram, akibat ulah sebagian kaum muslimin sendiri.

Meninggal Dunia Di Lautan

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang mati tenggelam adalah syahid, sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah ditanya tentang seorang yang menaiki perahu untuk berdagang lalu tenggelam apakah dikatakan syahid? Beliau rahimahullah menjawab: Ya, dia mati syahid apabila tidak bermaksiat dalam pelayarannya tersebut. (Lihat Majmû al-Fatâwâ 24/293). Juga imam an-Nawawi memasukkannya kedalam syahid akhirat. Beliau rahimahullah menyatakan: Lafazh Syahadat (mati syahid) yang ada dalam syuhada’ akhirat maksudnya adalah syahid dalam pahala akherat bukan tidak dimandikan dan disholatkan. Demikian juga para Ulama mazdhab yang empat sepakat menganggap orang yang mati tenggelam sebagai syahid. Oleh karena itu para Ulama ahli fikih sepakat orang yang tenggelam dimandikan dan dikafani serta dishalatkan. Imam Ibnu Qudâmah rahimahullah berkata di kitab al-Mughni (3/476): Tidak kami ketahui dalam hal ini perbedaan pendapat.
BAHASAN :