Kategori Bahasan : Manhaj
Jumat, 24 Mei 2013 23:03:26 WIB
“Ayat yang mulia ini merupakan fondasi/dalil yang agung dalam meneladani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkataan, perbuatan, dan keadaan beliau. Orang-orang diperintahkan meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Ahzâb, dalam kesabaran, usaha bersabar, istiqomah, perjuangan, dan penantian beliau terhadap pertolongan dari Rabbnya. Semoga sholawat dan salam selalu dilimpahkan kepada beliau sampai hari Pembalasan”. Demikian juga Syaikh Abdur Rahmân bin Nâshir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan kaedah menaladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dengan menyatakan, “Para Ulama ushul (fiqih) berdalil (menggunakan) dengan ayat ini untuk berhujjah dengan perbuatan-perbuatan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa (hukum asal) umat beliau adalah meneladani (beliau) dalam semua hukum, kecuali perkara-perkara yang ditunjukkan oleh dalil syari’at sebagai kekhususan bagi beliau. Kemudian uswah (teladan) itu ada dua: uswah hasanah (teladan yang baik) dan uswah sayyi`ah (teladan yang buruk). Uswah hasanah (teladan yang baik) ada pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kamis, 16 Mei 2013 22:40:15 WIB
"Yang penting niat dan tujuannya baik", itulah ungkapan yang sering didengar dari para pelaku perbuatan yang menyelisihi syariat, ketika tidak lagi memiliki alasan lain. Ungkapan ini dijadikan tameng untuk menangkis teguran dan kritikan yang diarahkan kepadanya. Bahkan ada yang menjadikan ungkapan ini sebagai landasan untuk melegalkan dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan niat baiknya, baik dalam urusan dunia maupun agama. Tidak heran, kalau para terorisme yang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan tujuan mereka menamakan aksi dan teror mereka dengan jihad sehingga mereka siap mati dan berkorban demi hal itu, karena pemikiran mereka telah terkontaminasi oleh pemikiran sesat takfîri sehingga mereka meyakini hal tersebut suatu kebaikkan yang harus dilakukan dan diperjuangkan. Oleh sebab itu, mereka rela mati untuk memperjuangkan 'jihad' mereka ini. Dari sini dapat diketahui, mengapa mereka sulit untuk bertaubat dan meninggalkan aksi bom bunuh diri itu. Pasalnya, mereka telah meyakininya sebagai kebaikan dan tidak pernah ada dalam sejarah orang yang bertaubat dari kebaikan. Hal ini menjelaskan kepada kita akan bahayanya pemikiran yang sesat (syubhat). Imam Sufyân ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: "Bid'ah lebih disukai oleh iblis dari maksiat, karena pelaku maksiat mudah bertaubat, dan pelaku bid'ah tidak bisa (sulit) bertaubat"
Sabtu, 11 Mei 2013 22:09:25 WIB
Dahulu, orang-orang mulia dari kaum muslimin melarang kaum Muslimin untuk keluar dan ikut berperang saat fitnah (pemberontakan; perang antar umat Islam karena dunia berkobar). Sebagaimana Abdullâh bin Umar, Sa’id bin al-Musayyib, ‘Ali bin al-Husain, dan lainnya yang melarang pemberontakan terhadap Yazîd pada tahun Harrah (waktu pemberontakan penduduk Madinah). Begitu juga al-Hasan al-Bashri, Mujâhid, dan lainnya yang melarang ikut memberontak pada waktu pemberontakan Ibnul Asy’ats berkobar. Oleh karena sikap Ahlus Sunnah untuk meninggalkan peperangan saat fitnah (perang antar umat Islam karena dunia; ketika tidak jelas kebenaran; dan semacamnya) berdasarkan hadits-hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ahlus Sunnah menyebutkan masalah ini dalam aqidah-aqidah mereka, dan mereka memerintahkan bersabar dalam menyikapi kezhaliman para penguasa dan tidak memerangi mereka. Walaupun banyak ahli ilmu dan agama yang telah ikut berperang di zaman fitnah. Karena memang masalah memerangi bughât (pemberontak) dan amar ma’ruf nahi mungkar mirip dengan berperang di zaman fitnah, namun bukan di sini penjabarannya.
Senin, 29 April 2013 23:57:45 WIB
Sebagian orang ada yang menampakkan bahwa dirinya sedang melakukan pembelaan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun ironisnya, ia justru tidak menaati perintahnya atau tidak menjauhi larangan dan tidak menghiraukan peringatan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan, terkadang kita temukan, sebagian dari mereka bermalasan dalam menjalankan shalat fardhu, mencukur jenggot, isbâl (memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki) dan berbuat berbagai macam maksiat dan kemungkaran. Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Pengagungan kepada para utusan Allâh diwujudkan dengan cara membenarkan berita yang mereka kabarkan dari Allâh, menaati perintah mereka, mengikuti, mencintai dan berwala kepada mereka, bukan (sebaliknya,) malah mendustakan risalah yang mereka emban, menomorduakan mereka atau berbuat melampaui batas dalam mengagungkan mereka. Justru ini adalah bentuk kekufuran terhadap mereka, pelecehan dan permusuhan terhadap mereka." Jadi, Ittiba' (mengikuti) rasul adalah barometer untuk mengukur sejauh mana kejujuran orang yang mengaku-aku mengagungkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Minggu, 31 Maret 2013 21:53:40 WIB
Statemen 'Berakidah Salafi, Berakhlak Tablighi, Jalinan Ukhuwah Model Ikhwani, Ketekun Ibadah Ala Sufi' sering dilontarkan sebagian kalangan sebagai sebuah impian untuk mewujudkan karakteristik Muslim ideal, menurut mereka tentunya. Tampaknya, salah satu pemicu munculnya ide ini adalah fenomena praktek banyak pengikut beragam kelompok Islam yang cenderung mengkonsentrasikan diri dalam pengamalan sebagian sisi ajaran agama, dan kurang mengindahkan sisi lainnya. Sehingga timbullah ide penggabungan 'kelebihan' masing-masing kelompok, guna menciptakan potret sosok 'Muslim ideal'. Yang jadi pertanyaan, perlukah melakukan kombinasi seperti di atas? Tidak cukupkah manhaj Salaf membentuk seorang Muslim sejati ? Bukankah manhaj Salaf (ajaran Ahlus Sunnah) adalah ajaran Islam itu sendiri, sebagaimana dijelaskan Imam al-Barbahâri rahimahullah (w. 329 H)? Sehingga jika seorang telah bermanhaj Salaf secara totalitas; maka otomatis ia akan menjadi Muslim ideal! Tentunya jawaban para pembaca akan amat beragam; tergantung ideologi yang dianut masing-masing. Mungkin akan ada yang menjawab, "Ya, kita memerlukan inovasi tersebut! Untuk menciptakan sosok Muslim ideal, tidak cukup hanya dengan bermanhaj Salaf! Sebab mereka yang menisbatkan dirinya kepada manhaj Salaf tidak mencerminkan gambaran Muslim ideal!".
Jumat, 18 Januari 2013 06:48:05 WIB
Berdasarkan apa yang disebutkan di atas, maka semua gerakan dakwah yang berdiri tegak di atas dakwaan dan simbol ishlah (perbaikan), namun tidak memfokuskan perhatian dan tidak bertolak dari upaya perbaikan tauhid, tentunya akan terjadi penyelewengan dan penyimpangan seiring dengan jauhnya dari pokok yang sangat penting ini. Sebagaimana perbuatan orang-orang itu telah menghabiskan usia mereka dalam memperbaiki mu’amalah antara manusia, namun mu’amalah mereka terhadap al Khaliq (Allah) atau ‘aqidah mereka terhadap-Nya menyimpang jauh dari petunjuk Salafush-Shalih. Sama halnya dengan mereka yang telah menghabiskan umurnya dalam upaya menempati dan menduduki sistem pemerintahan, dengan harapan akan mampu mengadakan perbaikan pada manusia melalui jalur tersebut, atau dengan mengerjakan berbagai kegiatan politik untuk mengejar dan meraih kekuasaan, namun demikian, mereka tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kerusakan ‘aqidah mereka dan kerusakan ‘aqidah orang-orang yang menjadi objek dakwah mereka. Peran ‘aqidah dalam kehidupan amat penting, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menekankan kepada para da’i, agar senantiasa mencurahkan perhatian kepada 'aqidah dan mengawali dakwahnya dengan 'aqidah.
First Prev 1 2 3 4 5 6 Next Last
