Taqlid Yang Wajib

TAQLID YANG WAJIB[1]

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari



Setiap orang diperintahkan oleh Allâh untuk mengikuti wahyu yang telah diturunkan lewat RasûlNya. Mengikuti wahyu disebut ittibâ’. Demikian juga mengikuti seorang ‘alim karena dalil yang dia bawakan dalam suatu permasalahan disebut ittibâ’. Sedangkan mengikuti pendapat orang lain atau meniru perbuatan orang lain tanpa berdasarkan dalil maka bukanlah ittibâ' namun taqlîd. Lalu bagaimana hukum taqlîd ? Pada edisi yang lalu kita sudah membahas taqlîd yang diharamkan. Pada edisi ini kita akan membahas lawannya yaitu taqlîd yang diwajibkan.

APAKAH ORANG AWAM BOLEH TAQLID?
Pada dasarnya, manusia diperintahkan untuk ittibâ’, bukan taqlîd. Namun bagaimana dengan orang-orang awam yang mereka tidak mampu memahami dalil ? Ada beberapa pendapat tentang taqlîd yang dilakukan orang awam :

1.Jumhur ulama berpendapat, orang awam atau yang semisalnya wajib (boleh) taqlîd kepada orang ‘âlim.

2. Pendapat kedua, taqlîd bagi orang awam hukumnya haram. Pendapat ini, mengharuskan setiap orang berakal memeriksa dalil dan berijtihad secara mutlak, baik dalam masalah ushûl (pokok) maupun furû’ (cabang-cabang). Pendapat adalah pendapat sebagian Qadariyah (Mu’tazilah) dan Ibnu Hazm.

3. Orang awam wajib taqlîd kepada imam yang ma'shûm (yang terbebas dari kesalahan dan dosa-red). Ini adalah pendapat Syi’ah Imâmiyah.

Pendapat yang râjih (kuat) adalah pendapat pertama, berdasarkan dalil-dalil yang akan kami sampaikan nanti, insya Allâh. Sedangkan pendapat kedua dan ketiga, itu adalah pendapat yang bertentangan dengan dalil-dalil yang membolehkan taqlîd bagi orang awam kepada orang ‘âlim tanpa memilih seorang ‘âlim tertentu. Walaupun orang ‘âlim itu tidak ma'shûm, karena menurut Ahlus Sunnah, tidak ada yang ma'shûm dari umat ini kecuali Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

PENJELASAN ULAMA
Berikut ini adalah perkataan sejumlah ulama yang memandang orang awam boleh bertaqlid kepada orang ‘âlim :

1. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Para Ulama tidak berselisih pendapat tentang keharusan orang-orang awam bertaqlîd kepada ulama mereka. Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allâh :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mengetahui [an-Nahl/16:43]

Para Ulama juga sepakat, orang buta yang kesusahan mengetahui kiblat harus taqlîd (ikut) orang lain yang dia yakini mengetahui kiblat. Demikian juga orang yang tidak memiliki ilmu dan wawasan tentang agama, dia harus taqlîd kepada ulama’nya”. [Jâmi’ Bayân Ilmi wa Fadhlihi, 2/140]

2. Abu Hamîd al-Ghazâli rahimahullah mengatakan dalam kitab al-Mustash-fa, 2/124, “Orang awam wajib meminta fatwa dan mengikuti ulama’.”

3. Ibnu Quddâmah rahimahullah berkata dalam Raudhatun Nazhîr (hlm. 206), “Taqlîd dalam masalah furû’ (cabang) itu boleh berdasarkan ijmâ’”.

4. Asy-Syathibi rahimahullah mengatakan dalam kitab al-I’tishâm 2/343, “Kedua : orang itu muqallid murni, dia sama sekali tidak memiliki ilmu untuk memutuskan. Orang ini harus memiliki orang yang akan menuntuntunnya, hakim yang akan menghukuminya, serta seorang ‘alim yang dia teladani”.

5. Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan dalam Talbîs Iblîs hlm. 79, “Sedangkan dalam masalah-masalah furû’ (fiqih), karena kejadiannya banyak, bagi orang sudah untuk memahaminya serta dalam masalah ini orang awam dekat kepada kesalahan, maka yang terbaik bagi mereka adalah taqlîd dalam masalah ini kepada orang yang telah meneliti dan mengkaji”.

6. Al-Amidi rahimahullah berkata, “Menurut para ahli ushûl fiqih yang sudah melakukan penelitian, orang awam dan orang yang tidak memiliki kemampuan berijtihâd, walaupun memiliki sebagian ilmu yang diakui dalam ijtihâd, ia wajib mengikuti perkataan ulama mujtahidîn dan memegangi fatwanya”. [al-Ihkâm 4/228]

7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah raimahullah berkata, “Orang yang tidak mampu mencari dalil boleh bertaqlîd kepada orang ‘alim”. [Majmû’ Fatâwâ, 19/262]

8. Syaikh Hamd bin Nâshir bin Mu’ammar dalam risâlah al-Ijitihâd wat Taqlîd mengatakan, “Orang-orang awam yang tidak memiliki ilmu fiqih dan hadits serta tidak mengkaji perkataan ulama, maka mereka ini harus bertaqlîd, dengan tanpa ada perbedaan pendapat diantara para ulama, bahkan beberapa ulama menyebutkan adanya ijmâ’ dalam hal itu”. [Majmû’atur Rasâil wal Masâil an-Najdiyah. Lihat, Risâlah al-Ijtihâd wat Taqlîd, 2/6, 7, 21]

Diantara dalil-dalil yang menjadi landasan pendapat di atas adalah sebagai berikut:

1. Perintah Allâh untuk bertanya kepada ahli ilmu. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelummu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [an-Nahl/16: 43]

Sisi pengambilan dalil dari ayat ini yaitu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan orang yang tidak berilmu agar bertanya kepada yang berilmu. Ini berarti boleh mengamalkan pendapat orang yang ditanya. Walaupun rangkaian ayat ini berkaitan dengan perintah bertanya kepada orang ‘alim Ahli Kitab, tetapi ayat ini dapat digunakan dalam keumuman maknanya, sebagaimana kaidah dalam ilmu tafsir. Dan pertanyaan dalam ayat itu meliputi pertanyaan tentang masalah yang ada nashnya, maka yang ditanya harus menjawab dengan nash; Dan mencakup juga masalah yang tidak ada nashnya, sehingga dia menjawab dengan ijtihâd. Mengikuti ijtihâd orang ‘alim ini adalah taqlîd. Ini menunjukkan taqlîd itu boleh. Adapun berpegang dengan pendapat orang ‘alim yang menyelisihi nash, maka ini merupakan ta’asshub (fanatisme) terhadap sebagian ahli fiqih. Ini termasuk taqlîd yang haram.

2. Firman Allâh Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu. [An-Nisâ’/4: 59]

Dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar mentaati ulil amri. Ulil amri adalah umarâ’ (penguasa) dan ulama’. Berdasarkan perintah Allah ini, maka mentaati mereka adalah wajib, baik dalam perkara yang diperintahkan oleh Allâh dan RasulNya atau dalam perkara yang mubah. Ini berarti taqlîd kepada ulama’ dalam perkara yang bukan maksiat, hukumnya boleh.

3. Ijmâ’ sahabat tentang keberadaan orang yang bertanya dan orang yang ditanya. Sejak dulu, orang-orang awam meminta fatwa ulama’, dan ulama memberi fatwa dengan tanpa menyebutkan dalil dan tidak menyuruh orang awam untuk meraih derajat ijtihâd. Kondisi seperti ini tidak ada yang mengingkari. Ini telah diketahui pasti dan telah mutawâtir, bahwa para ulama’ dahulu berfatwa sedangkan orang-orang awam bertanya kepada ulama’. (1/22)

4. Dalil secara akal, yaitu ulama’ yang berijtihad dalam masalah furu’ terkadang benar sehingga mendapatkan dua pahala dan terkadang salah sehingga mendapatkan satu pahala. Jadi seorang mujtahid tetap mendapatkan pahala, ketika ijtihadnya salah dan benar. Maka, orang awam boleh taqlîd pada masalah itu, bahkan wajib –menurut sebagian ulama-.

5. Seandainya orang awam tidak boleh bertaqlîd, dan mereka diharuskan ijtihâd, maka urusan-urusan dunia akan terbengkelai, tidak ada yang mengurusi pertanian, perkebunan dan peternakan, perkerjaan menjadi terlantar, sehingga mengakibatkan kekacauan. Karena untuk memiliki keahlian yang bagus dalam memahami dalil agar bisa mengetahui hukum-hukum agama berdasarkan dalilnya membutuhkan sarana-sarana yang akan menghabiskan waktu seseorang. Jadi mewajibkan pada semua orang untuk berijtihad, termasuk orang awam, merupakan kesusahan besar yang tidak mungkin dibawa oleh syari’at.

Inilah sedikit pembahasan tentang orang awam boleh bertaqlîd kepada ulama’. Semoga bermanfaat bagi kita.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Dirangkum oleh Ustadz Muslim dari kitab at-Taqlîd wal Iftâ’ wal Istiftâ’, karya syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi
BAHASAN :