Benteng Pertahanan Kita [Umat Islam] Terancam Dari Dalam Serta Masa-Masa Yang Menipu

KENYATAAN (REALITA) UMAT ISLAM DAN BERITA KENABIAN RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM


Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]


[2]. Benteng Pertahanan Kita (Umat Islam) Terancam dari Dalam

Agar umat Islam tidak sadar dari pengaruh suntikan racun yang berisi bakteri penyakit mematikan yang disuntikan kedalam tubuhnya, dan dalam rangka menyesatkan, menggelapkannya serta menutupi kenyataan yang sebenarnya dari pandangan mereka, maka para tokoh pimpinan orang-orang kafir membangun produk-produk dalam tubuh kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk mengokohkan racun-racun dari dalam sehingga tidak nampak akibat jelek dari penyakit yang berbahaya ini kecuali setelah jangka waktu yang sangat panjang dan pada saat itu menyulitkan para dokter dan membuat kebingungan para cendekiawan (dalam mengobatinya, -pent).

Produk-produk yang selalu dibesar-besarkan oleh musuh Islam di telinga umat Islam dan membawa misi apa yang telah disuntikaan kepadanya adalah para pemimpin yang mengajak kepada api nereka. Mereka berasal dari bangsa kita, berbicara dengan bahasa kita dan mengaku punya kepedulian terhadap umat dan beramal untuk membawa kemajuan kita.

Oleh karena itu, sesungguhnya yang menanam bibit penyakit tersebut kedalam tubuh umat Islam adalah anak-anak Islam sendiri. Akan tetapi Nabi yang penuh rahmat dan pemberi petunjuk Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan suatu kesamaranpun dalam masalah ini. Beliau menjelaskannya dengan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala dan bukan reka-reka darinya. Maka dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu terdapat penafsiran kelompok orang-orang hasil didikan dan pembinaan langsung para tokoh pemimpin kafir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Ya, para da'i yang mengajak ke pintu-pintu neraka (Jahannam), barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka jerumuskan ke dalam neraka. Aku bertanya lagi : Wahai Rasulullah berilah tahu kami sifat-sifat mereka ? Beliau menjawab : Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita".

Ini adalah sifat pertama yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka dari bangsa Arab baik secara nasab atau bahasa.

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/36.

"Yaitu dari bangsa, berbahasa dan beragama seperti kita, dan ada padanya isyarat bahwa mereka dari bangsa Arab, berkata Ad-Dawudi : 'Yaitu dari bani Adam, berkata Al-Qaabisi : maknanya secara lahiriyah berada di atas agama kita akan tetapi mereka menyelisihi kita secara bathin karena kulit sesuatu adalah permukaannya dan dia asalnya adalah selaput penutup tubuh. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Arab, adalah warna kulit mereka umumnya sawo matang (kecoklat-coklatan) dan warna hanya tampak dari kulitnya".

Dan dalam riwayat lain.

"Artinya : Dan akan ada dikalangan mereka orang-orang yang berhati syaithan dengan jasad manusia" [Diriwayatkan oleh Muslim 12/236-237 An-Nawaawi]

Ini adalah sifat kedua yang menjadi ciri-ciri mereka yaitu mereka menampakkan kepedulian atas umat, kemaslahatan, kepemimpinan, kemerdekaan dan kemajuan ... mereka menyenangkan umat dengan lisan-lisan mereka, namun hati-hati mereka tidak menginginkan kecuali melaksanakan apa yang telah mereka pelajari dan dapatkan dari pembinaan majikan-majikan mereka dari kalangan orang-orang Salib dan Yahudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka" [ Al-Baqarah : 120]

Inilah yang telah dirancang para majikan dari bangsa Eropa dan Yahudi dan dilaksanakan oleh para budak dari orang rendahan umat ini yang menjadi kuat di tanah air kita karena mereka telah tinggal menetap dan memakan kekayaannya akan tetapi telah terdidik oleh pembinaan kelompok syaithan dan tentara iblis yang telah mendidik mereka diatas doktrin-doktrin salibisme yang membunuh. Sesungguhnya dia perlahan-lahan akan tetapi pasti berdaya guna.

Dan inlilah yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya.

"Artinya : Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian)" [At-Taubah : 8]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan : 'Kami telah beriman'. Dan bila mereka kembali kepada syaitah-syaithan mereka, mereka mengatakan : 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok" [Al-Baqarah : 14]

Demikianlah mereka menakut-nakuti bangsa dan umat dan ditaati serta diserahkan kepada mereka tali kepemimpinan, karena umat ini telah menyimpang dari Manhaj Ilahi. Merekapun menyeret umat Islam kedalam Api neraka dan menginginkan agar umat menjadi penghuninya.

Mereka tidak pernah berhenti berdakwah kepada kesesatan dan kemungkaran. Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, partai-partai, muktamar-muktamar dan konperensi-konperensi, oleh karena itu mereka disifati dengan nama du'at (para penyeru/ dai'-dai').

Dan kata du'at dengan didhomahkan huruf dalnya adalah bentuk jamak dari da'i yang bermakna jama'ah yang melaksanakan urusannya dan menyeru manusia untuk menerimanya.[Lihat Aunul Ma'bud 11/317]

Peringatan dan penegasan kenabian ini adalah isyarat telunjuk untuk orang-orang yang menderita buta warna sehingga mereka menjadi terompet semata, yang mengulang apa yang disampaikan kepadanya dari balik laut atau luar perbatasan !

Sesungguhnya ia merupakan penggugah umat Islam agar merekan berhati-hati terhadap tipu daya orang-orang kafir dan sadar lalu tidak mengikuti jalannya orang-orang mujrimin.

Sesungguhnya kita telah mengetahui pengaruhnya dalam sejarah kaum muslimin dan telah kita lihat kejelekannya di dunia manusia seluruhnya. Adapun contoh-contohnya sangat banyak sekali dan itu turun temurun pada setiap masa dan tempat.

Para du'at kepada kesesatan, sampai saat ini senantiasa mengangkat propagandanya menyeru manusia ke neraka, semoga Allah melindungi kita dari mereka.

Maka inilah para penyeru demokrasi berkampanye, inilah pula tokoh-tokoh sosialis berkoar-koar, dan inilah mereka penyeru nasionalisme berteriak-teriak, sementara orang-orang pun mengikuti mereka di belakang.

Dan dengan demikian pembuat Dakhan adalah pendahulu para penyeru kesesatan dan dengan ini juga jelaslah bahwa mata rantai persekongkolan (konspirasi) terhadap Islam, pemeluk dan negaranya memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam.

[3]. Masa-Masa Yang Menipu

Sesunguhnya laihiriyah masa-masa ini baik, akan tetapi dibaliknya tersimpan kerusakan. Bukankah Rasulullah telah mengatakan dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Muslim.

"Artinya : Dan akan ada dikalangan mereka orang-orang yang berhati syaithan dengan jasad manusia".

Ini terkadang menipu kebanyakan manusia yang hanya memandang kepada lahiriyah sesuatu namun pandangan terhadap hakikat sesuatu itu tertutup. Akibatnya, mereka tidak memperhatikan sama sekali perbaikan kerusakan-kerusakan dari awal-awalnya sehingga tidak membesar dan melebar sobekan pada kain tambalan.

Sesunguhnnya Ad-Dakhan berkembang mematikan kebaikan sehingga mengalahkannya lalu muncullah masa-masa yang penuh kejelekan dan permulaan munculnya pada du'at kesesatan dan kelompok-kelompok sesat.

Sesungguhnya para pembuat fitnah sangat bersemangat dalam beramal sedangkan orang-orang yang berada dalam kebenaran lengah dan terlelap. Buktinya adalah, dakhan ini membesar sampai mengalahkan kebenaran, menyerang kebenaran dan ahlinya,menyerahkan urusan kepada selain ahlinya serta meletakkan kebenaran bukan pada tempatnya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu beliau berkata telah bersabda Rasulullah.

"Artinya : Akan datang masa-masa yang menipu dimana-mana para pendusta dibenarkan dan didustakan orang-orang yang jujur, para penghianat diberi amanat dan orang yang amanah dianggap penghianat dan berbicara pada masa itu para ruwaibidhah. Lalu ada yang mengatakan : 'Siapakah Ruwaibidhah itu ? Beliau menjawab : 'Orang yang bodoh berbicara pada permasalahan umat".[1]


[Disalin dari Kitab Limadza Ikhtartu Al-Manhaj As-Salafy, edisi Indonesia Mengapa Memilih Manhaj Salaf (Studi Kritis Solusi Problematika Umat) oleh Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Ied Al-Hilaly, terbitan Pustaka Imam Bukhari, penerjemah Kholid Syamhudi]
_________
Foote Note.
[1] Shahih Lighoiri, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (4036), Ahmad (2/291), Al-Haakim (4/465. 466 dan 512), Al-Khoraaithiy dalam Makaarimul Akhlaaq hal.30 dan Asy-Syazriy dalam Amaalinya 2/256 dan 265 dari jalan periwayatan Abdil Malik bin Qudaamah Aljumahiy dari Ishaaq bin Abi Furaat dari Al-Muqbiriy dari Abi Haurairah beliau berkata : Bersabda Rasulullah : Lalu menyebut haditsnya.
Berkata Al-Haakim : sanadnya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahaabiy.
Saya berkata : Tidaklah seperti keduanya katakan, karena sanad hadits ini lemah, ada padanya Abdul Malik bin Qudaamah Al-Jumaahiy yang telah dilemahkan oleh Adz-Dzahabiy dalam beberapa kitabnya dan telah dinukil oleh banyak ulama pelemahan beliau ini. Juga ada Ishaaq bin Ai Furaat, dia itu majhul (tidak ada yang mentadinya) sebagaimana dalam At-Taqriib. Akan tetapi hadits ini memiliki jalan periwayatan yang lain yang menguatkannya : dikeluarkan oleh Ahmad 92/338 dari jalan periwayatan Fulaih bin Sulaiman dari Sa'id bin Ubaid dari Abu Hurairah secara marfu'.

Aku berkata : semua perawinya tsiqah kecuali Fulaih maka ad celaan dari sisi hafalannya maka hadits Abu Hurairah ini dengan dua jalan periwayatan tadi menjadi hasan akan tetapi hadits ini memiliki syahid-syahid yang mengangkatnya shahih...dst..
BAHASAN :