Selasa, 18 Juni 2013 11:09:50 WIB
Kategori : Al-Qur'an : Ilmu
Allah Azza wa Jalla mengabarkan bahwasanya beliau sama dengan para rasul lainnya. Beliau menyeru apa yang mereka seru. Semua kebaikan yang ada pada diri para rasul juga ada pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Keburukan apapun yang ditiadakan dari para rasul maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pantas berlepas diri darinya. Syariat agama beliau (Islam) menjadi acuan kebenaran syariat-syariat yang lain. Begitu pula, kitab beliau (al-Qur’ân) menjadi barometer kebenaran bagi kitab-kitab sebelumnya. Segala kebaikan yang terdapat pada kitab-kitab dan agama-agama sebelumnya, telah terhimpun pada agama dan kitab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Bahkan terdapat sisi-sisi keindahan dan keunggulan yang tidak ada di ajaran dan kitab terdahulu. Al-Qur’ân menetapkan kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menyebutkan bahwasanya beliau adalah seorang ummi (buta huruf) yang tidak bisa membaca ataupun menulis. Tidak pula pernah duduk belajar bersama seseorang yang mengetahui kandungan kitab-kitab terdahulu. Beliau pun tidak pernah mengumpulkan orang untuk menyusun al-Qur’ân.
Senin, 17 Juni 2013 10:55:43 WIB
Kategori : Al-Qur'an : Ilmu
Contoh yang lain adalah perintah Allah Azza wa Jalla untuk menyampaikan hukum-hukum syariat, mengingatkan manusia serta perintah agar mengajarkan hukum syari'at kepada manusia. Maka segala hal yang menjadi sarana untuk melaksanakan perintah ini yaitu menyampaikan hukum-hukum syariat kepada para mukallaf masuk dalam perintah Allah Azza wa Jalla di atas. Seperti perintah agar menyampaikan tentang hilâl untuk penetapan puasa, hari raya dan haji. Maka perintah menyampaikan di sini meliputi perintah menyampaikan dengan suara, atau tembakan atau cara yang lebih cepat seperti mesin faksimile dan lain-lain. Demikian juga perintah menyampaikan ini mencakup perintah terhadap setiap sarana pendukung untuk menyampaikan suara kepada pendengar, seperti berbagai perangkat modern saat ini. Tidak adanya berbagai perangkat ini pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak menjadikan perangkat-perangkat ini terlarang dalam Islam. Al-Qur’ân tidak melarang penggunaan sesuatu, selama bermanfaat bahkan bagi orang bisa memahami al-Qur’ân dengan baik; sehingga dia akan mendapati bahwa al-Qur'an menganjurkan penggunaannya.
Minggu, 16 Juni 2013 10:48:33 WIB
Kategori : Al-Qur'an : Ilmu
Dalam sebagian ayat, kaum Muslimin dilarang berwalâ’ (loyal) kepada orang-orang kafir. Juga dilarang mencintai atau menjalin hubungan dengan mereka. Sementara di tempat lain, kaum Muslimin diperintahkan berbuat baik kepada yang memiliki hak dan mempergauli mereka dengan baik seperti orang tua yang kafir atau yang semisalnya. Berikut ini adalah ayat Allah Azza wa Jalla yang menjelaskan dengan gamblang kedua hal di atas. Allah Azza wa Jalla berfirman: "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu". Jadi yang dilarang adalah berwalâ’ atau mencintai orang kafir karena agama, sementara perbuatan baik yang diperintahkan yaitu perbuatan baik karena ada hubungan kerabat atau untuk tujuan sosial, dengan catatan tidak menodai agama si pelaku.
Sabtu, 15 Juni 2013 12:44:20 WIB
Kategori : Bahasan : Aqidah
Di antara keyakinan keliru yang digagas oleh aqthâb (tokoh) Sufi, disebarkan dan dibela oleh mereka, aqidah Nur Muhammad. Mereka pun membakukan ushul (landasan-landasan) untuk membenarkan aqidah ini dalam kitab-kitab yang mereka tulis dan dalam syair-syair mereka susun. Hanya, meski cukup terkenal aqidah ini, namun para Ulama mereka belum satu kata dalam mendefinisikannya secara detail dan jelas. Masing-masing menyampaikannya sesuai dengan perasaan dan apa yang terbetik pada firasatnya (?!). Mereka mengatakan, “(Yang dimaksud Nur Muhammad) bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam diciptakan dari cahaya, dan yang pertama kali diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla adalah cahaya Muhammad; dan bumi seisinya diciptakan karena Rasûlullâh, kalaulah tidak ada beliau, maka bumi tidak akan pernah ada dan diciptakan” Yûsuf Ismâil an-Nabhâni salah satu pembela ideologi ini menjelaskan makna istilah yang aneh ini dengan berkata, “Ketahuilah, bahwasannya tatkala kehendak al-Haq (Allâh) berhubungan dengan penciptaan para makhluk-Nya, Allâh Azza wa Jalla telah menampakkan haqiqat Muhammad dari cahaya-cahaya-Nya, kemudian dengan sebabnya tersingkaplah seluruh alam dari atas hingga bawahnya ……
Jumat, 7 Juni 2013 06:20:57 WIB
Kategori : Al-Masaa'il : Terorisme
Alangkah serupanya hari ini dengan hari kemarin! Peristiwa pengeboman dan pengrusakan yang terjadi di kota Riyadh di awal tahun ini (1424 H) adalah buah dari usaha setan dalam menyesatkan dan menghiasi sikap ghuluw (melewati batas) dalam beragama. Ini termasuk kejahatan dan pengrusakan di muka bumi yang paling keji. Parahnya lagi, setan menghiasi bagi pelakunya bahwa itu merupakan jihad. Dengan akal dan agama mana (pengeboman dan pengrusakan) itu sebagai jihad ?! Membunuh jiwa kaum muslimin dan orang-orang kafir mu'ahad (dalam perjanjian damai), menjadikan orang-orang yang aman menjadi takut, menjadikan wanita-wanita menjadi janda, menjadikan anak-anak menjadi yatim, dan menghancurkan bangunan-bangunan beserta para penghuninya ?! Saya merasa perlu membawakan nash-nash al-Quran dan as-Sunnah tentang besarnya urusan (dosa) pembunuhan dan bahayanya, tentang bunuh diri, membunuh seorang Muslim, membunuh kafir mu'ahad, baik sengaja atau tidak sengaja. Tujuannya yaitu untuk menegakkan hujjah dan menjelaskan jalan yang lurus. Saya mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberi petunjuk kepada orang-orang yang sesat menuju kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjaga kaum Muslimin dari keburukan pelaku kejahatan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan doa.
Kamis, 6 Juni 2013 22:47:07 WIB
Kategori : Dakwah : Firaq
Masyarakat umumnya memandang persoalan menari berhubungan dengan seni dan budaya. Berbeda dengan kalangan Sufi, mereka memastikan ada ritual tertentu – di luar ibadah yang disyariatkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang berfungsi sebagai amalan sholeh layaknya ibadah-ibadah yang lain. Belakangan tidak asing lagi dipertontonkan, aksi berdzikir (beribadah) kepada Allâh Azza wa Jalla melalui cara berputar-putar secara teratur dengan kecepatan yang kian bertambah kencang, yang dikenal dengan sebutan Whirling Dervishes (darwis-darwis yang berputar) atau Tarian Sema (Arab: samâ’). Pada akhirnya, menurut mereka, para penari akan mengalami keadaan ekstase (fanâ'), melebur bersama Allâh Azza wa Jalla (?!) Atribut mereka, mengenakan topi yang memanjang ke atas, jubah hitam besar, baju putih yang melebar di bagian bawahnya seperti rok, serta tanpa alas kaki. Mereka membungkukkan badan tanda hormat lalu mulai melepas jubah hitamnya. Posisi tangan mereka menempel di dada, bersilang mencengkram bahu. Demikian gambaran global tarian spiritual bernama samâ ini. Tarian Sufi berisi sejumlah keburukan seperti hilangnya muruah (kewibawaan), tasyabuh dengan wanita dan anak-anak kecil, menyerupai binatang-binatang dan menyerupai penganut Nasrani yang menjadikan tarian sebagai bagian dari agama mereka, mencampuradukkan antara maksiat dengan ibadah.
First Prev 1 2 3 4 5 6 Next Last
