Menggerakkan Telunjuk Saat Tasyahhud

Permasalahan shahih dan tidak shahih hadits yang menganjurkan kita untuk menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahud merupakan salah satu masalah yang juga diperselishkan para Ulama. Secara ringkas masalah menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahud atau tidak mengerak-gerakkannya dapat dijelaskan sebagai berikut : Hadits-hadits yang menjelaskan tentang keadaan jari telunjuk ketika tasyahud ada tiga jenis : Pertama: Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk tidak digerakkan sama sekali. Hadits-haditsnya lemah dan dihukumi syâdz oleh para Ulama. Kedua : Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk digerak-gerakkan. Ketiga: Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa jari telunjuk hanya sekedar diisyaratkan (menelunjuk) dan tidak dijelaskan apakah digerak-gerakkan atau tidak.
 

Bagaimana Menghindari Riya’?

Yang dimaksud dengan ikhlas adalah meniatkan semua amalan lahir maupun batin untuk mencari pahala dari Allâh Azza wa Jalladan tidak mengharapkan pujian manusia. Pujian manusia memang membuai, dan jiwa kita menyukainya. Itulah kenapa riya` masih sering menggoda. Keikhlasan niat tidaklah mudah diraih, bahkan orang-orang shalehpun kesulitan untuk mendapatkannya. Sufyân ats-Tsauri rahimahullah berkata, ''Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih sulit daripada mengobati niat saya; karena ia selalu berubah-ubah.". Ucapan ini keluar dari lisan seorang Sufyân ats-Tsauri rahimahullah , yang merupakan tokoh teladan dari generasi tâbi'in. Bagaimana dengan kita? Hendaknya kita menjadikan ucapan beliau rahimahullah ini sebagai pecut untuk mawas diri dalam bab ini. Karenanya, wajib bagi setiap Mukmin untuk mempelajari hal ini.
 

Mengapa Wanita Saudi Tidak Berduyun-duyun Shalat Di Masjidil Haram ?

Dari Ummu Humaid Radhiyallahu anhuma –istri Abu Humaid as-Sa’idi Radhiyallahu anhu - bahwa ia telah datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasûlullâh, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu daripada shalatmu di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalatmu di masjidku.” Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allâh.
 

Berlaku Adil Kepada Anak

Menurut sebagian Ulama, keadilan dalam pemberian hibah saat orang tua masih hidup adalah dengan membaginya sesuai dengan hukum waris, di mana anak perempuan mendapatkan setengah bagian anak laki-laki. Sebagian Ulama yang lain berpendapat bahwa harta yang dihibahkan dibagi rata tanpa membedakan jenis kelamin. Pendapat yang kedua ini lebih kuat, karena didukung hadits an-Nu'man bin Basyir Radhiyallahu anhu yang akan datang. Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa keadilan dalam hibah akan membuat anak-anak juga akan adil dalam berbakti. Sebaliknya, ketidakadilan bisa menimbulkan kebencian di antara anak-anak kita atau memicu kebencian kepada orang tua yang membawa kepada durhaka.
 

Islam Dan Problematika Agama Dan Akidah

Agama Islam merupakan agama yang agung dan kokoh dalam setiap khabar (berita) dan hukumnya. Islam tidak mengabarkan tentang sesuatu kecuali dengan cara benar dan haq, tidak pula menetapkan suatu hukum kecuali dengan cara adil. Tidak ada satu pun ilmu yang benar (shahih) yang menolak kebenaran berita yang dibawa Islam dan tidak ada satu hukum yang lebih baik dari hukum Islam. Ditambah lagi, pokok-pokok, kaidah-kaidah dan pondasi ajaran Islam selalu selaras dengan zaman yang telah lewat dan waktu yang akan datang. Jika etika bermuâmalah (etika dalam bergaul atau berbisnis) diterapkan dalam hubungan antar individu masyarakat ataupun dengan kelompok-kelompok tertentu disetiap waktu dan tempat, maka pasti melahirkan keadilan, kasih sayang dan kebaikan.
 

Islam Dan Politik

Dalam urusan politik, Islam telah mensyari’atkan aturan yang paling sempurna dan adil. Islam mengajari umatnya segala yang seharusnya dilakuan dalam berintraksi (muamalah) dengan sesama Muslim atau dengan yang lainnya. Dalam peraturannya, Islam menggabungkan antara rahmah (kasih sayang) dengan kekuatan, menggabungkan antara sikap lemah lembut dengan kasih sayang terhadap semua makhluk sesuai kemampuan. Jika dengan lembut dan kasih sayang tidak bisa, maka kekuatan yang dipergunakan, namun dengan penuh hikmah dan keadilan, bukan dengan kezhaliman dan kekerasan. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan agar berlaku adil, menyayangi dan berbuat baik kepada setiap orang. Disamping itu, Allâh Azza wa Jalla juga melarang perbuatan keji serta semua tindak kezhaliman, baik yang berkaitan dengan nyawa, harta, kehormatan dan hak-hak kemanusiaan.
 
BAHASAN :