Kedudukan Dua Kalimat Syahadat Dalam Islam

Syahadatain (dua kalimat syahadat) adalah kesaksian bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh Azza wa Jalla , dan bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba serta Rasul-Nya. Kedua kesaksian ini merupakan keyakinan mantap yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan orang yang mengikrarkannya dapat menyaksikan keberadaan Allâh Azza wa Jalla. Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun padahal yang dipersaksikan itu ada dua hal. Hal itu, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penyampai risalah dari Allâh Azza wa Jalla . Jadi, kesaksian bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul (utusan) Allâh Azza wa Jalla merupakan kesempurnaan kesaksian لَا إِلٰـهَ إِلَّا اللهُ.
 

Larangan Bersikap Ghuluw

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan ummatnya dari sikap ghuluw dan mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah sebab kehancuran dan kebinasaan, karena menyelesihi syari’at dan menjadi penyebab kebinasaan ummat-ummat terdahulu. Bahkan ghuluw menyebabkan manusia bisa menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka. Di antara bentuk ghuluw, yaitu sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih dengan mengagungkan mereka, membangun kubur-kubur mereka, membuat patung-patung yang menyerupai mereka, bahkan sampai akhirnya mereka disembah. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah t berkata, “Ini adalah penyakit pertama yang paling besar yang terjadi pada kaum Nûh Alaihissallam , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla telah mengabarkan tentang mereka dalam al-Qur'ân.
 

Keutamaan Mencari Nafkah Halal Dan Tidak Menjadi Beban Orang Lain

Dalam hadits lain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Nabi Zakariya Alaihissallam adalah seorang tukang kayu”. Biografi imam besar Ahlus-Sunnah dari generasi Tabi’ut tabi’in, ditanyakan kepada Imam Abdullâh bin al-Mubarak raimahullah, "Engkau mengeksport barang-barang dagangan dari Negeri Khurasan ke tanah haram atau Mekkah (untuk dijual), bagaimana ini?” Abdullâh bin al-Mubarak menjawab, “Sesungguhnya aku melakukan (semua) itu hanya untuk menjaga mukaku (dari kehinaan meminta-minta), memuliakan kehormatanku (agar tidak menjadi beban bagi orang lain), dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allâh,” lalu al-Fudhail bin 'Iyadh berkata: “Wahai, Abdullâh bin al-Mubarak, alangkah mulianya tujuanmu itu jika semuanya benar-benar terbukti”
 

Menggunakan Kuburan Sebagai Tempat Tinggal, Tempat Tidur, Menggembala

Para ahli fiqih dari kalangan Hanafiyyah menyebutkan bahwa menjadikan kuburan sebagai lahan tempat tinggal sementara hukumnya makruh; dan menjadikannya sebagai rumah tentu lebih dimakruhkan. Kemungkinan yang menjadi faktor dimakruhkan adalah karena ada unsur penghinaan terhadap kubur. Sebagaimana diketahui bahwa kehormatan mayat di dalam kuburnya sama dengan kehormatan orang yang hidup di dalam rumahnya. Kubur merupakan rumah untuk mayat; dan perbuatan -menjadikannya sebagai tinggal- ini juga termasuk hal-hal yang bisa menghilangkan kewibawaan (kehormatan) serta perilaku yang tidak sopan. Ulama Hanafiyyah dan Syafi’iyyah menyebutkan makruh tidur di pekuburan. Mereka beralasan bahwa tidur di pekuburan bisa menyebabkan rasa cemas dan tidak tenang di hati karena bisa jadi dia melihat dalam mimpinya sesuatu yang bisa mengganggu akal sehatnya.
 

Ulama Bicara Tentang Penjagaan Kuburan

Para Ulama telah sepakat bahwa tidak boleh membongkar kuburan atau mengangkat mayat dari kuburannya setelah ditimbun dengan tanah, baik penimbunannya itu sudah lama atau baru saja kecuali ada alasan yang dibenarkan syari'at untuk melakukan pembongkaran. Karena lahan yang dijadikan kubur orang Muslim merupakan wakaf untuknya selama jasad atau anggota badannya masih ada; Sehingga kehormatannya tetap harus dijaga, dan ini disepakati oleh para Ulama. Dalilnya adalah sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas yang artinya, "Sesungguhnya memecahkan tulang orang yang sudah mati sama hukumnya seperti memecahkan tulangnya tatkala dia hidup." Dan membongkar kuburan merupakan sebentuk siksaan dan penghinaan terhadap mayat. Ini juga termasuk kategori memecah tulang mayat, karena dengan demikian tulang belulangnya akan tercerai berai.
 

Memisahkan Pekuburan Muslim Dari Pekuburan Non Muslim

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Berdasarkan hadist di atas maka pekuburan Muslim harus dipisahkan dari pekuburan orang-orang kafir." Beliau rahimahullah juga menambahkan, "Juga karena praktek orang-orang Islam semenjak zaman Rasûlullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang Muslim tidak dikuburkan bersama orang-orang musyrik.". Ahlul Dzimmah[3] pernah menulis surat kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu , mereka berkata, "Hendaknya orang-orang Muslim tidak berdekatan dengan pekuburan kami." Maksudnya, mereka mengajukan syarat agar pekuburan mereka berada disisi lain tidak berdekatan dengan rumah Muslimin tidak pula dengan kuburan mereka. Ibanu Taimiyah rahimahullah berkata, "Pekuburan ahlu zimmah harus dipisahkan dari pekuburan kaum Muslimin dengan pembeda yang jelas, sehingga mereka tidak bercampur dengan kaum Muslimin, dan agar kaum Muslimin bisa membedakan kuburan mereka.
 
BAHASAN :