Umrah Dan Haji Sebagai Penebus Dosa

Seorang hamba ketika meninggalkan dunia ini dalam keadaan berbeda-beda, ada yang tidak memiliki dosa sama sekali, karena ia telah diberi taufik oleh Allâh Azza wa Jalla untuk melakukan amal shaleh dan bertaubat kepada-Nya dari semua dosa-dosa besarnya, ada pula yang membawa amal shaleh dan membawa dosa besar selain syirik. Jika Allâh Azza wa Jalla menghendaki pengampunan maka dosa besar seorang hamba akan diampuni-Nya, dan jika tidak, maka Allâh Azza wa Jalla akan melakukan timbangan amal untuk menentukan salah satu dari keduanya mana yang berat. Oleh karena itu hendaknya seorang Muslim senantiasa waspada ! Jika ia terjatuh kedalam kubangan dosa kecil maka hendaknya ia segera melakukan amal shaleh agar dosa akibat perbuatannya itu terhapus dengan amal shaleh yang dilakukannya.
 

Datangi Shalat Jum'at Segera, Dan Lekas Tinggalkan Kesibukan

Perintah meninggalkan jual-beli ini hanya berlangsung sementara sampai shalat Jum'at selesai {Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi} untuk mencari penghasilan-penghasilan dengan cara yang diperbolehkahn. {Dan carilah karunia Allâh}: Maksudnya, seharusnya seorang Mukmin yang mendapatkan taufik, saat ia sibuk mencari penghidupan, hendaknya ia berniat agar hasilnya dapat membantu dirinya menjalankan kewajiban ibadah, dengan selalu mengharap pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla dalam proses tersebut, mencari karunia dari-Nya, selalu menempatkan sikap raja` dan antusias besar terhadap karunia-Nya di depan matanya. Sebab bergantung kepada Allâh Azza wa Jalla dan 'haus' terhadap keutamaan dari-Nya termasuk bukti keimanan dan termasuk ibadah juga.
 

Al-Walâ' Wal Barâ’

Termasuk inti wala’ yang syar’i (yang dituntunkan agama) adalah mencintai Sunnah yang shahih, mendakwahkannya, dan mencintai para pengikut Sunnah, yaitu orang-orang yang berusaha mengembalikan semua orang yang berselisih tentang perkara agama menuju al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaf (para pendahulu) umat ini. Dan termasuk inti bara’ syar’i (yang dituntunkan agama) adalah membenci perbuatan bid’ah dalam agama, bersemangat merubah kemungkaran ini, memperingatkan umat dari perbuatan bid’ah, dari para penyerunya, dan dari orang-orang yang terus menerus melakukannya, walaupun mereka menisbatkan diri kepada Islam, atau pemeluk Islam, menisbatkan diri kepada dakwah atau aktivis dakwah.
 

Kematian Lebih Baik Bagi Orang Mukmin

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Kematian) ini akan menimpa semua jiwa makhluk. Sesungguhnya kematian ini merupakan minuman yang yang harus diminum (dirasakan), walaupun seorang manusia itu sudah hidup lama dan diberi umur (panjang) bertahun-tahun (pasti akan merasakan kematian-pen). Tetapi Allâh Azza wa Jalla menciptakan para hamba-Nya di dunia, memberikan kepada mereka perintah dan larangan, menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan, dengan kekayaan dan kemiskinan, kemuliaan dan kehinaan, kehidupan dan kematian, sebagai cobaan dari Allâh Azza wa Jalla untuk menguji mereka, siapa di antara mereka yang paling baik perbuataannya ? Siapa yang akan tersesat atau selamat di tempat-tempat ujian?”
 

Bagaimana Seharusnya Kaum Muslimin Menyikapi Praktek Syari'at Islam?

Pelaksanaan amar ma'ruf nahi mungkar dan berdakwah harus mengikuti manhaj para nabi dan rasul dan para salafus sholeh, karena itulah manhaj yang benar dan metoda yang bijak dalam mengajak kepada Islam dan mengembalikan kejayaannya. Suatu yang sangat disayangkan jika ada yang menyeru untuk penerapan syari'at Islam, akan tetapi jalan yang ditempuh bukan jalan yang sesuai dengan syari'at Islam. Mungkinkah syari'at di tegakkan dengan cara yang tidak sesuai dengan syari'at Islam ? Dalam politik dan tatanan negara, hendaklah yang menjadi standar hukum dan landasan perundang-undangan adalah syari'at Allâh Azza wa Jalla , bukan pemikiran manusia. Oleh karena itu, wajib bagi para penguasa untuk menerapkan hukum Allâh Azza wa Jalla (syari'at Islam) dan juga mereka berkewajiban untuk mewajibkan para rakyatnya untuk berhukum dengan hukum Allâh dan Rasul-Nya. Inilah tugas dan tanggug jawab penguasa yang paling utama dan besar.
 

Fungsi Hudud Dalam Syariat Islam

Adapun pernyataan, "Penegakan hudûd ini merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat", maka itu hanyalah tuduhan yang berat sebelah. Kenapa hanya ditujukan kepada syariat hudûd ? Bukankah semua peraturan harus diterapkan pada semua individu yang berada di bawahnya ?! Siapakah yang rela kehilangan nyawa ibu, atau bapak, atau istri, atau suami, atau orang-orang tercinta lainnya tanpa ada balasan setimpal kepada pembunuhnya ?! Bukankah dengan menerapkan hukuman kurungan penjara saja juga merupakan pemaksaan kehendak kepada orang yang tidak sependapat ?! Bukankah memaksakan kehendak Allâh Azza wa Jalla - yang sudah pasti benarnya - itu lebih pantas, daripada memaksakan kehendak makhluk -yang sudah pasti salahnya jika menyelisihi keputusan Allâh Azza wa Jalla -?! Sungguh segalanya telah jelas, bagi mereka yang berpikir dengan hati nurani yang jernih.
 
BAHASAN :