Bukti Kenabian Dalam Perang Khandaq

Jabir Radhiyallahu anhu bercerita, "Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan, 'Batu yang sangat keras ini menghalangi kami menggali parit,' Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku sendiri yang akan turun." Kemudian beliau berdiri (dalam parit), sementara perut beliau diganjal dengan batu (karena lapar). Tiga hari (terakhir) kami (para shahabat) belum merasakan makanan, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kampak dan memukul batu tersebut hingga pecah berkeping-keping. Lalu aku berkata, "Wahai Rasûlullâh, izinkanlah aku pulang ke rumah."
 

Perang Khandaq

Pemicu perang Khandaq ini dendam lama orang-orang Yahudi yang di usir oleh Rasûlullâh dari Madinah dalam perang Bani Nadhir. Mereka diusir karena mereka menghianati perjanjian yang dibuat dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejumlah tokoh Yahudi Bani Nadhir dan Bani Wa'il seperti Sallam bin abil Huqaiq, Hayyi bin Akhtab, Kinanah bin abil Huqaiq, Hauzah bin Qais al-Wa'iliy dan Abu Ammar al-Wa'iliy berangkat ke Mekah untuk mengajak kaum musyrikin Quraisy memerangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berjanji, "Kami akan bersama kalian berperang sampai berhasil menghancurkan kaum Muslimin." Mereka juga meyakinkan kaum Quraisy dengan mengatakan, "Agama kalian itu lebih baik daripada agama Muhammad."
 

Berita Dusta

Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk suatu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan kalung, akhirnya beliau Radhiyallahu anhuma keluar lagi untuk mencarinya. Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, beliau Radhiyallahu anhuma kehilangan rombongan, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan pasukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat. Para shahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tidak ada di dalamnya karena dia masih ringan.
 

Kaidah Ke-38 : Jika Pengharaman Berkaitan Dengan Dzat Suatu Ibadah Maka Ibadah Tersebut Batal

Kaidah ini menjelaskan tentang larangan yang ditujukan terhadap suatu perkara. Para Ulama menjelaskan bahwa larangan terhadap suatu perkara tidak lepas dari tiga keadaan. Pertama, adakalanya larangan itu tertuju kepada dzat perkara tersebut. Kedua, adakalanya larangan itu tertuju kepada syarat sahnya. Ketiga, adakalanya larangan tertuju kepada perkara di luar dzat dan syaratnya. Dalam hal ini, timbul pertanyaan, sejauh manakah pengaruh suatu larangan terhadap sesuatu yang dilarang dan segala yang berkait dengannya ? Apakah secara otomatis batal atau bagaimana ? Para Ulama menjelaskan bahwa, apabila larangan itu berkaitan dengan dzat suatu perkara atau syarat sahnya, maka dzat atau perkara yang dilarang itu akan batal jika dilakukan.
 

Kaidah Ke-37 : Jika Dua Orang Pelaku Muamalah Berselisih Keberpihakan Diberikan Yang Kuat Alasannya

Kaidah ini menjadi rujukan dalam kasus perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak pelaku akad muamalah, baik jual beli, sewa menyewa, gadai, atau selainnya. jika terjadi perselisihan di antara mereka berkaitan dengan persyaratan, harga, atau hal-hal lainnya, maka pihak yang lebih kuat alasannya yang lebih dikuatkan perkataannya. Dalam akad jual beli, misalnya, adakalanya yang lebih dikuatkan adalah perkataan si penjual dan adakalanya yang lebih dikuatkan adalah perkataan si pembeli. Dalam kasus perselisihan semacam ini, sering kali penyelesaiannya dikembalikan kepada hukum asal dari permasalahan yang bersangkutan. Di antaranya jika terjadi perselisihan tentang ada tidaknya persyaratan tambahan, maka hukum asalnya persyaratan itu tidak ada.
 

Kaidah Ke-36 : Barangsiapa Merusakkan Barang Untuk Menghindari Bahaya, Maka Tidak Wajib Mengganti

Secara hukum asal, setiap orang yang merusak atau menghancurkan barang orang lain, ia wajib menggantinya. Sebagaimana hal ini telah ditunjukkan oleh dalil-dalil syar’i. Meskipun hukum asal ini tidak berlaku secara mutlak, dan dikecualikan darinya beberapa kondisi. Jika seorang sengaja merusak barang orang lain, maka tidak lepas dari dua keadaan. Adakalanya itu dilakukan karena darurat, dan adakalanya tidak. Jika ia merusak bukan karena alasan darurat maka ia wajib mengganti. Namun, jika ia merusaknya karena darurat maka tidak lepas dari dua keadaan pula. Pertama, ia merusaknya untuk memenuhi kebutuhan daruratnya, seperti orang yang sedang sangat lapar kemudian mendapatkan hewan ternak milik orang lain lalu ia sembelih dan ia makan. Kedua, ia merusaknya karena menghindar dari bahaya yang menyerangnya, misalnya orang yang diserang binatang milik orang lain dan ia berusaha mencegahnya sampai terpaksa membunuh binatang tersebut.
 
BAHASAN :