Relakah Kamu Kehidupan Di Dunia Sebagai Ganti Kehidupan Di Akhirat?

Berbagai kenikmatan dan pemberian Allâh terus tercurah kepadanya .. ada yang berupaka makanan yang bisa menguatkan tubuhnya … ada berupa air yang bisa menghilangkan dahaganya … ada yang berwujud pakaian yang bisa menghiasi tubuhnya dan menutup auratnya … ada kenikmatan dalam bentuk rumah yang menaunginya dari terpaan hujan dan terik matahari yang menyengat juga melindunginya dari serangan hewan buas … ada juga kenikmatan dalam wujud pasangan yang setia memperhatikan dan menemaninya … juga nikmat dalam bentuk keamanan lingkungan dari berbagai hal …
 

Hadits Palsu Tentang Keutamaan Berdzikir Dengan Biji Tasbih

Hadits ini dihukumi palsu oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani karena rawinya seorang pemalsu hadits tersebut di atas. Ada hadits lain yang menjelaskan kebolehan berdzikir dengan biji-bijian, diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdzikir dengan menggunakan batu-batu kerikil. Hadits ini juga hadits palsu, karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama ‘Abdullâh bin Muhammad al-Qudami, dia meriwayatkan hadits-hadits yang palsu dari Imam Mâlik, sebagaimana pernyataan para Ulama Ahli hadits. Kesimpulannya, hadits ini adalah hadits palsu dan hadits-hadits yang semakna dengannya berkisar antara palsu dan lemah.
 

Hukum Membunuh Ular

Dari pendapat dan dasar argumentasi para Ulama di atas, tampak pendapat yang rajih adalah keharusan mengusir dan memperingatkan ular yang ada dirumah sebelum membunuhnya, kecuali dua jenis ular yaitu ular yang pendek ekornya dan yang berbisa yang ada dua garis dipunggungnya. Hal itu karena tegas dan jelasnya hadits Abu Lubabah diatas dalam pengecualian kedua jenis ular ini. As-Suyuthi rahimahullah berkata, "Dikecualikan kedua ular ini karena jin yang Mukmin tidak akan beralih rupa kebentuk keduanya, karena efek buruk langsung dari melihat keduanya. Jin yang Mukmin hanya beralih rupa dengan bentuk yang tidak berbahaya melihatnya.
 

Hadits Palsu Tentang Larangan Melihat Kemaluan Suami/Istri

Ada hadits lain yang semakna dengan hadits di atas, tentang larangan berhubungan intim dalam keadaan bertelanjang, dari ‘Utbah bin ‘Abdin as-Sulami dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dengan lafazh, “Jika salah seorang darimu (suami) mengumpuli istrinya, maka hendaknya dia memakai (kain) penutup dan janganlah keduanya bertelanjang seperti telanjangnya keledai liar”. Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur, semuanya lemah dan tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. Dihukumi sebagai hadits lemah dan munkar oleh Imam an-Nasâ’i rahimahullah , al-Baihâqi rahimahullah , al-‘Irâqi trahimahullah, al-Bushiri raimahullah dan Syaikh al-Albâni rahimahullah.
 

Hadits Yang Sangat Lemah Tentang Keutamaan Bersedekah Untuk Menyembuhkan Penyakit

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa amal shalih yang dilakukan dengan niat duniawi termasuk perbuatan syirik dan bisa merusak kesempurnaan tauhid yang semestinya dijaga. Perbuatan ini juga bisa menggugurkan amal kebaikan. Sehingga Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab dalam kitab at-Tauhîd mencantumkan sebuah bab khusus tentang masalah penting ini, yaitu bab: Termasuk (perbuatan) syirik adalah jika seseorang menginginkan dunia dengan amal (shalih yang dilakukan)nya. Adapun Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menunjukkan contoh-contoh perbuatan ini, beliau menyebutkan di antaranya adalah seseorang yang beribadah dengan tujuan untuk menolak gangguan, penyakit dan keburukan (dalam urusan dunia) dari dirinya.
 

Anjuran Mensyukuri Nikmat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, telah menunjukkan obat dan faktor yang sangat kuat agar seseorang bisa mensyukuri nikmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala , yaitu hendaknya setiap hamba memperhatikan orang yang lebih rendah darinya dalam hal akal, nasab, harta, dan nikmat-nikmat lainnya. Jika seorang terus-menerus melakukan ini, maka ini akan menuntunnya untuk banyak bersyukur kepada Rabb-nya serta menyanjung-Nya. Karena dia selalu melihat orang-orang yang keadaannya jauh berada di bawahnya dalam hal-hal tersebut.
 
BAHASAN :