Anak Kecil Bersikeras Puasa, Untuk Siapa Pahala Puasa Anak Kecil?

ANAK KECIL BERSIKERAS PUASA PADAHAL MEMBAHAYAKAN DIRINYA

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Anak saya masih kecil (bersikeras) untuk berpuasa Ramadhan meski akan berdampak negative bagi dirinya lantaran masih kecil dan kesehatannya yang kurang baik (prima). Apakah harus saya paksa dengan kekerasan agar tidak berpuasa?

Jawaban

Jika masih kecil belum akil baligh, maka tidak wajib berpuasa. Namun bila mampu tanpa susah payah maka perlu diperintahkan berpuasa. Ini yang dilakukan para sahabat terhadap anak-anak mereka. Sampai-sampai jika sang anak menangis karena lapar, maka mereka memberikan mainan untuk melupakan rasa laparnya.

Tetapi kalau terbukti puasa dapat membahayakan kondisinya, maka dia harus dicegah untuk berpuasa. Allah saja melarang kita untuk menyerahkan harta milik anak-anak kepada mereka, karena khawatir akan dihambur-hamburkan, tentunya kekhawatiran terhadap sesuatu yang bisa membahayakan diri mereka, seperti berpuasa lebih utama lagi untuk dicegah.

Dalam pencegahannya, perlu metode tanpa kekerasan. Karena cara tersebut tidak seyogyanya diapakai dalam mendidik anak-anak.

[Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 1/493]

UNTUK SIAPA PAHALA PUASA ANAK YANG MASIH KECIL?

Oleh

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin

Pertanyaan.

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Jibrin ditanya : Apa syarat-syarat syahnya puasa anak kecil? Apakah benar asumsi bahwa pahala puasanya menjadi milik kedua orang tuanya?

Jawaban

Syari’at memerintahkan orang tua agar membiasakan anak-anak untuk berpuasa sejak dini saat mereka mampu melaksanakannya, meski umurnya belum mencapai 10 tahun. Dan jika dia telah baligh, maka orang tua harus memaksanya. Kalau anak kecil berpuasa juga sebelum baligh maka dia juga wajib meninggalkan hal-hal yang meruksan puasa seperti layaknya orang dewasa, misalnya makanan dll.

Sedangkan pahala puasanya, maka ia menjadi miliknya, dan orang tua juga mendapatkan pahala atas usahanya mendidik anak berpuasa.

[Fawaid wa Fatawa Tahumul Mar’ah Al-Muslimah : 91]

[Disalin dari Kitab Fatawa Ath-Thiflul Muslim, Edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu – Jakarta]