Istiqamah

ISTIQAMAH

Oleh

Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

 Kata istiqâmah merupakan lawan dari kata thughyân yang artinya melampaui batas dalam segala hal.[1]Dengan demikian arti kata istiqâmah adalah adil, lurus dan tidak melampaui batas. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetap istiqâmahlah engkau pada jalan kebenaran sebagaimana yang telah diperintahkan kepadamu, demikian juga orang yang bertaubat bersamamu (hendaknya tetap istiqâmah), dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Dia Mahamelihat apa yang kalian kerjakan. [Hûd/11:112]

Imam al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Rasûl-Nya dan memerintahkan para hamba-Nya yang beriman supaya tetap teguh dan terus menerus dalam istiqâmah. Sebab hal itu merupakan faktor terbesar bagi datangnya kemenangan melawan musuh dan melawan penentangan mereka. Sebaliknya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala melarang bertindak melampaui batas (thughyân), karena sesungguhnya tindakan itu menyebabkan kekalahan, meskipun hanya menghadapi seorang musyrik saja”.[2]

Banyak nash yang  memerintahkan sikap istiqâmah, di antaranya firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

Katakanlah (Hai Muhammad), tidak lain aku hanyalah seorang manusia seperti kalian, hanyasanya aku telah diberi wahyu ; bahwa sesungguhnya sesembahan kalian adalah sesembahan yang Esa. Maka tetap istiqâmahlah berada pada jalan menuju kepada-Nya, dan mohonlah ampunkepada-Nya. [Fushshilat/41: 6]

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya  orang-orang yang berkata ; Rabb kami adalah Allâh, kemudian mereka istiqâmah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya mengatakan: Janganlah kalian khawatir dan jangan pula bersedih, dan gembirakanlah dengan sorga yang telah dijanjikan kepada kalian. [Fushshilat/41:30]

Dalam sebuah hadits shahîh, dari Sufyân bin Abdullâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu  anhu , beliau berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ – وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ – قَالَ: ” قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، فَاسْتَقِمْ “. رواه مسلم

Aku berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Ya Rasûlullâh, katakanlah kepadaku suatu perkataan di dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada siapapun sesudahnya, – dalam riwayat hadîts Abu Usâmah : siapapun selainmu-. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Katakanlah; “Aku beriman kepada Allâh”, lalu istiqâmahlah. HR. Muslim.[3]

Imam al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah  menjelaskan  bahwa  pengertian “tetap istiqâmahlah pada jalan menuju kepada-Nya” pada (surat Fushshilat/41 : 6) ialah: Ikhlaskanlah ibadah yang  engkau lakukan kepada  Allâh Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan apa yang  telah diperintahkan-Nya melalui lisan para rasul-Nya.[4] Begitu pula penafsiran  senada  pada surat  Fushshilat/41 : 30.[5]

Beliau rahimahullah juga membawakan riwayat dari Abu Bakr ash-Shiddîq  Radhiyallahu anhu tentang  pengertian  firman Allâh yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang berkata; Rabb kami adalah Allâh, kemudian mereka istiqâmah (Fushshilat/41 : 30). Abu Bakr ash-Shiddîq  Radhiyallahu anhu berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak mempersekutan sesuatu apapun dengan Allâh”.[6]

Maksud tidak mempersekutukan  sesuatupun dengan Allâh, adalah ikhlas dan tidak syirik dalam beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dan dalam menjalankan amal-amal ketaatan kepada-Nya.

Sementara itu, Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah  juga mengetengahkan hal senada tentang  makna istiqâmah. Beliau rahimahullah membawakan perkataan beberapa orang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Tabi’în sebagai berikut:

  • Abu Bakr ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu . Beliau mengatakan: “Yaitu bila engkau tidak berbuat syirik sedikitpun dalam beribadah kepada Allâh”. Istiqamah, yang beliau maksudkan, adalah bersih tauhidnya.
  • ‘Umar bin Khaththâb Radhiyallahu anhu mengatakan : “Istiqamah adalah bila engkau tetap lurus dalam menjalankan perintah Allâh dan menjauhi larangan-Nya. Tidak berkelit kesana kemari layaknya seekor kancil.
  • Utsmân bin ‘Affân Radhiyallahu anhu mengatakan, “Mereka istiqâmah, artinya, mereka ikhlas dalam beramal karena Allâh”.
  • ‘Ali bin AbiThâlib Radhiyallahu anhu mengatakan, “Mereka istiqâmah  pada ketetapan Allâh Azza wa Jalla , maksudnya, mereka menunaikan segala yang  difardhukan”.
  • Sementara al-Hasan mengatakan, “Mereka istiqamah, artinya mereka mengamalkan ketaatan kepada Allâh, dan menjauhi kema’siatan kepada-Nya”.
  • Sedangkan Mujâhid rahimahullah mengatakan: “Mereka tetap istiqâmah dalam jalur syahadat bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allâh, sampai mereka meninggal dunia”.[7]

Dari keterangan dan perkataan para tokoh ulama di atas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya istiqâmah adalah tetap berada dalam keutuhan tauhid, tetap dalam peribadahan hanya kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala  saja dengan ikhlas serta tetap dalam ketaatan kepada-Nya sesuai dengan ketetapan syariat yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jika demikian halnya kedudukan istiqâmah, maka istiqâmah adalah perkara sangat penting bagi keselamatan hidup seseorang di dunia maupun di akhirat.

Karena itu menjadi sangat penting pula jika anak-anak kaum Muslimin semenjak dini mendapatkan tarbiyah Islamiyah yang di antara isinya adalah penekanan dan pelatihan agar mereka memiliki sikap istiqâmah serta terbiasa dengan sikap itu. Waffaqallâh al-jamî’.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Madârij as-Sâlikîn Imam Ibnu al-Qayyim, DârIhyâˈi at-Turâts al-‘Arabi, cet. II, th. 1421 H/2001 M, II/79.

[2] Tafsîral-Qurˈân al-‘AzhîmIbnuKatsîrQS. Hûd : 112.

[3] Shahîh Muslim bi Syarhi an-Nawawi, KalîlMaˈmûnSyîhâ, Dâr al-Ma’rifah, Beirut, cet. VII, 1421 H/2000 M. II/199, no. 158

[4] Tafsîral-Qurˈân al-‘AzhîmIbnuKatsîr QS Fushshilat : 6

[5] Lihat Ibid. Fushshilat : 30

[6] Ibid.

[7] Madârij as-Sâlikînop.cit. II/79.