Istiqâmah Di Atas Al-Qur’an Dan Sunnah Jalan Keselamatan

ISTIQAMAH DI ATAS AL-QUR’AN DAN SUNNAH JALAN KESELAMATAN Istiqâmah di atas sunnah adalah keinginan setiap orang yang benar-benar beriman yang berharap bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan kebahagiaan akhirat serta takut terhadap murka Allâh Azza wa Jalla. Konsisten di atas ketaatan sampai tutup usia adalah kenikmatan tiada tara bagi orang yang beriman. Dalam

Ambillah Akidah Dari Al-Qur’an Dan As-Sunnah Yang Shahih

AMBILLAH AKIDAH DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH YANG SHAHIH Masalah akidah atau keimanan adalah masalah yang paling mendasar dan urgen dalam agama Islam. Masalah akidah dan keimanan merupakan masalah ghaib yang tidak bisa diketahui secara mendetail kecuali dengan hidayah atau bimbingan wahyu Allâh Azza wa Jalla yang diturunkan kepada umat manusia melalui para utusan-Nya. Oleh karena

Istiqâmah Di Atas Al-Qur’an Dan Sunnah Jalan Keselamatan

ISTIQAMAH DI ATAS AL-QUR’AN DAN SUNNAH JALAN KESELAMATAN Istiqâmah di atas sunnah adalah keinginan setiap orang yang benar-benar beriman yang berharap bisa meraih ridha Allâh Azza wa Jalla dan kebahagiaan akhirat serta takut terhadap murka Allâh Azza wa Jalla . Konsisten di atas ketaatan sampai tutup usia adalah kenikmatan tiada tara bagi orang yang beriman.

Syariat Allâh Azza Wa Jalla Wajib Dicintai, Tidak Dibenci

SYARIAT ALLAH AZZA WA JALLA WAJIB DICINTAI, TIDAK DIBENCI Diantara syarat diterimanya syahadat seseorang adalah dia siap menerima dan mencintai yang menjadi konesekuensi dari syahadat yang diikrarkan. Oleh karena itu, seorang Mukmin wajib mencintai semua yang datang dari Allâh Azza wa Jalla dan rasul-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman: إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا

Meniti As-Shirât Al-Mustaqîm

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM Allâh Azza wa Jalla berfirman: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah/1:6-7] Itulah diantara permohonan yang selalu diucapkan oleh setiap

Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM 2. Apa Yang Dimaksud As-Shirât Al-Mustaqîm Itu? As-Shirât al-mustaqîm (jalan lurus) adalah jalan yang tidak berkelok, tidak miring, tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ Saya telah tinggalkan kalian di atas al-baidha’ (agama dan

Halangan Dan Rintangan Dalam Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus)

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM 3. Halangan Dan Rintangan Dalam Menyusuri As-Shirât Al-Mustaqîm (Jalan Yang Lurus) Wahai orang yang menempuh jalan lurus ini! Seyogyanya Anda tahu bahwa di hadapan saudara ada rintangan yang siap menghalangi perjalanan saudara dan berupaya menghentikannya. Rintangan tersebut ada tiga yang di dalam surat al-Fâtihah (yang selalu kita baca-red) itu ada petunjuk yang

Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm?

MENITI AS-SHIRAT AL-MUSTAQIM 4. Siapakah Orang Yang Berjalan Di Atas Ash-Shirât Al-Mustaqîm? Orang-orang yang berjalan di atas ash-shirât yang mendapatkan anugerah kenikmatan yaitu orang-orang yang disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا Dan barangsiapa yang mentaati

Introspeksi Diri

INTROSPEKSI DIRI[1] Hendaklah kita senantiasa bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dan hendaklah kita khawatir dengan suatu hari dimana tidak ada seorangpun yang bisa menolong orang lain selain amalannya. Kala itu amallah yang menjadi penentu kebahagian dan kesengsaran seseorang, jika dia beruntung maka kebahagiaan abadi akan menjadi miliknya sebaliknya jika merugi maka kesengsaraan tak terperikan

Mengapa Tidak Semakin Mendekat Kepada Allah?

MENGAPA TIDAK SEMAKIN MENDEKAT KEPADA ALLAH? Oleh Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin Ketika bencana terjadi secara beruntun, mengapa banyak manusia semakin merendahkan diri dan semakin mengagungkan para pembesar jin yang diyakini sebagai penguasa laut, gunung-gunung, hutan-hutan atau tempat-tempat tertentu lainnya? Mengapa Allah sebagai Pencipta dan Penguasa alam semesta sesungguhnya, sekaligus sebagai pembuat bencana, justeru ditinggalkan,