Fenomena Penistaan Terhadap Agama

FENOMENA PENISTAAN TERHADAP AGAMA Mencaci Allâh Subhanahu wa Ta’ala , atau mencerca agama-Nya, bersikap lancang dengan menanggalkan sikap pengagungan dan pemuliaan yang menjadi hak Allâh, mencerca dan mengalamatkan kata-kata brutal terhadap Allâh yang mana langit dan bumi pun akan hancur berkeping-keping kala mendengarnya! Pun, kata-kata yang dituntunkan syetan untuk diucapkan lidah orang-orang yang tidak mengagungkan

Penistaan Agama

PENISTAAN AGAMA Pengagungan terhadap Allâh dan Rasul-Nya, mengikat dirinya dengan syariat-Nya dan ridha dengan hukum-hukum Islam adalah indikasi keimanan dan ketakwaan seseorang itu baik, sebagaimana dijelaskan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya: فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا Maka demi Rabbmu,

Awas Bahaya Menghina Agama!

AWAS BAHAYA MENGHINA AGAMA! Seorang mukmin pasti mempunyai sikap ta’zhim ; mengagungkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala, Rasul, dan agama-Nya. Ia mengagungkan perintah dan larangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala, mengagungkan asma dan sifat-Nya. Kemudian ia juga mengagungkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikannya sebagai tauladan. Juga mengagungkan agama Allâh. Ia mencintai dan loyal pada syariat-Nya, serta

Fatwa Majelis Ulama Indonesia : Perayaan Natal Bersama

PERAYAAN NATAL BERSAMA بسم الله الرحمن الرحيم Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, setelah : Memperhatikan : 1.Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalah artikan oleh sebagian umat Islam dan disangka dengan umat Islam sebagaimana merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad صلي الله عليه وسلم. 2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam

Bermanhaj Salaf Menghambat Kemajuan?

BERMANHAJ SALAF MENGHAMBAT KEMAJUAN? Oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi Pertanyaan. Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Halabi  ditanya : Kalau kita kembali ke pemahaman Salaf, apakah kita dapat maju di alam modern ini ? Jawaban. Justru kita tidak akan maju dalam bidang sains, teknologi, ekonomi dan kemasyrakatan kalau

Sifat Wali-Wali Allâh Ta’ala

SIFAT WALI-WALI ALLAH TA’ALA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى

Karamah Para Wali

KARAMAH PARA WALI Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Diantara prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu membenarkan (mempercayai) karamah para wali dan hal-hal luar biasa yang Allâh Azza wa Jalla tunjukkan melalui mereka.[1] Masalah karamah para wali, telah dibahas oleh para Ulama Ahlus Sunnah karena ada golongan yang mengingkari keberadaan karamah para

Bagaimana Kita Bersikap Terhadap Para Wali

BAGAIMANA KITA BERSIKAP TERHADAP PARA WALI Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin Para Wali memiliki tingkat kewalian yang berbeda-beda. Secara garis besar, mereka terbagi menjadi dua golongan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Yaitu; Sâbiqûn Muqarrabûn, atau boleh disingkat Muqarrabûn; orang-orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allâh Subhanahu wa Ta’aladengan melaksanakan perkara-perkara sunnah,

Para Wali Allâh Wajib Dicintai Dan Haram Dibenci

PARA WALI ALLAH WAJIB DICINTAI DAN HARAM DIBENCI Mencintai para wali Allâh Azza wa Jalla merupakan amal ibadah atau taqarrub yang disyariatkan Allâh Azza wa Jalla . Dengan mencintai wali Allâh, seseorang akan lebih dekat kepada Allâh, sebab mencintai sesuatu karena Allâh adalah salah satu tali simpul keimanan yang paling kuat. Dalam hadits shahih, Rasûlullâh

Pernyataan Tentang Hakikat Dan Syariat

PERNYATAAN TENTANG HAKIKAT DAN SYARIAT[1] Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Pembagian istilah Thariqat, Syariat, Hakikat dan Ma’rifat adalah istilah yang baru (muhdats) yang diada-adakan oleh kaum Shufi. Yang dimaksud hakikat menurut mereka adalah kedudukan seseorang yang telah mencapai maqam (kedudukan) tertentu, sehingga dengan (maqam) itu dapat menggugurkan kewajiban syariat Islam. Sedangkan