Perjalanan Yang Bermanfaat

PERJALANAN YANG BERMANFAAT Manusia dan perjalanan, dua sisi yang seakan tidak terpisahkan. Sebagian besar atau bahkan seluruh umat manusia di seluruh dunia pernah melakukan perjalanan, ada yang jauh dan ada pula yang dekat, dengan intensitas yang berbeda. Kebutuhan mereka yang sangat banyak dan bervariasi serta tersebar diberbagai tempat menuntut mereka melakukan perjalanan demi memenuhi kebutuhannya,

Menggapai Kesempurnaan Fitrah

MENGGAPAI KESEMPURNAAN FITRAH Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia di atas fitrah. Dengan fitrah itu, manusia yang sadar akan dirinya lemah, membutuhkan Tuhan yang menutup kekurangan dan menguatkan kemampuan. Ia juga tercipta dalam keadaan menyukai kebaikan dan membenci hal-hal yang buruk. Dan dengan dorongan fitrah itu pula, manusia mencintai hidup, harta, lawan jenis, ayah,

Sebab-Sebab Penyimpangan Dari Fithrah

SEBAB-SEBAB PENYIMPANGAN DARI FITHRAH Oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc Kita diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla dikaruniai dengan fitrah. Fitrah tersebut adalah menjadi hamba Allâh, maka fitrah yang dimaksud adalah agama Allâh. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allâh Azza wa Jalla : فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

Kembalikan Hatimu Pada Fitrahnya!

KEMBALIKAN HATIMU PADA FITRAHNYA ! Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA Berbicara tentang hati berarti membicarakan tentang bagian tubuh manusia yang paling penting dan utama, karena baik atau buruknya seluruh anggota badan manusia tergantung dari baik atau buruknya hati.[1] Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ

Islam Tetap Terjaga

ISLAM TETAP TERJAGA Islam diturunkan Allâh Azza wa Jalla untuk seluruh manusia, dimanapun mereka berada. Islam tidak hanya berlaku di Arab saja atau ditempat-tempat tertentu lainnya. Allâh Azza wa Jalla tegaskan dalam al-Qur’an tentang Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang diutus membawa agama yang hanif ini: وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ Dan tiadalah

Makna Dan Cakupan Ibadah

MAKNA DAN CAKUPAN IBADAH[1] Oleh Ustadz Abu Ismail Muslim al-Atsari IBADAH ADALAH HIKMAH PENCIPTAAN Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.

Akal, Keutamaan Dan Keistimewaannya

AKAL, KEUTAMAAN DAN KEISTIMEWAANYA[1] Akal adalah nikmat paling agung pengaruhnya setelah nikmat iman. Semua bukti dan fakta menjadi saksi, bahwa wahyu Allâh Azza wa Jalla dan akal manusia adalah selaras dan serasi. Banyak nash syar’i yang menunjukkan keharusan menggunakan akal untuk bertafakkur, dalam rangka untuk mengenal Allâh Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya dengan menunaikan konsekuensinya.

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (1)

DETIK-DETIK MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Oleh DR.Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili [حَفِظَهُ الله [1 Pembicaraan kita pada kesempatan yang mulia ini adalah materi yang sangat penting dan bukan pembahasan biasa. Saat ini, kita akan membahas dan berbicara tentang kematian kekasih kita, imam kita, pembimbing kita, panutan dan Nabi kita yaitu Muhammad bin Abdillah

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (2)

DETIK-DETIK MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM Oleh DR.Sulaiman bin Salimullah ar-Ruhaili حَفِظَهُ الله KEMATIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BAGI PARA SAHABAT Akhirnya, manusia termulia itupun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat. Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rasûlullâh, kekasih Allâh itu wafat dalam pangkuan istri tercinta Aisyah Radhiyallahu anhuma

Aman Dan Damailah Negeriku

AMAN DAN DAMAILAH NEGERIKU Oleh Syaikh Ali Hasan al-Halaby Hafizhahullah[1] Seorang hamba senantiasa berada dalam limpahan nikmat dari Allâh Azza wa Jalla yang sangat banyak. Nikmat pada agama, pada urusan dunia, pada dirinya sendiri, pada keluarga dan seluruh perkara yang kita rasakan dalam kehidupan ini. Nikmat-nikmat ini menuntut kita untuk bersyukur dan memuji Allâh, Rabb