Kaidah Ke-69 : Ibadah Yang Dilaksanakan Berdasarkan Dalil Syar’i Tidak Boleh Dibatalkan

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Sembilan  كُلُّ عِبَادَةٍ اِنْعَقَدَتْ بِدَلِيْلٍ شَرْعِيٍّ فَلاَ يَجُوْزُ إِبْطَالُهَا إِلاَّ بِدَلِيْلٍ شَرْعِيٍّ آخَرَ Setiap ibadah yang dilaksanakan berdasarkan dalil syar’i tidak boleh dibatakan kecuali dengan dalil syar’i lainnya Sesungguhnya setiap amalan ibadah dalam syari’at Islam bersumber dan berdasarkan dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, hukum asal dalam amal-amal peribadahan adalah terlarang

Kaidah Ke-68 : Disyariatkan Meninggalkan Perbuatan Yang Tidak Dilakukan Nabi

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Delapan كُلُّ فِعْلٍ تَوَفَّرَ سَبَبُهُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَفْعَلْهُ فَالْمَشْرُوْعُ تَرْكُهُ Setiap perbuatan yang sebabnya ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengerjakan perbuatan tersebut maka yang disyariatkan adalah meninggalkan perbuatan (yang tidak dilakukanoleh Nabi) itu.

Kaidah Ke-67 : Mengejar Ibadah Yang Jika Terlewat Tidak Ada Badalnya

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Tujuh إِدْرَاكُ الْعِبَادَاتِ الَّتِي تَفُوْتُ بِغَيْرِ بَدَلٍ أَوْلَى مِنْ إِدْرَاكِ مَايَفُوْتُ إِلَى بَدَلٍ Mengejar ibadah yang jika terlewat tidak ada badalnya lebih utama daripada mengejar  ibadah yang ada badalnya MAKNA KAIDAH Sebelum membahas lebih jauh tentang kaidah ini, perlu kita ketahui bahwa suatu ibadah apabila terlewat dan tidak dikerjakan,

Kaidah Ke-66 : Niat Dalam Sumpah Membuat Lafadz Yang Umum Menjadi Khusus

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Enam النِّيَّةُ فِي الْيَمِيْنِ تُخَصِّصُ اللَّفْظَ الْعَامَّ وَتُعَمِّمُ اللَّفْظَ الْخَاصَّ Niat dalam sumpah membuat lafadz yang umum menjadi khusus dan lafadz khusus menjadi umum MAKNA LAFDZIYAH Kaidah ini terdiri atas beberapa kata yang perlu kita fahami maknanya. Kata yamîn maknanya sumpah. Dinamakan demikian karena kebiasaan yang ada, ketika seseorang

Kaidah Ke-65 : Mengamalkan Dua Dalil Sekaligus Lebih Utama

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Lima إِعْمَالُ الدَّلِيْلَيْنِ أَوْلَى مِنْ إِهْمَالِ أَحَدِهِمَا مَا أَمْكَنَ Mengamalkan dua dalil sekaligus lebih utama daripada meninggalkan salah satunya selama masih memungkinkan MAKNA KAIDAH Kaidah ini menjelaskan patokan yang harus dipegang ketika kita menemui dua dalil yang nampaknya berseberangan atau bertentangan. Maka sikap kita adalah menjamak dan menggabungkan dua dalil

Kaidah Ke-64 : Kemakruhan Hilang Karena Hajat

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Empat الْكَرَاهَةُ تَزُوْلُ بِالْحَاجَةِ Kemakruhan hilang karena hajat MAKNA MAKRUH DAN HAJAT Makruh dan haram termasuk hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf. Keduanya mengandung makna larangan yang telah ditetapkan dalam syari’at agama Islam. Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Mengetahui tahu bahwa seorang mukallaf tidak mampu terus-menerus meninggalkan

Kaidah Ke-63 : Pertengahan Dalam Ibadah Termasuk Sebesar-Besar Tujuan Syari’at

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Tiga الْعَدْلُ فِي الْعِبَادَاتِ مِنْ أَكْبَرِ مَقَاصِدِ الشَّارِعِ Pertengahan dalam ibadah termasuk sebesar-besar tujuan syariat MAKNA KAIDAH Keadilan dan pertengahan adalah ciri menonjol dari agama Islam dan umatnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkan umat ini dengan syariat yang paling sempurna dan manhaj yang paling lurus. Maka umat Islam

Kaidah Ke-62 : Beramal Dengan Dugaan Kuat Dalam Ibadah Telah Mencukupi

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Dua الْعَمَلُ بِغَلَبَةِ الظَّنِّ فِي الْعِبَادَاتِ كَافٍ فِي التَّعَبُّدِ Beramal dengan dugaan kuat dalam ibadah telah mencukupi MUQADDIMAH Substansi kaidah ini merupakan bentuk kasih sayang Allâh Azza wa Jalla kepada para hamba-Nya, sekaligus termasuk kemudahan yang diberikan kepada ummat ini. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kemudahan dan keringan,

Kaidah Ke-61 : Darurat Tidak Menggugurkan Hak Orang Lain

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh Satu الاِضْطِرَارُ لاَ يُبْطِلُ حَقَّ الْغَيْرِ Keadaan darurat tidak menggugurkan hak orang lain MAKNA KAIDAH Kaidah ini merupakan salah satu cabang kaidah “Kesulitan menjadi sebab adanya kemudahan” yang termasuk salah satu dari lima kaidah besar dalam pembahasan fiqih. Juga merupakan penjelasan lanjutan dari kaidah “Keadaan darurat menjadi sebab diperbolehkannya

Kaidah Ke-60 : Berpahala Dengan Niat

QAWA’ID FIQHIYAH Kaidah Ke Enam Puluh لاَ ثَوَابَ إِلاَّ بِالنِّيَّةِ Tidak ada pahala kecuali dengan niat MAKNA KAIDAH Kaidah ini menjelaskan tentang urgensi niat bagi seorang hamba. Karena  pahala di akhirat dan balasan yang baik dari amalan yang dilakukan seorang hamba tidak akan diperoleh kecuali diiringi niat baik dalam rangka bertaqarrub kepada Allâh Azza wa