Stabilitas Keamanan Negara

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1] KEAMANAN ADALAH DAMBAAN DAN TANGGUNGJAWAB BERSAMA Yang kita ketengahkan kali ini adalah suatu tema yang penting; yaitu tentang urgensi stabilitas dan keamanan. Manusia tidak bisa memenuhi maslahat dan kepentingannya bila rasa aman tidak bisa diwujudkan. Mereka tidak bisa hidup dengan tentram, tidak bisa mewujudkan kepentingan dan maslahat mereka, tidak bisa menunaikan ibadah

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Memohon Keamanan

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1] RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MEMOHON KEAMANAN Wasiat dari seseorang yang mencintai saudaranya, agar saudara-saudaranya tersebut senantiasa mengucapkan doa yang senantiasa dipanjatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki waktu pagi dan ketika mulai memasuki waktu petang  hari. Juga doa yang Beliau Shallallahu ‘alaihi

Korelasi Antara Iman Dan Keamanan

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1] KORELASI ANTARA IMAN DAN KEAMANAN Antara keamanan dan iman terdapat korelasi dan ikatan yang sangat erat. Keamanan akan semakin kuat dengan kuatnya iman; dan sebaliknya keamanan akan semakin melemah seiring dengan melemahnya iman. Allâh Azza wa Jalla berfirman: الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ Orang-orang yang beriman

Keamanan Dan Negara

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1] KEAMANAN DAN NEGARA Keamanan itu membutuhkan Negara, jamaah dan pemimpin. Unsur-unsur ini saling berkaitan, sebagaimana disebutkan dalam banyak nash dari Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keamanan tidak terwujud kecuali dengan adanya jama’ah dan suatu jama’ah tidak akan ada kecuali dengan adanya pemimpin dan pemimpin tidak akan berfungsi kecuali dengan didengar dan

Ahlus Sunnah Melarang Memberontak Kepada Pemerintah (Pemimpin Kaum Muslimin)

AHLUS SUNNAH MELARANG MEMBERONTAK KEPADA PEMERINTAH (PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN) Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالى Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah melarang kaum Muslimin untuk memberontak terhadap pemimpin kaum Muslimin apabila mereka melakukan hal-hal yang menyimpang, selama hal tersebut tidak termasuk amalan kufur.[1] Hal ini sesuai dengan perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kepemimpinan Yang Dipahami Dari Dalil-Dalil Syar’i Dan Ketetapan Para Ulama

BEBERAPA MASALAH PENTING SEPUTAR KEPEMIMPINAN YANG DIPAHAMI DARI DALIL-DALIL SYAR’I DAN KETETAPAN PARA ULAMA MASALAH PERTAMA Sebuah Kepemimpinan (wilayah) dianggap sah dan diberlakukan hukum-hukumnya dengan salah satu dari tiga cara yaitu: 1. Dibai’at (janji setia untuk taat) oleh Ahlul hal wal ‘Aqdi Sebagaimana bai’atnya para Sahabat kepada Abu Bakr ash-Shiddîq Radhiyallahu anhu 2. Dipilih oleh

Manhaj Yang Benar Dalam Menasihati Pemerintah Yang Zhalim

MANHAJ YANG BENAR DALAM MENASIHATI PEMERINTAH YANG ZHALIM Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالى Prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tidak mengadakan provokasi atau penghasutan untuk memberontak kepada penguasa meskipun penguasa itu berbuat zhalim. Tidak boleh melakukan provokasi, baik dari atas mimbar, tempat khusus atau pun umum, dan media lainnya. Karena yang

Faedah Dari Dua Ayat Tentang Kepemimpinan.

FAEDAH DARI DUA AYAT TENTANG KEPEMIMPINAN Oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc Allâh Azza wa Jalla berfirman: إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴿٥٨﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ

Keberkahan Taat Kepada Pemimpin

KEBERKAHAN TAAT KEPADA PEMIMPIN Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan Maqâshid Syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Tidaklah ada satu ajaran dalam syariat Islam, melainkan dalam ajaran tersebut

Bagaimana Menyikapi Penguasa?

BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA? Pemimpin atau penguasa adalah manusia biasa yang pasti memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang berkonsekuensi dosa atau tidak. Namun sayang, banyak orang melupakan kodrat ini. Mereka menuntut pemimpin mereka sempurna dan dicintai semua rakyatnya. Sebuah tuntutan yang tidak realistis. Berawal dari tuntutan berlanjut kekecewaan akhirnya berujung pembangkangan. Pada akhirnya,