Lima Metodologi Yang Menunjang Tadabbur Al-Qur’an

LIMA METODOLOGI YANG MENUNJANG TADABBUR Al-QUR’AN Oleh DR. Kamal Qalami[1] Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan Kitab-Nya yang mulia kepada hamba-Nya sebagai petunjuk, rahmat, penerang, pembawa kabar gembira serta peringatan bagi siapa saja yang mau mengambil peringatan. Allâh Azza wa Jalla  juga mengajak mereka untuk membaca dan mentadaburinya (merenunginya), sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman

Urgensi Mengenal Kisah-Kisah Dalam Al-Qur`an

URGENSI MENGENAL KISAH-KISAH DALAM AL-QUR’AN Oleh Ustadz Khalid Syamhudi Lc Al- Qur`an merupakan petunjuk bagi manusia, artinya semua yang disampaikannya merupakan pesan dan nasihat-nasihat sehingga menjadi suatu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk pribadi manusia dari dahulu sampai dengan sekarang. Diantara metode al-Qur’an dalam menyampaikan pesan dan nasehat adalah melalui kisah. Al-Qur`an membawakan banyak sekali

Antara Sabar Dan Ilmu

ANTARA SABAR DAN ILMU[1]  الصَّبْرُ أَكْبَرُ عَوْنٍ عَلَى جَمِيْعِ الأُمُوْرِ، وِالإِحَاطَةُ بِالشَّيْءِ عِلْمًا وَخَبَرًا هُوَ الَّذِي يُعِيْنُ عَلَى الصَّبْرِ “Kesabaran merupakan faktor pendukung terbesar dalam segala hal, sementara pengetahuan terhadap sesuatu baik secara ilmu maupun pengalaman merupakan faktor pendukung kesabaran” Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat bermanfaat. Hal ini telah ditunjukkan oleh al-Qur’an dalam banyak tempat.

Asal Usul Catatan Kebaikan Bagi Seorang Hamba

ASAL USUL CATATAN KEBAIKAN BAGI SEORANG HAMBA يُكْتَبُ لِلْعَبْدِ عَمَلُهُ الَّذِيْ بَاشَرَهُ، وَيُكَمَّلُ لَهُ مَا شَرَعَ فِيْهِ وَعَجَزَ عَنْ تَكْمِيْلِهِ قَهْراً عَنْهُ، وَيُكْتَبُ لَهُ مَا نَشَأَ عَنْ عَمَلِهِ Seorang hamba akan ditulis untuknya perbuatan yang dia lakukan sendiri dan akan dinilai sempurna amal perbuatan yang mulai dilakukannya namun dia terpaksa tidak bisa melanjutkannya juga akan

Iman Dan Amal Shaleh Sebagai Standar Kebaikan

IMAN DAN AMAL SHALEH SEBAGAI STANDAR KEBAIKAN يُرْشِدُ الْقُرْآنُ إِلَى أَنَّ الْعِبْرَةَ بِحُسْنِ حَالِ الإِنْسَانِ : إِيْمَانُهُ الصَّحِيْحُ وَعَمَلِهِ الصَّالِحُ، وَأَنَّ الاِسْتِدْلاَلَ عَلَى ذَلِكَ باِلدَّعَاوَى الْمُجَرَّدَةِ أَوْ بِإِعْطَاءِ اللهِ لِلْعَبْدِ مِنَ الدُّنْيَا بِالرِّيَاسَاتِ, كُلُّ ذَلِكَ مِنْ طُرُقِ الْمُنْحَرِفِيْنَ Al-Qur’ân memberikan petunjuk bahwa standar baiknya seseorang adalah keimanan dan amal shalehnya. Al-Qur’ân juga menunjukkan bahwa mengukur

Mendahulukan Mashlahat Tertinggi Dan Mengutamakan Keburukan Terkecil

MENDAHULUKAN MASHLAHAT TERTINGGI DAN MENGUTAMAKAN KEBURUKAN TERKECIL فِي الْقُرْآنِ عِدَّةُ آيَاتٍ فِي الْحَثِّ عَلَى أَعْلَى الْمَصْلَحَتَيْنِ وَتَقْدِيْمِ أَهْوَنِ الْمَفْسَدَتَيْنِ، وَمَنْعِ مَا كَانَتْ مَفْسَدَتُهُ أَرْجَحَ مِنْ مَصْلَحِتِهِ Dalam beberapa ayat al-Qur’an ada anjuran agar (kaum Muslimin) mendahulukan mashlahat yang lebih besar atau mendahulukan mafsadah yang lebih kecil serta ada larangan dari (melakukan) sesuatu yang mafsadah (keburukan)nya

Muhkam Dan Mutasyabih

MUHKAM DAN MUTASYÂBIH الْقُرْآنُ كُلُّهُ مُحْكَمٌ بِاعْتِبَارٍ، وَكُلُّهُ مُتَشَابِهٌ بِاعْتِبَارٍ، وَبَعْضُهُ مُحْكَمٌ وَبَعْضُهُ مُتَشَابِهٌ بِاعْتِبَارٍ ثَالِثٍ Dipandang dari satu sisi, al-Qur’ân itu semuanya muhkam; Dari sisi yang lain, semuanya mutasyâbih; Dan dari sisi yang lain, sebagian dari al-Qur’ân itu muhkam, sementara sebagiannya lagi mutasyâbih. Pembahasan tentang muhkam dan mutasyâbih ini sangat penting. Karena betapa banyak

Arti Perumpamaan Dalam Al-Qur’an

ARTI PERUMPAMAAN DALAM AL-QUR’AN al-Qur’anul karim sebagai kitab pedoman berisi berbagai pembahasan bermanfaat yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam segala kondisi. Misalnya, dalam metode pembelajaran dan cara menanamkan sebuah nilai dalam hati seseorang. Metode yang dipakai adalah metode yang simpel dan paling jelas. Diantara metodenya yaitu dengan membuat perumpamaan-perumpamaan. Metode ini dipakai untuk menyampaikan masalah-masalah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Jadikan Sebab/Prantara Sebagai Kabar Gembira

ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA JADIKAN SEBAB/PRANTARA SEBAGAI KABAR GEMBIRA جَعَلَ اللهُ الأَسْبَابَ لِلْمَطَالِبِ الْعَالِيَةِ مُبَشِّرَاتٍ لِتَطْمِيْنِ الْقُلُوْبِ وَزِيَادَةِ الإِيْمَانِ Allâh menjadikan prantara bagi semua tujuan yang tinggi sebagai mubassyirat (pembawa kabar gembira) agar hati menjadi tenang dan iman bertambah Allâh Azza wa Jalla Mahakuasa untuk mewujudkan semua tujuan dan maksud yang diinginkan oleh para hamba-Nya

Membuang Ma’mul Menyebabkan Maknanya Menjadi Umum

MEMBUANG MA’MUL[1] MENYEBABKAN MAKNANYA MENJADI UMUM Kaidah ini merupakan salah satu dari kaidah yang sangat bermanfaat. Ketika kaidah ini diterapkan oleh seorang dalam memahami ayat-ayat al-Qur’ân, maka dia akan memetik banyak manfaat. Karena sebuah kata kerja atau yang semisal dengannya, jika sudah dikaitkan dengan sesuatu, maka makna kata kerja itu terikat dengan sesuatu itu. Namun