Keharusan Menerima Khabar Ahad Dalam Semua Bidang Agama

KEHARUSAN MENERIMA KHABAR AHAD DALAM SEMUA BIDANG AGAMA Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc Mengharamkan khabar ahad untuk menjadi hujjah tanpa diperkuat dengan dalil dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti telah menetapkan hukum tidak sesuai dengan apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami meminta kepada mereka yang menuntut

Penolakan Khabar Ahad Dari Sisi Empiris

PENOLAKAN KHABAR AHAD DARI SISI EMPIRIS Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc Dalil Pertama. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggunakan kata “zhanna” untuk dua makna yang berbeda, bahkan bertolak belakang. Hal ini tidak difahami dengan baik oleh kelompok yang menolak khabar ahad. Mereka hanya memberikan satu makna saja untuk kata “azh zhann”, yaitu bermakna

Mengapa Menolak Khabar Ahad?

MENGAPA MENOLAK KHABAR AHAD? (KAJIAN EMPIRIS DAN HISTORIS) Oleh Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc PENGANTAR Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, yang menurunkan Al Qur’an Al Karim sebagai petunjuk dan peringatan bagi seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia. Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad sebagai utusan Allah dan

Benarkah Imam Bukhari Tidak Menjadikan Hadits Ahad Sebagai Hujjah Dalam Aqidah?

BENARKAH IMAM BUKHARI TIDAK MENJADIKAN HADITS AHAD SEBAGAI HUJJAH DALAM AQIDAH? Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat Pernyataan seperti ini adalah sebuah kebohongan yang nyata. Hadits-hadits yang kita bawakan di atas, semuanya terdapat di Shahih Bukhari, dalam kitab Al Iman. Lantas, bagaimana mungkin dikatakan, beliau tidak menjadikannya sebagai hujjah?! Juga dapat kita lihat dalam

Contoh-Contoh Hadits Ahad

CONTOH-CONTOH HADITS AHAD Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir ‘Abdat MUKADDIMAH Pembahasan mengenai hadits ahad dan hubungannya dengan aqidah, atau hukum dan aqidah, itu tidak pernah dibicarakan oleh generasi pertama, kedua dan ketiga. Khususnya para sahabat g , tidak pernah memilah atau membagi-bagi hadits, seperti pembagian yang dilakukan oleh sebagian ahli bid’ah, bahwa hadits ahad

Kafarat Orang Yang Berhubungan Suami Istri Di Siang Ramadhan

KAFARAT ORANG YANG BERHUBUNGAN SUAMI ISTRI DI SIANG RAMADHAN Oleh Ustadz Abu Asma’ Kholid bin Syamhudi عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ قَالَ مَا لَكَ قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي وَأَنَا صَائِمٌ وَ فِيْ رِوَايَةٍ أَصَبْتُ أَهْلِيْ فِيْ

Tidak Ada Kesulitan Dalam Islam

TIDAK ADA KESULITAN DALAN ISLAM Oleh Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا-، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ إِنَّ اللهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari

Hadits Dan Riwayat Palsu Di Sebagian Pengajian

HADITS DAN RIWAYAT PALSU DI SEBAGIAN PENGAJIAN Oleh Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari AL-QUR’AN DAN SUNNAH ADALAH SUMBER PERBAIKAN HATI Kita, kaum muslimin, harusnya tidak menulis, atau tidak menyampaikan ceramah maupun khutbah, kecuali berisi ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih dan kisah-kisah yang benar. Tidak perlu membawakan hadits-hadits yang dha’if (lemah), maudhu dan kisah-kisah batil.

Makna Hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam : Maailat Mumiilaat

MAKNA HADITS NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM : MAAILAAT MUMIILAAT Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Pertanyaan. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya Maailaat Mumiilaat? Jawaban Ini hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa

Kisah Tsa’labah Bin Hathib Al-Anshariy Dan Kisah Sakaratul Mautnya Al-Qamah

KISAH TSA’LABAH BIN HATHIB AL-ANSHARIY Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat “Sedikit (harta) yang engkau tunaikan (kewajiban) syukurnya labih baik dari banyak (harta) yang engkau tidak sanggup menunaikan (kewajiban syukurnya)” SANGAT LEMAH. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Al-Maawardiy dan Ibnu Sakan dan Ibnu Syaahin dan lain-lain sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Katsir di Tafsir-nya (2/374