Agama Adalah Nasihat

AGAMA ADALAH NASIHAT Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالى Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ  ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ  أَنَّهُ قَالَ: اَلدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، قَالُوْا: لِمَنْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: لِلهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. Dari Abi Ruqayyah, Tamim bin

Abu Ishaq As-Sabi’i Rahimahullah, Dan Nasehatnya Bagi Para Pemuda

ABU ISHÂQ AS-SABÎ’I RAHIMAHULLAH, DAN NASEHATNYA BAGI PARA PEMUDA Oleh Ustadz Abu Minhal Lc Profil Singkat Abu Ishâq As-Sabî’i Rahimahullah Abu Ishâq as-Sabî’i rahimahullah adalah ‘Amr bin Abdillah al-Hamdâni al-Kûfi. Ulama ini lebih populer  dengan panggilan Abu Ishâq as-Sabî’i  rahimahullah. Beliau termasuk Ulama besar dan ahli hadits kota Kufah di negeri Irak pada masanya. Pada

Tauhid Uluhiyah Hikmah Penciptaan Makhluk

TAUHID ULÛHIYAH HIKMAH PENCIPTAAN MAKHLUK[1] Tauhid ulûhiyah maksudnya adalah mengesakan Allâh Azza wa Jalla dengan ibadah. [Tathhîrul I’tiqâd, hlm. 13, Prinsip ketiga, karya Ash-Shan’ani; Durar as-Saniyah, 2/291; Syarh ath-Thahâwiyah, hlm. 24] Dengan melihat penisbatan kepada Allâh Azza wa Jalla, tauhid ini dinamakan tauhid ulûhiyah (mengesakan hak Allâh dalam ibadah), namun jika dilihat dari penisbatan kepada makhluk,

Tauhid ar-Rubûbiyah Mengharuskan Tauhid al-Ulûhiyah

TAUHID AR-RUBUBIYAH[1] TAUHID AR-RUBUBIYAH MENGHARUSKAN TAUHID AL-ULUHIYAH[2] Barangsiapa mengakui Allâh Azza wa Jalla sebagai Penciptanya, Pemiliknya, Pemberi rezeki kepadanya, Pemberi berbagai kenikmatan kepadanya yang tidak terhitung kepadanya, yang terus menerus dalam semua waktu dan keadaan, sejak ia belum dilahirkan sampai meninggal dunia, dan juga mengakui bahwa Allâh sebagai Pengatur segala urusannya, maka pengakuan tersebut menuntutnya

Tauhid Ar-Rububiyah

TAUHID AR-RUBÛBIYAH[1] Tauhid ar-Rubûbiyah adalah mengimani bahwa Allâh itu ada dan meyakini keesaan-Nya dalam segala perbuatan-Nya. Atau meyakini bahwa Allâh adalah al-Khâliq (Pencipta), ar-Râziq (Pemberi rezeki), al-Mudabbir (Pengatur/Penguasa) segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya. Atau: meyakini keesaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan segala perbuatan-Nya. [Lihat, Majmû’at Tauhîd, 1/5] Cakupan Tauhid ar-Rubûbiyah Tauhid ar-Rubûbiyah mencakup hal-hal

Cerdas Dengan Tauhid

CERDAS DENGAN TAUHID Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin Sesungguhnya, kemusyrikan mengindikasikan kebodohan dan keterbelakangan pelakunya, demikian pula sebaliknya, tauhid mengindikasikan kecerdasan dan kemajuan pelakunya. Setiap orang musyrik pasti terbelakang cara berpikirnya, sedangkan orang bertauhid pasti cerdas dan maju cara berpikirnya. Oleh karena itu, sesungguhnya yang disebut ulû al-albâb adalah orang-orang yang bertauhid. Mengapa demikian? Ketika

Tauhid Adalah Aqidah Bawaan Manusia

TAUHID ADALAH AQIDAH BAWAAN MANUSIA[1] MAKNA TAUHID Kata ‘tauhid’ dalam bahasa Arab adalah mashdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja: وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا wahhada – yuwahhidu –tauhîdan, artinya membuat sesuatu menjadi satu. [Lihat Lisânul ‘Arab, Bâb wa ha da; At-Ta’rîfât, hlm. 96; Al-Hujjah, 1/305, 306] Adapun secara istilah agama, tauhid artinya mengimani

Siapa Ahlul Fatrah?

SIAPA AHLUL FATRAH? Pertanyaan. Siapa sajakah yang termasuk ahlul fatrah ? Apakah mereka itu yang hidup sesudah Nabi Isa Alaihissallam dan sebelum Nabi Muhammad ? Bagaimana dengan kedua orang tua Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Apa standarnya ? Jazâkumullâh khairan. Jawaban. Kata fatrah disebutkan dalam kitab suci al-Qur’ân, yaitu dalam firman Allâh Azza wa

Syirikkah Perbuatan Ini?

SYIRIKKAH PERBUATAN INI? Pertanyaan. Assalamualaikum, ustadz saya mau bertanya tentang syirik dengan penenang. Apabila saya merasa tenang dikarenakan sudah menutup pintu atau mematikan lampu kamar mandi atau mengunci pagar rumah, apakah itu termasuk syirik dengan penenang ? Karena saya belum merasa tenang kalau belum lakukan itu semua Jawaban. Mematikan lampu, menutup pintu, jendela, pagar rumah

Mengapa Terjerumus Dalam Ibadah Kepada Selain Allah?

MENGAPA TERJERUMUS DALAM IBADAH KEPADA SELAIN ALLÂH? Oleh Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin Tidak seorangpun Muslim yang mengingkari bahwa beribadah kepada selain Allâh adalah kufur dan syirik akbar. Tetapi mengapa sebagian kaum Muslimin terjerumus ke dalam kemusyrikan ini? Ternyata terdapat masalah-masalah rancu yang melilit pemahaman sebagian kaum Muslimin, sehingga tanpa disadari mereka terperangkap ke dalamnya. Ada