Bolehkah Rumah Tangga Beda Agama?

BOLEHKAH RUMAH TANGGA BEDA AGAMA? Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ Sesungguhnya segala puji

Hukum Seorang Muslim Menikahi Orang Kafir Yang Tidak Memiliki Kitab

HUKUM SEORANG MUSLIM MENIKAHI ORANG KAFIR YANG TIDAK MEMILIKI KITAB Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi HUKUM MENIKAHI WANITA MUSYRIK Seorang muslim dilarang menikahi wanita-wanita musyrik [1]. Pendapat ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman”[al-Baqarah/2 : 221] Juga dengan

Hukum Seorang Muslim Menikahi Wanita Ahli Kitab

HUKUM SEORANG MUSLIM MENIKAHI WANITA AHLI KITAB [Yang Merdeka, Yang Berstatus Sebagai Ahli Dzimmah [1], Dan Yang Menjaga Kehormatannya] Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Di kalangan para ulama ada dua pendapat dalam masalah ini. Pendapat Pertama. Seorang muslim halal menikahi wanita-wanita Ahli Kitab, baik yang merdeka, yang berstatus sebagai Ahli Dzimmah, ataupun

Dampak Negatif Menikahi Wanita Ahli Kitab

DAMPAK NEGATIF MENIKAHI WANITA AHLI KITAB Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Pada saat Allah membolehkan pernikahan, di sana mengandung tujuan sebagai cara untuk memperbaiki akhlak. Sehingga dapat membersihkan masyarakat dari akhak yang buruk, lebih menjaga kemaluan, menegakkan masyarakat dengan sistem Islam yang bersih, dan melahirkan umat muslim yang bersyahadat La ilaaha illallah

Hikmah Diperbolehkannya Seorang Muslim Menikahi Wanita Ahli Kitab

HIKMAH DIPERBOLEHKANNYA SEORANG MUSLIM MENIKAHI WANITA AHLI KITAB Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Mungkin ada seseorang yang bertanya seraya berkata : “… pengaruh negatif menikahi wanita Ahli Kitab ini senatiasa ada , tetapi kenapa Islam membolehkan hal tersebut dan tidak mengharamkannya?” Kami katakan, hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita memohon taufiq-Nya,

Penjelasan Wanita-Wanita Ahli Kitab Yang Dilarang Untuk Dinikahi

PENJELASAN WANITA-WANITA AHLI KITAB YANG DILARANG UNTUK DINIKAHI Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi WANITA AHLI KITAB YANG DIPERANGI Sehubungan dengan wanita Ahli Kitab yang diperangi, maka para ulama memakruhkan (membenci) menikahinya, bahkan Ibnu Al-Hammam mengutip dari pendapat madzhab Hanafiyah, yang mengatakan adanya ijma’ dalam masalah tersebut, dengan berbagai alasan sebagai berikut. 1.

Hukum Pernikahan Sesama Orang-Orang Kafir

HUKUM PERNIKAHAN SESAMA ORANG-ORANG KAFIR Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Para ulama masih berbeda pendapat tentang masalah ini menjadi dua pendapat. Pendapat Pertama Pendapat jumhur ulama, yaitu madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanbaliyah, menyatakan bahwa pernikahan sesama orang-orang kafir adalah sah. [1] Pendapat Kedua Pendapat yang masyhur dari kalangan madzhab Malikiyah adalah bahwa

Hukum Pernikahan Orang Kafir Yang Tidak Sah Setelah Diketahui Hakim Dan Setelah Masuk Islam

HUKUM PERNIKAHAN ORANG-ORANG KAFIR YANG TIDAK SAH SETELAH DIKETAHUI HAKIM DAN SETELAH MASUK ISLAM Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Menurut madzhab Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanbaliyah :”Sepasang suami-istri non muslim, apabila keduanya telah melapor kepada hakim atau masuk Islam, maka pada waktu wanita tersebut diketahui oleh hakim atau masuk Islam, maka pernikahannya boleh

Hukum Seorang Suami Yang Masuk Islam Sedangkan Ia Memiliki Lebih Empat Istri

HUKUM SEORANG SUAMI YANG MASUK ISLAM SEDANGKAN IA MEMILIKI LEBIH EMPAT ISTRI Oleh Humaidhi bin Abdul Aziz bin Muhammad Al-Humaidhi Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa orang yang masuk Islam sedangkan ia memiliki lebih dari empat istri, maka ia harus memilih empat dari mereka dan menceraikan yang selainnya. Imam Malik, Syafi’i dan