Bagaimana (Penjelasan Mengenai) Allah Menghendaki Sesuatu, Sedangkan Dia Tidak Menyukainya?

BAGAIMANA (PENJELASAN MENGENAI) ALLAH MENGHENDAKI SESUATU, SEDANGKAN DIA TIDAK MENYUKAINYA?[1] Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Jika ditanyakan: Bagaimana (penjelasan mengenai) Allah menghendaki suatu perkara, dan dalam waktu yang sama Dia tidak meridhainya dan tidak menyukainya? Bagaimana mengompromikan antara kehendak-Nya kepada hal tersebut dan kebencian-Nya? Jawabannya: Apa yang dikehendaki itu ada dua macam: apa yang

Apakah Keburukan Dapat Dinisbatkan Kepada Allah Ta’ala?

APAKAH KEBURUKAN DAPAT DINISBATKAN KEPAD ALLAH TA’ALA? Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Jika seseorang bertanya: Kita beriman kepada qadar, baik dan buruknya, yang berasal dari Allah, tetapi apakah dibenarkan menisbatkan keburukan kepada Allah Ta’ala? Apakah ada hal yang buruk dalam perbuatan-perbuatan-Nya? Jawabannya: Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Mahasuci dari keburukan, dan tidak berbuat kecuali

Kehendak Allah (al-Iraadah ar-Rabbaaniyyah)

KEHENDAK ALLAH (AL-IRAADAH AR-RABBAANIYYAH) Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Al-iraadah ar-rabbaaniyyah (kehendak Allah Azza wa Jalla) terbagi menjadi dua macam: 1. Iraadah Kauniyyah Qadariyyah (Sunnatullah). Iraadah ini semakna dengan masyii-ah (kehendak Allah), dan mengenai iraadah ini, tidak ada sesuatu pun yang keluar dari ruang lingkupnya. Orang kafir dan muslim sama berada dalam iraadah kauniyyah

Kapan Dibolehkan Berdalih Dengan Qadar?

KAPAN DIBOLEHKAN BERALIH DENGAN QADAR? Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Diizinkan berdalih dengan qadar pada saat musibah menimpa manusia, seperti kefakiran, sakit, kematian kerabat, matinya tanaman, kerugian harta, pembunuhan yang tidak disengaja, dan sejenisnya, karena hal ini merupakan kesempurnaan ridha kepada Allah sebagai Rabb. Maka berdalih dengan takdir hanyalah terhadap musibah, bukan pada perbuatan

(Bolehkah) Beralasan Dengan Takdir Atas Perbuatan Maksiat Atau Dari Meninggalkan Kewajiban

(BOLEHKAH) BERALASAN DENGAN TAKDIR ATAS PERBUATAN MAKSIAT ATAU DARI MENINGGALKAN KEWAJIBAN Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Keimanan kepada qadar tidaklah memperkenankan pelaku kemaksiatan untuk beralasan dengannya atas kewajiban yang ditinggalkannya atau kemaksiatan yang dikerjakannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Tidak boleh seseorang berdalih dengan takdir atas dosa (yang dilakukannya) berdasarkan kesepakatan (ulama) kaum

Apakah Melakukan Sebab-Sebab Dapat Manafikan Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar?

APAKAH MELAKUKAN SEBAB-SEBAB DAPAT MENAPIKAN KEIMANAN KEPADA QADHA’ DAN QADAR? Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Melakukan sebab-sebab itu tidak menafikan iman kepada qadar, bahkan melakukannya merupakan kesempurnaan iman kepada qadha’ dan qadar. “Karena itu, hamba berkewajiban -disamping beriman kepada qadar- untuk bersungguh-sungguh dalam pekerjaan, menempuh faktor-faktor kesuksesan, dan bersandar kepada Allah Subhanahuwa Ta’ala agar

Apakah Iman Kepada Qadar Menafikan Kehendak Hamba Dalam Berbagai Perbuatan Yang Dapat Dipilihnya?

APAKAH IMAN KEPADA QADAR MENAFIKAN KEHENDAK HAMBA DALAM BERBAGAI PEBUATAN YANG DAPAT DIPILIHNYA? Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Iman kepada qadar -sebagaimana yang telah disinggung- tidak menafikan keadaan hamba dalam memiliki kehendak pada perbuatan-perbuatan yang dipilihnya dan mempunyai kuasa terhadapnya. Hal itu ditunjukkan oleh syari’at dan fakta. Dalam syar’at, dalil-dalil mengenai hal itu sangat

Apa Kewajiban Hamba Berkenaan Dengan Masalah Takdir?

APA KEAJIBAN HAMBA BERKENAAN DENGAN MASALAH TAKDIR? Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Kewajiban seorang hamba dalam masalah ini ialah mengimani qadha’ Allah dan qadar-Nya, serta mengimani syari’at, perintah dan larangan-Nya. Ia berkewajiban untuk membenarkan khabar (berita) dan mentaati perintah. [1] Jika ia berbuat kebajikan, hendaklah ia memuji Allah dan jika ia berbuat keburukan, hendaklah

Macam-Macam Takdir

MACAM-MACAM TAKDIR[1] Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Macam-macam takdir itu antara lain: 1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang bersifat umum). 2. At-Taqdiirul Basyari (Takdir yang berlaku untuk manusia). 3. At-Taqdiirul ‘Umri (Takdir yang berlaku bagi usia). 4. At-Taqdiirus Sanawi (Takdir yang berlaku tahunan). 5. At-Taqdiirul Yaumi (Takdir yang berlaku harian). 1. At-Taqdiirul ‘Aam (Takdir yang

Tingkatan-Tingkatan Qadar : Tingkatan Ketiga Al-Masyii-ah, Tingkatan Keempat Al-Khalq

TINGKATAN-TINGKATAN QADAR DAN RUKUN-RUKUNNYA Oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd Iman kepada qadar berdiri di atas empat rukun yang disebut tingkatan-tingkatan qadar atau rukun-rukunnya, dan merupakan pengantar untuk memahami masalah qadar. Iman kepada qadar tidak sempurna kecuali dengan merealisasikannya secara keseluruhan, sebab sebagiannya berkaitan dengan sebagian lainnya. Barangsiapa yang memantapkannya secara keseluruhan, maka keimanannya kepada