Akhlak Terhadap Orang Kafir

AHLAK TERHADAP ORANG KAFIR


Oleh
Syaikh Ali bin Hasan Abdul Hamid Al-Halaby




Pertanyaan
Syaikh Ali bin Hasan Abdul Hamid Al-Halaby ditanya : Bagaimana akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bergaul dengan orang-orang kafir?

Jawaban
Akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika ditanya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu ‘anha menjawab.

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an”

Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat.

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Al-Qalam : 4]

Kata “khuluqin ‘azhim” (budi pekerti yang agung) dalam ayat ini, mencakup seluruh akhlak terhadap semua makhluk, sebagaimana sudah disampaikan pada ceramah yang pertama tadi seputar rahmat (Lihat artikel “Islam Rahmat Bukan Ancaman). Rahmat (rasa kasih sayang) merupakan akhlak yang paling tinggi, motivator serta motor penggerak utama suatu akhlak.

Jika contoh-contoh dan riwayat-riwayat yang telah dibawakan dalam ceramah tersebut berkaitan dengan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang kafir dalam peperangan, maka bagaimana kita akan menggambarkan akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka dalam kondisi damai?

Saya akan menyebutkan tiga hadits tentang hal itu.

Hadits Pertama, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِنَّ الرُّسُلَ لاَ تُقْتَلُ
“ …. Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh” [Hadits Riwayat Abu Dawud]

Maksudnya adalah, para utusan yang dikirim oleh orang-orang kafir sebagai duta dan penghubung antara kaum muslimin dengan kaum kafir.

Keadilan dan kasih sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan mentaati) perjanjian dan ikatan janji.

Ini diantara gambaran cara bergaul tingkat tinggi dari kaum muslimin, atau dari agama Islam, atau dari Nabi Islam kepada orang-orang kafir, non Islam.

Hadits Kedua, yaitu dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mua’dz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“ …. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” [Hadits Riwayat Ahmad, Tirmidzi, Darimi]

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Pergaulilah kaum muslimin, atau orang-orang yang shalih, atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan “ … dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Maksudnya adalah semua menusia, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang shalih, sebagai bentuk keluasan rahmat dan kelengkapannya dengan akhlak din (agama).

Hadits Ketiga, yaitu hadits tentang seorang Yahudi, tetangga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa orang yang selalu menyakitinya ini memiliki seorang anak yang sedang sekarat. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang berkunjung ke rumahnya dan mengajaknya menuju jalan Rabb-nya, dengan harapan semoga Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki keadaan orang ini.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas keburukan dengan kebaikan, meskipun terhadap orang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada si anak, sementara bapaknya juga ada bersama mereka.

يَا غُلاَمُ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ تُنْجيِْكَ مِنَ النَّارِ

“Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah, itu akan menyelamatkanmu dari api neraka”.

Mendengar seruan ini, si anak memandang ke arah bapaknya dan memperhatikannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi.

يَا غُلاَمُ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Wahai bocah, katakanlah laa ilaaha illallah!”

Si anak memandang ke arah bapaknya lagi.

Kejadian yang sama juga terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pamannya, Abu Thalib, yang senantiasa membantu dan menolong Islam, kaum muslimin serta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi, dia tidak masuk Islam. Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya.

يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Wahai paman, katakanlah laa ilaaha illallah ….”

Mendengar seruan ini, Abu Thalib memandang para pembesar Quraisy. Lalu mereka mengatakan.

أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ آبَائِكَ

“Apakah kamu benci terhadap agama nenek moyangmu” [Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari]

Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam kekafiran.

Sedangkan orang Yahudi (dalam cerita diatas) yang mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak anaknya agar masuk Islam, Allah menceritakan kondisi mereka.

الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَآءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لاَيُؤْمِنُونَ

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak beriman (kepada Allah)” [Al-An’am : 20]

Bagaimana jawaban dan responnya ? Orang Yahudi itu mengatkan.

أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ

“Wahai anakku, taatlah kepada Abul Qasim (Muhammad)!”.

Maka si anak, mengucapkan syahadatain :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ

Sebelum menghembuskan napas terakhir.

Mendapat respon positif ini, Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَخْرَجَهُ بِي مِنْ النَّارِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari nereka dengan sebabku” [Hadits Riwayat Bukhari, 1356, Ahmad, Abu Dawud]

Inilah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, adab beliau yang luhur terhadap orang-orang non muslim, ketika kondisi perang dan dalam keadaan damai. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjadikan akhlak kita sama seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semoga Allah menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutan terbaik kita. Allah berfirman.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahnat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab : 21]

[Syaikh Ali bin Abdul Hamid Hasan Al-Halaby, dalam Muhadharah di Masjid Istiqlal Jakarta, 19 Februari 2006]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo-Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
BAHASAN :