Manhaj Dakwah Di Jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

MANHAJ DAKWAH DI JALAN ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله  Dari Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengutus Mu’adz Radhiyallahu anhu ke Yaman Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّكَ سَتَأْتِيْ قَوْمًا أَهْلَ كِتَابٍ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَىْهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا

Kewajiban Ittiba’ (Mengikuti) Jejak Salafush Shalih Dan Menetapkan Manhajnya

KEWAJIBAN ITTIBA’ (MENGIKUTI) JEJAK SALAFUSH SHALIH DAN MENETAPKAN MANHAJNYA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Mengikuti manhaj/jalan Salafush Shalih (yaitu para Shahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut: DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN Allah Subhanhu wa Ta’ala berfirman: فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ

Rumah Tangga Yang Ideal

RUMAH TANGGA YANG IDEAL Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Menurut ajaran Islam, rumah tangga yang ideal adalah rumah tangga yang diliputi sakinah (ketentraman jiwa), mawaddah (rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang). Allah Ta’ala berfirman. وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي

Cabang-Cabang Iman

CABANG-CABANG IMAN Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ia

Hukum Wasilah (Tawassul)

HUKUM WASILAH (TAWASSUL) Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله al-Wasilah  secara bahasa (etimologi) berarti segala hal yang dapat menggapai sesuatu atau dapat mendekatkan kepada sesuatu. Bentuk jamaknya adalah wasaa-il.[1] al-Fairuz Abadi mengatakan tentang makna “وَسَّلَ إِلَى اللهِ تَوْسِيْلاً”: “Yaitu ia mengamalkan suatu amalan yang dengannya ia dapat mendekatkan diri kepada Allâh,”[2] Selain

Tujuan Pernikahan Dalam Islam

TUJUAN PERNIKAHAN DALAM ISLAM Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله 1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia yang Asasi Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan ‘aqad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini; dengan berpacaran,

Pernikahan Adalah Fitrah Bagi Manusia

PERNIKAHAN ADALAH FITRAH BAGI MANUSIA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Agama Islam adalah agama fitrah, dan manusia diciptakan Allah ‘Azza wa Jalla sesuai dengan fitrah ini. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla menyuruh manusia untuk menghadapkan diri mereka ke agama fitrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan sehingga manusia tetap

Hak Dan Kewajiban Suami Isteri Menurut Syari’at Islam Yang Mulia

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI ISTERI MENURUT SYARI’AT ISLAM YANG MULIA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kaum muda untuk menyegerakan menikah sehingga mereka tidak berkubang dalam kemaksiatan, menuruti hawa nafsu dan syahwatnya. Karena, banyak sekali keburukan akibat menunda pernikahan. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Hiduplah Di Dunia Ini Seakan-Akan Orang Asing Atau Musafir

HIDUPLAH DI DUNIA INI SEAKAN-AKAN ORANG ASING ATAU MUSAFIR Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ

Hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Wajib Dipenuhi Oleh Hamba

HAK ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA YANG WAJIB DIPENUHI OLEH HAMBA Oleh Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله Dari Mu’âdz bin Jabal[1] Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas seekor keledai. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: يَامُعَاذُ ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى