Haid Sebelum Thawaf Ifadhah, Mengakhirkan Thawaf Ifadah Bagi Wanita Yang Haid Atau Nifas

Apakah Wanita Yg Haid Boleh Towaf Ifadhoh Thawaf Ifadah Bagi Wanita Haid

HAID SEBELUM THAWAF IFADHAH

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita haidh atau nifas sebelum thawaf ifadhah. Apakah dia harus tetap di Mekkah hingga dia suci lalu thawaf, ataukah dia boleh pergi ke Jeddah atau tempat lain kemudian kembali lagi ke Mekkah untuk thawaf ketika dia telah suci ?

Jawaban
Jika dia mampu tetap di Mekkah maka dia wajib tetap di Mekkah hingga suci dan menyempurnakan hajinya. Tapi jika tidak dapat tetap di Mekkah, maka tiada larangan jika dia pergi bersama mahramnya ke Jeddah, ke Thaif, atau yang lain, kemudian dia kembali ke Mekkah bersama mahramnya setelah suci dan menyempurnakan manasiknya.

MENGAKHIRKAN THAWAF IFADHAH BAGI WANITA YANG HAIDH ATAU NIFAS

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Seorang wanita haidh sebelum thawaf ifadhah, tapi dia telah melakukan semua manasik haji dan haidhnya berlangsung hingga setelah hari-hari tasyriq. Bagaimana hukumnya ..?

Jawaban
Jika seorang wanita haidh atau nifas sebelum thawaf ifadhah maka dia tetap wajib thawaf ketika dia suci. Maka ketika dia suci, dia mandi dan thawaf untuk hajinya, walaupun setelah haji beberapa hari, bahkan walaupun dalam bulan Muharram atau bulan Shafar, sesuai kemudahan yang didapatkan, dan baginya tiada batasan waktu. Tapi sebagian ulama berpendapat tidak boleh mengakhirkan thawaf ifadhah melebihi bulan Dzulhijjah. Tapi pendapat ini tiada dalilnya. Bahkan yang benar adalah boleh mengakhirkannya. Tapi melakukan segera jika telah mampu adalah yang lebih utama. Namun jika diakhirkan sampai melebihi bulan Dzulhijjah maka sudah cukup baginya dan tidak wajib membayar dam. Sebab wanita yang haidh dan wanita yang nifas berhalangan untuk melakukan thawaf, maka tiada dosa atas keduanya. Haidh dan nifas bukan atas kehendak sendiri dan bukan sengaja untuk menunda thawaf ifadhah. Oleh karenanya hika keduanya telah suci, keduanya thawaf ifadhah, baik pada bulan Dzulhijjah atau bulan Muharram.

WANITA HAIDH PULANG KEPADA KELUARGA SEBELUM THAWAF IFADHAH

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Jika seorang wanita yang sedang haji haidh sebelum thawaf ifadhah, apakah dia boleh pulang kepada keluarganya kemudian kembali lagi untuk thawaf ifadhah, ataukah wajib menunggu hingga dia suci kemudian thawaf ?

Jawaban
Jika wanita haidh sebelum thawaf ifadhah maka mahramnya menunggu dia hingga suci. Tapi jika demikian itu tidak memungkinkan, maka dia boleh pergi. Lalu jika dia telah suci, maka dia harus merampungkan hajinya, dan ketika sebelum dia thawaf ifadhah maka suaminya tidak boleh menggaulinya. Tapi jika tidak memungkinkan dia kembali ke Masjidil Haram untuk thawaf setelah suci karena betempat tinggal di daerah jauh, maka dia boleh menyumbat darah haidhnya dan thawaf karena darurat.

HAL-HAL YANG DILAKUKAN WANITA YANG HAIDH SETELAH IHRAM UMRAH

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Seorang wanita ingin melakukan haji tamattu’, tapi setelah ihram dia haidh sebelum sampai di Masjidil Haram. Apa yang harus dia lakukan ? Dan apakah dia boleh haji sebelum umrah ?

Jawaban
Ia tetap dalam ihramnya untuk umrah. Jika dia suci sebelum hari Arafah dan memungkinkan melakukan umrah maka dia melaksanakan umrah, lalu dia ihram untuk haji dan pergi ke Arafah untuk melaksanakan manasik haji. Tapi jika dia belum suci sebelum hari Arafah maka dia memasukkan haji pada umrah dengan niat : “Ya Allah aku ihram haji bersama umrah”. Artinya, dia mengambil haji qiran. Lalu dia wukuf bersama manusia dan melakukan manasik haji yang lain. Oleh karenanya cukup dengan ihramnya itu thawaf pada hari ‘Id atau setelahnya dan sa’i untuk haji dan umrah. Tapi dia wajib menyembelih kambing sebagaimana diwajibkan bagi orang yang tamattu’.

[Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i, hal 130 – 134, Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]