Apakah Mungkin Seseorang Mencela Kakeknya Sendiri?

APAKAH MUNGKIN SESEORANG MENCELA KAKEKNYA SENDIRI?

Alhamdulillah, dalam kesempatan ini penulis ingin berbagi tentang Biografi Imam Ja’far Ash Shadiq rahimahullah.

Nasab Beliau
Beliau adalah Ja’far bin Muhammad ‘Al Baqir’ bin Ali ‘Zainal Abidin’ bin Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Ibunya bernama Ummu Farwah, Fathimah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Sementara neneknya dari jalur ibu adalah Asma binti Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq. Sehingga Imam Ja’far Ash Shadiq berkata, “Abu Bakar Ash Shiddiq telah melahirkanku dua kali.”

Imam Ja’far Ash Shadiq membenci orang-orang yang menghina kakeknya yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu. Ketika ditanya apakah beliau membenci Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab Radhiyallahu anhuma, beliau berkata :
“Abu Bakar adalah kakekku. Apakah mungkin seseorang mencaci kakeknya sendiri? Aku tidak akan mendapatkan syafaat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa sallam pada hari kiamat jika aku tidak menjadikan mereka berdua sebagai kekasihku. Aku berlepas diri dari musuh-musuh mereka berdua.”[1]

Beberapa kali beliau menegaskan akan loyalitas dan cintanya kepada khalifah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma, karena banyak beredar di masyarakat saat itu isu yang mengatakan bahwa beliau membenci khalifah Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Imam Ja’far Ash Shadiq termasuk orang yang paling banyak digunakan namanya dalam mengucapkan sesuatu padahal itu dusta, beliau tidak mengucapkan hal tersebut.

Semoga Allah melindungi kami agar tidak terjerumus dalam dusta saat menukil ucapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam, para sahabatnya Radhiyallahu anhum, para ulama kita atau siapa pun, aamiin.

Gelar dan Anak-Anaknya
Ash Shadiq merupakan julukan yang diberikan oleh anggota masyarakat dan diterima luas karena beliau terkenal dengan kejujurannya dalam ucapan dan tindakan. Beliau orang yang pandai berkomunikasi dan berdiplomasi tanpa berdusta.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sering menyebutnya dengan gelar Ash Shadiq.

Gelar lain yang disematkan oleh para ulama kepada beliau adalah Al Imam dan Al Faqih. Al Imam sebagai panutan dan pemimpin umat yang kharismatik meskipun beliau bukan seorang raja atau khalifah.

Allah Ta’ala mengaruniai Imam Ja’far Ash Shadiq anak-anak yang bernama Ismail, Abdullah, Musa, Al Abbas, Ishaq, Muhammad, Ali,  Fathimah, Aisyah, Asma.

Di antara anaknya ada bernama Aisyah karena kecintaan Imam Ja’far kepada Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha yang masih berstatus nenek beliau dari jalur ibu.

Guru-Guru dan Murid-Muridnya
Ja’far ash-Shadiq dilahirkan di kota Madinah di tahun 80H. Beliau menempuh perjalanan ilmiahnya bersama dengan ulama-ulama besar. Ia sempat melihat sahabat Nabi yang berumur panjang, seperti Sahl bin Saad dan Anas bin Malik Radhiyallahu anhuma.

Beliau juga berguru kepada tokoh-tokoh utama tabi’in seperti Atha bin Abi Rabah, Muhammad bin Syihab Az Zuhri, Urwah bin Zubair, Muhammad bin Al Munkadir, Abdullah bin Rafi’, dan Ikrimah maula Ibnu Abbas. Beliau juga meriwayatkan dari kakeknya Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar.

Adapun murid-muridnya yang paling terkenal adalah Yahya bin Said Al Anshari, Aban bin Taghlib, Ayyub As Sikhtiyani, Ibnu Juraij, dan Abu Amru bin Al Ala. Demikian juga imam Malik bin Anas, Sufyan Ats Tsauri, Syu’bah bin Al Hajjaj, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Tsabit Al Bunani, Abu Hanifah, dan selain mereka.

Beliau juga pernah mengadakan perjalanan untuk menuntut ilmu ke Iraq, lalu pulang lagi ke Madinah sampai beliau wafat (tahun 148H) dalam usia 68 tahun.

Pujian Ulama kepada Beliau
Banyak ulama yang memuji beliau, di antara mereka :

  1. Imam Abu Hanifah berkata, “Tidak ada orang yang lebih dalam ilmu fiqihnya daripada Ja’far bin Muhammad.”
  2. Abu Hatim Ar Razi dalam ‘Al Jarh Wat Ta’dil’ berkata, “Orang yang terpercaya, tidak perlu dipertanyakan kualitas orang sekaliber beliau.”
  3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memujinya dengan ungkapan, “Sesungguhnya Ja’far bin Muhammad termasuk imam, berdasarkan kesepakatan Ahlus Sunnah. ”[2]. “Ja’far Ash Shadiq rahimahullah termasuk ulama terbaik yang berpegang teguh kepada dien.” [3]

Sebagai penutup marilah kita merenungi firman Allah.

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang“.[Al Hasyr /59 : 10]

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk dapat mengamalkan isi Al Qur’an, aamiin.

Referensi :

  1. Shifatush Shafwa, Imam Ibnul Jauzi (510 – 597 H)
  2. Majma’ul Ahbab wa Tadzkiratu Ulil Albab (Mukhtashar Hilyatul Auliya), Asy Syarif Muhammad Al Hasan bin Abdullah Al Husaini Al Wasithy (wafat 776 H)
  3. 33 Tokoh Besar dari kalangan Ahlul Bait , Hasan Al Husaini (lahir 1396 H) Penerjemah : Ustadz Dr. Firdaus Sanusi rahimahullah, Penerbit : Darus Sunnah, Jakarta
  4. Mukhtashar Minhajus Sunnah, Syaikh Dr. Abdullah Al Ghunaiman
  5. Dan lain-lain

09 Muharram 1442H/28 Agustus 2020M
Fariq Gasim Anuz
______
[1] HR. Ahmad dalam kitab Fadhailus Shahabah dan kitab Assunnah, diriwayatkan pula oleh Al Lalaka’i dan lainnya, Imam Dzahabi berkata dalam Tarikh Al Islam, sanadnya shahih, dinukil dari buku 33 Tokoh Besar, halaman 198
[2] Minhajus Sunnah
[3] Mukhtashar Minhajus Sunnah, hal 144