Posisi Duduk Tahiyat Akhir

Cara Duduk Tahiyat Awal Bagi Perempuan Cara Duduk Tahiyat Akhir Cara Duduk Tasyahud Akhir Perempuan

POSISI DUDUK TAHIYAT AKHIR

Pertanyaan.
Assalâmu`alaikum.Ustadz, bagaimanakah posisi duduk tasyahud akhir pada shalat subuh, shalat Jum’at dan shalat sunnah, iftirasy atau tawaruk?

Jawaban
Wa’alaikumussalâm. Biasanya dalam shalat yang lebih dari dua rakaat ada dua tahiyat; yang pertama dinamakan tahiyat awal dilakukan dengan duduk iftirasy dan tahiyat kedua dinamakan juga tahiyat akhir dilakukan dengan duduk tawarruk. Namun dalam shalat shubuh, Jum’at dan shalat sunnah dua rakaat hanya ada satu tahiyat, sehingga timbul masalah apakah dilakukan dengan iftirasy atau dengan tawarruk. Para Ulama berselisih dalam permasalahan yang lebih utama dalam duduk tasyahud pada shalat dua rakaat dalam dua pendapat; yang pertama duduk tawarruk dan kedua menyatakan yang utama duduk iftirasy.

Yang râjih –Wallâhu a’lam bish-Shawâb – adalah dilakukan dengan iftirasy dengan dasar hadits A’isyah Radhiyallahu anhuma yang mengisahkan tata cara shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلِكَنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى ِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dengan takbir dan membaca dengan “Alhamdulillâhi rabbil ‘âlamin”. Beliau bila ruku’ tidak menegakkan kepalanya dan tidak menundukkannya. Namun antara keduanya. Beliau bila mengangkat kepalanya dari ruku’ tidak langsung sujud hingga tegak lurus. Apabila beliau bangun dari sujud tidak langsung sujud lagi hingga duduk sempurna; setiap dua rakaat beliau mengucapkan tahiyyat dan duduk iftirasy. [HR Muslim].

Shahîhah no. 36 (1/81-93) nampaknya pendapat beliau sangat kuat dan cukup beralasan dalam menshahîhkannya. Wallâhu A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XIII/1430H/2009. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]