Suami Lebih Besar Haknya Atas Isterinya Dibanding Kedua Orang Tuanya

Bab XIX HAK SUAMI

Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

5. Suami Lebih Besar Haknya Atas Isterinya Dibanding Kedua Orang Tuanya.
Itulah yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayat-kan oleh al-Hakim dan dishahihkannya. Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia mengatakan: “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:‘Siapa manusia yang paling berhak atas wanita?’ Beliau menjawab: ‘Suaminya.’ Aku bertanya: ‘Lalu siapakah yang paling berhak terhadap laki-laki?’ Beliau menjawab: ‘Ibunya.’”[1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Tidak ada (kewajiban) atas wanita, setelah hak Allah dan Rasul-Nya, yang lebih wajib dibanding hak suaminya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari asy-Sya’bi dari Qais bin Sa’ad, ia mengatakan: “Aku datang ke Hirah lalu aku melihat mereka (orang-orang Persia) bersujud kepada panglima mereka, maka aku mengatakan: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih berhak untuk disujudi.’ Kemudian aku datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku sampaikan: ‘Aku telah mendatangi Hirah dan aku melihat mereka bersujud kepada panglima mereka. Padahal engkau, wahai Rasulullah, lebih berhak untuk kami sujudi.’ Beliau bertanya: ‘Bagaimana pendapatmu sekiranya engkau melewati kuburku; apakah engkau bersujud kepadanya?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Jangan lakukan! Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang supaya bersujud, niscaya aku perintahkan kaum wanita supaya bersujud kepada suami mereka, karena Allah memberikan hak pada suami atas mereka.’”[2]

6. Di Antara Hak Suami Atas Isterinya, Jika Memanggilnya Ke Tempat Tidurnya Maka Tidak Boleh Menolaknya Walaupun Dalam Kesibukan.
Kewajiban isteri, ketika suami memanggilnya ke tempat tidur, ialah tidak menolaknya selamanya, walaupun ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Karena hal itu menyebabkan laknat Malaikat kepadanya. Kecuali bila ia memberitahukan kepada suaminya tentang alasannya, lalu suami ridha dengan hal itu.

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَلَمْ تَأْتِهِ فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ.

Jika suami memanggil isterinya ke tempat tidurnya lalu ia tidak mendatanginya, sehingga dia tidur dalam keadaan marah kepadanya, maka para Malaikat melaknatnya hingga Shubuh.”[3]

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَـا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ (أَيْ رَحْلٍ)، لَمْ تَمْنَعْهُ نَفْسَهَا.

Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, wanita tidak menunaikan hak Rabbnya sehingga menunaikan hak suaminya, walaupun seandainya dia meminta dirinya (melayaninya) saat bepergian, maka ia tidak boleh menolaknya.”[4]

Muslim meriwayatkan dalam Shahiihnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِي بِيَدِهِ مَـا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَـى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِيْ فِي السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا.

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang suami memanggil isterinya ke tempat tidurnya lalu ia menolak ajakannya, melainkan Rabb Yang di langit dalam keadaan murka terhadapnya hingga suaminya ridha kepadanya.’”[5]

Imam an-Nawawi berkata: “Ini adalah dalil atas haramnya wanita menolak ajakan suami ke tempat tidurnya tanpa suatu alasan yang dibenarkan secara syar’i. Haidh bukan suatu alasan untuk menolak, karena suami mempunyai hak untuk mencumbunya di atas (di balik) sarungnya.

Makna hadits ini bahwa laknat akan berlanjut atasnya hingga kemaksiatan tersebut sirna dengan terbitnya fajar, bertaubat darinya, atau datang ke tempat tidurnya.”[6]

7. Suami Berhak Ditaati Oleh Isterinya Selama Tidak Dalam Kemaksiatan.
Ketika wanita muslimah mentaati suaminya dalam setiap/ selain kemaksiatan, berarti ia mentaati Allah, dan dengan demikian dia mendapat pahala, terutama ketika ketaatan tersebut dalam perkara yang tidak diselarasinya. Bahkan ketaatan itu jauh lebih terlihat ketika mentaatinya dalam perkara yang tidak disukainya di bandingkan mentaatinya dalam perkara yang disukainya.[7]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotifasi wanita untuk mentaati suaminya, hingga dalam perkara yang tidak diketahui manfaatnya olehnya atau dia tidak sependapat dengan pendapat suaminya; (semata-mata) untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keridhaan-Nya.[8]

Baca Juga  Hak Suami Atas Isterinya Ialah Melayani Kebutuhannya, Mengatur Rumah, Memasak

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، أَوْ مِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ، لَكَانَ نُوْلُهَا أَنْ تَفْعَلَ.

Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan wanita supaya bersujud kepada suaminya. Seandainya suami memerintahkan isterinya supaya berpindah dari bukit Ahmar ke bukit Aswad, atau dari bukit Aswad ke bukit Ahmar, maka ia harus melakukannya.”[9]

Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata, “Seseorang datang bersama puterinya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengatakan: ‘Puteriku ini menolak untuk menikah.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: ‘Taatilah ayahmu!’ Berkatalah ia: ‘Demi Rabb yang mengutusmu dengan haq (kebenaran), aku tidak akan menikah hingga engkau mengabarkan kepadaku; apa hak suami atas isterinya?’ Beliau menjawab: ‘Hak suami atas isterinya ialah seandainya ada nanah padanya, kemudian ia menjilatnya, atau kedua lobang hidungnya keluar nanah dan darah kemudian ia menelannya, maka ia belum menunaikan haknya.’ Ia berkata, ‘Demi Rabb yang telah mengutusmu dengan haq, aku tidak akan menikah selamanya.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Janganlah kalian menikahkan mereka (para wanita) kecuali seizin mereka.’”[10]

Dari Mu’adz Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ تَعْلَمُ الْمَرْأَةُ حَقَّ الزَّوْجِ، لَمْ تَقْعُدْ مَـا حَضَرَتْ غَدَاءَهُ وَعَشَاءَهُ، حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.

Seandainya isteri mengetahui hak suaminya, maka ia tidak akan duduk selagi ia (si isteri) sedang menyiapkan makan siang dan makan malamnya hingga ia (si suami) menyelesaikan makannya.”[11]

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ! لَوْ تَعْلَمْنَ حَقَّ أَزْوَاجِكُنَّ عَلَيْكُنَّ لَعَجَّلَتِ الْمَرْأَةُ مِنْكُنَّ تَمْسَحُ الْغُبَارَ مِنْ وَجْهِ زَوْجِهَا بِنَحْرِ وَجْهِهَا.

Wahai para wanita! Seandainya kalian mengetahui hak suami kalian terhadap kalian, niscaya salah seorang di antara kalian akan bergegas mengusap debu dari wajah suaminya dengan salah satu bagian wajahnya.”[12]

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تَرْتَفِعُ صَلاَتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوْسِهِمْ شِبْرًا: رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُوْنَ، وَامْرَأَةٌ بَـاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ.

Ada tiga orang yang shalat mereka tidak terangkat sejengkal pun di atas kepalanya: Seseorang yang menjadi imam shalat suatu kaum sedangkan mereka membencinya, wanita yang tidur dalam keadaan suaminya marah kepadanya, dan dua bersaudara yang bermusuhan.”[13]

Diriwayatkan dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ، بَعْدَ تَقْوَى اللهِ ، خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ، إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ، وَإِنْ غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ.

Tidaklah seorang mukmin mengambil manfaat setelah ke-takwaan kepada Allah Azza wa Jalla yang lebih baik daripada isteri shalihah: jika ia menyuruhnya, ia mentaatinya; jika ia memandangnya, ia menyenangkan hatinya; jika ia bersumpah kepadanya, ia menunaikan sumpahnya; dan jika ia pergi darinya, ia memelihara (kesucian) diri dan menjaga harta suaminya.”[14]

Karena besarnya hak suami, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan ketaatan kepada suami ke dalam prinsip-prinsip Islam. Sebagaimana dalam hadits berikut ini[15]. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا أُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ.

Jika wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, memelihara kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dikatakan kepadanya (pada hari Kiamat): ‘Masuklah ke dalam Surga dari pintu mana pun yang kamu suka.’”[16]

Karena shalat adalah jenis peribadahan paling luhur, dan sujud di dalamnya adalah puncak ibadah tersebut, maka syari’at menilai kedudukan suami atas isteri adalah setara dia bersujud kepadanya. Dan, hampir syari’at memerintahkan kepada isteri supaya bersujud kepada suami, seandainya bersujud itu tidak patut dilakukan kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.[17]

Baca Juga  Poligami

Dari Anas Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلُحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا.

Tidak patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia. Seandainya patut bagi manusia bersujud kepada sesama manusia, niscaya aku perintahkan wanita bersujud kepada suaminya; karena besarnya haknya atas isterinya.[18]

Salah satu akhlak wanita shalihah ialah bersegera meminta keridhaan suaminya jika (suami) marah, dan tidak menunggu dirinya yang memulai hal itu.[19]

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma secara marfu’:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِرِجَـالِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلنَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَالصِّدِّيْقُ فِـي الْجَنَّةِ، وَالشَّهِيْدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْمَوْلُوْدُ فِي الْجَنَّةِ، وَالرَّجُلُ يَزُوْرَ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ الْمِصْرِ، لاَ يَزُوْرُهُ إِلاَّ للهِ k. وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ: اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، اَلَّتِيْ إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى.

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang kaum pria kalian yang termasuk penghuni Surga? Nabi di Surga, (Abu Bakar) ash-Shiddiq di Surga, syahid di Surga, anak-anak di Surga, orang yang mengunjungi saudaranya di pinggiran kota, ia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah (akan masuk dalam Surga), dan isteri-isteri kalian yang termasuk penghuni Surga (adalah) yang penuh kasih, subur (banyak anak) lagi patuh kepada suaminya; bila suaminya marah, maka ia datang hingga meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya mengatakan: ‘Aku tidak akan tidur hingga engkau ridha.’”[20]

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq. Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penerjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir – Bogor]
_______
Footnote
[1] HR. Al-Hakim (IV/150) dan ia mengatakan: “Hadits ini sanadnya shahih, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Al-Mundziri berkata dalam at-Targhiib (III/53): “Al-Bazzar dan al-Hakim meriwayatkannya, dan sanad al-Bazzar hasan.” Tetapi didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’iiful Jaami’ (I/304).
[2] Abu Dawud (no. 2140) kitab an-Nikaah, ad-Darimi (no. 1463) kitab ash-Shalaah, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (V/69).
[3] Al-Bukhari (no. 5194) kitab an-Nikaah, Muslim (no. 1436) kitab an-Nikaah, Abu Dawud (no. 2143) kitab an-Nikaah, dan Ahmad (no. 7442).
[4] HR. Ibnu Majah (no. 1853) kitab an-Nikaah, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahiihah (no. 1203)
[5] HR. Muslim (no. 1436) kitab an-Nikaah.
[6] Dinyatakan an-Nawawi dalam Syarh Muslim (V/261).
[7] Disebutkan oleh penulis ‘Audatul Hijaab (II/445), dan lihat, Nazhzharaat fil ‘Usyratil Muslimah, hal.96
[8] ‘Audatul Hijaab (II/445).
[9] HR. Ibnu Majah (no. 1852) kitab an-Nikaah, Ahmad (no. 23950), asy-Syafi’i (IV/306), dan didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha’iiful Jaami’ (V/40).
[10] HR. Al-Hakim (II/189), dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (III/92).
[11] Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiihul Jaami’ (V/61).
[12] HR. Asy-Syafi’i (IV/305). An-nahr di sini bermakna al-qith’ah. Dan disebut-kan oleh Ibnul Jauzi dalam Ahkaamun Nisaa’, hal. 82
[13] HR. Ibnu Majah (no. 971) kitab Iqaamatush Shalaah was Sunnah fiiha, Ibnu Hibban (no. 377).
[14] HR. Ibnu Majah (no. 1857) kitab an-Nikaah, dan didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykaah (no. 3095).
[15] Audatul Hijaab (II/443).
[16] HR. Ahmad (no. 1664), Ibnu Hibban (no. 1296), dan Syaikh al-Albani berkata dalam Aadaabuz Zifaaf, hal. 286: “Ini adalah hadits hasan atau shahih.”
[17] ‘Audatul Hijaab (II/444).
[18] HR. At-Tirmidzi (no. 1159) kitab ar-Radhaa’, Ahmad (no. 18913, 12203), kitab an-Nikaah. Demikian pula al-Bazzar sebagaimana dalam Majma’uz Zawaa-id (IX/4) dan mengatakan: “Para perawinya adalah para perawi yang shahih, kecuali Hafsh bin Akhi Anas, tapi dia bisa dipercaya. Lihat, al-Irwaa’ (VII/55).
[19] Audatul Hijaab (II/448).
[20] Dishahihkan oleh al-Albani di dalam as-Silsilah ash-Shahiihah, no. 287

  1. Home
  2. /
  3. A6. Panduan Lengkap Nikah
  4. /
  5. Suami Lebih Besar Haknya...