Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm (Lafazh yang Memastikan atau Menetapkan)

BOLEHKAH HADITS DHA’IF DIAMALKAN DAN DIPAKAI UNTUK FADHAA-ILUL A’MAAL (KEUTAMAAN AMAL)?

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Tidak Boleh Mengatakan Hadits Dha’if Dengan Lafazh Jazm (Lafazh yang Memastikan atau Menetapkan)
1. Ada (lafazh yang digunakan dalam menyampaikan (meriwayatkan) hadits menurut pendapat Ibnush Shalah

Apabila orang menyampaikan (meriwayatkan) hadits dha’if, maka tidak boleh anda berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Atau lafazh jazm yang lain, yakni lafazh yang memastikan atau menetapkan, seperti:

فَعَلَ, رَوَى، قاَلَ

Boleh membawakan hadits dha’if itu dengan lafazh:

رُوِيَ

Telah diriwayatkan atau telah sampai kepada kami begini dan begitu.”

Demikianlah seterusnya hukum hadits-hadits yang masih diragukan tentang shahih dan dha’ifnya. Tidak boleh kita berkata atau menulis untuk hadits dan riwayat yang belum jelas dengan kalimat.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

“Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

2. Pendapat Imam an-Nawawi rahimahullah
Telah berkata para ulama ahli tahqiq dari pakar-pakar hadits, “Apabila hadits-hadits itu dha’if tidak boleh kita katakan:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ

“Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” atau:

فَعَلَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengerjakan,” atau:
أَمَرَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan,”atau
نَهَى: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang,” atau:
حَكَمَ : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukum.”

Dan lafazh-lafazh lain dari jenis lafazh jazm (pasti atau menetapkan).

Tidak boleh juga mengatakan:

رَوَى أَبُوْ هُرَيْرَةَ

Telah meriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.” atau

ذَكَرَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ

Telah menyebutkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.”

Dan yang seperti itu dari shighat-shighat (bentuk-bentuk) jazm. Tidak boleh juga menyebutkan riwayat yang lemah dari tabi’in dan orang-orang yang sesudahnya dengan shighat-shighat jazm.

Seharusnya kita mengatakan hadits atau riwayat lemah dan hadits atau riwayat yang tidak kita ketahui derajatnya dengan perkataan:

رُوِيَ يُرْوَى “Telah diriwayatkan.
نُقِلَ عَنْهُ “Telah dinukil darinya.
يُذْكَرَ/ ذُكِرَ “Telah disebutkan.
حُكِيَ/يُحْكَى “Telah diceritakan.

Dan yang seperti itu disebut shighat tamridh (bentuk lafazh yang berarti ada penyakitnya), dan tidak boleh dengan shighat jazm.

Perkataan Para Ulama Ahli Hadits
Shighat jazm seperti : رَوَى، قَالَ dan lainnya hanya digunakan untuk hadits-hadits shahih dan hasan saja. Sedangkan shighat-shighat tamridh, seperti : رُوِيَ atau ذُكِرَ dan lainnya digunakan selain itu. Karena shighat jazm berarti menunjukkan akan sahnya suatu khabar (berita) yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebab itu tidak boleh dimutlakkan.

Jadi, bila ada ulama yang masih menggunakan shighat (lafazh) jazm untuk berita yang belum jelas, berarti ia telah berdusta atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adab meriwayatkan ini banyak dilanggar oleh para penulis kitab-kitab fiqh dan juga jumhur Fuqahaa’ dari madzhab Syafi’i, bahkan dilanggar pula oleh jumhur ahli ilmu, kecuali sebagian kecil dari ahli ilmu dari para Ahli Hadits yang mahir.

Perbuatan tasaahul (menggampang-gampangkan) dalam masalah yang hadits merupakan perbuatan yang jelek. Kebanyakan dari mereka menyebutkan hadits shahih dengan shighat tamridh:

رُوِيَ عَنْهُ

Diriwayatkan darinya.”

Sedangkan dalam menyebutkan hadits dha’if, maka mereka menyebutkan dengan shighat yang jazm:

رَوَى فُلاَنٌ atau قَالَ

Hal ini sebenarnya telah menyimpang dari kebenaran yang telah disepakati oleh Ahli Hadits.[1]

Wajib Menjelaskan Hadits-Hadits Dha’if Kepada Umat Islam
1. Perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullah
Ada yang perlu saya tambahkan dari perkataan Imam an-Nawawy di atas tentang penggunaan lafazh tamridh: رُوِيَ ، ذُكِر َ، يُحْكَى dan yang seperti itu untuk hadits dha’if

Zaman sekarang ini penggunaan lafazh-lafazh itu tidaklah mencukupi, karena ummat Islam banyak yang tidak mengetahui hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan tidak faham pula kitab-kitab hadits sehu-bungan dengan masalah itu dan tidak mengerti pula apa maksud perkataan khatib di mimbar mengucapkan:

رُوِيَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ

Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahwa yang dimaksud khatib yaitu hadits itu dha’if, sedangkan mereka banyak yang tidak faham. Maka, wajib bagi ulama untuk menjelaskan hal yang demikian itu sebagaimana yang disebutkan oleh Atsar dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ، أَتُحِبُّوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ.

Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan apa-apa yang mereka ketahui, apakah kamu suka mereka itu dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya?!”[2]

2. Perkataan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir
Aku berpendapat (sekarang ini) wajib menerangkan hadits-hadits yang dha’if di dalam setiap keadaan (dan setiap waktu), karena bila tidak diterangkan kepada ummat Islam tentang hadits-hadits dha’if, maka orang yang mem-baca kitab (atau mendengarkan) akan menyangka bahwa hadits itu shahih, lebih-lebih bila yang menukilnya atau menyampaikannya itu dari kalangan ulama Ahli Hadits. Hal tersebut karena ummat Islam yang awam menjadikan kitab dan ucapan ulama itu sebagai pegangan bagi mereka. Kita wajib menerangkan hadits-hadits dha’if dan tidak boleh mengamalkannya baik dalam ahkam maupun dalam masalah fadhaa-ilul a’maal dan lain-lainnya. Tidak boleh bagi siapa pun berhujjah (berdalil) melainkan dengan apa-apa yang sah dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits shahih atau hasan.[3]

Akibat Tasaahul Dalam Meriwayatkan Hadits Dha’if
Tasaahul (bermudah-mudah)nya para ulama, ustadz, kyai, dalam menulis dan menyampaikan hadits dha’if tanpa disertai keterangan tentang kelemahannya merupakan faktor penyebab yang terkuat yang mendorong ummat Islam melakukan bid’ah-bid’ah di dalam agama dan kebanyakan dalam masalah-masalah ibadah. Umumnya ummat Islam menjadikan pokok pegangan mereka dalam masalah ibadah dari hadits-hadits lemah dan bathil bahkan maudhu’ (palsu), seperti melaksanakan shalat dan puasa Raghaa-ib di awal bulan Rajab, malam pertengahan (nisfu Sya’ban), berpuasa di siang harinya, mengadakan perayaan maulud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Diba’an, baca Barzanji, Yasinan, malam Isra’ Mi’raj dan lain-lain. Akibat tasaahul-nya para ulama, ustadz dan kyai, maka banyak dari ummat Islam yang masih mempertahankan bid’ah-bid’ah itu dan menghidup-hidupkannya. Berarti ada dua bahaya besar yang akan menimpa ummat Islam dengan membawakan hadits-hadits dha’if:

  1. Terkena ancaman berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, diancam masuk Neraka.
  2. Timbulnya bid’ah yang berakibat sesat dan diancam masuk Neraka, na’udzubillah min dzaalik.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِيْ النَّارِ

Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan di Neraka.”[4]

Khatimah
Mudah-mudahan kita terpelihara dari berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari me-lakukan bid’ah yang telah membuat ummat mundur, terbelakang, berpecah belah dan jauh dari petunjuk al-Qur-an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih. Keadaan seperti merupakan kendala bangkitnya ummat Islam.

Wallaahu a’laam bish Shawaab.

Maraaji’

  1. Shahih al-Bukhari.
  2. Fat-hul Baari Syarah Shahiihil Bukhary, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar as-Asqalany.
  3. Shahih Muslim.
  4. Syarah Shahih Muslim, oleh Imam an-Nawawy.
  5. Sunan Abi Dawud.
  6. Sunan an-Nasa-i.
  7. Sunan Ibnu Majah.
  8. Jaami’ at-Tirmidzi.
  9. Musnad Imam Ahmad.
  10. Al-Jarh wat Ta’dil, oleh Ibnu Abi Hatim.
  11. Majmu’ Fataawaa, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
  12. Manaarul Munif fis Shahih wad Dha’if, oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
  13. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam Nawawy.
  14. Lisanul Mizaan, oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany.
  15. Al-Qaulul Badi’ fii Fadhilas Shalah ‘ala Habibisy Syafi’i, oleh al-Hafizh as-Sakhawy.
  16. Tanzihusy Syari’ah al-Marfu’ah, oleh Ibnu ‘Araq.
  17. Ad-Dhu’afa Ibnu Hibban.
  18. Qawa’idut Tahdits, oleh Jamaluddin al-Qasimy.
  19. Al-Ba’itsul Hatsits fii Ikhtishaari ‘Uluumil Hadiits, oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir.
  20. Silsilah Ahaadits ad-Dha’ifah wal Maudhu’ah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  21. Dha’iif Jami’ush Shaghiir, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  22. Shahiih Jami’ush Shaghiir oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  23. Tamaamul Minnah fii Takhriji Fiqhis Sunnah, oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  24. Shahiih at-Targhib wat Tarhiib oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany.
  25. ‘Uluumil Hadits wa Musthalahuhu oleh Dr. Subhi Shalih.
  26. Al-Adzkaar, oleh Imam an-Nawawy.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah – Jakarta, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
______
Footnote
[1] Lihat al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzhab, oleh Imam an-Nawawi (I/63), cet. Daarul Fikr
[2] HR. Al-Bukhari, Fat-hul Bari (I/225), lihat Shahih Targhib wat Tarhiib (hal. 52), cet. Maktabah al-Ma’arif th. 1421 dan Tamaamul Minnah (hal. 39-40) oleh Syaikh Mu-hammad Nashiruddin al-Albany
[3] Lihat al-Ba’itsul Hadits Syarah Ikhtishar ‘Uluumil Hadits oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (hal. 76), cet. Maktabah Daarut Turats th. 1399 H atau I/278, ta’liq: Syaikh Imam al-Albany cet. I Daarul ‘Ashimah th. 1415 H
[4] Hadits shahih riwayat an-Nasa-i (III/189), lihat Shahih Sunan Nasa-i (I/346 no. 1487) dan Misykatul Mashaabih (I/51)

kembali ke hal 1, 2