Semua Golongan di Bawah Ini Mendapatkan Bagian dari Siksa Kubur.

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Semua Golongan di Bawah Ini Mendapatkan Bagian dari Siksa Kubur.
Jagalah diri kalian wahai saudaraku sesama muslim! Jagalah diri kalian dan janganlah termasuk ke dalam golongan orang-orang dibawah ini agar tidak mendapatkan bagian dari siksa kubur.[1]

  • Orang yang mengadu domba, pembohong, yang membicarakan aib orang lain, saksi palsu dan orang yang menuduh berzina kepada seorang yang telah beristeri.
  • Orang yang mengajak kepada perbuatan bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.
  • Orang yang berbicara atas nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa ilmu.
  • Pemakan harta riba, harta anak yatim, dan barang haram dari hasil suap.
  • Pemakan harta saudaranya yang bukan hak miliknya atau harta seorang kafir yang ada di dalam perjanjian.
  • Pemabuk dan penghisap ganja.
  • Pezina, orang yang melakukan sodomi, pencuri, pengkhianat, penipu, dan pembuat makar.
  • Yang mengambil harta riba, yang memberikannya, yang menjadi juru tulisnya, yang menjadi saksinya, yang menjadi muhallil dan muhallal lahu.[2]
  • Orang yang bersiasat untuk menggugurkan ke-wajibannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau untuk melakukan kemaksiatan.
  • Orang yang menyakiti seorang mukmin atau mencari-cari kekurangan mereka.
  • Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan orang yang menggantikan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hukum positif. mereka lebih mendahulukan undang-undang manusia daripada hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala, Maha Suci Allah, sungguh ini adalah sebuah kezhaliman yang sangat besar.
  • Orang yang berfatwa dengan menyelesihi syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala atau orang yang membantu orang lain untuk melakukan kemaksiatan.
  • Seorang pembunuh dan yang ingkar dengan melakukan yang haram.
  • Orang yang menggugurkan hak Asma’ dan Shifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga menyimpang di dalamnya.
  • Orang yang mendahulukan pendapat dan politik-nya daripada Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Orang yang meratapi mayit dan yang senang mendengar
  • Orang-orang yang bernyanyi di dalam hal yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan yang mendengar-
  • Orang-orang yang membangun masjid di atas kuburan dan orang-orang yang menyalakan lampu di atas pekuburan.
  • Orang yang mengurangi timbangan jika menjual dan selalu meminta lebih jika membeli.
  • Orang-orang sombong yang menjadikan orang lain sebagai hambanya.
  • Orang-orang yang berbuat riya, selalu mencela, dan menuduh jelek kepada para ulama Salaf.
  • Orang-orang yang mendatangi dukun, lalu dia bertanya kepadanya dan membenarkan perkata
  • Kawanan orang yang selalu melakukan kezhaliman, yaitu orang yang menjual akhirat dengan dunia.
  • Orang-orang yang jika diberikan perhatian akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala dan disebutkan nama-Nya, maka dia sama sekali tidak akan merasa takut. Dan jika diberikan ancaman makhluk, maka dia akan merasa takut.
  • Jika dia diberikan pelajaran yang bersumber kepada kalam Allah, maka dia sama sekali tidak menjadikannya sebagai petunjuk, juga tidak mengangkat kepala untuknya. Tetapi jika sampai kepadanya sebuah perkataan dari orang yang dianggap baik olehnya, yaitu siapa saja yang bisa benar juga bisa salah, maka dia akan mengambilnya dengan kuat dengan tidak menyelisihinya.
  • Orang yang jika dibacakan kepadanya al-Qur-an, maka ia sama sekali tidak akan terpengaruh, dan jika dibacakan kepada ayat-ayat syaitan, untaian lagu zina dan kemunafikan, maka dia akan me-rasakan senang dan bergoyang sehingga dia berharap agar penyanyinya tidak pernah diam.
  • Orang yang bersumpah atas nama Allah dengan berbohong, tetapi jika dia bersumpah atas nama seekor burung atau atas nama kepala gurunya, kerabatnya atau atas nama kehidupan orang yang ia cintai dan ia agungkan dari makhluk, maka dia tidak akan pernah berbohong walaupun diancam dan disiksa.
  • Orang yang merasa sombong dan bangga di hadapan kawan-kawannya ketika melakukan maksiat, dia adalah muzhahir (orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan), di mana Anda tidak akan merasa aman akan harta dan kehormatanmu darinya.
  • Orang yang ucapannya keji dan menyakitkan, orang lain meninggalkannya karena menjaga dirinya dari keburukan orang tersebut.
  • Orang yang mengakhirkan shalat sampai keluar waktunya dan tidak berdzikir di dalamnya kecuali sedikit.
  • Orang yang tidak menunaikan zakat dengan tulus dari jiwanya dan orang yang tidak melaku-kan haji padahal dia mampu.
  • Orang yang tidak melaksanakan kewajibannya padahal dia mampu untuk menunaikannya dan tidak menjaga kehormatan mata, ucapan, makanan juga langkah kakinya.
  • Orang yang tidak peduli darimana dia mendapat-kan harta, dari yang halalkah atau yang haram?
  • Orang yang tidak menjalin hubungan silaturahmi, tidak mengasihi orang miskin, para janda, anak-anak yatim, tidak pula kepada hewan, bahkan dia menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang-orang miskin, berbuat riya dan menolak meminjamkan barang-barang yang sepele.
  • Orang yang sibuk dengan aib orang lain dan dosa-dosa mereka daripada mengurusi aib atau dosa-dosanya sendiri.

Kebanyakan Penghuni Kubur Disiksa Sedangkan yang Selamat di Antara Mereka Sangatlah Sedikit.
Semua orang yang diungkapkan di atas adalah orang-orang yang disiksa dengan dosa-dosa tersebut sesuai dengan kesalahan yang ia lakukan, besar atau kecil, banyak atau sedikit. Karena itu di antara ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur, bahkan beliau mendorong Sahabatnya untuk melakukan hal tersebut. Ketika kenyataan manusia banyak yang demikian, maka jelaslah bahwa kebanyakan penghuni kubur adalah disiksa sedangkan yang selamat darinya sangatlah sedikit. Yang tampak dari kuburan adalah tanah! Sedangkan di dalamnya adalah kerugian (penyesalan) dan siksa! Tampak dari luar adalah tanah dan batu-batu yang diukir sedangkan di dalamnya adalah musibah dan bencana. Kubur itu mendidih dengan penyesalan (kerugian) yang ada di dalamnya bagaikan tungku yang mendidihkan sesuatu yang ada di atasnya. Dia pantas mendapatkannya dan semua keinginan dan rasa amannya sudah terhalang. Demi Allah aku telah memberikan nasihat sehingga aku tidak meninggalkan satu ruang pun kepada seorang wa’izh (pemberi nasihat) untuk berbicara.[3]

Ini adalah sebuah tempat yang sarat dengan pelajaran, sebuah taman dari taman-taman Surga atau merupakan lubang dari lubang-lubang Neraka.[4]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ar-Ruuh, hal. 105, 106 dengan sedikit perubahan dan tambahan.
[2] Al-Muhallil adalah orang yang menikahi seorang wanita yang ditalak tiga oleh suaminya dengan tujuan agar sang suami dapat menikah lagi dengan wanita tersebut. Sedangkan muhallal lahu adalah suami itu sendiri.-Pent.
[3] Ar-Ruuh, hal. 1-7 dengan sedikit perubahan.
[4] Perlu diingat bahwa hadits:
القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ.
Kubur adalah taman dari taman-taman Surga atau lubang dari lubang-lubang Neraka.
Hadits ini adalah dha’if. Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits gharib, aku tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini.” Di dalam sanadnya ada al-Washafi dan ‘Athiyyah al-‘Aufa, keduanya dha’if. Al-Hafizh Ibnu Rajab melemahkannya di dalam kitabnya Ahwaalul Qubuur. Al-Albani juga melemahkannya di dalam syarah dan ta’liq terhadap kitab ath-Thahaawiyyah, hal. 50, beliau berkata, “Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abi Sa’id al-Aufa secara marfu’ dengan sanad yang lemah. Bagian pertamanya diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan di dalamnya ada Daraj, sebagaimana dikatakan di dalam kitab al-Majma’ dan dia adalah pemilik hadits-hadits munkar.”