Khatib yang Banyak Bicara

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci
20. Khatib yang Banyak Bicara
Kepada mereka para khatib yang banyak bicara, mereka yang memerintahkan orang lain untuk melakukan kebaikan tetapi melupakan dirinya sendiri. Kami haturkan untuk mereka sebuah ancaman bagi mereka dan penjelasan ini dengan harapan semoga mereka semua bertaubat.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، فَقُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَنْ هَؤُلاَءِ قَـالَ: هَؤُلاَءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ يَعْقِلُونَ.

Pada malam aku diisra’kan, aku melihat orang-orang yang dipotong lidahnya dengan gunting-gunting dari Neraka.” Lalu aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah mereka?’ Dia menjawab, ‘Me-reka adalah para khatib dari umatmu yang memerintahkan orang lain untuk melakukan kebaikan tetapi melupakan diri mereka sendiri dan mereka semua membaca al-Qur-an, tidakkah mereka berakal?’”[1]

Inilah keadaan para khatib yang banyak bicara, mereka mengajak orang lain untuk masuk ke dalam Surga tetapi mereka sendiri menghalangi orang lain untuk masuk ke dalamnya dengan prilaku mereka. Siapa saja yang merenungi hal ini dengan seksama, maka dia akan memahami bahwa berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan perbuatan yang baik itu sendiri, bukan hanya perkataan! Demikianlah keadaan para Sahabat Radhiyallahu anhum, mereka semua beramal dengan sungguh-sungguh dengan rasa takut yang sangat besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan kita adalah kaum yang menggabungkan antara lalai, bahkan sikap berlebihan dengan rasa aman akan kesalahan diri sendiri! Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kita semua berlindung dari ilmu yang tumpul dan mewariskan kehinaan dan kita semua berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari ilmu yang menjadi belenggu bagi pemiliknya juga hujjah yang akan memberatkannya pada hari Kiamat.

Semoga Allah memberikan kasih sayang kepada seseorang yang berkata:

إِذَا الْعِلْمُ لَمْ تَعْمَلْ بِهِ كَانَ حُجَّةً
              عَلَيْكَ وَلَمْ تُعْذَرْ بِمَا أَنْتَ حَامِلُ

فَإِنْ كُنْتَ قَدْ أَبْصَرْتَ هذَا فَإِنَّمَا
              يُصَدَّقُ قَوْلُ الْمَرْءِ مَا هُوَ فَاعِلٌ

Jika engkau tidak mengamalkan ilmu yang di-miliki, maka ia akan menjadi hujjah
atasmu (bencana atasmu), kamu pun tidak akan pernah dimaafkan atas beban yang kamu pikul.

Jika kamu memahami hal ini, maka sesungguhnya
seseorang akan dipercaya jika dia melakukan atas apa yang ia ucapkan.[2]

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Ahmad (III/120, 180, 231, 139) dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani di dalam ash-Shahiihah (no. 291) dengan banyak jalan.
[2] Iqtidhaa-ul ‘Ilmi wal ‘Amal, hal. 81.