Mengurung Hewan dan Menyiksanya Tanpa Memberikan Kasih Sayang Kepadanya

Bab II
Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci
19. Mengurung Hewan dan Menyiksanya Tanpa Memberikan Kasih Sayang Kepadanya
Di dalam hadits Jabir Radhiyallahu anhu tentang shalat gerhana matahari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَحَتَّـى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَةَ الْهِرَّةِ الَّتِي رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَـا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا.

Sehingga aku melihat seorang wanita pemilik kucing yang dia ikat, dia tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya memakan serangga, sehingga pada akhirnya kucing itu mati karena lapar.”[1]

(خَشَاشِ اْلأَرْضِ) maknanya adalah serangga tanah.

Hadits ini menunjukkan bahwa Islamlah yang meletakan dasar-dasar kasih sayang terhadap hewan, berbeda dengan orang-orang yang tidak tahu akan ajaran Islam, mereka menganggap bahwa sikap ini pada mulanya dilakukan oleh orang-orang Eropa.

Sebagaimana hal ini pun diungkapkan di dalam hadits-hadits yang lainnya:

  • Kasih sayang kepada hewan merupakan sebab mendapatkan ampunan dari Allah dan rahmat-Nya, sebagaimana di dalam hadits Abu Umamah secara marfu’:

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ عُصْفُوْرٍ رَحِمَهُ اللهُ يَـوْمَ الْقِيَـامَةِ.

Siapa saja yang memberikan kasih sayang, walaupun hanya kepada seekor burung kecil yang disembelih, niscaya Allah akan mengasihinya pada hari Kiamat.”[2]

Sebagaimana diungkap pula di dalam hadits Mu’awiyah bin Qurrah dari bapaknya, beliau berkata, seseorang berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّي َلأَذْبَحُ الشَّاةَ فَأَرْحَمُهَا، قَالَ وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللهُ.

Wahai Rasulullah! Aku menyembelih domba dengan penuh kasih sayang.” Rasul berkata, “Jika engkau mengasihi seekor domba, maka Allah pun akan mengasihimu.”[3]

  • Kasih sayang kepada hewan merupakan salah satu sebab mendapatkan maghfirah (ampunan) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana diungkapkan di da-lam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu:

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ، اِشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَـرِبَ وَخَرَجَ، فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ: الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْـعَطَشِ مِثْلُ الَّذِي كَانَ بَلَغَ مِنِّي، فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ، ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ.

Ketika seseorang sedang berjalan di sebuah jalanan, tiba-tiba saja dia merasakan haus, lalu dia menemukan sebuah sumur, kemudian turun dan minum, ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya ke tanah karena haus. Orang itu berkata, ‘Anjing itu telah merasakan haus sebagaimana yang aku rasakan.’ Akhirnya dia turun ke sumur dan memenuhi sepatunya (dengan air), lalu dia memegangnya dengan mulut sehingga dia naik dan memberikan minum kepada anjing itu.’ Allah mengucapkan terima kasih kepadanya dan meng-ampuninya.”[4]

Sebagaimana diungkapkan pula di dalam hadits Abi Hurairah Radhiyallahu anhu secara marfu’:

بَيْنَمَـا كَلْبٌ يُطِيفُ بِـرَكِيَّةٍ قَدْ كَـادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَـا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ فَسَقَتْهُ إِيَّاهُ فَغُفِرَ لَهَـا بِهِ.

Ketika seekor anjing berputar-putar di sebuah sumur, hampir saja (rasa haus) membunuhnya. Lalu seorang pezina dari kalangan Bani Israil melihatnya, dia membuka sepatunya dan dengan-nya dia mengambil air lalu memberikan minum kepada anjing itu, akhirnya Allah mengampuninya.”[5]

(بِـرَكِيَّةٍ) maknanya adalah sebuah sumur yang sudah mati atau masih dipakai.

Sebagaimana kasih sayang kepada hewan merupakan salah satu sebab adanya kasih sayang dan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka begitupula tidak adanya kasih sayang dan menyiksa hewan merupakan salah satu sebab adanya kemarahan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu sebab adanya kesengsaraan di dunia dan kesempitan di dalam kubur juga di akhirat. Hanya kepada Allah kita semua memohon perlindungan dari kehinaan.

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Muslim, kitab al-Kusuuf, bab Ma ‘Uridha ‘alan Nabi n fi Shalaatil Kusuuf min Amril Jannah wan Naar (no. 904 (10)).
[2] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, di dalam kitab al-Adabul Mufrad (no. 371). Al-Haitsami berkata (IV/33), “Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam kitab al-Kabiir dan perawinya tsiqah.” Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam kitab as-Shahiihah (no. 27).
[3] Hadits shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitab al-‘Adabul Mufrad (no. 373), al-Hakim (III/586), al-Haitsami berkata (IV/33), “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani di dalam al-Kabiir dan ash-Shaghiir dengan redaksi yang banyak dan perawi yang tsiqah.” Hadits ini di-shahihkan oleh al-Albani di dalam kitab ash-Shahiihah, (no. 26).
[4] Al-Bukhari, kitab al-Musaaqah, bab Fadhlu Saqyil Maa’ (no. 2363), dan Muslim, kitab as-Salaam, bab Fadhlu Saaqil Bahaa-im al-Muhtaramah wa Ith’aamuha (no. 2244(153)).
[5] Al-Bukhari, kitab al-Anbiyaa’ (no. 3467), bab (54), dan Muslim, kitab as-Salaam bab Fadlu Saaqil Bahaa-im al-Muh-taramah wa Ithaamuha (no. 2245 (155)).