Penghapusan Disyariatkannya Membaca Al-Fatihah Bagi Makmum Pada Shalat Jahr

PENGHAPUSAN DISYARIATKANNYA MEMBACA AL-FATIHAH BAGI MAKMUM PADA SHALAT JAHR (SHALAT YANG BACAANNYA DIKERASKAN)

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Apabila imam membaca dengan jahr (mengeraskan bacaannya) seperti pada shalat Shubuh dan dua raka’at pertama dari shalat Maghrib dan Isya’, maka makmum wajib mendengarkan bacaan imam.

Pada awalnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbolehkan makmum untuk membaca al-Fatihah di belakang imam pada shalat-shalat jahr.

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : كُنَّا خَلْفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ صَلاَةِ الْفَجْرِ، فَقَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَا ءَةُ فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ لَعَلَّكُم تَقْرَءُونَ خَلْفَ إِمَامِكُمْ ؟ قُلْنَا : نَعَمْ، هَذَّايَا رَسُولَ اللَّهِ ! قَالَ : لَا تَفْعَلُوا، إِلَّا (أَنْ يَقْرَأَ أَحَدُكُم) بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا

Dari Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah shalat bermakmum di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada shalat Fajar. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat dan merasa terganggu (oleh bacaan salah seorang makmum). Setelah shalat beliau berkata, “Barangkali di antara kalian ada yang turut membaca di belakang imam kalian?” Kami menjawab, “betul, tetapi dengan cepat wahai Rasulullah!” Beliau bersabda, “Jangan kalian lakukan! Kecuali [jika seorang di antara kalian membaca] al-Fatihah, karena tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah” [1]

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum membaca Al-Qur’an dalam shalat jahr. Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai melakukan shalat, di mana imam membaca Al-Qur’an dengan suara keras (dan dalam satu riwayat disebutkan bahwa shalat itu adalah shalat Shubuh).

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أََنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ مِنْ صَلاَةٍ حَهَرَ فَيْهَا بِالْقِرَاءَةِ (وَفِيْ رَوَايَةٍ : أَنَّهَا صَلاَةُ الصُّبْحِ)، فَقَالَ : هَلْ قَرَأَ مَعَيْ مِنْكُمْ أَحَدٌ آنِفًا؟!، فَقَالَ رَجُلٌ : نَعَمْ، أَنَا يَا رَسُولُ اللَّهِ! فَقَالَ : ((إِنِّيْ أَقُوْلُ : مَالِيْ أُنَازَعُ الْقُرْآنَ)) (قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ :) فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُوْ لِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا جَهَرَ فِيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِرَاءَةِ حِيْنَ سَمِعُوْا ذَلِكَ مِنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، (وَقَرَؤُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ سِرَّا فِيْمَا لاَ يَجْهَرُ فِيْهِ الْإِمَامُ)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalat yang beliau membaca dengan keras di dalamnya (dalam satu riwayat bahwa itu adalah shalat Shubuh), lalau beliau bersabda, “Apakah ada seseorang di antara kalian yang barusan membaca (ayat Al-Qur’an) bersamaan denganku?” Seorang laki-laki berkata, “Ya, saya wahai Rasulullah!” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya aku selalu mengatakan, “Kenapa bacaanku diganggu?’ (Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata :) Kaum muslimin (para Shahabat) berhenti membaca Al-Qur’an bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam –pada shalat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca dengan keras di dalamnya- setelah mereka mendengar sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. (Dan mereka membaca al-Fatihah secara sir (tanpa suara) dalam shalat di mana imam tidak mengeraskan bacaannya).[2]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan diamnya makmum mendengarkan bacaan imam termasuk kesempurnaan bermakmum.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ((إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَرَ فَكَبِّرُوْا، وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوْا))

Dari Abu Hurairah Rahiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya diadakannya imam itu adalah untuk diikuti. Apabila ia bertakbir maka takbirlah kalian dan jika ia membaca (ayat Al-Qur’an) maka diamlah kalian”[3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan mendengarkan bacaan imam itu sebagai hal yang mencukupi bagi makmum sehingga ia tidak perlu lagi membacanya di belakang imam, sebagaimana sabdanya.

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ، فَقِرَاءَةُ الْإمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ

“Barangsiapa shalat mengikuti imam, maka bacaan imam itu menjadi bacaannya”[4]

Ini pada shalat jahr (shalat yang bacaannya dikeraskan). Adapun dalam shalat sir (shalat yang bacaannya tidak dikeraskan) maka makmum wajib membaca al-Fatihah. [5]

[Disalin dari buku Sifat Shalat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Penulis Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Media Tarbiyah – Bogor, Cetakan ke-1 Muharram 1431/Januari 2010]
_______
Footnote
[1]. Shahih : Ahmad (V/313, 316, 322), Abu Dawud (no. 823), at-Tarmidzi (no. 311), Ibnul Jarud (no. 321), Ibnu Khuzaimah (no. 1581), al-Hakim (1/238), al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (II/164), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 606), dan selainnya. Syaikh al-Albani berkata dalam AShlu Shifati Shalaatin Nabiy (I/327), “Ini adalah hadits shahih”.
[2]. Shahih : HR Malik (I/94, no. 44), Abu Dawud (no. 826, 827), at-Tarmidzi (no. 312), al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra (II/157). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud (III/409, no. 781)
[3]. Shahih ligharihi : HR Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no. 7207), Ahmad (II/375, 420), Abu Dawud (no. 604), Ibnu Majah (no. 846), an-Nasa-i (II/141-142), dan selainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (III/159, no. 617)
[4]. Hasan : HR Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’aanil Aatsaar (I/217), ad-Daruquthni (no. 1238), al-Baihaqi (II/159-160), dan selainnya. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaa-ul Ghaliil (no. 500).
[5]. Lihat pembahasan lebih rinci dalam Shifatu Shalaatin Nabiy (hlm. 86-87) dan Ashlu Shifati Shalaatin Nabiy (I/327-364) karya al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Majmuu’ Fataawaa Islam Ibnu Taimiyyah (XXIII/265, 272-276, 307, 329-330)