Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

Bagaimana Hukum Shalat Ghaib ?

BAGAIMANA HUKUM SHALAT GHAIB?

Pertanyaan.
Diberitakan bahwa sehari setelah pemakaman syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, di kota-kota Saudi Arabia dilakukan shalat ghaib untuk syaikh Muhammad bin al-Utsaimin t usai menunaikan shalat Jum’at. Pertanyaannya, apakah ini sesuai dengan syari’at atau tidak ? Jazâkallâhu khiran

Jawaban.
Permasalahan yang saudara tanyakan serupa dengan pertanyaan yang pernah diajukan kepada komite tetap untuk penelitian Islam dan fatwa (Lajnah ad-Dâimah Lilbuhûtsil Islamiyah wal ifta’) di Saudi Arabia tentang shalat ghaib. Dalam fatwa yang bernomer 5394[1] , mereka memberikan jawaban, “Dibolehkan shalat jenazah untuk mayit yang ghaib (tidak ada ditempat), berdasarkan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu bukan kekhususan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Sebab para sahabat juga melakukan shalat ghaib bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Najasyi. Juga karena pada asalnya itu bukan sebuah kekhususan. Namun sepatutnya shalat ghaib itu dikhususkan bagi orang yang memiliki kedudukan dalam islam tidak pada setiap orang.

Fatwa ini ditanda tangani oleh Syaikh Abdul Azîz bin Bâz, syeikh Abdurrazâq Afifi dan Syeikh Abdullah bin Qu’ûd.

Masalah shalat ghaib memang menjadi salah satu masalah yang diperselisihkan hukumnya. Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini dalam empat pendapat :

1. Shalat ghaib diperbolehkan secara mutlak, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyhalatkan an-Najâsiy yaitu seorang muslim yang tinggal diluar Madinah. Dengan demikian diperbolehkan dan disyariatkan secara mutlak untuk melakukan shalat ghaib untuk setiap muslim. Ini pendapat imam asy-Syâfi’i, Ahmad dan lainnya.

2. Shalat ghaib dilarang secara mutlak, karena banyak para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggal dunia di luar kota Madinah, namun tidak ada satupun riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib untuk mereka. Sedangkan tentang kisah Najâsyi, itu merupakan kekhususan untuk beliau saja. Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan imam Mâlik.

3. Shalat ghaib disyariatkan pada orang yang meninggal di negeri atau suatu tempat yang tidak dishalati oleh seorangpun, seperti kisah Najâsyi yang berada di negeri kaum nashrani lalu meninggal di sana sehingga tidak ada seorangpun yang menyalatinya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib untuknya. Inilah pendapat yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ (5/439)

4. Apabila yang meninggal adalah seorang yang memiliki kedudukan dan jasa besar serta pembelaan terhadap Islam atau termasuk pemimpin kaum Muslimin yang memberikan manfaat dan pembelaan terhadap Islam. Atau juga seorang Ulama terkenal maka disyariatkan shalat ghaib baginya. Inilah yang menjadi fatwa al-Lajnah ad-Dâimah seperti dijelaskan diatas.

Pendapat yang rajih menurut kami adalah pendapat yang ketiga dengan alasan berikut :

a. Tidak ada hadits yang shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ghaib kecuali untuk Najâsyi, karena beliau meninggal ditengah kaum musyrikin bukan (ditengah orang) ahli shalat. Seandainya pun ada diantara mereka yang sudah berimanpun, ia tetap belum mengetahui tata cara shalat jenazah sedikitpun. Sehingga dapat dipastikan beliau belum dishalatkan jenazahnya.

b. Ini yang dapat mewujudkan maksud dan tujuan dari (pensyari’atan) shalat ghaib yaitu menggugurkan kewajiban melakukan shalat jenazah kepada jenazah Muslim.

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat kitab Fatâwâ al-Lajnatid Dâimah Lil Buhûtsil Islâmiyah wal Iftâ, 8/418

Anda belum mahir membaca Qur'an? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!