Doa Bahagia Dunia Akhirat, Dzikir Saat Susah

DZIKIR KETIKA MENDAPATKAN SESUATU YANG MENYENANGKAN

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allâh Azza wa Jalla yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan (dunia dan akhirat) menjadi sempurna

DZIKIR KETIKA MENDAPATKAN SESUATU YANG TIDAK MENYENANGKAN

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allâh Azza wa Jalla dalam segala hal dan kondisi

FAIDAH.

  • Dzikir ini berdasarkan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam Sunan Ibnu Mâjah dan al-Mustadrak:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ» ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, beliau mengatakan, ” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika melihat sesuatu yang menyenangkan, Beliau mengatakan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Dan jika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, Beliau membaca:

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

(HR. Ibnu Majah dalam Sunannya, no. 3803 dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak (1/499). Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 4727. Lihat Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr, 1/242)

  • Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk senantiasa memuji Allâh Azza wa Jalla dalam segala keadaan dan kondisi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVIII/1436H/2014M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

DOA BAHAGIA DUNIA DAN AKHIRAT

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Ya Allah ! Aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (kebersihan atau kesucian) dan kekayaan [HR Muslim].

Ketika menjelaskan hadits ini, Syaikh Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Doa ini termasuk doa yang paling lengkap dan bermanfaat. Do’a ini mencakup permohonan kebaikan di dunia dan akhirat. Karena al-huda (yang ada dalam doa) itu artinya ilmu yang bermanfaat; at-tuqa artinya melakukan amal shalih dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allâh dan rasul-Nya. Dengan dua unsur ini, agama seseorang akan menjadi baik. Karena (unsur) agama itu adalah ilmu yang bermanfaat dan pengetahuan yang benar. Inilah yang disebut al-huda. Dan (Unsur lain dari agama) yaitu melakukan ketaatan kepada Allâh dan rasul-Nya. Inilah at-tuqa.

al-‘afâfa dan al-ghina (pengertiannya) mencakup penjagaan diri dari makhluknya (maksudnya) tidak menggantungkan hatinya kepada makhluk serta merasa cukup dengan Allâh Azza wa Jalla dan rezeki (yang Allâh Azza wa Jalla berikan), merasa cukup dengan harta yang dimilikinya serta bisa meraih yang bisa menenangkan batinnya. Dengan ini semua, kebahagian dunia akan terwujud dan hati menjadi tenang. Inilah kehidupan yang baik.

Baca Juga  Berdo'a Di Dalam Shalat Atau Sesudahnya?

Barangsiapa diberi al-huda, at-tuqa, al-afâfa dan al-ghina, maka pasti ia akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, dia pasti akan bisa meraih semua keinginannya dan terhindar dari segala yang menakutkan. [Bahjatu Qulûbil Abrâr, hlm. 249]

(Sumber : Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr, 4/164)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIV/1431H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

DZIKIR SAAT SUSAH

Dzikir pertama.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ  لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh yang maha Agung dan Maha Penyantun. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Rabb arys yang besar. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allâh, Rabb langit, bumi dan ‘arys yang mulia [HR. Imam Bukhâri, no. 6346 dan Imam Muslim, no. 2703]

Dzikir kedua.

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Wahai Allâh, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan, maka janganlah Engkau bebankan diri in kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah semua keadaanku, tidak ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau [HR. Abu Daud dan hadits ini dinilai hasan oleh syaikh al-Albani]

Kalau kita perhatikan, semua untaian dzikir dalam hadits-hadits di atas atau yang lainnya, kita dapati bahwa semua merupakan ungkapan keimanan, tauhid, keikhlasan dan jauh dari kesyirikan, yang kecil apalagi yang besar. Ini menunjukkan bahwa obat kesusahan yang terbaik adalah tajdîdul imân (memperbaharui keimanan), mengulang-ulang kalimat tauhid LAA ILAAHA ILLALLAH. Karena tidak yang lebih ampuh dalam menghilangkan kesusahan dari hati seorang hamba dibandingkan tauhid dan merealisasikan ibadah. Ketika hati seorang hamba penuh dengan tauhid, maka segala macam kesusahan akan sirna dan dia akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara.

Baca Juga  Tasbih yang Ringan, Do'a Maryam, Shahihkah Do'a Ini ?

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Tauhid merupakan perlindungan para musuh Allâh Azza wa Jalla dan juga para wali-wali Allâh Azza wa Jalla . Tauhid menyelamat musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla dari kesusahan dan kesengsaran dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allâh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allâh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allâh).” [al-Ankabût/29:65]

Sedangkan para wali Allah, maka mereka diselamatkan dari kesusahan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, nabi Yûnus Alaihissallam berlindung kepadanya sehingga Allâh Azza wa Jalla menyelamatkannya dari kegelapan tersebut, begitu juga pengikut para rasul, mereka juga berlindung pedanya sehingga mereka terhindarkan dari siksa yang disediakan oleh orang-orang musyrik di dunia dan juga siksa yang telah disediakan oleh Allâh Azza wa Jalla di akhirat.” [al- Fawâ’id, hlm. 95]

(Diangkat dari Fiqhul Ad’iyati wal Adzkâr, Syaikh Abdurrazâq bin Abdul Muhsin al-Badr, vol. 3, hlm)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

  1. Home
  2. /
  3. A7. Adab Do'a dan...
  4. /
  5. Doa Bahagia Dunia Akhirat,...