Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Al-Qur`ân

Kewajiban Muslim Terhadap Alquran Kewajiban Terhadap Al Quran Kewajiban Terhadap Alquran Kewajiban Umat Islam Apa Kewajiban Kita Terhadap Alquran Jelaskan

KEWAJIBAN SEORANG MUSLIM TERHADAP AL-QUR’AN

Oleh
Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri

Bulan Ramadhan dinamakan bulan Al-Qur`ân karena pada bulan itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur`ân sebagai petunjuk bagi manusia ke jalan kebenaran, dan sebagai pembeda antara yang haq dengan yang bathil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). [al-Baqarah/2:185].

Al-Qur`ân merupakan sumber dari segala hukum Islam. Dengan Al-Qur`ân itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur`ân) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. [al-Furqân/25:1].

Demikian pula dengan Sunnah Nabi. Hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki peran yang berdampingan dengan Al-Qur`ân menjadi pedoman hukum dalam syariat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. [al-Hasyr/59:7].

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur`ân secara berangsur-angsur. Wahyu pertama turun saat Ramadhan pada malam lailatul-qadr, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ân) pada malam kemuliaan. [al-Qadr/97:1].

Usia Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu ialah 40 tahun sebagaimana masyhur disebutkan oleh kalangan ahli ilmu. Usia yang ideal bagi seseorang dalam mencapai kesempurnaan nalar, akal dan pengetahuan.

Al-Qur`ân turun dari sisi Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantaraan Malaikat Jibril Alaihissallam. Dia adalah pemimpin para malaikat. Allah Ta’ala mensifati Malaikat Jibril dengan firman-Nya:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ﴿١٩﴾ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ﴿٢٠﴾مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Sesungguhnya Al-Qur`ân itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang ditaati disana (di alam malaikat) lagi dipercaya. [at-Takwîr/81:19-21].

Juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ﴿٥﴾ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَىٰ

Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. [an-Najm/53:5-6].

Dari uraian singkat di atas, kita bisa mengerti bahwa Al-Qur`ân memiliki kedudukan yang tinggi. Al-Qur`ân merupakan wahyu dari Rabbul-‘alamin, penguasa alam semesta, Dzat yang Mahakuasa atas segala sesuatu, yaitu Allah Tabaraka wa Ta’ala. Al-Qur`ân diturunkan kepada manusia paling agung dan mulia semenjak Allah menciptakan manusia yang pertama hingga manusia yang terakhir. Pemimpin sekaligus pemimpin para nabi dan rasul. Beliau adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Al-Qur`ân diturunkan dengan perantara makhluk yang taat kepada Allah, yaitu malaikat. Bahkan merupakan malaikat terbaik dan pemimpin para malaikat. Dialah Malaikat Jibril. Dan Al-Qur`ân diturunkan pada waktu yang sangat mulia, yaitu bulan Ramadhan. Bahkan malam diturunkan Al-Qur`ân merupakan malam lailatul-qadr, malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴿١﴾وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴿٢﴾لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴿٣﴾تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ﴿٤﴾سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`ân) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [al-Qadr/97:1-5].

Kemuliaan Al-Qur`ân lainya, yaitu ia akan tetap terjaga kemurniaannya hingga hari Kiamat. Dan masih banyak lagi keistimewaan yang terdapat pada Al-Qur`ân.

Setelah mengetahui kedudukan Al-Qur`ân, maka sebagai seorang Muslim, kita wajib mempedulikan Al-Qur`an. Kita lakukan amal-amal kebaikan berkaitan dengan kitab yang mulai ini.

Pertama. Membaca Dan Menghafalkan Al-Qur`ân.
Membaca Al-Qur`ân merupakan langkah awal seseorang bermuamalah dengan Al-Qur`ân. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita rajin membacanya, sebagaimana tertuang dalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا ِلأَصْحَابِهِ…

Bacalah Al-Qur`ân, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya … [HR Muslim].

Ketahuilah, Allah menjadikan amalan membaca Al-Qur`ân termasuk sebagai salah satu yang bernilai ibadah kepada-Nya. Allah memberikan pahala bacaan Al-Qur`ân bukan per surat atau per ayat, akan tetapi pahalanya per huruf dari Al-Qur`ân yang kita baca. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَ لاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf. Akan tetapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf dan mim adalah satu huruf. [HR at-Tirmidzi].

Kedua. Mentadabburi Dan Mempelajarinya Al-Qur`ân.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`ân, ataukah hati mereka terkunci? [Muhammad/47:24].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. [Shâd/38:29].

Ketiga. Mengajarkan Al-Qur`ân.
Al-Qur`ân merupakan sebaik-baik ilmu. Barangsiapa yang menyebarluaskan dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan mendapatkan balasan yang terus mengalir Allah Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَّةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara, (yaitu) shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya. [HR Muslim].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`ân dan mengajarkannya. [HR Imam al-Bukhari].

Keempat. Mengamalkannya.
Demikianlah kewajiban seseorang yang telah mengetahui sebuah ilmu. Hendaklah ia mengamalkannya. Suatu ilmu tidak akan berguna jika tidak pernah diamalkan. Karena buah dari ilmu ialah amal. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya akan memberi balasan berdasarkan amal yang dikerjakan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Sesungguhnya kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. [ath-Thûr/52:16]

جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. [al-Wâqi`ah/56:24].

Berkaitan dengan seorang ahlul-qur`an, Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Pengemban Al-Qur`ân harus bisa dikenali saat malam hari ketika manusia tertidur lelap, saat siang hari ketika manusia berbuka, dengan tangisnya ketika menusia tertawa, dengan wara’nya ketika manusia berbaur, dengan diamnya ketika manusia larut dalam pembicaraan yang tidak bermanfaat, dengan kekhusyuannya ketika manusia bersikap angkuh, dan dengan sedihnya ketika manusia bersuka cita”.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sebagai ahlul-qur’an. Yaitu orang-orang yang selalu menyibukkan diri dengan membaca, mempelajari, mengajarkan dan mengamalkan al Qur’an. Sehingga pada hari Kiamat, Al-Qur`ân mendatangi untuk memberi syafaat bagi kita di hadapan Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Sebagai wujud memuliakan Al-Qur`ân, hendaklah kita menjaga adab-adab saat membacanya.

Pertama. Membacanya dalam keadaan yang paling sempurna. Yaitu dengan bersuci, menghadap kiblat dan duduk dengan sopan.

Kedua. Membacanya dengan tartil dan tidak tergesa-gesa. Karena tidak layak seseorang membaca Al-Qur`ân dengan terlalu cepat, sehingga dalam waktu kurang dari tiga hari ia telah selesai mengkhatamkan bacaannya. Padahal terdapat sebuah riwayat tentang ashabus-sunnan dan dishahihkan at-Tirmidzi, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثِ لَيَالٍ لَمْ يَفْقَهْهُ

Barangsiapa yang (mengkhatamkan) membaca Al-Qur`ân dalam waktu kurang dari tiga hari maka ia tidak dapat memahaminya.

Ketiga. Selalu khusyu’ ketika membacanya, menampakkan kesedihan, dan berusaha menangis.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang jayyid, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُتْلُوْا الْقُرْآنَ وَابْكُوْا. فَإِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكُوْا

Bacalah Al-Qur`ân dan menangislah. Apabila kamu tidak bisa menangis, maka berpura-puralah menangis.

Keempat. Hendaklah memperindah suaranya.
Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Sahabat Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنَ

Bukan golongan kami orang yang tidak membaca Al-Qur`ân dengan irama.

Kelima. Seorang yang membaca Al-Qur`ân hendaklah menyembunyikan suaranya jika ia khawatir akan menimbulkan riya`, atau sum’ah pada dirinya, atau apabila dikhawatirkan akan mengganggu orang yang sedang shalat.

Selanjutnya, hendaklah seorang muslim berusaha memperbanyak hafalan Al-Qur`ân di dadanya, karena hal ini termasuk tanda keimanan seseorang, dan salah satu tanda orang yang diberi ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, Al-Qur`ân itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zhalim.[al-Ankabut/29:49]

Sumber:
1. Ushulun fit-Tafsiir, karya Syaikh Muhammad Shâlih al-‘Utsaimin.
2. Minhajul-Muslim.
3. Artikel “Agama Adalah Nasihat,” Ustadz Yazid Abdul-Qadir Jawwas. Lihat Majalah As-Sunnah, Rubrik Hadits, Edisi 05/Tahun XI/1428H/2007M, halaman 15-24.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Kewajiban Terhadap Al Qur Kewajiban Umat Islam Terhadap Al Quran Kewajiban Umat Islam Terhadap Hadits Hadis Memuliakan Alquran Jelaskan Kewajiban Kita Sebagai Umat Islam Terhadap Al Quran