Tauhid Ar-Rububiyah

Tauhid

TAUHID AR-RUBÛBIYAH[1]

Tauhid ar-Rubûbiyah adalah mengimani bahwa Allâh itu ada dan meyakini keesaan-Nya dalam segala perbuatan-Nya. Atau meyakini bahwa Allâh adalah al-Khâliq (Pencipta), ar-Râziq (Pemberi rezeki), al-Mudabbir (Pengatur/Penguasa) segala sesuatu, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Atau: meyakini keesaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan segala perbuatan-Nya. [Lihat, Majmû’at Tauhîd, 1/5]

Cakupan Tauhid ar-Rubûbiyah

Tauhid ar-Rubûbiyah mencakup hal-hal sebagai berikut:

  • Mengimani keberadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala
  • Mengakui bahwa Allâh Azza wa Jalla adalah al-Khâliq (Pencipta), al-Mâlik (Pemilik), ar-Râziq (Pemberi rezeki) segala sesuatu, juga mengimani dan mengakui bahwa Allâh Azza wa Jalla adalah yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi manfaat, yang mendatangkan madharat, satu-satunya yang bisa mengabulkan doa, segala urusan menjadi hak-Nya, seluruh kebaikan ada di tangan-Nya, maha kuasa terhadap segala sesuatu, yang menetapkan segala sesuatu, yang mengatur dan mengurusi semuanya; Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua perkara itu. [Lihat, Syarah ath-Thahâwiyah, hlm. 25; Madârijus Sâlikîn, Bab Tauhîd, 1/33-46; Taisîrul Azîzil Hamîd, hlm. 17; Al-Qaululs Sadîd, hlm. 18; dan Ma’ârijul Qabûl, 1/99]

Banyak sekali dalil dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tentang penetapan rubûbiyah Allâh Azza wa Jalla terhadap makhluk-Nya. Semua nash yang ada penyebutan kata ar-Rabb (Penguasa) atau di dalamnya disebutkan kekhususan rubûbiyah, seperti menciptakan, memberi rezeki, memiliki, menetapkan, mengatur, dan lainnya, maka itu termasuk dalil rubûbiyah (kekuasaan/pemeliharaan) Allâh Azza wa Jalla .

Misalnya, firman Allâh Azza wa Jalla :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam. [Al-Fâtihah/1: 2]

juga firman-Nya:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allâh. [Al-A’râf/7: 54]

Juga firman-Nya:

قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ

Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu?” [Al-Mukminûn/23: 88]

Perintah Memikirkan Ayat-Ayat Allâh

Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan para hamba-Nya untuk memperhatikan dan memikirkan ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla yang nyata, berupa makhluk-makhluk yang berada di atas langit atau di bawahnya, sehingga mereka mendapatkan bukti rubûbiyah (kekuasaan/pemeliharaan) Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ ﴿٢٠﴾ وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [Adz-Dzâriyyat/51: 20-21]

Allâh, Al-Bâri (Pencipta) telah memberitakan bahwa di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) yang banyak yang menunjukkan keagungan Penciptanya dan kekuasaan-Nya yang mengagumkan. Misalnya, berbagai jenis tumbuh-tumbuhan, hewan, gunung, padang sahara, padang pasir, lautan, dan sungai.

Demikian juga di dalam penciptaan manusia terdapat banyak tanda kekuasaan Allâh yang menunjukkan rubûbiyah Allâh Azza wa Jalla . Di antaranya, susunan anggota tubuh manusia yang memiliki banyak hikmah dalam penempatan semuanya pada tempat-tempat yang dibutuhkan. Juga perbedaan berbagai bahasa manusia, warna kulit, akal, pemahaman, gerakan, dan kehendak serta kekuatan yang telah Allâh ciptakan pada mereka. Demikian juga dalam permulaan penciptaan manusia terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) yang sangat besar. Karena sebelum menjadi sosok manusia, dia hanya setetes air mani, lalu menjadi segumpal darah, segumpal daging, lalu Allâh Azza wa Jalla ciptakan tulang-tulang, Allâh ciptakan ruh padanya, sehingga kahirnya, manusia bisa mendengar dan melihat. Allâh Azza wa Jalla mengeluarkan janin dari perut ibunya sebagai bayi mungil yang lemah. Kemudian seiring pertambahan umur, kekuatannya dan gerakannya semakin sempurna. Sehingga manusia mampu membangun kota-kota dan benteng-benteng,  bisa bepergian ke berbagai penjuru dunia, mencari dan mengumpulkan harta. Manusia memiliki fikiran, pendapat, dan ilmu, sesuai keadaan yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan. Maha suci Allâh Yang memberikan kekuatan kepada manusia, memudahkan mereka, membagi mereka di berbagai macam pekerjaan dan penghidupan, membedakan di antara mereka dalam masalah ilmu, fikiran, kekayaan, kemiskinan, dan lainnya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah/2: 163]

Dalam ayat ini, Allâh menyebutkan tentang tauhid ulûhiyah, lalu pada ayat setelahnya, Allâh menyebutkan dalilnya dengan menyebutkan sebagian kekhususan rubûbiyah-Nya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allâh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allâh) bagi kaum yang memikirkan. [Al-Baqarah/2: 164]

Diriwayatkan dari sebagian Salaf bahwa dia berkata, “Ketika turun ayat yang pertama, orang-orang musyrik menuntut dalil (bukti) bahwa tidak ada ilah (tuhan) yang haq melainkan Allâh, maka turunlah ayat kedua.

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ ﴿١٧﴾ وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ ﴿١٨﴾ وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ ﴿١٩﴾ وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? [Al-Ghâsyiyah/88: 17-20]

Perkataan Ulama Dan Hukama Yang Berdalil Dengan Ayat –Ayat Kauniyah

Banyak Ulama (para ahli ilmu agama) dan hukama (orang-orang bijak) dari kalangan orang-orang yang bertauhid menunjukkan bukti rubûbiyah Allâh dengan ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda kekuasaan Allâh yang berada di alam semesta). Ada berbagai perkataan, khutbah dan sya’ir yang terkenal. Di antaranya adalah perkataan Ibnul Mu’taz:

فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصِى الإِلَهَ         أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ

وَلله فِي كُلِّ تَحْرِيْكَةٍ        وَفِي كُلِّ تَسْكِيْنَةٍ شَاهِدٌ

وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ      تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدٌ

Alangkah mengherankan, bagaimana Allâh dimaksiati            

atau bagaimana ada orang yang mengingkariNya

Sedangkan pada semua gerakan

dan semua keadaan diam, Allâh memiliki saksi (kekuasaan)

Dan Dia memiliki tanda (kekuasaan) pada segala sesuatu

yang menunjukkan bahwa Dia Esa

Pengakuan Tauhid ar-Rubûbiyah Saja Tidak Cukup

Tauhid rubûbiyah saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang masuk agam Islam, karena orang-orang musyrik zaman dahulu juga mengakui tauhid rubûbiyah, tetapi hal itu tidak bermanfaat buat mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai orang Islam. Karena mereka masih menyekutukan Allâh dalam tauhid ulûhiyah, dengan mempersembahkan sebagian jenis ibadah, seperti doa, penyembelihan hewan dan istighatsah (memohon dihilangkan kesusahan)  kepada sesembahan-sesembahan mereka, berupa patung, malaikat, dan lainnya. [Lihat Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyah, 3/96-102]

Imam Muhammad bin Isma’il ash-Shan’ani t , seorang Ulama Yaman, berkata, “Orang-orang musyrik yang didatangi oleh para Rasul, utusan Allâh itu mengakui bahwa Allâh Pencipta mereka.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allâh”. [Az-Zukhruf/43: 87]

Mereka juga mengakui bahwa Allâh Pencipta langit dan bumi. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” [Az-Zukhruf/43: 9]

Mereka mengakui bahwa Allâh Azza wa Jalla yang memberi rezeki, yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Allâh yang mengatur segala urusan dari langit ke bumi, dan Allâh yang berkuasa menciptakan pendengaran, penglihatan, dan akal. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allâh.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [Yûnus/10: 31]

قُلْ لِمَنِ الْأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨٤﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٨٥﴾ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ﴿٨٦﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿٨٧﴾ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٨٨﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُونَ

Katakanlah, “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allâh.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak ingat?”

Katakanlah, “Siapakah Yang Rabb (pemilik)  langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allâh.” Katakanlah, “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”

Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allâh.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” [Al-Mukminûn/23: 84-89]

Fir’aun yang terkenal dengan kekafirannya yang melampaui batas, pengakuannya yang sangat keji, perkataannya yang sangat buruk, yaitu klaimnya bahwa rubûbiyah dan ulûhiyah adalah miliknya, dengan ucapannya:

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي

Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku [Al-Qashshash/28: 38]

Namun Allâh Azza wa Jalla berfirman menghikayatkan tentang ucapan Nabi Musa kepada Fir’aun, yang menunjukkan bahwa hati Fir’aun mengakui keberadaan dan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla serta kebenaran mu’jizat Nabi Musa Alaihissallam:

قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنْزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ

Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata.” [Al-Isra’/17: 102]

Iblis juga dengan perkataan-perkataannya menunjukkan bahwa dia mengakui keberadaan dan kekuasaan Allâh Azza wa Jalla . Inilah di antara perkataan Iblis:

إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allâh, Rabb semesta Alam. [Al-Hasyr/59: 16]

Iblis juga mengatakan:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي

Wahai Rabbku! oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat…”. [Al-Hijr/15: 38]

Semua orang musyrik mengakui bahwa Allâh adalah Penciptanya dan pencipta langit dan bumi, pemilik langit dan bumi dan semua yang ada di antara keduanya, dan pemberi rezeki kepada mereka semua. Oleh karena itu para Rasul berargumen kepada mereka dengan perkataan:

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. [An-Nahl/16: 17]

Dan dengan perkataan:

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.[Al-Hajj/22: 73]

Dan orang-orang musyrik mengakuinya, tidak mengingkarinya”. Sekian nukilan perkataan imam Ash-Shan’ani rahimahullah .***

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tas-hîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 41-46, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain.