Aku Seorang Muslim

AKU SEORANG MUSLIM

Aku seorang muslim, artinya agamaku adalah Islam. Islam adalah sebuah kata agung nan suci yang diwariskan secara turun-temurun oleh para nabi -‘alaihimussalām-, mulai dari nabi paling pertama hingga nabi terakhir. Kata ini mengandung makna-makna yang luhur dan nilai-nilai yang agung. Islam berarti: tunduk, patuh, dan taat kepada Sang Pencipta. Juga memiliki arti : kesejahteraan, kedamaian, kebahagiaan, keamanan, dan ketenangan bagi individu dan masyarakat. Oleh karena itu, kata Salām dan Islām termasuk kata yang paling banyak disebutkan dalam syariat Islam. As-Salām adalah salah satu nama Allah. Kalimat penghormatan di antara umat Islam disebut salam. Demikian juga kalimat penghormatan penduduk surga ialah salām. Muslim sejati ialah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Islam merupakan agama kebaikan bagi seluruh manusia. Islam sudah cukup untuk agama mereka dan merupakan jalan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, ia datang sebagai agama penutup yang komprehensif, lapang, jelas, dan terbuka untuk setiap orang; tidak membedakan satu ras dari ras lainnya, maupun satu warna kulit atas kulit lainnya. Islam memandang manusia dengan pandangan yang sama. Siapa pun tidak akan istimewa di dalam Islam kecuali sesuai kadar ketaatannya dalam menjalankan ajarannya. Oleh karena itu, ia disambut oleh semua jiwa yang lurus karena sesuai dengan fitrah. Semua manusia dilahirkan di atas fitrah kebaikan, keadilan, dan kebebasan, serta cinta kepada Tuhannya dan mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sembahan yang berhak diibadahi, tidak ada selain-Nya. Tidak ada yang melenceng dari fitrah itu kecuali disebabkan oleh sesuatu yang memalingkan dan mengubahnya. Agama ini telah diridai bagi manusia oleh Sang Maha Pencipta, Tuhan, dan Sembahan manusia.

Agamaku, Islam, mengajariku bahwa aku akan hidup sementara di dunia ini. Setelah kematian, aku akan berpindah ke negeri lain, yaitu negeri abadi tempat kembali manusia, antara ke surga atau ke neraka.

Agamaku, Islam, memerintahkanku dengan perintah-perintah dan melarangku dari larangan-larangan. Bila perintah-perintah itu aku laksanakan serta larangan-larangan tersebut aku jauhi, aku akan bahagia di dunia dan akhirat. Namun bila aku melalaikannya, maka akan terjadi kesengsaraan di dunia dan akhirat sesuai dengan tingkat kelalaianku. Perkara paling besar yang diperintahkan Islam kepadaku ialah mentauhidkan Allah. Maka aku bersaksi dan meyakini dengan bulat bahwa Allah adalah penciptaku dan sembahanku. Aku tidak menyembah kecuali kepada Allah atas dasar cinta kepada-Nya, takut terhadap siksa-Nya, berharap pada pahala-Nya, dan berserah diri kepada-Nya. Tauhid tersebut tampak pada pengakuan keesaan bagi Allah dan pengakuan kerasulan bagi Nabi-Nya, Muhammad ﷺ. Muhammad adalah penutup para nabi; Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta dan penutup kenabian dan kerasulan, tidak ada nabi lagi setelahnya. Dia membawa agama yang universal serta relevan untuk semua zaman, tempat, dan masyarakat.

Agamaku memerintahkanku dengan perintah yang tegas untuk beriman kepada para malaikat dan seluruh rasul, utamanya Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad –‘alaihimussalām-.

Juga memerintahkanku untuk beriman kepada kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada para rasul dan untuk mengikuti kitab yang terakhir dan paling agung, yaitu Al-Qur`ān Al-Karīm.

Agamaku memerintahkanku untuk mengimani hari Kiamat; di sana manusia diberikan ganjaran atas amal perbuatannya. Ia juga memerintahkanku untuk mengimani takdir, bersikap rida dengan kebaikan maupun keburukan yang ditetapkan bagiku dalam kehidupan ini, dan berusaha melakukan sebab-sebab keselamatan. Iman kepada takdir memberiku kenyamanan, ketenangan, kesabaran, dan tidak bersedih atas apa yang tidak aku dapatkan. Karena aku mengetahui secara yakin bahwa apa yang telah ditetapkan  akan menimpaku pasti tidak akan melesat dariku, dan apa yang telah ditetapkan akan melesat dariku, maka pasti ia tidak akan menimpaku. Segala sesuatu telah ditetapkan dan ditulis dari sisi Allah, sedangkan aku hanya diwajibkan melakukan ikhtiar, lalu bersikap rida dengan apa yang terjadi setelah itu.

Islam memerintahkanku untuk melakukan apa yang akan menyucikan jiwaku berupa amal saleh dan akhlak-akhlak agung yang akan mendatangkan rida Tuhanku, menyucikan jiwaku, membahagiakan hatiku, melapangkan dadaku, menyinari jalanku, dan menjadikanku sebagai individu yang berguna di tengah masyarakat.

Di antara amalan yang paling agung tersebut ialah mentauhidkan Allah, menegakkan salat lima waktu dalam sehari semalam, menunaikan zakat harta, berpuasa satu bulan dalam setahun, yaitu bulan Ramadan, dan berhaji ke Baitulharam di Makkah bagi siapa yang mampu berhaji.

Di antara amalan paling agung yang diajarkan oleh agamaku serta berfungsi memberikan ketenteraman hati ialah membaca Al-Qur`ān yang merupakan firman Allah, ucapan paling jujur, ucapan paling indah, dan paling agung, yang mencakup ilmu orang-orang terdahulu hingga yang terakhir. Membaca atau mendengarkannya akan mendatangkan ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan dalam hati, sekalipun yang membacanya atau yang mendengarkannya tidak bisa berbahasa Arab ataupun non muslim. Termasuk tindakan paling besar yang dapat menenteramkan hati ialah banyak berdoa dan memohon kepada Allah serta meminta kepada-Nya semua hal yang kecil dan yang besar. Allah akan mengabulkan siapa yang berdoa kepada-Nya dan yang memurnikan ibadah untuk-Nya.

Termasuk perkara paling besar yang dapat menenteramkan hati ialah banyak berzikir kepada Allah ﷻ.

Nabiku ﷺ telah membimbingku cara berzikir kepada Allah dan mengajariku zikir yang paling utama. Di antaranya ialah empat kalimat yang merupakan ucapan paling utama setelah Al-Qur`ān, yaitu: subḥānallāh walḥamdulillāh wa lā ilāha illallāh wallāhu akbar.

Demikian juga : astagfirullāh wa lā ḥaula walā quwwata illā billāh.

Kalimat-kalimat ini memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam kenyamanan dada serta turunnya ketenangan dalam hati.

Baca Juga  Seorang Gadis Ingin Masuk Islam, Tapi Takut Menyakiti Keluarganya

Islam memerintahkanku untuk menjadi orang yang mulia, jauh dari tindakan yang akan menurunkan nilai kemanusiaan dan kemuliaanku, dan agar aku menggunakan akal dan anggota badanku pada tujuan penciptaanku berupa perbuatan yang bermanfaat dalam agama dan duniaku.

Islam memerintahkanku untuk berkasih sayang, berakhlak yang baik, bermuamalah yang bagus serta berbuat baik kepada makhluk dengan perkataan dan perbuatan sesuai kemampuanku.

Urusan terbesar yang diperintahkan kepadaku terkait hak makhluk ialah hak kedua orang tua. Agamaku memerintahkanku untuk berbakti pada keduanya, menginginkan kebaikan untuk keduanya, bersungguh-sungguh mewujudkan kebahagiaan mereka berdua dan memberikan manfaat bagi keduanya, terutama ketika mereka tua. Oleh karena itu, Anda melihat ayah dan ibu dalam masyarakat Islam mendapat kedudukan yang tinggi berupa penghargaan, penghormatan, dan pelayanan di mata anak-anak mereka. Ketika umur kedua orang tua semakin senja atau keduanya ditimpa sakit atau lemah, bakti anak-anak mereka akan semakin bertambah. Agamaku mengajariku bahwa perempuan memiliki kemuliaan yang tinggi dan hak-hak yang besar. Perempuan dalam agama Islam adalah belahan laki-laki, dan manusia terbaik adalah orang yang paling baik kepada istrinya. Di masa kecilnya, perempuan muslimah memiliki hak penyusuan, perawatan, dan pendidikan yang baik. Dia pada masa itu adalah penyejuk mata dan buah hati bagi kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika beranjak dewasa dia dimuliakan, menjadi objek kecemburuan walinya serta dilindunginya dengan perawatannya; Walinya itu tidak akan rida bila dia dijamah tangan jahat, disakiti oleh lisan tajam, maupun dipandangi oleh mata khianat. Ketika dia menikah, pernikahannya dilangsungkan dengan kalimat Allah dan perjanjian yang berat. Di rumah suami, dia mendapatkan pergaulan yang paling mulia, dan suaminya berkewajiban untuk memuliakannya, berbuat baik kepadanya, dan tidak menyakitinya.

Ketika menjadi ibu, kewajiban berbakti kepadanya digandengkan dengan hak Allah –Ta’ālā-, sedangkan larangan mendurhakai dan berbuat buruk kepadanya digandengkan dengan kesyirikan kepada Allah dan kerusakan di bumi.

Ketika menjadi saudari, maka seorang muslim diperintahkan untuk bersilaturahmi kepadanya, memuliakannya, serta bersikap cemburu untuknya. Ketika menjadi bibi (saudari ibu), kedudukannya disamakan dengan kedudukan ibu dalam hal berbakti dan bersilaturahmi.

Ketika menjadi nenek atau jompo, kedudukannya di hadapan anak-anak dan cucunya serta seluruh kerabatnya semakin tinggi ; permintaannya hampir tidak pernah ditolak dan pendapatnya tidak pernah diremehkan.

Ketika menjadi wanita jauh, bukan kerabat ataupun tetangga, maka dia memiliki hak Islam yang umum seperti tidak boleh disakiti, menundukkan pandangan padanya, dan semisalnya.

Masyarakat Islam senantiasa memperhatikan hak-hak tersebut dengan sebenar-benarnya. Hal ini memberikan nilai dan pengakuan kepada wanita yang tidak ditemukan dalam masyarakat non muslim.

Di samping itu, perempuan di dalam Islam punya hak memiliki, menyewa, jual beli, dan berbagai transaksi lainnya serta memiliki hak belajar, mengajar, dan bekerja pada bidang yang tidak menyelisihi agamanya. Bahkan, sebagian ilmu ada yang hukumnya fardu ain, orang yang meninggalkannya akan berdosa, baik laki-laki ataupun perempuan.

Bahkan, wanita mendapatkan semua yang didapatkan oleh laki-laki, kecuali apa yang menjadi kekhususannya tanpa laki-laki, atau yang menjadi kekhususan laki-laki tanpa perempuan, berupa hak dan hukum-hukum yang sesuai untuk masing-masing dari keduanya, sebagaimana yang dirincikan pada tempatnya.

Agamaku memerintahkanku untuk mencintai saudaraku yang laki-laki dan perempuan, paman-pamanku dari pihak ayah dan ibu, bibi-bibiku dari pihak ayah dan ibu, dan semua kerabatku. Agamaku juga memerintahkanku untuk menunaikan hak istri, anak, dan tetangga-tetanggaku.

Agamaku memerintahkanku untuk mencari ilmu ilmu serta mendorongku untuk melakukan semua hal yang dapat meningkatkan akal, akhlak, dan pemikiranku.

Agamaku memerintahkanku untuk sifat malu, santun, dermawan, berani, bijaksana, tenang, sabar, amanah, tawaduk, menjaga diri, bersih, memenuhi janji, mencintai kebaikan untuk manusia, bekerja untuk mendapatkan rezeki, iba kepada orang miskin, menjenguk orang sakit, menunaikan janji, bertutur kata baik, riang ketika bertemu orang, dan berusaha memberikan mereka kebahagiaan sesuai kemampuan.

Sebaliknya, agamaku memperingatkanku dari kebodohan, melarangku dari kekufuran, kesesatan, kemaksiatan, kekejian, perzinaan, penyimpangan, kesombongan, hasad, dengki, buruk sangka, pesimis, sedih, dusta, putus asa, pelit, malas, pengecut, pengangguran, marah, sembrono, bodoh, berbuat buruk kepada manusia, banyak bicara tanpa bermanfaat, menyebarkan rahasia, khianat, ingkar janji, durhaka pada orang tua, pemutusan silaturahmi, penelantaran anak-anak, dan dari menyakiti tetangga dan manusia secara umum.

Islam juga melarangku meminum minuman keras, mengonsumsi narkoba, berjudi, mencuri, menipu, curang, menakut-nakuti orang lain, serta memata-matai dan mencari-cari cacat dan aib manusia.

Agamaku, Islam, menjaga harta. Hal ini menjamin penyebaran kesejahteraan dan keamanan. Oleh karena itu, Islam mendorong sifat amanah dan memuji pelakunya, menjanjikan kehidupan baik bagi mereka serta masuk surga kelak di akhirat. Islam juga mengharamkan pencurian dan mengancam pelakunya dengan hukuman di dunia dan akhirat.

Agamaku juga menjaga jiwa. Oleh karena itu, Islam mengharamkan membunuh manusia tanpa alasan yang dibenarkan, mengharamkan semua jenis kezaliman terhadap orang lain, walaupun berbentuk ucapan.

Bahkan, Islam mengharamkan seseorang menzalimi dirinya sendiri. Islam tidak membolehkannya merusak akalnya, menghancurkan kesehatannya, ataupun membunuh dirinya.

Baca Juga  Mengusap Khuff, Mandi dan Tayamum

Agamaku, Islam, menjamin kebebasan dan mengaturnya. Manusia di dalam Islam bebas untuk berpikir, berjual beli, berbisnis, dan berpindah-pindah. Ia bebas untuk menikmati berbagai kenikmatan; seperti makanan, minuman, pakaian, ataupun yang didengar selama tidak melakukan hal haram yang akan mendatangkan keburukan bagi dirinya atau bagi orang lain.

Agamaku mengatur kebebasan. Ia tidak memperkenankan seseorang menzalimi yang lain. Seseorang tidak boleh mencicipi kenikmatan yang haram yang akan menghancurkan hartanya, kebahagiaannya, dan nilai kemanusiaannya.

Bila Anda melihat orang-orang yang membiarkan dirinya dalam kebebasan tanpa batas dalam segala hal dan memenuhi semua syahwat yang diinginkannya tanpa diikat dengan batasan agama atau akal, maka Anda melihat mereka hidup dalam kesengsaraan dan kesempitan yang paling rendah, bahkan Anda akan melihat sebagian mereka lebih suka bunuh diri untuk melepaskan diri dari kegundahan hidupnya.

Agamaku mengajariku adab yang paling tinggi terkait makan minum, tidur, dan berbicara kepada manusia.

Agamaku mengajariku bersikap ramah dalam jual beli dan menuntut hak. Juga mengajariku bersikap toleran terhadap orang-orang yang berbeda dalam agama. Aku tidak boleh menzalimi maupun berbuat buruk kepada mereka, bahkan aku harus berbuat baik dan mengharapkan kebaikan sampai kepada mereka. Sejarah umat Islam menjadi saksi sikap toleran mereka terhadap orang-orang yang berbeda dengan tingkat toleransi yang belum pernah diketahui umat sebelum mereka. Umat Islam pernah hidup berdampingan dengan berbagai umat dengan aneka latar belakang agama dan masuk di bawah kekuasaan umat Islam. Sikap umat Islam terhadap mereka merupakan sikap paling baik yang dikenal di antara manusia. Secara umum, Islam telah mengajariku berbagai adab yang rinci, interaksi yang baik, dan akhlak-akhlak mulia yang menjernihkan hidupku dan mewujudkan kebahagiaanku. Islam juga melarangku melakukan semua tindakan yang akan memperkeruh hidupku dan yang akan membawa keburukan di tatanan sosial, jiwa, akal, harta, kemuliaan, dan kehormatan. Sebanding dengan tingkat pengaplikasianku terhadap ajaran-ajaran tersebut, seperti itu pula besarnya tingkat kebahagiaanku. Kebahagiaanku akan berkurang selaras dengan tingkat kelalaian dan penelantaranku terhadap sebagian dari ajaran-ajaran itu.

Semua yang tersebut di atas tidak menunjukkan bahwa aku terpelihara dari dosa dan tidak pernah salah maupun lalai. Agamaku melihat sifat dasarku sebagai manusia serta kelemahanku di sebagian keadaan, sehingga aku kadang salah, malas, dan lalai. Oleh karena itu, Islam membukakan untukku pintu taubat, istigfar, dan kembali kepada Allah. Taubat akan menghapus jejak lalaiku dan mengangkat kedudukanku di sisi Tuhanku.

Semua ajaran Islam terkait akidah, akhlak, adab, dan muamalah bersumber dari Al-Qur`ān Al-Karīm dan Sunnah yang suci.

Terakhir, aku katakan dengan sangat yakin: siapa saja yang mencermati hakikat agama Islam secara adil dan objektif, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali ia pasti memeluknya. Tetapi problemnya, agama Islam dicoreng oleh opini-opini dusta atau perbuatan sebagian orang yang menisbahkan diri kepadanya dari kalangan yang tidak menjalankan ajarannya.

Bila seseorang melihat hakikat Islam sebenarnya atau melihat keadaan para penganutnya yang menjalankannya secara benar, maka ia tidak akan ragu untuk menerimanya dan masuk ke dalamnya. Bahkan, akan tampak baginya bahwa Islam mengajak kepada kebahagiaan manusia, mewujudkan kesejahteraan dan keamanan, serta menyebarkan keadilan dan kebaikan. Adapun penyimpangan sebagian orang yang menisbahkan diri kepada Islam –sedikit ataupun banyak-, tidak boleh sama sekali dibebankan kepada agama Islam atau Islam dicela dengan sebab itu. Islam suci dari itu semuanya. Tanggung jawab penyimpangan tersebut kembali kepada individu orang yang menyimpang itu sendiri, karena Islam tidak memerintahkan yang demikian itu, bahkan Islam melarang mereka menyimpang dari ajarannya. Di samping itu, sikap adil menuntut kita untuk melihat keadaan orang-orang yang menjalankan agama ini secara benar, serta yang menerapkan perintah dan hukum-hukumnya terhadap diri mereka dan orang lain; karena hal itu akan membuat hati manusia memuliakan dan menghargai agama ini dan para pemeluknya. Islam tidak menyisakan satupun bimbingan dan adab, yang kecil maupun besar, kecuali ia menganjurkannya. Tidak pula ada suatu kerusakan dan kebobrokan moral kecuali ia memperingatkan darinya dan menutup sarana yang menuju padanya.

Oleh sebab itu, orang-orang yang menjunjung agama Islam serta menegakkan syiar-syiarnya adalah orang-orang yang paling bahagia dan paling tinggi adabnya serta pembinaan dirinya di atas perangai indah dan akhlak-akhlak mulia. Hal ini dapat disaksikan oleh semua orang.

Namun jika hanya melihat keadaan umat Islam yang lalai dalam agamanya dan melenceng dari jalan Islam yang lurus, maka itu bukanlah sikap yang adil, bahkan itu merupakan kezaliman murni.

Terakhir, saya menyampaikan ajakan kepada setiap nonmuslim agar mencoba mengenal Islam dan masuk ke dalamnya.

Orang yang ingin masuk Islam tidak memiliki kewajiban kecuali melafalkan syahadat: Lā ilāha illallāh Muḥammad rasūlullāh. Kemudian dia mempelajari sebagian agama untuk dapat menjalankan apa yang Allah wajibkan kepadanya. Semakin banyak dia belajar dan mengamalkannya, maka semakin bertambah pula kebahagiaannya serta semakin tinggi kedudukannya di sisi Tuhannya.

Disalin dari IslamHouse.com Penulis Dr. Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

  1. Home
  2. /
  3. A5. Panduan Untuk Mualaf
  4. /
  5. Aku Seorang Muslim