Sabar Tidak Berarti Berpangku Tangan

SABAR TIDAK BERARTI BERPANGKU TANGAN

Oleh

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

“Sampai kapan kita terus bersabar melihat keadaan seperti ini?”, “Apa kita bersabar terus sampai hancur dan binasa?”, “Kalau kita bersabar terus tanpa berbuat apa-apa, maka kapan keadaan buruk ini akan berubah?”.

Komentar-komantar di atas barangkali sering kita kita dengar, atau bahkan disampaikan kepada kita ketika kita berupaya mengajak sebagian kaum muslimin untuk bersikap benar dan bersabar dalam menghadapi kejadian-kejadian di sekitar kita yang tidak kita inginkan.

Tentu saja komentar-komentar tersebut tidak didasari ilmu dan pemahaman agama yang benar, khususnya dalam memahami makna sifat sabar yang banyak dipuji dan diperintahkan dalam ayat-ayat al-Qur’an.

Bahkan inilah yang diperintahkan Allâh Azza wa Jalla kepada hamba dan Rasul-Nya yang paling mulia, Nabi Muhammad n ketika Beliau menghadapi kenyataan yang sangat pahit dan menyakitkan dari kaum kafir Quraisy yang menolak seruan dakwah Beliau n dan bahkan menyakiti Beliau n dengan berbagai macam gangguan[1]. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah. [Al-Ma’ârij/70:5]

Perintah Allâh Azza wa Jalla untuk menetapi sifat sabar dalam menghadapi keadaan seperti itu menunjukkan bahwa hal ini pada akhirnya akan mendatangkan banyak kebaikan[2], karena sifat sabar memang merupakan sebab utama turunnya pertolongan dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba yang menetapinya.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah bahwa bersabar ketika (menghadapi) sesuatu yang tidak disukai (akan mendatangkan) banyak kebaikan, sesungguhnya pertolongan (dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala selalu) bersama sifat sabar, sesungguhnya jalan keluar (selalu) bersama kesempitan dan sesungguhnya bersama kesusahan (selalu ada) kemudahan[3]

KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN SIFAT SABAR

Keutamaan dan kemuliaan ini banyak disebutkan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan disempurnakan (ganjaran) pahala mereka (pada hari kiamat kelak) tanpa batas. [Az-Zumar /39:10].

Imam asy-Syaukani t berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa pahala dan ganjaran kebaikan orang-orang yang bersabar tidak ada batasnya … Ini adalah keutamaan besar dan ganjaran kebaikan agung yang mengandung arti bahwa setiap orang yang mendambakan pahala (dari) Allâh dan menginginkan balasan kebaikan di sisi-Nya maka hendaknya dia menetapi sifat sabar, mengikatkan diri dengannya dan berpegang teguh padanya”[4].

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman! Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allâh bersama orang-orang yang bersabar” [al-Baqarah: 153].

Arti kebersamaan Allâh dalam ayat ini adalah al-ma’iyyah al-khâshshah (kebersamaan khusus) yang mengandung makna limpahan pertolongan, taufik, penjagaan, dan perlindungan-Nya bagi hamba tersebut.[5] Kebersamaan ini khusus bagi para hamba Allâh Azza wa Jalla yang beriman dan memiliki sifat-sifat mulia.

Imam asy-Syaukani berkata, “Dalam ayat ini terdapat motivasi terbesar bagi para hamba Allâh Subhanahu wa Ta’ala untuk menetapi sifat sabar ketika menghadapi segala kesusahan. Karena barangsiapa yang Allâh bersamanya, maka dia tidak akan takut (menghadapi) segala rintangan (apapun) meskipun (sebesar) gunung.”[6]

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di berkata, “(Dalam ayat ini) Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong dalam (menghadapi) urusan-urusan agama dan dunia mereka … Maka sifat sabar merupakan penolong besar dalam menghadapi segala urusan. Maka tidak ada jalan bagi orang yang tidak bersabar untuk mencapai apa yang diinginkannya (karena tidak adanya pertolongan dari Allâh baginya) … Kebersamaan Allâh dalam ayat ini adalah kebersamaan khusus yang mengandung makna kecintaan, bantuan, pertolongan dan kedekatan Allâh (bagi hamba-hamba tersebut). Maka ini merupakan kemuliaan besar bagi orang-orang yang memiliki sifat sabar. Seandainya tidak ada keutamaan bagi orang-orang yang bersabar kecuali mendapatkan kebersamaan yang khusus dari Allâh ini, maka cukuplah hal ini sebagai keutamaan dan kemuliaan (besar)”[7].

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ

Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allâh akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah sesorang dianugerahkan (oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala ) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar[8].

Hadits yang mulia ini menunjukkan agungnya keutamaan dan tingginya kedudukan sifat sabar dalam Islam, bahkan menunjukkan bahwa sifat ini menempati kedudukan tertinggi dalam Islam, karena sifat ini menghimpun semua sifat dan perbuatan yang terpuji[9].

Sebagaimana hadits ini juga menunjukkan bahwa sifat sabar tidak akan diraih kecuali dengan taufik dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan dengan bersungguh-sungguh berusaha melatih dan membiasakan diri menetapi sifat tersebut[10], demikian pula sifat-sifat mulia lainnya dalam Islam[11].

Dan masih banyak dalil-dalil lain yang menjelaskan tingginya kemuliaan dan keutamaan sifat agung ini.

MAKNA SABAR DAN HAKIKATNYA

Arti sabar secara etimologi adalah al-habs (menahan/mencegah), maka makna sabar adalah menahan diri dari berputus asa, dan menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allâh Azza wa Jalla .[12] Inilah arti kesabaran yang indah yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan dalam firman-Nya:

فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang indah [Al-Ma’ârij /70:5].

Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Makna kesabaran yang indah adalah kesabaran yang tidak disertai sikap berkeluh kesah dan mengadu kepada selain Allâh”[13]

Tentu saja hal ini akan dimudahkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya karena keimanannya yang kuat dan pengharapannya terhadap balasan pahala di sisi Allâh Azza wa Jalla .

Imam Sa’id bin Jubair berkata, “Kesabaran itu adalah pengakuan seorang hamba kepada Allâh atas musibah yang menimpa dirinya (bahwa itu semua dari sisi-Nya) dan pengharapannya terhadap balasan pahala di sisi-Nya. Sungguh terkadang seorang hamba bersedih, akan tetapi dia berusaha menahan diri, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran.”[14]

Inilah sebab besar limpahan hidayah dan taufik dari Allâh Azza wa Jalla ke dalam hati seorang hamba yang merupakan landasan utama segala kebaikan, sekaligus sebagai sebab yang meringankan musibah yang menimpa hamba tersebut, disertai balasan pahala yang agung di sisi-Nya.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa (seseorang) kecuali denga izin Allâh; Dan barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” [At-Taghâbun /64:11].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Makna ayat ini: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh, sehingga dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Azza wa Jalla), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh tersebut, maka Allâh akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Dia akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan yang lebih baik baginya”[15].

Sedangkan hakikat sabar adalah seperti yang dipaparkan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yaitu, “Akhlak mulia yang termasuk perangai jiwa (yang luhur), dengannya seorang hamba akan menjauhi perbuatan buruk dan tidak terpuji. Sifat ini merupakan bagian dari kekuatan jiwa yang menjadikan baik dan lurus keadaannya.”[16]

Adapun rukun sabar ada tiga yaitu:

  1. Menahan diri dari sikap murka terhadap segala ketentuan Allâh Subhanahu wa Ta’ala
  2. Menahan lisan dari keluh kesah (kepada selain Allâh Subhanahu wa Ta’ala)
  3. Menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang (Allâh Subhanahu wa Ta’ala ), seperti menampar wajah (ketika terjadi musibah), merobek pakaian, memotong rambut dan sebagainya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Poros sifat sabar berkisar pada tiga rukun ini, sehingga barang-siapa yang menunaikan ketiga rukun ini dengan benar maka musibah yang menimpanya akan berganti menjadi anugerah, bencana berubah menjadi karunia, dan hal yang tidak disukainya berubah menjadi kesenangan. Karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla tidak mengujinya (dengan musibah) untuk membinasakannya, akan tetapi hal itu untuk menguji kesabaran dan ‘ubudiyyah (penghambaan diri)nya kepada Allâh Azza wa Jalla .”[17]

Para Ulama juga menjelaskan bahwa sabar itu ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , sabar dalam meninggalkan larangan-larangan-Nya, dan sabar dalam menghadapi ketentuan takdir-Nya yang menimpa manusia[18].

IDENTIKKAH SABAR DENGAN PASRAH PADA KEADAAN BERPANGKU TANGAN?

Berdasarkan pemaparan di atas, jelas bahwa sifat sabar tidak berarti berpangku tangan atau pasrah pada keadaan, seperti yang dituduhkan sebagian kaum Muslimin kepada orang-orang yang selalu menyerukan untuk bersabar dalam menghadapi kenyataan sepahit apapun. Bahkan menetapi sifat ini justru merupakan solusi dan tindakan terbaik dalam menghadapi semua itu, karena bukankah sifat inilah yang Allâh Azza wa Jalla perintahkan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana penjelasan di atas, ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi kesusahan yang lebih dari kesusahan apapun yang dialami seorang manusia di jalan Allâh? Bukankah sifat ini merupakan sebaik-baik penolong bagi seorang hamba? Bukankah sifat ini termasuk sebab turunnya pertolongan dari Allâh? Di atas telah kami nukil sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan (dari Allâh Azza wa Jalla selalu) bersama sifat sabar[19].

Bahkan lebih dari itu semua, bukankah sifat ini menghimpun semua sifat dan perbuatan yang terpuji dalam Islam, sebagaimana hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah kami nukil di atas? Maka kalau demikian keadaan dan kedudukan mulia sifat ini dalam Islam, lalu apakah pantas jika sifat ini diidentikkan dengan pasrah dan berpangku tangan yang menunjukkan arti negatif dan buruk?

Memang benar kita diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk berusaha merubah keadaan yang buruk dan yang bertentangan dengan petunjuk Islam, bahkan kita diperintahkan untuk berusaha merubah kemungkaran dan kemaksiatan yang terjadi semampu kita.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ 

Sesungguhnya Allâh tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d /13: 11].

Dan dalam hadits yang shahih, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran atau kemaksiatan, maka hendaklah dia (berusaha) merubahnya dengan tangannya, kalau dia tidak mampu maka dengan lisan (ucapan)nya, kalau tidak dia mampu maka dengan hatinya, dan pengingkaran dengan hati itu adalah selemah-lemah iman[20]

Akan tetapi, ini semua bukan berarti kita boleh melakukan tindakan apa saja dalam rangka merubah kemungkaran, sampaipun dengan melanggar batasan-batasan agama!

Karena kalau ini diperbolehkan, maka apa bedanya kita dengan para pelakukan kemungkaran yang pertama, lalu kita merubahnya dengan cara yang sama mungkarnya atau bahkan lebih buruk?

Oleh karena itu, para Ulama melarang tindakan mencegah kemungkaran jika ditakutkan atau paling tidak ada kemungkinan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.[21]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak diperbolehkan mengingkari kemungkaran dengan tindakan yang lebih buruk daripada kemungkaran tersebut. Oleh karena (dalam Islam) diharamkan memberontak dengan senjata kepada penguasa atau pemerintah (meskipun) dengan alasan beramar ma’ruf dan nahi mungkar, karena akibat (buruk) yang ditimbulkan setelah itu, dengan melakukan perbuatan haram dan meninggalkan kewajiban, lebih besar daripada perbuatan mungkar dan dosa yang mereka lakukan.”[22]

Di dalam al-Qur’an, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan kepada kita untuk menghadapi dan menyikapi perbuatan buruk dengan cara yang baik, bukan dengan keburukan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ ﴿٣٤﴾ وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan, tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” [Fushshilat /41: 34-35].

Artinya: tolaklah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, kemungkaran dengan kebaikan, kezhaliman dengan pemaafan dan dosa dengan bertaubat[23].

Kemudian dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan manfaat besar menolak keburukan dengan kebaikan, yaitu menjadikan orang yang tadinya memusuhi kita tunduk, bahkan menjadikannya seperti teman akrab bagi kita.[24] Ini berarti bahwa sikap ini merupakan cara terbaik untuk mencegah kemungkaran, karena akan melahirkan kesudahan yang baik dan damai.

Lalu di akhir ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menegaskan bahwa taufik dari-Nya untuk bisa melakukan kebaikan besar ini hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki sifat sabar. Karena sifat mulia inilah yang akan membawa kepada keberuntungan besar di dunia dan akhirat kelak[25].

Jadi berdasarkan pemaparan di atas, jelaslah bahwa bersabar bukan hal tercela dan tidak menunjukkan sikap lemah, bahkan sifat ini adalah sifat terpuji dan merupakan cara menghadapi dan memecahkan masalah yang terbaik, karena sifat ini merupakan sebab utama turunnya pertolongan dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala .

Juga perlu ditambahkan di sini, bahwa bukan berarti dengan kita menetapi sifat sabar dalam menghadapi kemungkaran, lantas kita hanya berpangku tangan dan tidak melakukan tindakan apa-apa untuk merubahnya. Sama sekali tidak demikian! Kita tetap diperintahkan untuk melakukan usaha untuk merubahnya, tapi usaha dan tindakan yang sesuai dengan petunjuk Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Makanya kita diperintahkan untuk menetapi sifat sabar supaya tindakan dan usaha kita tidak melampaui batasan syariat yang telah digariskan oleh Allâh Azza wa Jalla .

Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Bersemangatlah melakukan apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allâh, serta janganlah bersikap lemah[26]

Di antara perbuatan dan tindakan terpuji yang akan lahir dari sifat sabar, dengan izin Allâh Azza wa Jalla , adalah bersikap lemah lembut dan tidak tergesa-gesa dalam menghadapi setiap masalah, tidak mudah marah, menasehati pelaku kemungkaran dengan nasehat yang baik, mudah memaafkan dalam hal-hal yang memang pantas dimaafkan dan lain-lain.

Semua tindakan dan sikap tersebut merupakan sebab kebaikan yang dipuji dalam Islam, sebagaimana dalam hadits-hadits shahih dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

  1. Yang artinya, “Sesungguhnya sikap lemah lembut tidaklah ditempatkan pada sesuatu kecuali akan meng-hiasinya dan tidaklah dihilangkan dari sesuatu kecuali akan menjadikannya buruk[27].
  2. Yang artinya, “Sikap at-ta-annî (tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan) adalah dari Allâh sedangkan sikap tergesa-gesa adalah dari Setan[28].
  3. Yang artinya, “Tidaklah Allâh menambah bagi seorang hamba dengan pemaafannya kecuali kemuliaan[29].
  4. Yang artinya, “Ada tiga sifat yang menjadikan hati seorang muslim tidak akan menjadi dengki dan buruk…(di antaranya): menasehati (dengan baik) para pemimpin kaum muslimin[30].

Dan tentu semua sikap-sikap baik inilah yang akan memudahkan turunnya pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allâh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Muhammad /47: 7].

Asy-Syaikh Muhammad al-Amîn asy-Syinqîthi berkata, “Sudah diketahui bahwa menolong (agama) Allâh hanya (dilakukan) dengan mengikuti ketentuan yang digariskan-Nya dalam syariat Islam, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua laranagn-Nya”[31].

KESIMPULAN DAN NASEHAT

Kesimpulan dari pemaparan di atas adalah bahwa bersikap sabar dalam menghadapi segala sesuatu akan mendatangkan segala kebaikan dan menjadikan baik hasil akhir dalam segala urusan, karena sikap inilah yang merupakan sebab besar turunnya pertolongan dari Allâh Azza wa Jalla .

Oleh karena itulah, sifat ini sangat dianjurkan untuk selalu menyertai seorang hamba ketika dia berdakwah mengajak manusia ke jalan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.

Allâh Azza wa Jalla berfirman menceritakan ucapan Lukman al-Hakim ketika menasehati anaknya:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik serta cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa (gangguan) yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allâh)” [Luqman /31: 17].

Ayat ini menunjukkan bahwa bersifat sabar dalam menghadapi perlakuan buruk ketika seorang hamba menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, ini adalah termasuk akhlak terpuji yang selalu ditempuh oleh orang-orang yang mengikuti jalan keselamatan[32].

Dalam hal ini, Sahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas h berkata, “Termasuk hakikat iman adalah bersabar dalam (menghadapai) hal-hal yang tidak kita sukai (buruk)”[33]

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua yang membacanya dan kita memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang Maha indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi agar Dia Azza wa Jalla senantiasa memudahkan taufik-Nya bagi kita semua untuk memiliki sifat sabar dalam menghadapi semua keadaan dan juga sifat-sifat mulia dalam Islam lainnya. Sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar lagi Maha mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote

[1] Lihat Tafsîr Ibni Jarîr ath-Thabari, 12/228 dan Fathul Qadîr, 5/404

[2] Lihat Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm 885

[3] HR. Ahmad, 1/307 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Ash-Shahîhah, no. 2382

[4] KItab Fathul Qadîr, 4/645

[5] Lihat kitab Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/781 dan Syarhul ‘Aqîdatil Wâsithiyyah, 1/402

[6] Kitab Fathul Qadîr, 1/246

[7] Kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 74

[8] HSR. Al-Bukhâri, 6105 dan Muslim, 1053

[9] Kitab Tuhfatul Ahwadzi, 6/143

[10] Lihat keterangan Imam as-Sindi dalam kitab Hâsyiatus Sindi ‘alan Nasâ-I, 5/95

[11] Lihat kitab Bahjatun Nâzhirîn, 1/82

[12] Lihat kitab ’Uddatush Shâbirîn, hlm. 7

[13] KItab Fathul Qadîr, 5/404

[14] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau, 1/268

[15] Tafsir Ibnu Katsir, 8/137

[16] KItab ’Uddatush Shâbirîn wa Dzakhîratusy Syâkirîn, hlm. 36 – cet. Dar Ibnil Jauzi, Arab Saudi

[17] Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam  kitab al-Wâbilish Shayyib, hlm. 11

[18] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab Lathâ-iful Ma’ârif, hlm. 177

[19] HR. Ahmad, 1/307 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albâni dalam Ash-Shahîhah, no. 2382

[20] HSR. Muslim, no. 49

[21] Lihat kitab I’lâmul Muwaqqiîin, 3/4 dan Fathul Bârî, 1/225

[22] Kitab Majmû’ul Fatâwâ, 14/472

[23] Lihat penjelasan Imam asy-Syaukani dalam kitab Fathul Qadîr, 4/106

[24] Lihat penjelasan Imam al-Baghawi kitab Ma’â-limut Tanzîl, 7/174

[25] Lihat kitab Taisîrul Karîmir Rahmân, hlm. 749

[26] HSR. Muslim, no. 2664

[27] HSR. Muslim, no. 2594

[28] HR. At-Tirmidzi, 4/367; Abu Ya’la, 3/1054 dan al-Baihaqi, 10/104. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albâni dalam Ash-Shahîhah, no. 1795

[29] HSR. Muslim, no. 2588

[30] HR at-Tirmidzi, 5/34; Ibnu Mâjah, no. 230 dan Ahmad, 3/225. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albâni.

[31] Kitab tafsir beliau Adhwâ-ul Bayân, 5/272

[32] Lihat penjelasan Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsir beliau, 14/63

[33] Dinukil oleh Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsir beliau, 14/63