Meraih Rahmat Allâh Azza Wa Jalla

MERAIH RAHMAT ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh

Ustadz Abu Minhal Lc

Rahmat terhadap Allâh Azza wa Jalla merupakan kebutuhan primer seorang hamba untuk hidup di dunia ini. Cakupan rahmat Allâh amatlah luas, karena Allâh Azza wa Jalla  memiliki nama ar-Rahmân dan ar-Rahîm. Rahmat-Nya luas, meliputi segenap makhluk-Nya.

Tanpa rahmat, manusia akan binasa dan rugi. Simaklah ayat berikut:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Nuh berkata, Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan (memberi rahmat) kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” [Hûd/11:47].

Rahmat Allâh Azza Wa Jalla Ada Dua Macam:

1. Rahmat ‘Âmmah (umum) yang mencakup seluruh makhluk-Nya, termasuk orang-orang kafir sekalipun. Rahmat ini bersifat Jasadiyyah Badaniyyah Dunyawiyyah (rahmat fisik duniawi), seperti pemberian makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan lain-lain.

2. Rahmat Khashshâh (rahmat khusus) yang bersifat Îmâniyyah Dîniyyah baik di dunia maupun akhirat, dalam bentuk taufik untuk berbuat ketaatan kepada Allâh, kemudahan untuk berbuat baik, diteguhkan keimanannya dan diberi hidayah menuju jalan yang lurus dan dimuliakan dengan masuk ke dalam Surga serta selamat dari Neraka. [1]

Dengan demikian, seorang hamba tidak bisa lepas sesaat pun dari dua jenis rahmat Allâh Azza wa Jalla di atas. Dan seorang Muslim memandang rahmat jenis kedua lebih penting dan utama ketimbang yang pertama.

Pangkal Memperoleh Rahmat Dari Allâh Azza Wa Jalla

Untuk itu, insan Muslim yang menghendaki rahmat Allâh Azza wa Jalla selalu menaunginya dan senantiasa mendapatkan limpahan dan tambahan rahmat-Nya, maka hendaklah ia menempuh langkah-langkah yang mendatangkan rahmat baginya. Semua faktor itu, kata Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah, terhimpun pada firman Allâh Azza wa Jalla,

إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allâh amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. [Al-A’râf/7:56].

Yaitu, menjalankan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan baik dan berbuat baik  kepada sesama hamba Allâh Azza wa Jalla . Dan menyayangi semua makhluk termasuk pengaruh yang muncul dari sikap baiknya kepada para hamba Allâh Azza wa Jalla . [2]

Maka seorang hamba semakin besar ketaatannya kepada Allâh Azza wa Jalla , kian dekat dengan-Nya dalam taqarrub kepada-Nya, maka akan semakin besar bagian rahmat yang ia dapatkan dari Allâh Azza wa Jalla. [3]

Pangkal Jauhnya Rahmat Allâh Azza Wa Jalla Dari Seorang Hamba

Bila perbuatan baik yang sesuai agama dan diniatkan untuk Allâh Azza wa Jalla  menjadi pangkal seluruh faktor bagi seseorang Muslim untuk meraih rahmat dari Rabbnya, maka mafhûm mukhâlafahnya, maksiat-maksiat yang dilakukan seorang hamba akan menjauhkan rahmat Allâh  dari dirinya.

Mari kita simak istimbath Syaikh As-Sa’di rahimahullah melalui firman Allâh Azza wa Jalla berikut ini:

يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَٰنِ عَصِيًّا

Wahai bapakku, janganlah engkau menyembah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Penyayang [Maryam/19:44]

Dalam penyebutan maksiat yang dikaitkan kepada nama Allâh ar-Rahmân termuat adanya isyarat bahwa maksiat-maksiat itu akan menghalangi seorang hamba dari rahmat Allâh  dan menyekat pintu-pintunya, sebagaimana ketaatan merupakan faktor terpenting untuk meraih rahmat-Nya. [4]

Beberapa Faktor Teraihnya Rahmat Allâh Melalui Ayat-Ayat Al-Qur`ân

Maksud dari pembahasan ini adalah merangkum ayat-ayat al-Qur`ân yang secara eksplisit menyebut suatu amalan, atau memerintahkan suatu perbuatan, lalu ayat tersebut ditutup dengan la’allakum turhamûn (supaya kamu mendapat rahmat).

1. Taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan taatilah Allâh dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat. [Ali ‘Imrân/3:132]

Amal-amal kebajikan dan ketaatan akan mendatangkan ridha Ar-Rahmân, masuk surga dan teraihnya rahmat. Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Dan taatilah Allâh dan Rasul“ dengan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan “supaya kamu diberi rahmat “.

Jadi, taat kepada Allâh dan Rasul-Nya merupakan faktor teraihnya rahmat. Hal ini sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Maka Aku akan tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” [5]

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bila kalian taat kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul, niscaya akan kalian akan mendapatkan rahmat. Dan rahmat itu terwujud dalam teraihnya hal-hal yang diinginkan dan hilangnya hal-hal yang dikuatirkan.”.

Beliau rahimahullah melanjutkan, bahwa rahmat yang dimaksud dalam ayat adalah rahmat khusus yang berhubungan dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat, karena rahmat umum sudah kita dapatkan setiap saat, bahkan orang kafir pun merasakannya. [6]

Syaikh Abu Bakar Jâbir al-Jazâiri mengatakan, “Wajibnya taat kepada Allâh dan Rasul-Nya untuk mendapatkan rahmat ilahiyyah, yaitu maaf dan ampunan (dari Allâh) dan masuk ke dalam Surga”. [7]

2. Mengikuti Kandungan Al-Qur`ân

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur`ân itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat. [Al-An’âm/6:155]

Al-Qur`ânul Karîm memuat kebaikan yang melimpah dan ilmu yang banyak. Ia menjadi sumber pengetahuan bagi seluruh disiplin ilmu dan dari sana, keberkahan dicari. Tidak ada kebaikan kecuali diserukan dan didorong oleh al-Qur`ân. Al-Qur`ân juga memuat berbagai macam hikmah-hikmah dan kemaslahatan.  Dan tidak pula ada keburukan kecuali al-Qur`ân melarangnya dan memperingatkan darinya, serta menjelaskan berbagai faktor agar orang menjauhinya dan selamat dari dampak buruknya.

Maka, patutlah al-Qur`ân diikuti dalam perintah dan larangannya. Juga bangunlah asas-asas agama dan cabang-cabangnya melalui al-Qur`ân.

Maka, termasuk faktor penting untuk menggapai rahmat adalah mengikuti kitab suci ini dengan memahami dan mengamalkan kandungannya.[8]

3. Menyimak Bacaan al-Qur`ân

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur`ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.  [Al-A’râf/7:204]

Ini adalah perintah umum terhadap setiap orang yang mendengarkan al-Qur`ân tengah di baca, agar ia melakukan istimâ’ (menyimak) dan inshât (memperhatikan). Istimâ’ ialah menyimak dengan telinga, fokus dengan hati dan mentadabburi apa yang ia dengar. Sementara inshât adalah meninggalkan pembicaraan atau apa saja yang menyibukkannya dari menyimak bacaan al-Qur`ân.

Orang yang bersikap demikian tatkala al-Qur`ân dibaca, maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, ilmu yang melimpah, keimanan yang kontinyu lagi selalu diperbaharui, serta hidayah dan pemahamannya terhadap agama yang kian bertambah. Oleh sebab itu, Allâh Azza wa Jalla memberikan rahmat bagi orang melalui dua sikap tersebut. Dan perintah ini lebih kuat lagi bila seseorang mendengarkan bacaan al-Qur`ân di dalam shalat-shalat jahriyyah. [9]

4. Menegakkan Shalat Dan Menunaikan Zakat

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat. [An-Nûr/24:56]

Barang siapa mengharapkan rahmat, maka inilah jalannya. Dan barang siapa mengharapkannya tanpa menegakkan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Rasul, maka orang itu hanyalah pemimpi lagi dusta. Harapan-harapan dusta telah melalaikan hatinya[10].

5. Beristighfar

قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ ۖ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dia berkata, “Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan?. Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allâh, agar kamu mendapat rahmat”. [An-Naml/27:46]

Sesungguhnya rahmat Allâh Azza wa Jalla dekat kepada orang-orang yang Muhsinin, dan orang yang bertaubat termasuk orang-orang Muhsinin.[11]

6. Mendamaikan Yang Sedang Bertikai

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allâh supaya kamu mendapat rahmat. [Al-Hujurât/49:10]

Allâh Azza wa Jalla perintahkan Rasul-Nya  untuk memenuhi hak-hak kaum Mukminin dan segala sesuatu yang menyebabkan mereka saling akrab dan menyayangi serta terjalinnya hubungan antara mereka. Semua ini ditujukan untuk menguatkan hak sebagian orang yang menjadi kewajiban sebagian yang lain. Di antaranya, bila terjadi pertikaian antara mereka yang mengakibatkan hati mereka bercerai-berai, saling membenci dan saling menjauh, hendaknya kaum Mukminin melakukan ishlah (perbaikan) antara saudara-saudara mereka (seiman) dan berusaha keras menempuh cara untuk melenyapkan rasa benci mereka.

Kemudian Allâh Azza wa Jalla memerintahkan untuk bertakwa dan memberikan balasan  rahmat atas ketakwaan dan memperhatikan hak kaum Mukminin. Allâh Azza wa Jalla berfirman:supaya kamu mendapat rahmat. Apabila rahmat telah teraih, maka kebaikan dunia dan akhirat pun akan tergapai. [12]

Penutup

Dengan melihat betapa eratnya turunnya rahmat Allâh Azza wa Jalla dengan pengamalan kandungan-kandungan al-Qur`ân, maka setiap Muslim berkewajiban untuk berusaha keras memahami isi kitab sucinya, dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

Ia tidak boleh merasa cukup hanya dengan membaca atau menghafalnya. Ia harus mengamalkannya. Syaikh Shâlih Al-Fauzân sudah mengingatkan bahwa yang tidak mengamalkan kandungan al-Qur`ân, walaupun ia termasuk orang yang sering sekali membacanya, atau banyak hafalannya, orang tersebut belumlah memenuhi kewajiban melakukan nashîhah kepada Kitâbullâh dengan baik.[13]

Semoga Allâh Azza wa Jalla berkenan memudahkan kita mengamalkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, sehingga rahmat-Nya yang khusus selalu menaungi kehidupan kita. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XX/1437H/2016M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Fiqhul Asmâ`il Husnâ hlm. 102.

[2]  Bahjatu Qulûbil Abrâr hlm.180.

[3]  Fiqhul Asmâ`il Husnâ hlm. 101.

[4]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 444.

[5]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.115.

[6]  Tafsir Surah Âli Imrân 2/165.

[7]  Aisarut Tafâsîr 1/376.

[8]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 243.

[9]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.276.

[10]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 522.

[11]  Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 555.

[12] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm.744.

[13]  Al-Minhatur Rabbaniyyah