Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Mengetahui Keunggulan Dan Keistimewaan Para Sahabat

Sahabat Umar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam Bersabda Sahabat Abu Bakar Sahabat Hadis Bukhori Yang Menjelaskan Keutamaan Sahabat

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENGETAHUI KEUNGGULAN DAN KEISTIMEWAAN PARA SAHABAT

Generasi Sahabat telah mereguk ajaran-ajaran Islam dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Kemudian, jadilah mereka para pemimpin dalam ilmu dan amal. Akan tetapi, para Sahabat itu tidaklah berada di atas derajat yang sama dalam pemahaman dan daya tangkap mereka, juga tidak berada di atas level yang sama dalam berbagai bidang keilmuan. Mereka berada dalam tingkatan yang berbeda-beda. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui hal tersebut dengan baik dan mendudukkan setiap orang pada posisinya.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Mâjah, Imam Ibnu Hibbân dan Imam al-Baihaqi dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْحَمُ أُمَّتِيْبِأُمَّتِيْ أَبُوْ بَكْرٍوَأَشَدُّهُمْ  فِيْ أَمْرِ اللهِ  وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانٍ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ  وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَأَقْرَأُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِيْنٌ وَأَمِيْنُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ  بْنُ الْجَرَّاحِ

“Orang yang paling sayang dari umatku kepada umatku adalah Abu Bakar, yang paling tega sdalam urusan agama Allâh adalah ‘Umar, yang paling besar rasa malunya adalah ‘Utsmân bin ‘Affân, yang paling tahu tentang halal dan haram adalah Mu’âdz bin Jabal, yang paling banyak menguasai ilmu faraidh Zaid bin Tsâbit, yang paling menguasai qira`ah Al-Qur`ân adalah Ubay bin Ka’ab. Dan setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrâh Radhiyallahu anhu”[1]

Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan setiap Sahabat beliau di atas dengan keistimewaan yang membedakannya dari yang lain.

Imam Ibnu Hibbân rahimahullah menulis judul ‘Bab penjelasan bahwa Mu’âdz bin Jabal orang yang paling tahu dari kalangan Sahabat tentang halal dan haram’.

Sementara Imam Al-Baihaqi rahimahullah menulis judul ‘Bab dipilihnya pendapat Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu daripada pendapat lainnya dari kalangan Sahabat dalam ilmu faraidh’.

Imam Al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan dari ‘Abdullâh bin ‘Amr Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersadba:

اسْتَقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ وَسَالِمٌ مَوْلَى أَبِيْ حُذَيْفَةَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ

“Ambillah Al-Qur`ân dari empat orang: ‘Abdullâh bin Mas’ûd, Sâlim maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’abdan Mu’âdz bin Jabal”.[2]

Melalui hadits ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan empat orang tersebut dari Sahabat lainnya untuk dijadikan sumber bacaan Al-Qur`ân, sehingga orang-orang mengambilnya dari mereka.

Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Pengkhususan mereka berempat untuk diambil Al-Qur`ân dari mereka, karena penguasaan hafalan mereka terhadap Al-Qur`ân lebih kuat dan lebih baik dalam membacakannya (kepada orang lain), atau dikarenakan mereka telah memfokuskan diri  dengan penuh untuk mengambil Al-Qur`ân dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lisan dan mengajarkan bacaannya sepeninggal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh sebab itu, Nabi menganjurkan untuk mengambil Al-Qur`ân dari mereka, bukan karena tidak ada yang menghafal semua Al-Qur`ân selain mereka”.[3]

Dalam kesempatan lain, berdasarkan riwayat Imam Ahmad, Imam Abu Dâwud dan Imam At-Tirmidzi dari Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu bahwa sesungguhnya ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, ia berkata, “Aku dibawa kehadapan Nabi dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kagum denganku”. Orang-orang berkata, “Wahai Rasûlullâh, ini seorang anak dari bani Najjâr. Ia telah menghafal beberapa belas surat (Al-Qur`ân) yang diturunkan Allâh Azza wa Jalla kepadamu”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  terkagum-kagum tentang hal itu. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا زَيْدُ تَعَلَّمْ لِيْ كِتَابَ يَهُودَ. فَإِنِّيْ وَاللهِ مَا آمُنُ يَهُوْدَ عَلَى كِتَابِيْ

WahaiZaid, pelajarilah tulisan-tulisan orang-orang Yahudi untukku. Sesungguhnya aku demi Allâh, kuatir bila orang Yahudi aku perintahkan menulis suratku (ia akan menambah atau menguranginya).[4]

Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu berkata, “Kemudian aku mempelajari bagi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tulisan-tulisan mereka. Dan tidaklah berjalan lima belas malam hingga aku menguasainya. Lalu aku membacakan bagi beliau surat-surat mereka jika mereka mengirimnya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku menulis jawaban kepada mereka jika Beliau hallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menulis.”

Poin yang dapat kita ketahui dalam hadits bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih Zaid bin Tsâbit Radhiyallahu anhu untuk tugas mempelajari bahasa Yahudi. Dan Zaid Radhiyallahu anhu seorang yang pantas mengemban tugas tersebut, karena dapat menguasainya dalam setengah bulan saja.

Pengetahuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang bakat, kemampuan dan penguasaan ilmu-ilmu murid-murid Beliau (para Sahabat) tidak hanya menunjukkan penguasaan mereka terhadap bidang-bidang ilmu atau aspek-aspek tersebut, tapi juga mengindikasikan tentang fadhilah atau keutamaan-keutamaan mereka di atas orang lain. Wallâhua’lam.

(Diadaptasi dari An-Nabiyyul Karîmun Mu’alliman, Prof. Dr. Fadhl Ilahi hlm. 217-221)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Hadits shahîh. Dishahihkan oleh Al-Albâni dalam ash-Shahîhah no.1224.

[2] HR. Al-Bukhâri. Shahîh Al-Bukhâri kitab Fadhâili ash-Shahâbah bâb manâqibi ‘Abdillâh bin Mas’ûd no.3760

[3] Fathul Bari 7/102

[4] Hadits hasan shahîh. Shahîh Sunan Abi Dâwud 2/695