Diantara Sebab Meraih Harta Adalah Tawakkal Kepada Allâh

DIANTARA SEBAB MERAIH HARTA ADALAH TAWAKAL KEPADA ALLAH AZZA WA JALLA

Manusia akan kuat dan terhormat kala ia tidak mengadukan kesusahannya dan menyerahkan urusannya kepada sesamanya. Ia akan menjadi mulia ketika ia adukan keperihannya dan menyerahkan urusannya kepada Allâh Azza wa Jalla ; Dzat Yang Maha Kuasa mendatangkan manfaat dan menampik madharat. Rasûlullâh n bersabda:

مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللَّهِ فَيُوشِكُ اللَّهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

Barangsiapa ditimpa kefakiran, lalu ia adukan kepada manusia, maka kebutuhannya tidak akan dipenuhi. Dan barangsiapa yang dikenai kefakiran lalu ia adukan kepada Allâh Azza wa Jalla  (dan ia serahkan kepada-Nya), maka Allâh Azza wa Jalla  akan menyegerakan untuknya rezeki yang disegerakan, atau rezeki yang ditunda nantinya.[1]

Ia serahkan segala keperluan dan keluhannya kepada Allâh Azza wa Jalla . Ia bersimpuh berdoa penuh hiba kepada Allâh Azza wa Jalla ; Dzat Yang Maha Kuasa untuk memenuhi segala kebutuhan semua makhluk-Nya. Ia bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , mengharap agar Dia berkenan memenuhi kebutuhannya. Allâh Azza wa Jalla  akan menyegerakan kecukupan, dengan memberinya rezeki dalam waktu dekat, ataupun rezeki yang ditunda untuk suatu saat kelak. Ini semua tidaklah mengherankan, karena Allâh Azza wa Jalla  Dzat satu-satunya yang memberi rezeki. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , maka Allâh Azza wa Jalla  akan memberinya kecukupan dari-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla  niscaya Allâh Azza wa Jalla  akan mencukupkan (keperluan)nya. [Ath-Thalâq/ 65: 3]

Sekiranya seseorang bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla  dengan sebenar tawakkal, dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang memberi atau menahan rezeki selain Allâh Azza wa Jalla , lalu ia berusaha dengan menekuni mata pencahariannya, pasti ia akan diberi rezeki, layaknya burung yang keluar di pagi hari buta dengan perut kosong dan pulang di petang hari dalam keadaan kenyang. Jadi tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla  adalah sebab yang paling agung dalam mendatangkan rezeki.

Tawakkal adalah setengah dari agama ini, yang merupakan bentuk permintaan tolong seoang hamba kepada Rabbnya. Ia adalah amalan hati, bukan ucapan lisan atau perbuatan anggota badan, bukan pula pengetahuan yang dimiliki seseorang.

Tawakkal yang paling utama adalah tawakkal dalam hal yang wajib; yaitu yang wajib terhadap Allâh Azza wa Jalla , yang wajib terhadap sesama manusia, dan yang wajib terhadap dirinya.

Yang wajib terhadap Allâh adalah dengan meminta tolong kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam taat kepada-Nya, bertumpu pada-Nya dan tidak bersandar pada kekuatan dirinya. Ini disertai dengan usaha dan ikhtiar. Adapun yang wajib terhadap diri adalah dengan bersandar kepada Allâh Azza wa Jalla dalam memperbaiki urusan dirinya, sambil meniti jalan untuk mencari kebaikan diri dan kemanfaatannya. Sedangkan yang wajib terhadap sesama manusia adalah bertawakkal kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam memperbaiki perkaranya, dengan memperkuat relasi antara diri dan Rabb nya, sehingga Allâh pun akan membuat relasi dirinya dengan sesama manusia menjadi harmonis. Sebagaimana ia juga meminta pertolongan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam memperbaiki sesama manusia, tidak mengandalkan ilmu dan usahanya. Karena ia tahu bahwa hati  manusia ada di tangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala.

Sedangkan tawakkal yang paling bermanfaat adalah tawakkal terhadap suatu efek yang terjadi dalam hal kemaslahatan terkait agama, dan dalam hal menolak bahaya terkait agama. Ini merupakan tawakkalnya para nabi dalam menegakkan agama Allâh Azza wa Jalla  dan menolak sepak terjang yang dilakukan para perusak di muka bumi. Dan inilah tawakkalnya para pewaris nabi.

Ada yang mengartikan tawakkal sebagai bentuk percaya dan yakin dengan (kekuasaan) Allâh Azza wa Jalla , merasa tenang dan nyaman dalam bersandar kepada-Nya. Ada lagi yang mengartikannya sebagai bentuk keridhaan terhadap apa yang ditakdirkan. Sebagian orang salih berkata, “ ada orang yang berkata: aku bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla ! Namun sebenarnya ia dusta kepada Allâh Azza wa Jalla . Sekiranya ia benar-benar tawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla , ia pasti akan ridha dengan apa yang Allâh Azza wa Jalla  perbuat terhadapnya.

Mewujudkan tawakkal, bukan kemudian berarti meniadakan usaha menempuh sebab dan ikhtiar mencari rezeki. Tawakkal akan menjadi nonsense  ketika tanpa diiringi usaha menempuh sebab dan ikhtiar. Tawakkal tanpa ikhtiar sama saja dengan bentuk berpangku tangan dan pengangguran. Di samping bertawakkal, Allâh Azza wa Jalla pun memerintahkan untuk menempuh sebab dan usaha. Jadi, meniti sebab dengan berusaha memberdayakan anggota badan, juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla  dengan hatinya, merupakan bentuk keimanan kepada-Nya.

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allâh dan ingatlah Allâh banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al-Jumu’ah/ 62: 10]

Artinya menebarlah di penjuru bumi untuk mencari penghidupan dengan berbagai cara yang dihalalkan, agar harta halal bisa mengalir dan rezeki-Nya pun bisa dinikmati.

Dan perlu diingat, bahwa ikhtiar kita tidak akan mendatangkan hasil kecuali apa yang telah Allâh Azza wa Jalla  tetapkan. Bila memang sulit diwujudkan, maka itulah apa yang telah Allâh Azza wa Jalla  takdirkan. Kalaupun memang mudah, maka itu karena Allâh Azza wa Jalla  telah memudahkannya. Karena usaha dan ikhtiar bukanlah yang memberi rezeki, namun Allâh Azza wa Jalla  lah Dzat Yang memberi rezeki.

Oleh karena itu, merupakan bentuk kesempurnaan tawakkal adalah tidak condong dan berserah pada sebab, serta memutuskan keterpautan hati dengan sebab. Sehingga keadaan hatinya adalah percaya sepenuhnya kepada Allâh Azza wa Jalla , bukan kepada sebab, sedangkan sikap fisiknya adalah mengupayakan sebab dan ikhtiar. Bisa saja Allâh Azza wa Jalla  memberi rezeki kepada sebagian hamba yang yakin dan tawakkal dengan tulus, sehingga Allâh Azza wa Jalla pun memberikan hal yang di luar kadar kebiasaan. Ini seperti halnya makanan dan buah-buahan yang datang dari Allâh Azza wa Jalla  kepada Maryam, di mana ia telah beribadah secara total kepada Allâh Azza wa Jalla .

Sebagaimana bertawakkal kepada Allâh Azza wa Jalla  yang benar adalah tidak mengandalkan tawakkal saja dalam meraih rezeki atau lainnya, tanpa meniti sebab dan ikhtiar. Inipun bentuk tawakkal yang kurang. Hakikat tawakkal adalah mengetahui bahwa Allâh Azza wa Jalla  telah menjamin rezeki dan kecukupan bagi hamba-Nya, dan itu pasti, sehingga hatipun meyakini sepenuhnya dan menyerahkan urusannya kepada Allâh Azza wa Jalla , tanpa meninggalkan upaya meniti sebab dan ikhtiar dalam mencari rezeki. Selama seseorang masih hidup, maka Allâh Azza wa Jalla  pun menjamin rezekinya.

(Diangkat dari kitab Anta wal Mal karya Adnan ath-Tharsyah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XX/1437H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Shahîh Sunan At-Tirmidzi, no. 1895.