Bagaimana Menyikapi Penguasa?

BAGAIMANA MENYIKAPI PENGUASA?

Pemimpin atau penguasa adalah manusia biasa yang pasti memiliki kekurangan dan pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang berkonsekuensi dosa atau tidak. Namun sayang, banyak orang melupakan kodrat ini. Mereka menuntut pemimpin mereka sempurna dan dicintai semua rakyatnya. Sebuah tuntutan yang tidak realistis. Berawal dari tuntutan berlanjut kekecewaan akhirnya berujung pembangkangan. Pada akhirnya, pertumpahan tak terelakkan. Semoga Allâh melindungi kita semua dan seluruh pemimpin kaum Muslimin dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Meski manusia biasa namun seorang pemimpin memiliki kedudukan tersendiri dalam syari’at Islam, sehingga dia harus didengar ucapannya dan ditaati. Kewajiban ini terus melekat walaupun sang pemimpin berbuat kezhaliman dan melakukan penyimpangan, walaupun dia berbuat kefasikan dan kemaksiatan, selama tidak sampai kepada kekufuran dan selama perintahnya bukan untuk maksiat. Jika dia menyuruh melakukan perbuatan maksiat, maka tidak boleh ditaati dalam bermaksiat kepada Khâlik.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allâh dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’/4: 59]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِى عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

Kewajibanmu mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam keadaan engkau susah atau mudah, engkau suka atau engkau benci, dan mementingkan penguasa atau dirimu. [HR. Muslim]

Dalam menyikapi berbagai kesalahan yang dilakukan oleh penguasa, baik dalam bentuk ketetapan atau keputusan, perkataan maupun perbuatan yang menyelisihi syariat, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِى أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِى عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِى لَكُمْ

Sesungguhnya setelahku akan terjadi monopoli hak dan perkara-perkara (pada penguasa-pen) yang kamu akan mengingkarinya. Para sahabat bertanya, “Apakah yang anda perintahkan kepada orang di antara kami yang mendapati hal itu?” Beliau menjawab, “Kamu tunaikan kewajibanmu dan kamu meminta hakmu kepada Allâh”. [Muttafaq ‘alaihi]

Dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, rakyat berkewajiban menunaikan hak-hak penguasa dengan mentaatinya dalam perkara yang bukan maksiat serta mendo’akan kebaikan untuknya, tidak membangkang serta tidak melakukan pemberontakan.

Ketaatan yang sesuai dengan ketentuan syariat kepada pemimpin atau penguasa merupakan bentuk realisasi keimanan dan ketakwaan kepada Allâh Azza wa Jalla , asasnya ikhlash bukan karena tamak terhadap dunia. Jika ini faktanya, maka pahala dari Allâh Azza wa Jalla pasti akan didapatkan dan keberkahan Allâh Azza wa Jalla akan turun menyapa bumi. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sebagai akibat perbuatan mereka. [Al-A’raf/7:96]

Penguasa adakalanya orang baik, tapi terkadang juga sebaliknya. Jika dia orang baik, maka alhamdulillah, namun seandainya ada penguasa yang sudah divonis keluar dari Islam oleh para Ulama, maka diperbolehkan keluar dari ketaatannya dengan syarat memiliki kemampuan dan tidak menimbulkan mafsadat (kerusakan) yang lebih besar bagi umat Islam.

Di sini, kita diuji, seberapa besarkah sesungguhnya keimanan kita kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya!

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melimpah kebaikan kepada para pemimpin kaum Muslimin dan kaum Musilmin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]