Thawâf Dalam Pandangan Fikih Islam

THAWAF DALAM PANDANGAN FIKIH ISLAM

Oleh
Ustadz Khalid Syamhudi Lc

Ibadah Haji termasuk ibadah penting yang dilakukan seorang Muslim dalam mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dan salah satu rukun Islam. Kewajiban Haji ini diperintahkan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allâh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban Haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [Ali Imran/3:97].

Sehingga Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan: Haji adalah fardhu ‘ain atas semua yang mampu menurut ijma’ kaum Muslimin dan sangat banyak dalil-dalil al-Qur`ân dan Sunnah serta ijma’ atas hal itu.[1]

Pelaksanaan Ibadah Haji terkait dengan tempat dan waktu tertentu, sehingga dalam hitungan hari jutaan manusia berangkat ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam ini setiap tahunnya. Realita ini menuntut adanya pencerahan yang rinci tentang ibadah-ibadah yang dilakukan dan amalan-amalan yang harus di tinggalkan. Salah satu ibadah yang sangat erat kaitannya dengan ibadah Haji adalah Thawâf yang merupakan satu dari rukun-rukun Haji dan Umroh.

PENGERTIAN THAWAF
Thawâf adalah kata dari Bahasa Arab tersusun dari tiga huruf yaitu Thâ`, waw dan Fâ’ yang menunjukkan berputarnya sesuatu atas sesuatu yang lain dan berkeliling kemudian difahami demikian. Kata athâfa (أَطَافَ) bermakna berputar dan datang dari beberapa sisinya dan dikatakan (أَطَافَ فُلاَن بِالأَمْرِ) apabila menguasainya. Sedangkan kata (طَافَ بِالْبَيْتِ) dan (أَطَافَ عَلَيْهِ) bermakna berputar disekitarnya. [2]

Sedangkan menurut istilah para ulama fikih, Thawâf adalah Berputar tujuh putaran sekitar Ka’bah yang mulia dengan niat ibadah dengan tata cara yang tertentu (khusus).[3]

TATA CARA THAWAF
Berbeda ungkapan para ulama fikih tentang tata cara thawâf ini. Imam ats-Tsa’alabi al-Mâliki t dalam kitab at-Talqîn berkata: Tata cara thawâf hanya ada satu cara yaitu memulai setelah menyentuh hajar aswad lalu menjadikan Ka’bah disebelah kirinya kemudian memutar mengelilingi diluar Hijr dari Hajar Aswad ke Hajar Aswad tujuh putaran; tiga putaran pertama dengan jalan cepat disertai merapatkan langkah dan empat sisanya berjalan biasa, lalu menyentuh Hajar Aswad setiap kali melewatinya. Apabila telah sempurna maka shalat di dekat Maqam Ibrahim dua rakaat kemudian kembali dan menyentuh Hajar Aswad lagi.[4]

Imam Muhammad al-Amîn asy-Syingqity t menjelaskan lebih rinci dengan menyatakan: Memulai thawâf nya dari rukun (pojok) yang ada Hajar Aswad, lalu menghadap dan menyentuhnya serta menciumnya bila tidak menyakiti orang lain dengan sebab berdesak-desakan. Lalu sejajar dengan seluruh badannya ke seluruh Hajar Aswad, lalu seluruh badannya melewati seluruh Hajar Aswad. Itu menjadikan seluruh Hajar Aswad berada disebelah kanannya dan bahu sebelah kanannya di ujung Hajar aswad dan itu terwujudkan dengan tidak sisa dibelakangnya satu bagianpun dari Hajar Aswad. Kemudian memulai thawâf nya dengan seluruh badannya melewati seluruh Hajar Aswad dengan menjadikan sebelah kirinya menghadap ke arah Ka’bah, kemudian berjalan dengan mengelilingi Ka’bah kemudian melewati belakang Hijir Ismail dan mengelilingi Ka’bah sehingga melewati Rukun Yamani kemudian berakhir di Rukun Hajar Aswad yang menjadi tempat permulaan thawâf nya. Lalu sempurnalah satu thawâf kemudian melakukan hal demikian sampai sempurna tujuh putaran. [5]

Imam an-Nawawi rahimahullah lebih memerinci tata cara thawâf ini dengan menyatakan: Apabila seorang masuk Masjid al-Haram, maka hendaknya berjalan menuju Hajar Aswad yaitu di rukun (pojok) yang ada disebelah pintu Ka’bah dari sisi timur dan dinamakan ar-Rukun al-Aswad dan disebut tempat ini dan ar-Rukun al-Yamâni dengan ar-Ruknân al-Yamânain (Dua pojok selatan). Ketinggian Hajar Aswad dari tanah tiga hasta kurang tujuh jari. Disunnahkan menghadap Hajar Aswad dengan wajahnya dan mendekat darinya dengan syarat tidak menyakiti orang lain dengan berdesak-desakan lalu menyentuh kemudian menciumnya tanpa ada suara yang muncul dalam mencium. Kemudian memulai Thawâf nya dan menghentikan talbiyah dalam Thawâf sebagaimana telah dijelaskan dalam masalah talbiyah dan mengeluarkan lengan kanannya (Idh-Thibâ’) bersama awal Thawâf nya dan bila sudah idh-thibâ’ sebelumnya tidak lama maka tidak mengapa. Al-Idh-thibâ’ adalah menjadikan tengan selendangnya (kain penutup atas) dibawah bahu tangan kanannya di ketiak dan menyampirkan kedua ujungnya ke bahu kiri sehingga bahu kanannya terbuka. Tata cara Thawâf adalah menghadap seluruhnya ke Hajar Aswad lalu melewati Hajar Aswad dengan seluruh badannya dan itu dengan menghadap ke Ka’bah dan berhenti disamping batu yang berada dari arah Rukun Yamani dimana seluruh Hajar Aswad berada disebelah kanannya dan bahu kanannya di ujung Hajar Aswad kemudian berniat Thawâf kemudian berjalan menghadap Hajar Aswad melewati arah kanannya hingga melampaui Hajar Aswad. Apabila telah melampauinya berbalik dan menjadikan bagian kirinya kearah Ka’bah dan kanannya keluar. Seandainya melakukan hal ini dari awal dan tidak menghadap ke Hajar Aswad maka diperbolehkan namun kehilangan keutamaan. Kemudian berjalan demikian kehadapannya mengelilingi Ka’bah seluruhnya, sehingga melewati Multazam yaitu tempat antara rukun (pojok) yang ada Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Dinamakan Multazam karena orang berpegangan padanya ketika berdo’a. Kemudian melewati rukun kedua setelah Hajar Aswad kemudian melewati Hijr Ismâ`il yang berada diarah utara dan barat lalu berjalan seputarnya hingga sampai ke rukun (pojok) ketiga. Rukun ini dan yang sebelumnya dinamakan dua Rukun Syâmi (utara) dan ada yang menyatakan: al-Maghribân (barat). Kemudian mengelilingi Ka’bah hingga sampai ke rukun keempat yaitu Rukun Yamâni kemudian melewatinya hingga Hajar Aswad, maka sampailah ke tempat permulaan  sehingga sempurnakan ketika itu satu Thawâf, kemudian melakukan Thawâf kedua dan ketiga hingga sempurna tujuh putaran. Setiap kali dari Hajar Aswad dihitung satu Thawâf dan tujuh adalah Thawâf yang sempurna. Inilah tata cara Thawâf yang apabila dicukupkan hanya dengan ini maka sah Thawâfnya.[6]

HIKMAH PENSYARIATAN THAWAF
Hikmah khusus dari Thawâf yang disampaikan sebagian ulama adalah untuk menegakkan dzikrullah, berdalil dengan hadits A’isyah Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا جُعِلَ الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ وَبَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَرَمْيُ الْجِمَارِ لِإِقَامَةِ ذِكْرِ اللَّهِ

Disyariatkan Thawâf di Ka’bah dan antara Shafa dan Marwa (Sa’i) serta melempar jumrah untuk menegakkan dzikrullah. [HR Abu Dawûd no. 1888 (2/179) dan at-Tirmidzi dan dilemahkan sanadnya oleh al-Albâni dalam Dha’if Sunan Abi Dawûd dan Syu’aib al-Arnâuth namun disahihkan sanadnya dari riwayat Ibnu Khuzaimah oleh Dr, al-A’zhami dalam Tahqiq beliau atas Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2738 dan 2882].

Al-Mubarakfûri rahimahullah  menyatakan: Pengertiannya untuk mengingat Allâh Azza wa Jalla di tempat-tempat yang penuh berkah tersebut, maka hati-hati dari sifat lalai. Dikhususkan dengan dzikir, padahal maksud dari semua ibadah adalah mengingat Allâh , karena bentuk lahiriyahnya adalah perbuatan tidak nampak padanya ibadah dan sejatinya keduanya berisi ibadah.[7] Wallâhu a’lam.

SYARAT THAWAF
Thawâf memiliki syarat dan hal-hal yang wajib dilakukan padanya. Diantara syarat-syarat Thawâf adalah:

1. Islam
Syarat ini telah disepakati para ulama, sebab Thawâf adalah ibadah dan orang Kafir tidak diterima darinya ibadah hingga masuk Islam. Ibnu Rusyd rahimahullah menyatakan: Syarat-syaratnya ada dua; syarat sah dan syarat wajib. Adapun syarat sah maka tidak ada perselisihan diantara mereka bahwa diantara syaratnya adalah Islam, karena tidak sah Thawâf dari seorang Kafir dan tidak diterima darinya dalam segala hal. [8]

2. Berakal
Syarat ini berhubungan dengan Thawâf anak kecil dan orang gila.

a. Thawâf anak kecil yang belum mumayyiz
Para ulama berbeda pendapat tentang keabsahan Thawâf anak kecil yang belum mumayyiz dalam dua pendapat.

Pertama menyatakan tidak sah thawaf anak kecil yang belum mumaayyiz. Inilah pendapat Abu Hanifah dan Mâlik dalam sebuah riwayat. [9]

Kedua menyatakan sah Thawâf mereka. Inilah pendapat Mâlik dalam pendapat yang masyhur, asy-Syâfi’i, Ahmad dan Ibnu Hazm azh-Zhâhiri. [10]

Yang rajih adalah pendapat kedua dengan dasar hadits ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ، فَقَالَ: «مَنِ الْقَوْمُ؟» قَالُوا: الْمُسْلِمُونَ، فَقَالُوا: مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ: «رَسُولُ اللهِ»، فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا، فَقَالَتْ: أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ»

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjumpai rombongan di Rauha` lalu berkata: Siapakah kaum ini? Mereka menjawab: Muslimun lalu mereka bertanya: Siapakah kamu? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Rasûlullâh. Lalu seorang wanita mengangkat bayi nya seraya berkata: Apakah ini boleh berhaji? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Iya dan kamu mendapatkan pahala. [HR Muslim no.409].

Dalam riwayat Abu Dawûd rahimahullah dikatakan:

فَفَزِعَتِ امْرَأَةٌ فَأَخَذَتْ بِعَضُدِ صَبِيٍّ فَأَخْرَجَتْهُ مِنْ مِحَفَّتِهَا،

Lalu Wanita tersebut mendadak memegang lengan bagian atas anak kecil tersebut lalu mengeluarkannya dari tempat gendongannya. [HR Abu Dawûd no. 1736 dan dishahihkan al-Albâni].

Imam ash-Shan’âni reahimahullah menyatakan: Hadits ini menunjukkan sahnya haji anak kecil, baik telah mumayyiz atau belum. [11] Wallâhu a’lam.

2. Thawâf orang gila
Para ulama juga berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama menyatakan tidak sah Thawâf orang gila. Inilah pendapat Abu Hanifah yang masyhur, Mâlik dalam sebuah riwayat, asy-Syafi’i dalam satu pendapatnya dan Ahmad.[12] Mereka menganalogikannya kepada anak kecil yang belum mumayyiz.

Pendapat kedua menyatakan sah Thawâf mereka. Inilah pendapat Mâlik yang masyhur dan asy-Syâfi’i yang shahih dan Ahmad dalam sebuah pendapatnya. [13]

Yang rajih adalah pendapat pertama dengan dasar hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ، وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ، أَوْ يُفِيقَ

Tidak ditulis dari tiga orang: Dari orang tidur hingga bangun, dari anak kecil hingga besar dan dari orang gila hingga berakal atau sadar. [HR Ibnu Mâjah no. 2041 dan dishahihkan al-Albâni dalam Irwa’ al-Ghalîl 2/4].

Demikian juga adanya ijma’ yang menerangkan bahwa orang gila seandainya berihram sendiri tidak sah ihramnya, karena dia bukan termasuk orang yang dibebankan ibadah. Oleh karena itu Imam al-Mirdâwi rahimahullah menyatakan: Tidak sah haji darinya apabila ia berniat sendiri secara ijma’. [14] Wallâhu a’lam.

3. Niat
Para ulama sepakat niat menjadi syarat sah Thawâf secara mutlak. Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan: Apabila Thawâf pada selain haji dan umrah maka tidak sah tanpa niat, dengan tanpa ada perbedaan pendapat (para ulama) seperti ibadah-ibadah lainnya.

4. Waktu
Para ulama sepakat bahwa Thawâf apabila ditentukan waktunya pada beberapa hari tertentu, maka waktu ketika itu menjadi syarat sahnya.

5. Thawâf sebanyak tujuh kali putaran
Para ulama sepakat bahwa thawaf yang dicukupkan hanya sekali tidak sah dan tidak dihitung Thawâf. Merekapun sepakat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Thawâf tujuh putaran. Namun mereka berbeda pendapat dalam menetapkan syarat ini. Apakah yang kurang dari tujuh putaran dihukumi sah atau tidak?

Pendapat pertama menyatakan tidak sah Thawâf kecuali dengan menyempurnakan tujuh putaran. Apabila kurang darinya maka tidak sah. Inilah pendapat Mâlik, asy-Syâfi’i, Ahmad dan ibnul Mundzir. [15]

Pendapat kedua menyatakan menyempurnakan tujuh putaran bukan syarat namun hanya kewajiban saja. Inilah pendapat madzhab Abu Hanifah rahimahullah.[16] Pendapat ini berdalil dengan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [Al-Hajj/22:29]

Dengan menyatakan bahwa perintahnya bersifat mutlak. Hanya saja yang lebih dari satu putaran sampai tujuh putaran ada dalil yang menetapkannya yaitu ijma’ dan tidak ada ijma’ tentang putaran Thawâf  terbanyak.

Pendapat yang rajih adalah pendapat pertama yang menjadikannya sebagai syarat sah dengan alasan:

a. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Thawâf tujuh putaran adalah penjelas terhadap firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). [Al-Hajj/22:29]

b. Dalil pendapat kedua lemah, karena telah ada perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskannya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penjelas al-Qur`ân

c. Ukuran amalan ibadah tidak bisa diketahui dengan perasaan dan pikiran, hanya bisa diketahui dengan wahyu dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawaf tujuh putaran sehingga tidak dianggap kalau kurang darinya. Wallâhu alam.

6. Thawaf di dalam Masjid
Para ulama sepakat mensyaratkan Thawâf  dilakukan di dalam masjid sehingga tidak boleh Thawâf  diluar masjid. Demikian juga mereka sepakat disunnahkan mendekat dari Ka’bah. [17]

7. Thawâf dilakukan di Ka’bah
Para ulama sepakat mensyaratkan Thawâf  dilakukan di seputar Ka’bah berdasarkan firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

hendaklah mereka melakukan Thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). (Al-Hajj/22:29). Sehingga tidak boleh Thawâf  di dalam Ka’bah. [18]

8. Memulai Thawâf dari Hajar Aswad
Disepakati bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai thawaf dari Hajar Aswad kemudian thawaf tujuh putaran. Namun para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama menyatakan memulai dari Hajar Aswad adalah syarat sah thawaaf. Inilah pendapat asy-Syâfi’i, Ahmad dan Muhammad bin al-Hasan dari madzhab Hanafiyah. [19]

Pendapat kedua menyatakan memulai dari hajar Aswad hukumnya hanya sunnah. Inilah pendapat Abu Hanifah yang masyhur. [20]

Pendapat ketiga menyatakan hukumnya hanya wajib, seandainya ditinggalkan dalam thawaaf yang fardhu maka harus mengulanginya selama masih di Makkah. Apabila telah kembali dari makkah maka diharuskan menyembelih sembelihan (Dam). Inilah pendapat Abu hanifah dalam sebuah pendapatnya dan Mâlik dalam pendapat beliau yang masyhur. [21]

Dari ketiga pendapat ini yang rajih adalah pendapat pertama karena apa yang diperbuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam thawaaf adalah penjelasan atas mujmal surat al-Hajj ayat 29 dan beliau selalu memulai thawâf nya dari Hajar Aswad, padahal beliau yang bersabda:

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Hendaknya kalian mengambil manasik dariku. [HR Muslim].

Demikian juga berurutan dalam thawâf seperti hukum berurutan dalam shalat dan hukum berurutan dalam pelaksanaan shalat adalah syarat, sedangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ

Thawâf di Ka’bah adalah shalat. [HR an-Nasaa’i no 2922 dan dishahihkan al-Albani]. Wallâhu A’lam.

9. Menutup Aurat
Yang dimaksud disini adalah menutupi aurat laki-laki atau perempuan yang bisa mengesahkan shalat mereka.

Para ulama berbeda pendapat tentang masalah ini dalam dua pendapat:

Pendapat pertama : Pendapat ini menyatakan menutup aurat termasuk syarat sah Thawâf. Inilah pendapat Mâlik, asy-Syâfi’i dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur dari beliau[22] dan inilah pendapat mayoritas ulama.

Pendapat kedua :  menutup aurat adalah sebuah kewajiban bukan syarat. Inilah pendapat Abu Hanifah[23] dan satu pendapat dalam madzhab Hanabilah[24].

Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah pendapat mayoritas ulama, berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang mengatakan :

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعَثَهُ فِي الحَجَّةِ الَّتِي أَمَّرَهُ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ حَجَّةِ الوَدَاعِ يَوْمَ النَّحْرِ فِي رَهْطٍ يُؤَذِّنُ فِي النَّاسِ «أَلاَ لاَ يَحُجُّ بَعْدَ العَامِ مُشْرِكٌ، وَلاَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرْيَانٌ»

Sesungguhnya Abu Bakar Radhiyallahu anhu mengutus beliau di haji yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan Abu bakar berhaji sebelum haji wada’ para hari Nahr pada sejumlah orang untuk menyampaikan kepada manusia: Ketahuilah tidak boleh seorang musyrik berhaji setelah tahun ini dan tidak boleh orang telanjang berthawâf di Ka’bah [HR al-Bukhari no. 1622].

Juga perintah berhias di masjid seperti dalam firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. [Al-A’raf/7:31]

Menunjukkan perintah menutup aurat dalam Thawâf, karena Thawâf hanya dilakukan di dalam masjid dan juga karena menurut mayoritas ahli tafsir larangan tawaaf telanjang adalah sebab turunnya ayat ini. [25]Wallahu a’lam.

10. Menjadikan Ka’bah berada disebelah kirinya.
Disepakati bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Thawâf menjadikan ka’bah berada disebelah kirinya dan berjalan kedepan. Namun para ulama berbeda pendapat apakah ini termasuk syarat sah Thawâf dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama menyatakan bahwa menjadikan Ka’bah berada di sebelah kiri orang yang Thawâf adalah syarat sah Thawâf. Inilah madzhab Mayoritas ulama, diantaranya madzhab Mâlikiyah, asy-Syâfi’iyah dan Hambaliyah serta satu pendapat dari Abu Hanifah.[26].

Pendapat kedua menyatakan hukumnya hanya wajib bukan syarat. Inilah pendapat madzhab Hanafiyah.[27]

Pendapat ketiga menyatakan hukumnya Sunnah. Inilah pendapat Abu hanifah dalam satu pendapatnya dan Dawud azh-Zhahiri[28]

Pendapat yang rajih adalah pendapat yang pertama dengan dasar:

1. Allâh memerintahkan thawâf dan tidak menjelaskan tata caranya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya dengan perbuatan menjadikan Ka’bah di sebelah kiri Beliau ketika Thawâf dan tidak ada acara lainnya. Hal ini menunjukkan hal itu menjadi syarat.

2. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan thawâf dengan cara ini dan memerintahkan umatnya untuk mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam manasik dalam sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ

Ambillah dariku Manasik kalian.

Hal ini menunjukkan pensyaratannya. Wallahu a’lam.

11. Bersuci dari hadats.
Tidak ada perbedaan pendapat para ulama tentang pensyariatan bersuci dalam thawâf. Namun mereka berselisih dalam menetapkan bersuci dari hadats sebagai syarat sah thawâf dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama menyatakan bersuci dari hadat adalah syarat sah thawâf sehingga siapa yang thawâf dalam keadaan berhadats maka thawâfnya tidak sah. Inilah pendapat Mâlik, asy-Syâfi’i dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur [29].

Pendapat kedua menyatakan bersuci dari hadats hukumnya wajib. Inilah pendapat Abu Hanifah dan Ahmad dalam sebuah riwayat. [30]

Pendapat ketiga menyatakan bersuci dari hadats kecil dalam thawâf hukumnya Sunnah. Inilah pedapat sejumlah ulama salaf dan Ahmad dalam sebuah riwayat dan dirajihkan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim serta Ibnu Hazm. [31]

Pendapat yang rajih adalah pendapat yang ketiga yang menyatakan sunnahnya bersuci dari hadats kecil dalam thawâf. Sedangkan orang yang berhadats besar dilarang melakukan thawâf kecuali ada udzur, seperti disampaikan Ibnu Taimiyah berkata: ‘Adapun thawâf tidak boleh atas orang yang haidh dan nifas menurut nash dan ijma’[32]. Pendapat ini didasarkan kepada dalil-dalil berikut ini:

1. Pada asalnya kewajiban bersuci dari hadats tidak ada hingga ada dalil yang menetapkannya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Tidak ada seorangpun yang menukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum Muslimin bersuci (untuk thawâf), baik dalam umroh ataupun haji, padahal banyak sekali orang yang berhaji dan berumroh bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tidak mungkin bersuci adalah wajib dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjelaskannya. mengakhirkan penjelasan pada waktu dibutuhkan tidak boleh. [33]

2. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Kuncinya shalat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir dan penghalalnya adalah salam. [HR Ahmad 1/123 dan dishahihkan al-Albâni dalam Shahih al-Jâmi’ 1/1083].

Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyatakan: Dalam hadits ini ada dua pengertian, salah satunya: pengharaman shalat dengan takbir dan penghalalannya dengan salam dan ibadah yang tidak diharamkan dengan takbir dan dihalalkan dengan salam bukan termasuk shalat. Kedua : Inilah dia sholat yang kuncinya bersuci. Setiap shalat kuncinya bersuci sehingga pengharamannya takbir dan penghalalannya dengan salam. Sehingga yang tidak diharamkan dengan takbir dan dihalalkan dengan salam maka kuncinya bukan bersuci. [34]

3. Hadits Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ، فَأُتِيَ بِطَعَامٍ، فَذَكَرُوا لَهُ الْوُضُوءَ فَقَالَ: أُرِيدُ أَنْ أُصَلِّيَ فَأَتَوَضَّأَ؟

Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari WC , lalu dihidangkan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam makanan lalu mereka menanyakan wudhu Beliau, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Apakah Aku akan shalat sehingga berwudhu?. [HR Muslim].

Syeikhul Islam menyatakaan bahwa hadits ini menunjukkan tidak diwajibkan berwudhu kecuali apabila ingin shalat dan wudhu bagi selain shalat hukumnya Sunnah bukan wajib. [35]

4. Perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu ketika Thawâf adalah perbuatan mutlak yang tidak harus menunjukkan wajib. Sedangkan pernyataan bahwa itu adalah penjelas dari hadits Nabi (خُذُوا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ) , maka dijawab bahwa itu tidak menunjukkan kewajiban, karena pengertian (خُذُوا عَنِّي) disini adalah mengerjakan seperti perbuatan Beliau. Apabila Beliau mengerjakannya karena hukumnya Sunnah maka kita mengerjakannya juga karena hukumnya Sunnah. Apabila kita lakukan dengan keyakinan wajib (padahal hukumnya sunnah) maka kita tidak mengambil dan mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Hal ini didukung dengan banyaknya perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haji yang tidak diwajibkan para ulama, seperti raml, ithdhiba’ dan minum zamzam. [36]

5. Sedangkan hadits ‘Aisyah dan Shafiyah yang dilarang Thawâf karena haidh yang menunjukkan tidak sahnya Thawâf orang yang haidh tidak bisa dianalogikan kepada mereka yang tidak bersuci dari hadats kecil, karena perbedaan yang ada diantara keduanya.

Ini semua menunjukkan kuatnya pendapat tersebut. Wallahu a’lam.

12. Suci dari Najis.
Para ulama berbeda pendapat tentang pensyaratan suci dari najis pada badan, pakaian dan tempat yang terkena najis dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama menyatakan suci dari najis adalah syarat sah thawâf. Inilah pendapat Mâlik, asy-Syâfi’i dan Ahmad. Al-Mâwardi menisbatkannya kepada pendapat mayoritas ulama. [37]

Pendapat kedua menyatakan suci dari najis hukumnya Sunnah muakkad. Inilah pendapat yang masyhur dari Abu Hanifah . [38]

Pendapat ketiga menyatakan suci dari najis ini adalah wajib bukan syarat sah thawaf. Ini adalah pendapat sebagian ulama madzhab Hanafiyah dan satu satu pendapat dalam madzhab Hanabilah. [39]

Pendapat yang rajih dalam hal ini adalah pendapat pertama yang menjadikannya syarat sah, sebab Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mensucikan Ka’bah untuk orang yang thawâf dan shalat dalam firmanNya:

وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:”Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud. [Al-Baqarah/2:125].

Ayat ini menunjukkan kewajiban mensucikan tempat thawâf. Apabila ada perintah Ilahi untuk mensucikan tempat thawâf yang terpisah dari orang yang berthawâf, maka mensucikan pakaian dan diri orang yang thawâf dari najis lebih diperintahkan lagi. Wallahu a’lam.

Demikianlah sebagian hukum berkenaan dengan thawâf, semoga bermanfaat. Wabillahittaufiq

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02-03/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab, (8/74)
[2] lihat Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Ibnu Fâris, (2/83)
[3] Nihâyatul Mathâf Fi Tahqiq Ahkâm ath-Thawâf, Dr. Sulaiman Ali’isa hlm 4 dan lihat juga Bidâyatul Mujtahidîn 1/248
[4] lihat Ahkâm at-Thawâf Bil Baitil Harâm hlm 22
[5] Mansak al-Imâm asy-Syingqithy, Muhammad al-Amîn bin Muhammad al-Mukhtâr al-Jakni asy-Syingqity, 2/234
[6] Al-Majmû’ 8/13
[7] Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan at-Tirmidzi 3/552
[8] Bidayâtul Mujtahidîn 1/319
[9] lihat Hâsyiyah ibni ‘Abidîn 2/458 dan Mawâhibul Jalîl 2/475
[10] lihat al-Mudawwanah 1/298, Mughnil Muhtâj 1/461, al-Mughni 3/207 dan al-Muhalla 7/436
[11] Subûlus Salâm 2/180
[12] lihat Hâsyiyah ibni ‘Abidîn 2/458, al-Mughni 3/7 dan al-Majmû’ 7/20
[13] lihat al-Mudawwanah 1/399, al-Majmû’ 7/20, Mughnil Muhtâj 1/461 dan al-Inshâf 3/388
[14] Al-Inshâf 3/388
[15] lihat al-Mudawwanah 1/317, al-Majmû’ 8/28 dan al-Inshâf 4/19
[16] lihat al-Mabsûth 4/42
[17] lihat al-Majmû’ 8/52
[18] lihat Ahkâm al-Qur`ân  al-jashâsh 1/9
[19] lihat al-Majmû’ 8/44, al-Mughni 3/215
[20] lihat Hâsyiyah ibni ‘Abidûn 2/467
[21] lihat Syarhu Fathul Qadir 2/453-455 dan Mawâhib al-Jalîl 3/67
[22] Mawâhib al-Jalîl 3/68, al-Majmû’ 8/16 dan al-Mughni 3/223)
[23] lihat Badâ’i ash-Shanâ`i 2/129
[24] lihat al-Mughni 53/223
[25] lihat Jâmi’ al-Bayân atau Tafsir ath-Thabari 5/160
[26] lihat Mawâhib al-Jalîl 3/69, al-Majmû’ 8/14, al-Mughni 3/23
[27] lihat Badâ`i ash-Shanâ`i’ 2/130
[28] lihat Badâ`i ash-Shanâ`i’ 2/131
[29] Al-Mudawanah 1/351, alMajmû’ 8/15, al-mughni 5/222).
[30] Badâ’i ash-Shanâ`i’ 4/69 dan al-Mughni 5/213
[31] Al-Inshâf 1/317, Majmû’ al-Fatâwâ Ibnu Taimiyah 26/176 dan Tahdzîbus Sunan 1/53
[32] Majmû’ al-Fatâwâ 21/329
[33] Tahdzîbus Sunan 1/52
[34] Majmû’ al-Fatâwâ 21/276
[35] Majmû’ al-Fatâwâ 21/275
[36] lihat lebih lanjut di Tahdzîbus Sunan 1/53
[37] Mawâhibul Jalîl 4/94, al-Majmû’ 8/23 dan al-Mughni 3/222
[38] Badâ’i` ash-Shanâ`i’ 2/129 dan Hâsyiyah ibni ‘Abidîn 2/469
[39] Badâ’i` ash-Shanâ`i’ 2/129 dan Hâsyiyah ibni ‘Abidîn 2/469