Allah Subhanahu Wa Ta’ala Akan Datang Memutuskan Keadilan

Quran Allah Datang Di Awan

ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA AKAN DATANG MEMUTUSKAN KEADILAN

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Banyak ayat al-Qur’an memberitakan kepada kita tentang kedatangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala  pada hari Kiamat nanti untuk memutuskan hukum di antara para hamba-Nya.

Ayat Pertama:
Firman Allâh Azza wa Jalla :

كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا ﴿٢١﴾ وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا

Jangan (berbuat demikian), apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Rabb-mu; sedang Malaikat berbaris-baris. [Al-Fajar/89: 21-22]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menjelaskan bahwa makna ayat ini yaitu Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Dan apabila Rabb-mu telah datang, wahai Muhammad! sedangkan para Malaikat sedang berbaris-baris berurutan”. [Tafsir ath-Thabari, 24/417, tahqiq syaikh Ahmad Syakir]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan makna ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla  memberitakan tentang perkara-perkara besar yang akan terjadi pada hari kiamat. Allâh berfirman “Kallâ” yaitu: sebenarnya! “Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, yaitu bumi direndahkan, dilebarkan, bumi dan gunung-gunung  diratakan, semua makhluk bangkit dari kubur mereka untuk menghadap Rabb mereka, “dan datanglah Rabbmu”, yakni untuk memutuskan pengadilan di antara para makhluk-Nya.”. [Tafsir Ibnu Katsir, 8/399, tahqiq Salamah]

Ayat Kedua:
Firman Allâh Azza wa Jalla :

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allâh dan Malaikat (pada hari kiamat) di atas naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allâh dikembalikan segala urusan. [Al-Baqarah/2: 210]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam rangka mengancam orang-orang yang kafir terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam , “Tiada yang mereka nanti-nantikan melainkan kedatangan Allâh dan Malaikat (pada hari kiamat) di atas naungan awan”, yakni pada hari kiamat kelak Allâh datang untuk memberikan keputusan diantara manusia dari yang pertama sampai yang terakhir. Lalu Allâh Azza wa Jalla akan memberikan balasan terhadap setiap orang yang beramal sesuai dengan amalannya. Jika amalannya baik, maka dibalas dengan kebaikan, dan jika amalannya buruk, maka dibalas dengan keburukan pula.” [Tafsir Ibnu Katsir, 1/566, tahqiq Salamah]

Ayat Ketiga:
Firman Allâh Azza wa Jalla :

هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا ۗ قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ

Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan Malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan Rabb-mu atau kedatangan beberapa ayat Rabb-mu. Pada hari datangnya ayat dari Rabb-mu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” [Al-An’am/6: 158]

Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah saat menjelaskan makna ayat ini mengatakan, “Allâh Yang Maha Agung berfirman: Bukankah orang-orang yang menyamakan Rabb mereka dengan sesembahan-sesembahan selain-Nya dan patung-patung tidak menanti kecuali kedatangan para Malaikat, dengan membawa kematian, para Malaikat akan mencabut nyawa mereka. Atau (menanti) kedatangan Rabb mereka, wahai Muhammad! di antara seluruh makhluk-Nya di tempat berhenti pada hari kiamat. “Atau (menanti) kedatangan sebagian tanda-tanda Rabb-mu” menurut pendapat ahli tafsir adalah: terbitnya Matahari dari tempat tenggelamnya (yaitu arah barat)”. [Tafsir ath-Thabari, 12/245, tahqiq Syaikh Ahmad Syakir]

Inilah yang dikatakan oleh Syaikhul Mufassirîn (tokoh ahli tafsir), Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah . Kemudian beliau menukilkan penjelasan para Sahabat dan Tabi’in. Kemudian beliau juga membawakan hadits-hadits marfu’ (dari Nabi) dan mauquf (dari Sahabat) untuk menguatkan penjelasan beliau tersebut.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan makna ayat ini, “Allâh Azza wa Jalla  berfirman dalam rangka mengancam orang-orang yang kafir kepada-Nya, orang-orang yang menyelisihi para Rasul-Nya, orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya, serta orang-orang yang menghalang-halangi jalan-Nya: Bukankah mereka tidak menanti kecuali kedatangan para Malaikat, atau kedatangan Rabb-mu,  yaitu pada hari kiamat. “Atau (menanti) kedatangan sebagian tanda-tanda Rabb-mu”, hal itu sebelum hari kiamat, akan terjadi tanda-tanda dan perkara-perkara yang mendahului hari kiamat”. [Tafsir Ibnu Katsir, 3/371, tahqiq Salamah]

Demikian juga Imam asy-Syaukani di dalam tafsirnya, Fathul Qadîr, menukilkan dari para pembesar ahli tafsir, seperti Ibnu Mas’ud, Abu Said, dan Muqatil, tentang makna kedatangan Allâh Azza wa Jalla , kedatangan Malaikat, dan kedatangan sebagian ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla , tanpa ada perselisihan, kecuali hanya dalam ungkapan kalimat namun dengan makna yang sama. Karena memang mereka mengambil ilmu dari sumber yang sama, yaitu wahyu, dari sini mereka mengetahui maksud firman Allâh Azza wa Jalla . Kemudian mereka mencari kejelasan dengan Sunnah Nabi mereka. Dan mereka tidak berbicara tentang diri Allâh dengan tanpa ilmu. Demikianlah para mufassir yang mengikuti jalan Salaf, mereka menjelaskan berdasarkan makna lughah (bahasa Arab) dan mengikuti riwayat-riwayat Salaf.

TAHRIF SEBAGIAN MUFASSIR
Termasuk kebiasaan yang diwarisikan dari sebagian Mufassirîn yang mengikuti jalan khalaf, mengartikan “kedatangan Allâh” dengan “kedatangan perintah Allâh”, atau “kedatangan siksa Allâh”. Kepada orang-orang yang memiliki pemikiran demikian, kita bisa bertanya kepada mereka, “Dari mana datangnya perintah atau siksa Allâh?”. Maka jawabnya pasti, “perintah/siksa Allâh datang dari sisi Allâh”. Kemudian pertanyaan berikutnya, “Di manakah Allâh, yang perintah/siksa itu datang dari-Nya?”. Dari sini kita akan mengetahui ketidakpastian sikap orang-orang yang menolak sifat-sifat Allâh yang diberitakan di dalam kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sebagian mereka mengatakan, “Tidak boleh ditanyakan, ‘Dimanakah Allâh!” Ini menunjukkan jauhnya mereka dari petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam , karena Beliau n adalah orang pertama yang bertanya “Di manakah Allâh!”  untuk menguji keimanan seorang budak wanita yang akan dimerdekakan oleh tuannya. Kisah ini terkenal di kalangan para penunutut ilmu.

Selain itu, bahwa orang-orang yang menolak sifat-sifat Allâh itu tidak mengimani sifat ‘uluw (ketinggian Allâh di atas seluruh makhluk), maka perkataan mereka “yang datang adalah perintah/siksa Allâh” tidak ada artinya! Karena mereka tidak mengetahui darimana datangnya perintah Allâh?

Kalau mereka menjawab, “Allâh berada dimana-mana”, maka apakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam pernah mengatakan Allâh berada dimana-mana? Ataukah ada Sahabat atau Tabi’in yang pernah mengatakan demikian? Apakah perintah Allâh datang dari Allâh yang berada di mana-mana?

Imam Abu Said ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi t membantah al-Marîsiy yang mengingkari kedatangan Allâh pada hari kiamat dengan akalnya, beliau mengatakan, “Dikatakan kepada al-Marîsiy ini: Semoga Allâh membinasakanmu, alangkah lancangnya kamu terhadap Allâh, dan terhadap kitab-Nya, tanpa ilmu dan tanpa penglihatan: Allâh memberitakan kepada kamu, bahwa Dia akan datang, namun kamu berkata: “Itu bukan datang!”. [Naqdhul Imam Abi Sa’id ‘Utsman bin Sa’id ‘Alal Marîsiy Al-Jahmiy al-‘Anîd , 1/340]

Itulah orang-orang yang menolak sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Ketika mereka lari dari hakekat kebenaran, yaitu kewajiban menetapkan sifat kedatangan Allâh Azza wa Jalla pada hari Kiamat nanti, maka sesungguhnya mereka telah lari menjauh dari jalan keselamatan, jalan yang ditempuh oleh Salafus Shalih, yaitu menetapkan sifat Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk, wallâhu a’lam.

MATAHARI AKAN TERBIT DARI BARAT
Di antara yang diimani oleh Ahlus Sunnah adalah bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan melakukan apa yang Dia kehendaki. Di antara yang akan Dia lakukan di akhir kehidupan di dunia ini adalah Dia akan memerintahkan matahari untuk terbit dari arah barat, sebagai pemberitahuan akan berakhirnya kehidupan dunia ini. Dari sini maka pintu taubat ditutup, keimanan atau amal shalih tidak akan diterima dari orang yang ingin beriman atau beramal shalih setelah Matahari terbit dari barat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، وَذَلِكَ حِينَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا» ثُمَّ قَرَأَ الآيَةَ

Dari Abu Hurairah z , dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi sampai Matahari terbit dari barat. Jika Matahari terbit dari barat dan manusia telah melihatnya, mereka semua beriman. Dan itu adalah pada waktu iman seseorang tidaklah bermanfaat lagi kepada dirinya sendiri”. Kemudian beliau membaca ayat (dalam surat Al-An’am/6: 158-Red) [HR. Al-Bukhâri, no. 4636]

Kemudian Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan semua manusia semenjak awal sampai akhir nanti pada hari kiamat. Allâh akan menghitung semua amal perbuatan mereka dan memberikan balasan dengan karunia dan keadilan-Nya. Walaupun amal perbuatan itu sangat kecil, tidak ada yang hilang. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴿٧﴾ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. [Al-Zalzalah/99: 7-8]

Allâh Azza wa Jalla juga  berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabb-mu tidak menganiaya seorang juapun.” [Al-Kahfi/18: 49]

Demikian Allâh Azza wa Jalla  akan datang pada hari Kiamat, menghitung semua amal perbuatan hamba-Nya, dan memberikan keputusan di antara mereka. Semua akan mendapatkan balasan sesuai dengan amalannya. Jika manusia mendapatkan balasan kebaikan, maka segala puji bagi Allâh semata. Jika Jika manusia mendapatkan balasan keburukan, maka dia tidak bisa menyalahkan kecuali dirinya sendiri. Semoga Allâh selalu membimbing kita di atas kebenaran, dan menjauhkan dari segala keburukan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]