Category Archives: A3. Aqidah Tauhid Soal Jawab

Kedudukan Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi

DAFTAR ISI

  1. Menyorot Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi
  2. Hadits Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi
  3. Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi
  4. Hadits Lemah Tentang Shalat Arba’in Di Masjid Nabawi

Hadits Dhaif Keutamaan Shalat Di Masjid Nabawi Selama 40 Hari

  1. Pahala Shalat Isyraq Sama Dengan Melakukan Haji dan Umrah?
  2. Shalat Sunnat Dua Rakaat Sesudah Shalat Ashar
  3. Shalat Setelah Shalat Subuh
  4. Qadha Shalat yang Tertinggal

Pada umumnya, para jamaah haji dijadwalkan untuk mengunjungi kota Madinah sebelum atau sesudah penyelenggaraan ibadah haji. Mereka sangat bersemangat berkunjung ke Madinah meski ziarah ini tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Hal ini tidak aneh karena Madinah memiliki kedudukan yang tinggi dalam sejarah penyebaran Islam. Ke tempat inilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah untuk kemudian menghabiskan umur beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyemai dakwah Islam di sana. Oleh karena itu, meski ibadah haji tetap sah tanpa ziarah ke Madinah, namun para jamaah haji selalu merasa ada yang kurang jika tidak berkunjung ke sana. Di antara ibadah yang biasa dilakukakan para jamaah haji selama di kota ini adalah shalat arba’in di Masjid Nabawi.

Keyakinan Muslim Terhadap Isa Putra Maryam Alaihissallam

KEYAKINAN MUSLIM TERHADAP ISA PUTRA MARYAM ALAIHISSALLAM

Pertanyaan : Apakah Nabi Isa Alaihissallam masih hidup atau sudah wafat menurut pandangan al-Qur`an yang mulia dan sunnah yang suci?

Jawaban : Menurut pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Nabi Isa Alaihissallam masih hidup dan Allah Jalla Jalaluhu telah mengangkatnya ke langit, dan nanti akan turun di akhir zaman sebagai pemimpin yang memutuskan hukum dengan syari’at Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdakwah kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu berdasarkan nash-nash al-Qur`an dan hadits-hadits yang shahih. Firman Allah Jalla Jalaluhu -tentang kebohongan kaum Yahudi dan bantahan atasnya-:

قال الله تعالى : وَّقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللّٰهِۚ وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۗوَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِّنْهُ ۗمَا لَهُمْ بِهٖ مِنْ عِلْمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا- ١٥٧ بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيْهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا  

Dan karena ucapan mereka:”Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. * Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[an-Nisaa/4:157-158]

Allah Jalla Jalaluhu mengingkari pengakuan kaum yahudi yang mengira bahwa mereka telah membunuh atau menyalibnya, dan mengabarkan bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mengangkatnya kepada-Nya sebagai kasih sayang kepadanya dan kemuliaan untuknya. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan hal itu sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya dari para rasul-Nya. Alangkah banyaknya tanda-tanda kebesaran Allah Jalla Jalaluhu pada Isa putra Maryam Alaihissallam pertama dan akhir. Dan tuntutan idhraab (berpindah) dalam firman Allah Jalla Jalaluhu (Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya.) bahwa Allah Jalla Jalaluhu telah mengangkat Isa Alaihissallam badan dan roh hingga terealisasi bantahan terhadap sangkaan kaum yahudi bahwa mereka telah membunuh atau menyalibnya, karena membunuh dan menyalib pada dasarnya adalah untuk badan, dan karena roh diangkat tidak menafikan pengakuan mereka telah menyalib dan membunuhnya, maka hanya mengangkat rohnya saja bukan merupakan bantahan terhadap mereka. Dan karena hal itu merupakan tuntutan kesempurnaan kemuliaan, kekuatan, dan pertolongan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari para rasul-Nya menurut yang disebutkan di akhir ayat: (Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.)

Dan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِهٖ ۚوَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكُوْنُ عَلَيْهِمْ شَهِيْدًاۚ

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. [an-Nisa/4:159]

Allah Jalla Jalaluhu mengabarkan bahwa semua Ahli Kitab akan beriman kepada Isa Alaihissallam sebelum wafatnya Alaihissallam dan hal itu terjadi saat ia turun di akhir zaman sebagai penguasa yang adil lagi mengajak kepada Islam, seperti yang akan datang penjelasannya di hadits turunnya Alaihissallam. Inilah pengertian yang nyata, karena susunan kata (kalam) adalah untuk menjelaskan pendirian kaum yahudi terhadap Isa Alaihissallam dan perbuatan mereka terhadapnya, dan untuk menjelaskan sunnah Allah Jalla Jalaluhu dalam menyelamatkannya dan menolak tipu daya musuh-musuh-Nya. Maka nyatalah kembalinya dua dhamir (kata ganti) yang majrur kepada Isa Alaihissallam untuk menjaga susunan kata dan untuk menyatukan tempat kembali kedua dhamir tersebut. Dan diriwayatkan dalam hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا, فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيَفِيْضُ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلُهُ أَحَدٌ ))

Demi Allah Jalla Jalaluhu yang diriku berada di tangan-Nya, sudah hampir  waktunya bahwa Ibnu Maryam Alaihissallam turun padamu sebagai penguasa yang adil, mematahkan salib, membunuh babi, meletakkan pajak, dan harta melimpah hingga tidak ada seseorang yang menerimanya.’ Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: “Bacalah jika kamu menghendaki:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِه

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[an-Nisa/4:159][1]

Dan dalam riwayat darinya, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(( كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ فِيْكُمْ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ ))

Bagaimanakah kamu apabila Isa putra Maryam Alaihissallam turun padamu dan pemimpin kamu dari golonganmu.”[2]

Dan disebutkan dalam hadits yang shahih pula, bahwa Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(( لاَتَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَقَالَ: فَيَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ, صَلِّ مَعَنَا, فَيَقُوْلُ: لاَ, إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ, تَكْرِمَةَ اللهِ هذِهِ اْلأُمَّةِ ))

Senantiasa segolongan dari umatku  berperang di atas kebenaran, tetap nampak (menang) hingga hari kiamat.’ Beliau bersabda: ‘Maka turunlah Isa putra Maryam Alaihissallam, maka pemimpin mereka berkata: ‘Kemarilah, shalat untuk kami (menjadi imam).’ Ia (Isa Alaihissallam) menjawab: ‘Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah amir (pemimpin) terhadap yang lain’, sebagai penghormatan Allah Jalla Jalaluhu terhadap umat ini.[3]

Hadits-hadits ini menunjukkan turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman, ia mengikuti syari’at nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sesungguhnya imam umat ini di dalam shalat dan lainnya pada saat turunnya Nabi Isa Alaihissallam adalah dari umat ini. Atas dasar itulah, tidak ada kontradiksi di antara turunnya Alaihissallam dan penutup kenabian dengan nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana Nabi Isa Alaihissallam tidak datang dengan risalah yang baru. Hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala keputusan pertama dan terakhir, Dia Jalla Jalaluhu melakukan apa yang dikehendaki-Nya dan memutuskan apa yang Dia inginkan, tidak ada yang berhak mengkritik hukum-Nya. Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Barangsiapa yang mengira bahwa Isa Alaihissallam telah disalib atau dibunuh maka dia kafir karena menyelisihi al-Qur`an dan hadits-hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan siapa yang berkata dari umat Islam: Sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu telah mematikan Isa Alaihissallam secara wajar, kemudian mengangkatnya kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala saat kaum Yahudi hampir menyalib dan membunuhnya, berarti ia menyendiri keluar dari jama’ah kaum muslimin dan tersesat dari jalan yang lurus, karena ia menyelisihi nash-nash al-Qur`an dan sunnah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang menyebabkan mereka berpendapat seperti ini adalah pemahaman mereka yang keliru terhadap firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : اِذْ قَالَ اللّٰهُ يٰعِيْسٰٓى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَرَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَجَاعِلُ

(Ingatlah), ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku mengambilmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, …”. [Ali Imran/3:55]

Dimana fawaffi ditafsirkan sebagai wafat, maka hal itu menyalahi riwayat shahih dari salaf yang menafsirkan dengan: Allah Jalla Jalaluhu mengambilnya dari bumi dan mengangkatnya kepada-Nya dalam kondisi masih hidup dan membersihkannya dengan hal itu dari orang-orang kafir, sebagai penggabungan di antara nash-nash al-Qur`an dan sunnah yang shahih yang menyatakan diangkatnya dalam kondisi masih hidup dan turunnya di akhir zaman, serta berimannya semua ahli kitab dan selain mereka kepadanya Alaihissallam. Dan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang menafsirkan tawaffi di sini dengan wafat adalah riwayat yang tidak shahih karena terputus sanadnya, karena ia dari riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. Ali tidak pernah mendengar darinya dan tidak pula melihatnya, namun ia meriwayatkan darinya lewat perantara. Dan tidak benar pula yang diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih al-Yamani yang menafsirkan tawaffi dengan wafat, karena itu dari riwayat Ibnu Ishaq dari orang yang tidak tertuduh, dari Wahb. Maka padanya adalah ‘an’anah Ibnu Ishaq sedang dia seorang mudallis dan padanya ada yang majhul (tidak diketahui). Kemudian penafsiran ini tidak lebih dari kondisinya sebagai salah satu kemungkinan makna tawaffi. Maka sungguh telah ditafsirkan bahwa Allah Jalla Jalaluhu mengambil badan dan ruhnya dari bumi dan mengangkatnya kepada-Nya dalam kondisi hidup. Dan ditafsirkan bahwa Dia menidurkannya kemudian mengangkatnya. Dan Dia akan mematikannya setelah mengangkatnya dan menurunkannya di akhir zaman, karena huruf waw (و) tidak menuntut harus berurutan, namun menuntut penggabungan dua perkara baginya saja. Apabila ada perbedaan pendapat dalam makna ayat, maka harus kembali kepada pendapat yang sesuai dhahir dalil-dalil yang lain, karena menggabungkan di antara semua dalil dan mengembalikan yang mutasyabih darinya kepada yang muhkam. Seperti perkara orang-orang yang rasikh (kokoh) dalam ilmu, bukan orang-orang sesat yang mengikuti ayat yang mutasyabih karena mencari fitnah dan mencari ta’wilnya.

Demikian pula perbedaan pendapat mereka dalam menafsirkan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : وَاِنْ مِّنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهٖ قَبْلَ مَوْتِه

Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya.[an-Nisa/4:159][4]

Maka harus kembali padanya kepada makna yang sesuai bersama susunan kalimat dan yang shahih dari hadits-hadits turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman dan berimannya semua ahli kitab dan selain mereka dengannya, karena menggabungkan di antara semua dalil dan menjaga tujuan yang berbicara dari ucapannya.

Barangsiapa yang memperhatikan ayat-ayat ini terlepas dari kalimat sebelumnya, dari tujuan yang dihaturkan baginya, dari dalil-dalil lain yang datang dalam pembahasan yang sama, dan menta’wilkannya atas makna: ‘Tidak ada seorang pun dari ahli kitab kecuali beriman kepada Allah Jalla Jalaluhu atau kepada Isa Alaihissallam sebelum wafatnya, maksudnya ahli kitab- maka sungguhnya menyalahi dzahir ayat dan susunan kalimat serta yang terdapat dalam dalil-dalil dalam perkara Isa Alaihissallam. Dan hal itu termasuk orang yang mengikuti yang mutasyabih dari ayat dan tidak mengembalikannya kepada yang muhkam, karena mencari fitnah dan mencari ta’wilnya. Maka ia pantas mendapatkan ancaman (ultimatum) yaitu terhadap orang yang di hatinya ada kesesatan, firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:”Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. [Ali Imran/3:7]

Kemudian, sesungguhnya orang yang berpendapat bahwa Allah Jalla Jalaluhu mewafatkan Isa Alaihissallam saat kaum yahudi hampir (melakukan keinginan mereka), bisa jadi ia mengakui turunnya Isa di akhir zaman karena mengamalkan hadits-hadits shahih tentang hal itu, dan bisa jadi ia mengingkari turunnya. Bila ia mengakui turunnya, konsekuensinya ia menetapkan bagi nabi Isa Alaihissallam wafat, kemudian hidup di dunia, kemudian wafat saat tipu daya dan diangkat, kemudian hidup lagi, kemudian wafat setelah turun (ke dunia), kemudian hidup saat dibangkitkan. Dan ini berarti menyalahi firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. [Al-Baqarah/2:28]

Dan firman Allah Jalla Jalaluhu:

قال الله تعالى : قَالُوْا رَبَّنَآ اَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَاَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوْبِنَا فَهَلْ اِلٰى خُرُوْجٍ مِّنْ سَبِيْلٍ

Mereka menjawab:”Ya Rabb kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami.Maka adakah suatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)” [Ghafir/40:11]

Dan jika ia mengingkari turunnya Alaihissallam setelah diangkat, berarti ia menolak hadits-hadits shahih yang diterima oleh para ulama umat Islam yang bersaksi dengan persaksian yang tegas dengan turunnya dan dakwahnya kepada kebenaran, ia memutuskan hukum dengannya, membunuh babi, memataskan salib dll, yang menetapkan kondisinya Alaihissallam setelah turunnya Alaihissallam. Kedua kemungkinan itu tidak ada tempat berlepas darinya kecuali mengikuti pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Isa Alaihissallam dari tipu daya kaum yahudi dan Dia Subhanahu wa Ta’ala mengangkat badan dan ruhnya Alaihissallam, dan menurunkannya di akhir zaman sebagai penegak hukum yang adil.

Wabillahit taufiq. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah untuk riset ilmu dan fatwa 3/211-212.

[Disalin dari اعتقاد المسلم في عيسى ابن مريم عليه السلام Penulis : Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa, Penerjemah Muhammad Iqbal A.Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2010 – 1431]
________
Footnote
[1] Al-Bukhari 3448 dan Muslim 155
[2] Al-Bukhari 3449 dan Muslim 155.
[3]  Muslim 156.
[4] Al-Bukhari 3448 dan Muslim 155

Apakah Mengetahui Waktu Gerhana Matahari dan Bulan Termasuk Ilmu Gaib?

APAKAH MENGETAHUI WAKTU GERHANA MATAHARI DAN BULAN TERMASUK ILMU GAIB?

Oleh
Al-Lajnah ad-Dâ’imah lil-Buhûts al-‘Ilmiyyah wal-Iftâ

Pertanyaan
Kami telah membaca surat kabar ‘al-Madinah’ edisi 5402 pada tanggal 4/3/1402 H bahwa akan terjadi gerhana bulan total di hari Sabtu depan. Gerhana akan terjadi dari jam 20.30 malam dan berakhir secara berangsur di hari Ahad setelah tengah malam selama 38 menit. Dan bulan keluar dari bayangan bumi pada jam 1 lewat 37 menit pagi hari. Kenyataan terjadi seperti yang disebutkan, bagaimana komentar antum?

Jawaban
Terkadang bisa diketahui waktu terjadinya gerhana bulan dan matahari lewat jalur perhitungan perjalanan bintang, dan demikian pula diketahui kondisi gerhananya secara total atau sebagian, dan tidak aneh dalam hal itu, karena bukan termasuk perkara gaib bagi setiap orang, namun termasuk ilmu gaib bagi orang yang tidak mengetahui perhitungan perjalanan bintang-bintang. Dan bukan termasuk ilmu gaib bagi orang yang mengetahui ilmu tersebut, karena ia bisa mengetahuinya dengan sebab yang biasa, yaitu dengan ilmu Falak.

Hal itu tidak meniadakan keadaan gerhana matahari dan bulan termasuk ayat dari ayat-ayat Allah Shubhanahu wa Ta’alla yang mengancam hamba-hamba-Nya agar kembali kepada Rabb mereka dan istiqamah atas taatnya kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Akan tetapi tidak boleh mempercayai dan mengamalkan perkataan mereka, karena mereka bisa keliru. Sesungguhnya yang jadi pegangan adalah melihat gerhana, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallhu’alihi wa salllam:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللّهِ, لاَيَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلكِنَّ اللهَ يُرْسِلُهُمَا يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ, فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذلِكَ فَصَلُّوْا وَادْعُوْا حَتَّى يُكْشَفَ مَا ِبكُمْ : رواه البخاري ومسلم

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Shubhanahu wa Ta’alla, kedua gerhana tidak terjadi karena kematian seseorang dan tidak karena kematiannya. Akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutusnya untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kamu melihat hal itu maka shalatlah dan berdoa hingga terbuka sesuatu yang ada padamu. ‘[1]

Wabillahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (8/322).

[Disalin dari  اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء  Fatwa :  هل معرفة توقيت الكسوف والخسوف من علم الغيب؟ Edisi Indonesia : Apakah Mengetahui Waktu Gerhana Matahari dan Bulan Termasuk Ilmu Gaib? Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2011 – 1432]
______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari 1040, 1063 dan Muslim 901, 915 dengan lafazh-lafazh yang berdekatan.

Al-Qur’an Menegaskan Allah Itu Sempurna

APAKAH ADA DALAM AL-QUR’AN YANG MENEGASKAN BAHWA ALLAH ITU SEMPURNA TIDAK ADA KEKURANGANNYA

Pertanyaan
Apakah ada di Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah itu sempurna tidak ada kekurangannya? Kalau tidak didapatkan disana nash, apakah orang Islam mempercayai bahwa Allah itu sempurna tidak ada kekurangannya?

Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama: Umat Islam bersepakat (ijmak) keyakinan bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat sangat sempurna. Dan Dia terlepas dari semua kekurangan sedikitpun juga. Perkataan para ulama Islam mutawatir mensifati Allah Ta’ala dengan kesempurnaan mutlak. Diantara hal itu adalah perkataan SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah rahimahullah ta’ala, “Kesempurnaan merupakan ketetapan untuk Allah. Bahkan yang tetap untuk-Nya puncak dari kesempurnaan yang menyeluruh. Dimana adanya kesempurnaan yang tidak ada kekurangannya kecuali Dia yang tetap untuk Tuhan yang berhak untuk Dirinya yang Maha suci. Penetapaan hal itu mengharuskan meniadaakan kebalikannya. Sehingga menetapkan Maha Hidup mengharuskan meniadakan kematian. Dan menetapkan ilmu mengharuskan meniadakan ketidak tahuan. Dan menetapkan kemampuan mengharuskan meniadakn kelemahan. Bahwa kesempurnaan ini tetap bagi-Nya dari sisi dalil akal dan dalil keyakinan. Disertai dalil-dalil sam’i –maksudnya nash wahyu- akan hal itu.” (Majmu Fatawa, 6/71).

Beliau mengatakan, “Ijma’ telah ada bahwa Allah Ta’ala tidak disifati dengan selain sifat sempurna.” Selesai dari ‘Bayan Talbis Jahmiyah, (2/330). Beliau menambahi, “Yang memperjelas lagi masalah itu adalah bahwa orang Islam bersepakat membersihkan Allah dari aib dan kekurangan. Bahwa Dia mempunyai sifak sempurna. Akan tetapi terkadang masih diperselisihkan sebagain masalah. Apakah kekurangan dalam penetapannya atau dalam peniadaannya akan metode mengetahui akan hal itu.”  (Minhaj Sunah Nabawiyah, 2/563).

Beliau juga mengatakan, “Dan diketahui bahwa telah ada ijmak tentang sucinya Allah dari sifat kurang mencakup kesucian dari semua kekurangan dari sifat perbuatan (fi’liyah) dan bukan perbuatan (non fi’liyah).” (Dar’u Ta’arud Aqli Wan Naql, 4/89).

Kemudian hal ini juga cakupan dari pemikiran yang bagus, bagaimana seseorang beribadah kepada Tuhan dengan tidak meyakini kesempurnaan secara mutlak. Atau berprasangka bahwa masih ada kekurangan ke Dzat-Nya. Atau sedikit dari sifat-Nya?

SyaikhulIslam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Kekurangan itu ditiadakan secara akal sebagaimana peniadaan secara sam’an (wahyu). Akal mengharuskan mensifati Subhana dengan sifat sempurna. Dan kekurangan itu kebalikan dari sifat sempurna.” (Syarh Asbahaniyah, no. 412).

Kemudian ia juga termasuk cakupan dari fitrah yang lurus yang tidak rusak. Dan tidak berubah dari asal penciptaannya. Sebagaimana Firman Allah ta’ala:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [ Ar-Rum/30: 30]

Syaikhul islam rahimahullah mengatakan, “Penetapan dengan Pencipta dan kesempurnaan-Nya sesuai dengan fitrah secara langsung bagi orang yang selamat fitrahnya. Disertai hal itu dengan dalil-dalil yang banyak. Terkadang kebanyakan orang  membutuhkan dalil ketika fitrahnya berubah dan kondisi yang menimpanya.” (Majmu Fatawa, 6/73).

Kedua: Sebagaimana perkataan Syaikhul Islam tadi, bahwa nash wahyu di antaranya ayat-ayat Qur’an telah menunjukkan penetapaan kesempurnaan untuk Allah Ta’ala. Akan tetapi yang harus diperhatikan pertama kali adalah bahwa makna dari kitab apa saja, tidak hanya diambil sisi dhohir lafadnya bahkan diperhatikan juga cara lain. Diantara cara yang disepakati orang-orang berakal pada setiap agama, bahwa makna yang diambil juga dengan istiqro’ (pendalaman) dan dengan isyarat. Dan dari kontek nash dan ruhnya dari dalil yang diakui dari lafad nash. Kalau kita perhatikan hal ini, maka mungkin kita katakan bahwa sifat sempurna meskipun tidak ada dengan lafad ini di Qur’an melainkan ayat-ayat Qur’an telah menunjukkannya dari berbagai sisi. Yang terpenting dan yang paling jelas adalah:

Sisi pertama: Dengan istiqro’ (pendalaman) nash Qur’an Karim kita dapatkan bahwa Allah ta’ala telah mensifati diri-Nya dengan sifat sempurna. Dimana Allah Ta’ala telah memberi nama pada diri-Nya dengan banyak sifat sempurna ini. Kemudian mensifati nama-nama-Nya dengan indah. Dalam banyak ayat Qur’an. Diantaranya hal itu firman Ta’ala:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [ Al-A’raf/7:180]

Kalau Allah Ta’ala disifati dengan sangat sempurna dalam keindahan. Hal ini mengharuskan meniadakan kebalikannya dari sifat kekurangan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Secara global (dalil) sam’i (wahyu) telah menetapkan bagi-Nya nama-nama yang indah dan sifat yang sempurna yang ada. Dan semua kebalikan itu, (dalil) sam’i (wahyu) meniadakannya. Sebagaimana meniaadakan bagi-Nya kesamaan dan kesetaraan. Sesungguhnya penetapan sesuatu itu meniadakan kebalikannya. Dan mengharuskan kebalikannya. Akal mengetahui peniadaan hal itu. Sebagaimana diketahui penetapan kebalikannya. Sehingga menetapkan salah satu kebalikannya itu meniadakan yang lainnya dan yang melazimkannya. Maka metode ilmu (pengetahuan) meniadakan apa yang bersih bagi Tuhan itu sangat luas.” (Majmu Fatawa, 3/84).

Oleh karena itu, Allah mengiringi sifat ini dengan –baginya Asmaul Husna (Nama-nama yang indah). Dalam ayat lain dengan menetapkan bahwa Dia layak untuk disucikan, Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [Al-Hasr/59:24]

Tasbih dalam bahasa adalah mensucikan. Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan, “Asal kata ‘Tasbih adalah membersihkan, mensucikan, lepas dari kekurangan. Kemudian digunakan di beberapa tempat yang mendekatkan (makna) lebih luas lagi.” (An-Nihayah Fi Goribil Hadits, 2/331).

Kalau sifat Allah semuanya sangat indah dan sangat sempurna yaitu Allah Subhanah disamping itu bersih dari semua kekurangan. Ini sebagai dalil dari Qur’an yang jelas akan kesempurnaan Allah Subhanahu wata’ala

Sisi kedua: Telah ada dalam ayat Qur’an yang banyak akan pengagungan Allah dan perintah akan hal itu. Tasbih dalam bahasa seperti tadi adalah penyucian. Dan penyucian Allah Ta’ala mengandung peniadaan semua kekurangan. Kalau meniadakan semua kekurangan Allah Ta’la tidak tersisa dari sifat-Nya melainkan yang menunjukkan kesempurnaan. Karena mencakup penyucian untuk kesempurnaan Allah Ta’ala. Banyak ayat yang menyandingkan hamdillah (pujian kepada Allah) karena merasakan kesempurnaan ini bahkan menjadi suatu keharusan-Nya. Sebagaimana firman Ta’ala:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam” [As-Shofat/37: 180-182]

Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsiri ayat ini mengatakan, “Allah Ta’ala membersihkan dirinya Yang Mulia, mensucikan dan berlepas diri dari apa yang dikatakan orang-orang dolim, pendusta dan melampai batas.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  maksudnya bagi-Nya seluruh pujian pertama dan terakhir pada setiap kondisi. Ketika pensucian mengandung pembersihan dan berlepas dari kekurangan dengan dalil yang bersesuaian. Menjadi suatu keharusan menetapkan kesempurnaan. Sebagaimana pujian (Al-Hamdu) menunjukkan akan penetapan sifat sempurna secara kesesuaian. Dan menjadi suatu keharusan meniadakan dari kekurangan. Menyandingkan diantara keduanya (tasbih dan hamd) di tempat ini. Dan pada banyak tempat di Al-Qur’an.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/46).

Sisi ketiga: Ketika kita telah mengetahui seperti tadi bahwa Allah mensucikan diri-Nya dari semua kekurangan, hal ini mengharuskan darinya tidak disifati kecuali dengan apa yang layak dipuji untuk-Nya. Maka Allah Ta’ala kabarkan  bahwa dalam sifat terpuji ini lebih tinggi dari sifat makhluk. Tidak dapat diketahui seorangpun. Ini adalah sangat sempurna. Maka Allah berfirman menjelaskan akan ketinggian dari makhluk-Nya dzat dan sifatnya:

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ، رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai ‘Arsy” [Ghafir/40: 14-15]

Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[Ar-Rum/30: 27].

Dan (Allah) meniadakan persamaan dengan seorangpun dari makhluknya, seraya berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”[ Asy-Syuro/42: 11]

Semuanya ini mengisyaratkan sangat sempurna dalam sifat Allah Ta’ala

Sisi keempat: Sesungguhnya Allah memberi nama untuk diri-Nya dengan banyak nama, masing-masing menunjukkan keumuman kesempurnaan-Nya Ta’aa dan berlepas dari semua kekurangan. Diantaranya adalah:

1.Al-Quddus. Allah Berfirman

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [ Al-Jumah/62: 1]

Ibnu Atsir rahimahullah mengatakan tentang asma Allah Ta’ala ‘Al-Quddus’ adalah suci dan bersih dari seluruh aib. Dan kata ‘Fa’ul’ termasuk bentuk mubalagoh (menunjukkan kesempurnaan).” (An-Nihayah, 4/23).

2. As-Salam. Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَام

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera.”[ Al-Hasyr/59: 23]

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Ketika kata ‘As-Salam’ salah satu nama Tuhan Tabaroka wata’ala, pada asalnya ia adalah isim masdar seperti kata ‘Kalam dan ‘Atho’. Maka Tuhan Ta’ala lebih berhak dari selain-Nya. Karena kata ‘Salim’ adalah selamat dari seluruh aib, kekurangan dan celaan. Karena bagi-Nya kesempurnaan mutlak dari seluruh sisi. Dan kesempurnaan-Nya termasuk suatu keharusan dari Dzat-Nya. Tiada lain kecuali itu. Kata ‘As-Salam’ mengandung keselamatan perbuatan-Nya dari kesia-siaan, kedholiman dan menyalahi hikmah. Dan keselamatan sifat-Nya dari penyerupaan sifat makhluk, selamat Dzat-Nya dari semua kekurangan dan aib. Selamat nama-nama-Nya dari semua celaan. Maka nama ‘As-Salam’ mengandung penetapan semua kesempurnaan bagi-Nya dan mencabut semua kekurangan dari-Nya. Selesai dari ‘Ahkam Ahlu Dzimmah, (1/413-414).

3. As-Somad. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، اللَّهُ الصَّمَدُ  

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu” [Al-Ikhlas/112: 1-2)

Diriwayatkan Tobari dalam tafsirnya, (24/736) dari Ibnu Abbas dalam firman-Nya ‘As-Somad’ surat Al-Ikhlas: 2. Adalah Tuan yang telah sempurna kekuasaan-Nya. Maha Mulia yang telah sempurna kemulyaan-Nya. Maha Agung yang telah mencakup keagungan-Nya. Dan Maha Lembut yang telah sempurna kelembutan-Nya. Maha Kaya yang telah sempurna kekayaan-Nya. Maha Perkasa yang sempurna keperkasaan-Nya. Maha Mengetahui yang telah sempurna keilmuan-Nya. Maha Bijaksana yang telah sempurna kebijaksanaan-Nya. Dia yang telah sempurna semua bentuk kemulyaandan kekuasaan. Yaitu Allah subhanahu dari siafat-sifat-Nya. Tidak layak kecuali untuk-Nya

Syaikh Muhammad Amin Sinqithi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan, “Kata As-Somad’ adalah Tuan. Yang tergantung kepada-Nya ketika dalam kondisi kesulitan dan butuh. Sebagian mengatakan, “Ia adalah Tuan yang sangat sempurna kekuasaan, kemulyaan, keagungan, ilmu dan hikmah-Nya. Sebagian lagi mengatakan, “Kata As-Somad adalah Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. Sehingga (ayat) setelahnya ada penafsirannya. Sebagian mengatakan, “Dia yang Tetap ada setelah hancur makhluk-Nya. Sebagian mengatakan,”Kata ‘As-Somad’ adalah tidak ada rongga, tidak makan makanan. Yang dikenal dalam perkataan arab ketika penamaan as-somad adalah untuk tuan yang agung. Dan kepada sesuatu musommat adalah yang tidak ada rongga. Ketika anda mengetahu hal itu, maka Allah Ta’ala adalah Tuan Dia saja tempat kembali ketika dalam kondisi sulit dan butuh. Dia Yang bersih dan suci dan tinggi dari sifat makhluk. Seperti makan makanan dan semisalnya. Subhanahu wa ta’ala dari hal itu (terlepas dari hal itu) yang sangat tinggi sekali. selesai dari ‘Adwaul Bayan, (2/220-221).

4. Al-Hamid, Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ  

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” [Fatir/35: 15]

Al-Khattabi rahimahullah mengatakan, “Kata ‘Al-Hamid’ adalah yang dipuji berhak mendapatkan pujian dengan prilaku-Nya. Ia ikut wazan ‘Fa’iil’ dengan arti ‘Maf’uul’ Dia yang dipuji dalam kondisi senang maupun susah. Kekurangan maupun kelapangan. Karena Dia Maha Bijaksana, dalam prilaku-Nya tidak pernah salah. Dan tidak pernah melakukan kesalahan. Dia yang dipuji dalam segala kondisi.” Selesai dari ‘Sya’nu Doa, hal. 78.

Wallahu a’lam .
Disalin dari islamqa

Kenapa Allah Berbicara Dengan Sighoh Jama’ dan Mufrad

KENAPA ALLAH BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN SIGHOH JAMA’ (PLURAL/BANYAK) DAN MUFRAD (SENDIRI)

Pertanyaan.
Kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara di Al-Qur’an Al-Karim terkadang menggunakan kata jama’ (banyak /plural)?

Jawaban
Alhamdulillah.

Jawabannya ada dua macam,
Pertama. Jawaban secara global. Hendaknya seorang mukmin berkeyakinan bahwa semua perbuatan Allah tidak lain pasti ada hikmah yang tinggi dan tujuan yang terpuji. Hal itu tidak harus setiap orang mengetahui hal ini. Dan ini termasuk salah satu bentuk ujian sebagaimana Firman-Nya, ‘Kami menguji kamu semua agar mengetahui siapakah yang paling bagus amalannya.’

Kedua. Jawaban secara rinci. Al-Qur’an datang dengan memakai bahasa Arab, dan dalam bahasa arab, penggunaan jama’ (banyak) dibenarkan untuk satu. Sebagaimana penggunaan mufrad (satu) untuk satu. Akan tetapi penggunaan jama’ itu untuk pengagungan. Tidak seorangpun yang lebih agung dibandingkan Allah. maka penggunaan kata mufrad (satu) untuk menegaskan Dia hanya satu tidak disekutukan dengan lainnya. Sementara penggunaan kata jama’ untuk menegaskan keagungan-Nya Subhanahu.

Ibnu Taimiyah rahimahullah mempunyai perkataan yang dapat kita ambil manfaatnya dalam masalah ini, di kitab ‘Majmu’ Fatawa, 5/128: “Sementara qurb (dekat) yakni dekat dengan Allah, maka terkadang digunakan dengan kata mufrad (satu) seperti firman-Nya:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ

Kalau hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang diri-Ku. Maka sesungguhnya Saya itu dekat, Saya akan mengabulkan orang yang berdoa.’[Al-Baqarah/2 : 186]

Dan dalam hadits

إِنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ

Sesungguhnya yang kamu semua minta (doa) itu lebih dekat kepada salah satu diantara kamu semua dibandingkan dengan leher kendaraan (unta)

Terkadang menggunakan dengan kata jama’ (plural) seperti firman-Nya:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat dengannya dibandingkang dengan urat nadi.’

Dan ini seperti firman-Nya, ‘Kami bacakan kepada kamu semua’ ‘Kami ceritakan kepada anda’. Kata ‘Kami bacakan’ dan ‘Kami ceritakan’ dan semisalnya, penggunaan kata ini dalam ucapan arab untuk satu yang agung yang dia mempunyai pembantu yang mentaatinya. Kalau pembantunya melakukan sesuatu dengan perintahnya. Dia mengatakan, ‘Kami itelah melaksanakannya. Sebagaimana perkataan raja, ‘Kami taklukkan negara ini dan kami kalahkan tentara ini. Dan semisal itu.

Silahkan lihat jawaban lengkapnya pada perkataan yang penting di soal no. 606.

Wallahu’alam .
Disalin dari islamqa

Maksud Penggunaan Dhamir (Kata Ganti) ‘نحن’ (Kami) Dalam Al-Quran

MAKSUD PENGGUNAAN DHAMIR (KATA GANTI) نحن (KAMI) DALAM AL-QUR’AN

Pertanyaan
Mengapa Al-Quran menggunakan kata ‘kami’ dalam ayat-ayat-Nya? Banyak orang non muslim yang mengatakan bahwa hal itu memberikan isyarat kepada Nabi Isa

Jawaban
Alhamdulillah.
Di antara uslub (metode) bahasa Arab adalah bahwa seseorang dapat menyatakan tentang dirinya dengan kata ganti ‘nahnu’ (kami) untuk menunjukkan penghormatan. Atau dia menyebut dirinya dengan dhamir (kata ganti) أنا (saya) atau dengan kata ganti ketiga seperti هو (dia). Ketiga metode ini terdapat dalam Al-Quran dan Allah Ta’ala menyampaikan kepada bangsa Arab apa yang dipahami dalam bahasa mereka..” (Fatawa Lajnah Daimah, 4/143)

Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menyebutkan dirinya dengan sighoh mufrad (sendiri) secara nampak atau mudhmar (tersembunyi). Tekadang dengan shigoh jama’. Seperti firman-Nya, اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ  Sesungguhnya kami telah taklukkan bagi kamu (Muhammad) dengan penaklukan yang nyata. dan semisal itu. Dan tidak pernah menyebutkan nama-Nya dengan shighoh tatsniyah (bentuk dua). Karena shigoh jama’ mengandung pengagungan yang layak bagi-Nya. Terkadang menunjukkan makna nama-nama-Nya. Sementara sighoh tatsniyah (bentuk dua) menunjukkan bilangan tertentu. Dan Dia tersucikan dari itu. selesai (‘Al-Aqidah At-Tadmuriyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 75).

Lafaz (إنا ) dan (نحن) atau selainnya termasuk bentuk jamak, tapi dapat diucapkan untuk menunjukkan seseorang yang mewakili kelompoknya, atau dapat pula disampikan mewakili seseorang yang agung. Sebagaimana dilakukan oleh sebagian raja apabila mereka mengeluarkan keputusan atau ketetapan, maka dia berkata, “Kami tetapkan…” atau semacamnya, padahal dia yang menetapkan itu hanyalah satu orang. Akan tetapi diungkapkan demikian untuk menunjukkan keagungan.

Maka yang paling berhak diagungkan oleh setiap orang adalah Allah Azza wa Jalla. Maka jika Allah mengatakan dalam Kitab-Nya, (إنا), sesungguhnya Kami, atau (نحن), kami, itu adalah bentuk pengagungan, bukan menunjukkan bilangan. Kalau ayat semacam ini membuat bingung seseorang dan menimbulkan keraguan baginya, maka dia harus merujuk kepada ayat-ayat yang telah jelas maknanya. Jika seorang Nashrani misalnya berkata bahwa ayat.

مَا نُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ اِلَّا بِالْحَقِّ وَمَا كَانُوْٓا اِذًا مُّنْظَرِيْنَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharany.” [Al-Hijr/15: 9]

Dan semacamnya, menunjukkan bahwa Tuhan berbilang, maka kita jawab mereka dengan ayat muhkam (yang telah jelas maknanya), seperti firman Allah Ta’ala,

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang“[Al-Baqarah/2:163]

Atau firman-Nya,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ

Katakanlah; Dialah Allah Yang Maha Esa“[Al-Ikhlas/112: 1]

Dan ayat semacamnya yang hanya mengandung satu makna. Maka ketika itu akan hilanglah kerancuan bagi mereka yang menginginkan kebenaran. Maka, seluruh bentuk kata ganti jamak yang Allah sebutkan untuk menyatakan diri-Nya adalah sebagai penjelas keagungan diri-Nya, serta banyaknya nama-nama dan sifat-sifat-Nya, juga banyaknya tentara-tentara-Nya dari kalangan malaikat.

Hendaknya dibaca kembali Kitab Al-Aqidah At-Tadmuriah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 109.

Wallahu Ta’ala A’lam.
Disalin dari islamqa

Penjelasan Tentang Sifat Istiwa, Betis, Wajah Adalah Milik Allah

PENJELASAN TENTANG SIFAT ISTIWA, BETIS, WAJAH ADALAH MILIK ALLAH. APAKAH TUBUH TERMASUK SIFAT ALLAH TA’ALA

Pertanyaan
Saya mendengar kalangan salafiyyin meyakini dengan makna literal tentang sifat Allah Ta’ala. Yaitu mereka beriman bahwa Allah berada di atas Arasy-Nya dan bahwa Dia memiliki tubuh, wajah, betis. Aku berlindung kepada Allah. Apakah hal tersebut benar?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama: Baik sekali jika anda menghubungi kami untuk mengenal hakikat aqidah kaum salafiyyin. Sehingga dapat mengenal apa yang mereka iman dalam bab sifat-sifat Allah Ta’ala serta mengetahui bantahan mereka atas tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada mereka oleh musuh-musuh mereka serta orang-orang yang bodoh di antara mereka.

Kedua: Prinsip kalangan salafiyyin dalam masalah nama-nama Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya adalah prinsip para pendahulu mereka dari kaum salaf umat ini, khususnya para shahabat yang mulia serta para tabiin yang terhormat, dengan kemudian prinsip ini menjadi pokok yang disepakati oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Yaitu:

  1. Mereka menetapkan apa yang Allah Ta’ala tetapkan untuk dirinya dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tanpa merubah (tahrif), menyerupakan (tamtsil) dan menggugurkan (ta’thil).
  2. Mereka menafikan apa yang Allah nafikan untuk diri-Nya dan apa yang dinafikan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
  3. Terkait dengan sifat yang tidak dinyatakan penetapannya (itsbat) dan penafiannya (nafy), maka mereka tidak berkomentar sebelum diketahui makna yang dimaksud. Jika maknanya ternyata rusak, maka mereka nafikan lafaz dan maknanya, jika maknanya benar, maka tetapkan maknanya tapi bukan lafaznya.

Ketiga: Kita akan praktekkan prinsip yang agung ini terkait dengan sifat-sifat yang anda sebutkan;

1. Allah Ta’ala telah menetapkan sifat ‘Bersemayam (istiwa) di atas Arasynya’  dalam banyak tempat dalam Al-Quran;

Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى 

“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaha/20: 5]

ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

Lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. ” [Al-A’raf/7: 54.  Yunus/10: 3.  Ar-Ra’du/13: 2. Al-Furqan/25: 59.  As-Sajdah/32: 4. Al-Hadid/57: 4]

Istiwa (bersemayam) merupakan sifat fi’liyah (sifat perbuatan) bagi Allah Ta’ala. Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkannya sesuai dengan makna yang layak bagi-Nya, tanpa dirubah (tahrif) maknanya, sebagaimana yang dilakukan oleh ahli ta’wil yang merubah maknanya menjadi ‘menguasai‘ (istii’la)! Tidak juga diserupakan dengan bersemayamnya makhluk, karena sesungguhnya Allah tidak ada satupun yang menyerupai dzat-Nya dan tidak ada satupun yang menyerupai sifatnya.

Ucapan Imam Malik bin Anas Radhiyallahu anhu dalam masalah sifat yang mulia ini akan tetap menjadi kaidah bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam seluruh bab sifat. Meskipun pertanyaannya khusus tentang sifat istiwa yang sedang kita bicarakan ini. Beliau pernah ditanya tentang bersemayamnya Allah, bagaimana hakikatnya. Maka beliau menjawab,

الاستواء معلومٌ ، والكيف مجهولٌ ، والإيمان به واجبٌ ، والسؤال عنه بدعة.

Istiwa telah diketahui, caranya majhul (tidak diketahui), beriman dengannya adalah wajib, bertanya tentangnya adalah bid’ah

Riwayat Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah (3/441), Baihaqi dalam Al-Asma wa Sifat (hal. 408) dishahihkan oleh Az-Zahabi, Syaikhul Islam dan Al-Hafiz Ibnu Hajar. Lihat Mukhtashar Al-Uluw (hal. 141), Majmu Fatawa (5/365), Fathul Bari (13/501). Ada beberapa redaksi yang berdekatan dengan makna yang sama.

Istiwa (bersemayam) telah diketahui, maksudnya telah diketahui maknanya dalam bahasa Arab. Sedangkan tata caranya tidak diketahui. Beriman kepadanya wajib. Bertanya tentangnya, maksudnya tentang caranya, merupakan bid’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Perkara istiwa di atas Arasy telah ditetapkan berdasarkan Al-Quran dan Sunnah serta kesepakatan pendahulu (salaf) umat ini serta para tokoh ulamanya. Bahkan dia telah ditetapkan dalam seluruh kitab yang diturunkan dan oleh seluruh nabi yang diutus.” (Majmu Fatawa, 2/188)

Ibnu Qayim rahimahullah berkata dalam rangka membantah orang yang hendak mengubah sifat istiwa atau hendak menggugurkannya, “Apa yang mereka nyatakan adalah batil dari empatpuluh dua sisi;

Salah satunya, bahwa kata istiwa dalam bahasa Arab yang Allah jadikan sebagai bahasa untuk menurunkan firman-Nya dan menyampaikannya kepada kita, terdiri dari dua macam ; Mutlak dan Muqayyad (terikat). Yang dimaksud mutlak adalah yang mengantarkan pada sebuah makna tanpa bantuan huruf lain. Seperti firman Allah Ta’ala,

وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسْتَوٰىٓ

Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya” [ Al-Qasas/28: 14].

Yang ini artinya; Sempurna. Maka dikatakan استوى النبات (tumbuhan itu sempurna) dan استوى الطعام makanan telah matang.

Adapun yang bersifat muqayyad ada tiga macam;

Pertama, terikat dengan “إلى” seperti firman-Nya:

ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ

[Al-Baqarah/2: 29]. Yang ini bermakna ‘tinggi’ dan ‘di atas’ berdasarkan ijmak kaum salaf.

Kedua, terikat dengan katan “على” seperti firman-Nya:

لِتَسْتَوٗا عَلٰى ظُهُوْرِهٖ

[Az-Zuhhruf/43 : 13]. Inipun maknanya adalah tinggi, di atas dan tegak, berdasarkan kesepatakan ahli bahasa.

Ketiga, disandingkan dengan huruf ‘و’ seperti ungkapan. استوى الماء الخشبة maksudnya adalah bahwa air sudah sejajar dengan kayu.

Inilah makna yang masuk akal berdasarkan ucapan mereka (dalam bahasa Arab). Tidak ada sama sekali yang bermakna ‘استولى‘ (menguasai). Tidak ada satupun dari ahli bahasa yang ucapannya dijadikan pedoman mengatakan demikian. Akan tetapi hal tersebut dikatakan oleh ahli tata bahasa (nahwu) di masa belakangan yang menempuh jalan kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah. (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 371-372)

2. Allah Ta’ala telah menetapkan bagi diri-Nya, sifat ‘الوجه’ (wajah), demikian pula Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menetapkannya demikian. Maka kaidah syariah disini berlaku; Yaitu kita menetapkan sifat Allah Ta’ala ini tanpa merubah maknanya bahwa dia merupakan ‘dzat’ dan juga tidak menyerupakannya, sehingga kita mengatakan bahwa wajahnya seperti wajah salah seorang dari makhluk-Nya, atau tidak boleh menggugurkannya sama sekali sebagai sifat. Dalil tentang sifat ini cukup kita ambil dari satu dari Al-Quran dan satu lagi dari Sunah.

a. Firman Allah Ta’ala,

وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ

[Ar-Rahman/55: 27]. “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”

Abu Hasan Al-Asy’ari rahimahullah berkata, Allah Azza wa Jalla berfirman,   وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman/55: 27). Dia telah mengabarkan bahwa diri-Nya memiliki wajah yang tidak akan binasa dan tidak akan hancur.” (Al-Ibanah, hal. 77)

Beliau juga berkata, “Siapa yang bertanya kepada kami, ‘Apakah kalian berpendapat bahwa Allah Ta’ala memiliki wajah?”  Maka dikatakan kepadanya, “Kami berkata demikian, berbeda dengan apa yang  dikatakan oleh ahli bid’ah. Dan hal itu telah ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala, “Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Al-Ibanah, hal. 78-79)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Semua yang berada di muka bumi, baik dari kalangan jin dan manusia, seluruhnya akan binasa, dan yang kekal tetaplah wajah tuhanmu wahai Muhammad (pemilik kebesaran dan kemuliaan). Kalimat ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) merupakan na’at (sifat) dari kata ‘الوجه’ karena itu dia dibaca marfu‘ ‘ذو’ . Diriwayatkan bahwa dia dalam qiraat Abdullah dibaca ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) yaitu sebagai sifat bagi bagi ‘الرب’ (Jami’ul Bayan, 27/134)

Apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Masud radhiallahu anhu (dibaca ذي الجلال) tidaklah benar. Yang disepakati adalah bacaan marfu’.

Syekh Abdul Fattah Al-Qadhi rahimahullah berkata, “Ibnu Amir membaca, ( تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) dengan ‘و’ sedangkan yang lainnya membaca ( ذِي الْجَلَالِ ) dengan ‘ي’ sementara dalam tulisannya dengan ‘و’ . Adapan firman Allah Ta’ala, ( وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) telah disepakati bacaannya dengan ‘و’ begitu penulisannya dengan ‘و‘ daam semua mushaf Utsmani. (Al-Wafi Fi Syarh Syatibiyah, hal. 366)

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah, firman-Nya ‘ ( ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ ) saat menyebutkan ‘الوجه’, sementara dibaca jar dalam firman-Nya ( تَبَارَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (Ar-Rahman/55: 78). Maka ‘ذو’ menunjukkan bahwa ‘wajah’ dikaitkan dengan keagungan dan kemuliaan, ketika tujuannya hendak mengabarkannya. Sedangkan ‘ذي’ yang disandingkan dengan ‘kemuliaan dan keagungan’ di akhir surat tujuannya adalah menunjukkan dzat yang disebut, bukan namanya. Maka hendaknya hal ini diperhatikan.” (Mukhtashar Ash-Shawa’iq, hal. 409)

b. Imam Bukhari rahimahullah berkata, “Bab firman Allah Ta’ala, ‘ ( كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ) Segala sesuatu binasa kecuali wajah-Nya.” [Al-Qashash/28: 88]”

Kemudian beliau meriwayatkan hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu, dia berkata, ‘Ketika turun ayat berikut ”

 ( قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ )

Katakanlah: ” Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”  ( أَعُوذُ بِوَجْهِكَ ) Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya,

( أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ ) Atau dari bawah kakimu.” [Al-An’am/6: 65]

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” ( أَعُوذُ بِوَجْهِكِ ) Aku berlindung dengan wajah-Mu.” Lalu diturunkan lagi ayat kelanjutannya, ( أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا) “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan).”

Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” ( هذا أَيْسَرُ ) Ini perkaranya mudah.”

Imam Ibnu Khuzaimah rahimahullah berkata, “Kami dan seluruh ulama kami, baik dari Hijaz, Tihama, Yaman, Irak, Syam, Mesir, mazhab kami adalah bahwa kami menetapkan bagi Allah apa yang telah Dia tetapkan untuk diri-Nya. Kami tetapkan hal itu dengan lisan kami dan kami benarkan dalam hati kami, tanpa menyerupai wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari kalangan makhluk. Maha suci Tuhan kami dari keserupaan dengan makhluk-Nya. Maha suci Tuhan kami dari pendapat orang-orang yang tidak mempercayai adanya sifat Allah.” (Kitab Tauhid, 1/18)

3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan sifat ‘الساق’ (betis). Maka kaidah syar’iah di sini adalah; Menetapkan sifat Allah tersebut tanpa merubah maknanya dengan makna ‘الشدة’ (bencana berat), tidak boleh menyerupakannya dengan makhluk, seperti kita serupakan dengan betis makhuk atau kita tiadakan sama sekali sifat tersebut.

Di antara dalil tentang sifat ini adaah:
Hadits Abu Said Al-Khudry, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

(فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ )

“… Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” (HR. Bukhari, no. 7001)

Ibnu Qoyim rahimahullah berkata, “Yang menetapkan hal tersebut sebagai sifat seperti kedua tangan atau jari, mereka tidak mengambilnya dari zahir Al-Quran, akan tetapi mereka menetapkannya dari hadits Abi Said Al-Khudry yang diriwayatkan muttafaq alaih, yaitu hadits tentang syafaat yang panjang, di dalamnya terdapat sabda beliau, “فيكشف الرب عن ساقه فيخرون له سجَّدًا  Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Siapa yang mengartikan ayat dengan hadits tersebut, mereka berkata bahwa firman Allah Ta’ala,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; Maka mereka tidak kuasa” [Al-Qalam/68: 42]

Sesuai dengan sabdanya, “… ( فيكشف عن ساقه فيخرون له سجدًا ).  Lalu Dia menyingkap betisnya, maka sujudlah seluruh orang beriman kepada-Nya…” Bahwa kata ‘ساق’ dinyatakan dalam bentuk nakirah (tidak disandingkan dengan lafaz ‘Allah’) adalah untuk menunjukkan keagungan dan kebesaran. Seakan hendak dikatakan, ‘(Hari itu) itu disingkap betis yang agung, yang keagungannya tidak ada yang menandingi dan menyerupainya. Mereka berkata bahwa memaknai kalimat ini dengan arti ‘bencana berat’ tidak dibenarkan dari satu sisi; yaitu karena dalam ungkapan sehari-hari, ungkapan dengan makna seperti itu (bencana berat)  dikatakan  كشفت الشدة عن القوم (Bencana telah hilang dari suatu kaum), bukan dengan kata ‘كُشف’ (disingkap), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الْعَذَابَ اِذَا هُمْ يَنْكُثُوْنَ 

Maka tatkala Kami hilangkan azab itu dari mereka, dengan serta merta mereka memungkiri (janjinya).” [Az-Zukhruf/43: 50]

وَلَوْ رَحِمْنٰهُمْ وَكَشَفْنَا مَا بِهِمْ مِّنْ ضُرٍّ

Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudharatan yang mereka alami.” [Al-Mukminun/23: 75]

Azab dan bencana adalah dihilangkan, bukan yang disingkap. Demikian pula disana terjadi kondisi yang berat dan terus terjadi kecuali setelah masuk surga. Sedangkan makna yang ini tidak diserukan sujud, akan tetapi mereka diserukan kepada yang lebih besar dari bencana tersebut.” (Ash-Shawaiq Al-Mursalah, 1/252-253)

4, Lafaz ‘الجسد‘ tidak ada penyebutannya bagi Allah Ta’ala, tidak dalam bentuk penetapan, tidak pula dalam bentuk peniadaan. Kaidah Ahlussunnah dalam masalah seperti ini; Tidak boleh disandingkan kepada Allah Ta’ala dan dinisbatkan kepadanya. Karena mensifati Allah dengan sesuatu tidak dibolehkan kecuali dengan dalil yang shahih berdasarkan Kitabullah dan sunah Nabinya shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula, tidak boleh dinafikan hanya karena tidak ada dalil yang menetapkannya. Akan tetapi hendaknya diperinci tentang hal tersebut; Jika maknanya batil dalam syariat, maka kita harus nafikan makna yang batil tersebut, juga dinafikan redaksinya yang bid’ah. Apabila maknanya benar, maka kita tetapkan makna yang benar dan hendaknya  kita gunakan lafaz syar’i yang menunjukkan hal tersebut, kecuali jika ada tuntutan dalam penggunaan lafaz yang bid’ah dengan disertai maknanya yang benar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Wajib diperhatikan dalam bab ini. Apa yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya, maka kita tetapkan dan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya, maka kami nafikan. Kalimat yang tertera dalam nash, itulah yang dijadikan pedoman, baik dalam penetapan dan penafian. Maka kita tetapkan lafaz dan makna yang telah ditetapkan oleh nash dan menafikan lafaz dan makna yang telah dinafikan oleh nash. Adapun lafaz yang dipertentangkan dari kalangan generasi belakangan, seperti lafaz ‘الجسم’ (tubuh), ‘الجوهر’ (inti), ‘المتحيز’ (tersimpan), ‘الهجة’ (arah) dan semacamnya, maka kita tidak meniadakannya atau menetapkannya secara mutlak sebelum mengetahui maksud yang berkata. Jika yang dia maksud dengan meniadakan atau menetapkan memiliki makna yang benar sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka dibenarkan makna yang dimaksud dalam lafaz tersebut, akan tetapi seharusnya diucapkan dengan lafaz yang terdapat dalam nash, tidak menggunakan lafaz-lafaz bid’ah tersebut dan yang bersifat umum, kecuali jika dibutuhkan dengan tetap menjelaskan korelasi yang menjelaskan tujuannya. Kebutuhan misalnya jika menyampaikan kepada orang yang tidak dapat menangkap tujuannya dengan sempurna kecuali disampaikan dengan lafaz tersebut. Adapun jika makna yang dimaksud adalah batil, maka hendaknya makan tersebut dinafikan. Jika terkumpul antara makna yang hak dan makna yang batil, maka yang hak ditetapkan dan yang batil ditiadakan”.(Minhajus-Sunah, 2/554-555). Beliau telah menjelaskan panjang lebar saat membicarakan lafaz ‘الجسم’. Hendaknya dibaca, karena masalah ini penting.

Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Masalah ‘الجسمية’ (tubuh) tidak terdapat dalam Al-Quran maupun Sunah, baik dalam bentuk penetapan atau peniadaan. Akan tetapi, terkait dengan lafaz tersebut kita katakan bahwa kami tidak menafikan atau menetapkan. Tidak kita katakan, tubuh yang bukan tubuh. Akan tetapi, terkait maknanya, maka hendaknya kita rinci dan bertanya kepada yang berkata, ‘Apa yang engkau maksud dengan ‘الجسم’? Apakah yang engkau maksud adalah sesuatu yang berdiri sendiri dan memiliki sifat yang layak untuk-Nya, yang berbuat dengan kehendaknya, mennggenggam dan membuka? Jika itu yang engkau maksud, maka itu hak dan maknanya benar. Sebab Allah Ta’ala berdiri dengan sendirinya dan melakukan apa yang Dia kehendaki. Dia memiliki sifat yang layak dengan-Nya, dia mengambil, menggenggam dan membuka. Menggenggam seluruh langit dengan tangan-Nya dan menggerakkannya. Jika yang engkau maksudkan dengan ‘الجسم’ adalah sesuatu yang satu sama lain saling membutuhkan dan tidak dikatakan sempurna sebelum sempurnya anggota-anggotanya, maka hal itu tidak boleh bagi Allah, karena hal tersebut menunjukkan adanya kejadian dan ketersusunan. Ini perkara yang tidak boleh diyakini terhadap Allah Azza wa Jalla. (Syarh Al-Aqidah As-Safariniyah, hal. 18-19)

Kini engkau telah mengetahi wahai penanya, bahwa kaum salafi adalah orang yang paling berbahagia dengan Al-Quran dan Sunah. Mereka tidak meyakini sesuatu tentang dzat Tuhannya kecuali jika mereak mendapatkan dalil dari kedua rujukan yang bersumber dari wahyu. Kaidah mereka terhadap seluruh perkara yang mereka tetapkan bagi Allah Ta’ala, baik berupa nama, sifat dan perbuatan-Nya, adalah firman Allah Ta’ala, “ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ Tidak ada sesuatupun yang serupa dengannya.” [Asy-Syura/42:11].

Bahkan mereka sepakat bahwa siapa yang menyerupai Allah Ta’ala dengan makhuknya, maka dia kafir. Hendaknya tidak menghiraukan orang yang terpedaya, hendaknya berpegang teguh dengan buhul yang kuat dari nash-nash wahyu, maka akidahmu akan selamat dan anda akan mulia berada dalam kelompok yang selamat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam penjelasan tentang akidah Ahlussunnah wal Jamaah, “Mereka tidak menafikan sifat yang telah Dia tetapkan untuk dirinya. Mereka tidak merubah ucapan dari tempatnya, mereka tidak mengingkari nama Allah dan tanda-tanda kebesaran-Nya, mereka tidak meneliti bagaima sifatnya, tidak mengumpamakan dengan sifat makhluknya. Karena Allah Ta’ala tidak ada  yang menyamai-Nya, sebanding dengan-Nya dan menandingi-Nya. Dia tidak boleh diqiyaskan dengan makhluk-Nya. Karena Allah Ta’ala lebih mengetahui terhadap diri-Nya dan terhadap selain-Nya. Dia yang paling benar ucapannya dan paling bagus ucapannya. (Majmu Fatawa, 3/130)

Wallahua’lam .
Disalin dari islamqa

Hukumnya Mereka Yang Mentakwil Sifat-Sifat Allah -Ta’ala-

HUKUMNYA MEREKA YANG MENTAKWIL SIFAT-SIFAT ALLAH -TA’ALA-

Pertanyaan
Saya ingin bertanya tentang orang yang mengingkari sifat-sifat Allah, apakah dia masih sebagai seorang muslim atau bukan ?, seperti seseorang yang mengatakan bahwa maksud dari “Yadullah” adalah kekuatan Allah, dan mereka mentakwil sifat Allah, apakah mereka yang mengingkari Sifat-sifat Allah tersebut tidak lagi menjadi bagian dari Ahlus Sunnah atau mereka sudah dianggap telah keluar dari agama Islam secara keseluruhan ?

Jawaban
Alhamdulillah.

Pertama: Akidahnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada tauhid Asma’ dan Sifat adalah bahwa mereka beriman dengan apa yang ada di dalam Kitabullah –‘Azza wa Jalla- dan dengan apa yang telah ditetapkan riwayatkan dari Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tanpa ditakwil, diserupakan, dirubah dan ditiadakan, mereka mensifati Allah –Ta’ala- dengan sifat yang telah Dia sifati sendiri dan dengan sifat yang telah disifati oleh Rasul-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ibnu Abdil Bar –rahimahullah- berkata:
“Ahlus sunnah telah berkonsensus dalam meyakini Sifat-sifat Allah yang tertera di dalam al Qur’an dan Sunnah dan mengimaninya, dan membawanya kepada makna yang hakiki bukan kepada makna majas (kiasan), hanya saja mereka tidak menyerupakan dengan sesuatu apapun, dan mereka tidak membatasinya pada sifat tertentu. Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, semua Mu’tazilah dan Khawarij, mereka semua mengingkarinya, dan tidak membawa makna sifat-sifat Allah tersebut kepada makna yang hakiki”. (At Tamhid: 7/145)

Kedua: Barang siapa yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah secara keseluruhan dan menafikannya dari Allah –Ta’ala-, seperti halnya kelompok Batiniyyah, Jahmiyyah yang melampaui batas, maka dia adalah kafir, keluar dari agama, mendustakan al Qur’an dan sunnah dan mencederai ijma’ (konsensus) semua umat Islam.

Demikian juga seseorang yang mengingkari salah satu Sifat dan Nama Allah yang telah Dia tetapkan di dalam al Qur’an maka dia telah kafir; karena yang menjadi patokan kekufurannya adalah karena dia mendustakan al Qur’an.

Adapun bagi seseorang yang mentakwil sifat-sifat Allah, merubah dari makna-Nya yang sebenarnya, seperti seseorang yang mentakwil sifat Tangan Allah dengan kekuasaan, dan kata istawa (bersemayam) dengan kata istaula (menguasai) dan lain sebagainya, maka dia telah melakukan kesalahan pada takwilnya karena tidak sesuai dengan makna yang nampak jelas, termasuk pelaku bid’ah sesuai dengan kadar penyimpangannya terhadap sunnah, keluar dari jalannya ahlus sunnah wal jama’ah. Di situ ada unsur bid’ah yang sesuai dengan kadar penyimpangannya terhadap sunnah, akan tetapi dia tidak serta merta menjadi kafir karena takwil tersebut, karena bisa jadi dia dimaafkan dengan ijtihad dan takwilnya berdasarkan kondisi keilmuan dan keimanannya, yang menjadi ukuran adalah dalam rangka untuk mencari apa yang dibawa oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan keinginan kuat untuk mengikuti beliau.

Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata:
“Tidak boleh mentakwil sifat-sifat Allah, tidak juga mengalihkan dari makna yang dzahir yang sesuai dengan Allah, juga tidak menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada-Nya, semua itu termasuk keyakinan ahli bid’ah. Sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka tidak mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, mereka tidak mengalihkan dari makna yang dzahir, juga tidak menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah, akan tetapi mereka meyakini semua makna yang terkandung di dalamnya adalah benar dan paten milik Allah, yang layak untuk-Nya –subahanah- yang tidak serupa dengan makhluk-Nya”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 2/106-107)

Beliau –rahimahullah- juga pernah ditanya:
“Apakah Asy’ariyyah termasuk ahlus sunnah wal jama’ah atau tidak ?, apakah kita menghukumi mereka termasuk bagian dari madzhab atau mereka sebagai orang kafir ?”

Beliau menjawab:
“Asy’ariyyah termasuk Ahlus Sunnah pada mayoritas permasalahan, akan tetapi mereka tidak termasuk dalam ahlus sunnah ketika mereka mentakwil sifat-sifat Allah, mereka tidak termasuk orang kafir, bahkan di antara mereka terdapat para imam, para ulama, dan orang-orang pilihan, akan tetapi mereka telah melakukan kesalahan dalam hal mentakwil sebagian sifat-sifat, mereka telah menyelisihi ahlus sunnah dalam beberapa masalah; di antaranya adalah mentakwil mayoritas sifat-sifat Allah, mereka telah melakukan kesalahan dalam melakukan takwil, yang menjadi keyakinan ahlus sunnah adalah memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan yang ada, tanpa mentakwil, meniadakan, merubah, dan menyerupakan dengan sesuatu”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 28/256)

Syeikh Abdul Aziz Ar Rajihi pernah ditanya:
“Apakah jika telah ditetapkan bahwa ‘Asy’ariyah telah mentakwil sifat Allah, secara langsung mereka menjadi kafir ?

Beliau menjawab:
“Tidak, orang yang melakukan takwil, tidak serta merta menjadi kafir, orang yang mengingkari salah satu Nama dari Nama-nama Allah-lah yang menjadi kafir, Allah –Ta’ala- berfirman:

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ

Padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. [Ar Ra’du/13: 30]

Jika seseorang mengingkari salah satu dari Nama-nama atau sifat-sifat-Nya tanpa takwil maka ia telah menjadi kafir, Allah –Ta’ala- berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”.[Thaha/20: 5]

Jika seseorang telah mengingkari satu ayat saja maka dia telah kafir, namun jika dia mentakwilnya dengan kekuasaan maka terdapat syubhat pada dirinya, yang menghalanginya dari kekufuran.

Baca juga syarat-syarat pengkafiran pada diri seseorang pada jawaban soal nomor: 107105

Ketiga: Khawarij adalah salah satu firqoh sesat yang kafir yang telah dijelaskan sebelumnya dengan rinci pada jawaban soal nomor: 182237.

Wallahu A’lam.
Disalin dari islamqa

Allah Bersemayam di Atas Arsy-Nya, Sementara Dia juga Dekat Dengan Kita Dengan Ilmu-NYa

ALLAH BERSEMAYAM DI ATAS ARSY-NYA, SEMENTARA DIA JUGA DEKAT DENGAN KITA DENGAN ILMU-NYA

Pertanyaan
Allah berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : ” Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap ) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun ” . Apakah hal ini menunjukkan bahwa Allah mengatur semua urusan dunia sementara Dia (Allah) bersemayam di atas Arsy? Kalau begitu bagaiaman Allah lebih dekat kepada kita dibandingkan dengan urat nadi kita ?

Jawaban
Alhamdulillah.
Segala puji hanya milik Allah semata.

Telah ada dalam Al-Qur’an, hadits dan konsesus ( Ijma’ ) ulama’ bahwa Allah di Atas langit, bersemayam di Arsy dan Dia Maha Tinggi sekali. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya dalam waktu enam hari dan Dia Diatas segala sesuatu dan tidak ada lagi diatasnya setelah itu. Allah berfirman :

اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ مَا لَكُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا شَفِيْعٍۗ اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ 

Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy, kenapa engkau mencari selain-Nya penolong dan perantara. Apakah kamu semua tidak mengingatnya “[As-Sajdah/32 : 4]

Firman Allah lainnya :

رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ

Tuhan kamu semua Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari. Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy mengurusi seluruh urusan “[Yunus/10 : 3]

Firman yang lainnya :  اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗDiangkat kepada-Nya perkataan yang baik dan amalan shalih “  diayat lain :  هُوَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۚ Dialah Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir, Yang Maha Tinggi dan Maha Batin”. Rasulullah sallallahu’alahi wasallam bersabda :  وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ  “Engkau Yang Maha Tinggi tidak ada diatas-Mu sesuatu apapun “. Ayat dan hadits seputar makna ini sangat banyak sekali. Meskipun begitu Allah juga memberitahukan bahwa Dia bersama hamba-Nya dimana saja, firmannya :  اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَآ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَانُوْاۚTidaklah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara ) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.”

Bahkan Allah juga menyebutkan akan Ketinggian-Nya bersemayam di atas Arsy akan tetapi bersama hamba-hamba-Nya dalam satu ayat. Seperti dalam firman-Nya :

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاۤءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَاۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْۗ 

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahu apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya. Dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada“.[Al-Hadid/57 : 4]

Bukan yang dimaksud bersama kami itu adalah harus menyatu dengan makhluk, akan tetapi bersama hamba-Nya dengan ilmu-Nya dan Dia diatas Arsy yang tidak akan tersembunyi sedikitpun dari seluruh pekerjaan mereka. Sementara firmna Allah : وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِDan Kami lebih dekat dibandingkan urat nadi ” kebanyakan ahli tafsir menafsirkan maksudnya adalah kedekatan dengan malaikat yang diwakilkan untuk mencatat seluruh amalan hamba-hamba-Nya.Dan bagi yang menafsirkan dengan kedekatan-Nya, maka ditafsirkan dengan kedekatan ilmu-Nya seperti yang dikatakan dalam masalah maiyyah (kedekatan) tadi.

Ini adalah pemahaman Ahlus sunnah wal jama’ah yang menetapkan akan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan bersama hamba-hamba-Nya. Meniadakan dari pendapat yang mengatakan menyatunya Allah dengan makhluk. Sementara Golongan Mu’attilah seperti Jahmiyah dan para pengikutnya mereka meniadakan ketinggian Dzat Allah di atas makhluk dan meniadakan bersemayam di Arsy-Nya. Pendapat mereka bahwasanya Allah ada di mana-mana. Kami memohon kepada Allah semoga umat islam mendapatkan hidayah yang benar.

Disalin dari islamqa

Tidak Ada Pertentangan Antara Turunnya Allah Ta’ala Ke Langit Dunia Dan Bersemayam-Nya Di Atas Arasy

TIDAK ADA PERTENTANGAN ANTARA TURUNNYA ALLAH TA’ALA KE LANGIT DUNIA DAN BERSEMAYAM-NYA DI ATAS ARASY

Pertanyaan
Ketika dilontarkan pertanyaan, ‘Di mana Allah?’ Maka jawabannya adalah, ‘Di atas langit yang tujuh dan di atas Arasy.’ Akan tetapi, jika kita mengambil hadits yang di dalamnya menunjukkan bahwa Allah turun ke langit dunia pada sebagian akhir malam, maka jika ditanya, ‘Di mana Allah?’ lalu ketika itu (saat pertanyaan itu dilontarkan) dia menjawab, ‘Di sepertiga malam terakhir.’ Maka apa jawaban yang dia katakan. Perkara lain lagi adalah bahwa sebagian orang ada yang berkata bahwa sebagian malam terakhir itu pada hakekatnya terus berlangsung setiap waktu (di sebuah tempat di muka bumi dan pada waktu tertentu), karena itu mereka berkesimpulan bahwa Allah tidak berada di arasy-Nya.

Jawaban
Alhamdulillah.
Pertama, yang diwajibkan kepada kita adalah mengenal aqidah Ahlussunah wal jamaah dalam hal nama dan sifat-Nya. Aqidah Ahlus sunnah wal jamaah adalah menetapkan apa yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam hal nama dan sifat, tanpa merubah, menggugurkan, menggambarkan bagaimananya dan menyerupakan. Mereka meyakini apa yang telah Allah perintahkan untuk diyakini. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” [Asy-Syura/42: 11]

Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya. Dia berfirman,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” [ Al-A’raf/7: 54]

Dia juga berfirman,

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.”[Thaha/20: 5]

Dan ayat lainnya yang didalamnya disebutkan istiwa (bersemayam)nya Allah Ta’ala di atas Arasy-Nya.

Istiwanya Allah Ta’ala di atas Arasynya adalah menunjukkan ketinggian dzatnya, yaitu ketinggian yang khusus sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak diketahui caranya selain Dia.

Terdapat riwayat dalam sunah yang shahih, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Allah Ta’ala turun dalam sepertiga malam terakhir.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ رواه البخاري( كتاب التوحيد/6940) ومسلم  صلاة المسافرين/1262 .

“Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia saat sepertiga malam terakhir. Lalu dia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Siapa yang memohon kepadaku, niscaya akan Aku berikan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, niscaya akan aku ampuni.” [HR. Bukhari, Kitab Tauhid, no. 6940, Muslim, Shalatul Musafirin, no. 1262]

‘النزول’ (turun) menurut Ahlus Sunnah artinya adalah, bahwa Allah Ta’ala turun dengan dzat-Nya ke langit dunia secara hakiki namun sesuai dengan kebesaran-Nya, dan tidak ada yang mengetahui caranya selain Dia.

Akan tetapi, apakah turunnya Allah Azza wa Jalla berarti dia harus meninggalkan Arasy-Nya atau tidak?
Syaikh Ibnu Utsaimin berkata terkait soal seperti itu, “Kami katakan bahwa soal seperti ini sebenarnya soal yang berlebih-lebihan dan tidak layak disampaikan. Karena kita dapat balik bertanya, ‘Apakah anda lebih bersungguh-sungguh dari para shahabat dalam memahami sifat Allah?’ Jika dia mengatakan, ‘Ya’, maka sungguh dia telah dusta. Jika dia katakan, ‘Tidak’ maka kita katakan, ‘Bersikaplah lapang seperti mereka bersikap lapang, mereka tidak menanyakan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, misalnya dengan berkata, ‘Wahai Rasulullah, jika Dia turun, apakah berarti Dia meninggalkan Arasy-Nya?’ Untuk apa anda bertanya seperti ini. Katakan saja ‘Dia turun’ lalu diam, apakah Dia meninggalkan Arasy-Nya atau tidak, itu bukan urusan anda. Anda hanya diperintahkan untuk membenarkan kabar yang disampaikan, khususnya yang berurusan dengan dzat Allah dan sifat-sifat-Nya. Karena ini adalah perkara di luar kemampuan akal.” (Majmu Fatawa Syekh Muhammad Al-Utsaimin, 1/204-205)

Syaikhul Islam (Ibnu Taimiah) rahimahullah berkata tentang masalah ini, “Yang benar adalah bahwa Dia turun dan tidak meninggalkan Arasy-Nya. Ruh seorang hamba di tubuhnya di waktu siang dan malam hingga dia mati, sementara kalau dia tidur, ruhnya diangkat…. hingga beliau berkata, ‘Malam itu berbeda, sepertiga malam di negeri timur sebelum sepertiga malam di negeri barat, maka turunnya Dia sebagaimana dikabarkan oleh Rasulul-Nya ke langit mereka adalah pada sepertiga malam mereka, sedangkan pada langit mereka yang lainnya pada sepertiga malam mereka yang lainnya. Dia tidak terpengaruh oleh keadaan….” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiah, 5/132)

Istiwa (bersemayam) dan nuzul (turun) merupakan sifat fi’liyah (kerja) yang terkait dengan kehendak Allah. Ahlus Sunnah wal jamaah beriman dengan hal itu. Akan tetapi dalam mengimani ini mereka menghindari dari penyerupaan dan menyatakan caranya. Maksudnya tidak mungkin terbetik dalam jiwa mereka bahwa turunnya Allah seperti turunnya makhluk dan bersemayamnya Dia di Arasy seperti bersemayamnya makhluk. Karena mereka beriman bahwa Allah Ta’ala tidak serupa sedikitpun dengan makhluk dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. Berdasarkan akal saja telah dapat diketahui perbedaan yang besar antara dzat, sifat dan perbuatan, tidak mungkin terbetik dalam hati mereka bagaimana Dia turun? Dan bagaimana dia bersemayam di atas Arasy? Maksudnya adalah bahwa Ahlussunnah tidak memperkirakan bagaimana sifat-sifat-Nya meskipun mereka yakin ada caranya dan hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya. Maka ketika itu, tidak mungkin digambarkan bagaimana caranya.

Kita mengetahui dengan yakin bahwa apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah nabinya shallallahu alaihi wa sallam adalah hak dan tidak bertentangan satu sama lain, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ ۗ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللّٰهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا 

Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”[An-Nisa/4: 82]

Karena jika terjadi pertentangan dalam kabar yang disampaikan berarti kabar tersebut satu sama lain saling mendustaka. Ini mustahil bagi kabar yang disampaikan dari Allah dan rasul-Nya.

Siapa yang mengira adanya petentangan dalam Kitabullah dan sunah rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam atau di antara keduanya, apakah karena kurang ilmu, atau pemahaman terbatas atau kurang dalam pemahaman, maka hendaklah dia menuntut ilmu lagi dan bersungguh-sungguh mendalaminya agar jelas baginya kebenaran. Jika belum jelas baginya kebenaran, maka limpahkan masalah ini kepada orang yang pandai dan dia berhenti mengira-ngira, lalu selebihnya dia berkata seperti orang-orang yang telah mendalam ilmunya,

كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا

Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” [Ali Imran/3: 7]

Hendaknya dia mengetahui bahwa Al-Quran dan Sunah tidak bertentangan di antara keduanya. Wallahua’lam.  (Lihat Fatawa Ibnu Utsaimin, 3/237-238)

Persangkaan adanya pertentangan antara turunnya Allah ke langit dunia dengan bersemayamnya Dia di Arasy dan ketinggiannya di langit bersumber dari adanya perbandingan antara khalik dan makhluk. Jika seorang manusia tidak dapat menggambarkan dengan akalnya perkara-perkara gaib di antara makhluk-Nya seperti kenikmatan surga, maka bagaimana dia dapat menggambarkan Sang Khalik Azza wa Jalla yang Maha Gaib. Maka cukup bagi kita beriman bahwa bersemayam, turun dan tinggi merupakan sifat Allah dan kita tetapkan sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya.”.

Disalin dari islamqa