Category Archives: A4. Allah al-Hakim, Ar-Rabb (Asmaul Husna)

Memahami Arti Nama Allah (al-Hafiidh dan al-Haafidh)

MEMAHAMI ARTI NAMA ALLAH (AL-HAFIIDH DAN AL-HAAFIDH)

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Amma ba’du:

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه البخاري و مسلم]

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa yang menghitungnya (mengamalkan) maka ia akan masuk surga”. HR Bukhari no: 2736. Muslim no: 2677.

Dan diantara salah satu nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mulia, yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah al-Hafidh serta al-Haafidh. Sebagaimana tercantum dalam firman -Nya:

 إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَفِيظٞ  [ هود : 57]

“Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu”. [Huud/11: 57]

Dan juga dalam firman -Nya:

 وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَفِيظٞ  [ سبأ : 21]

“Dan Tuhanmu Maha memelihara segala sesuatu”. [Saba’/34: 21].

Ini nama al-Hafiidh, adapun nama al-Haafidh maka disebutkan oleh Allah ta’ala dalam firman -Nya:

 فَٱللَّهُ خَيۡرٌ حَٰفِظٗاۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ  [ يوسف : 64]

“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga dan Dia adalah Maha Penyanyang diantara para Penyanyang”.  [Yusuf/12: 64]

Demikian pula disebutkan dalam firman -Nya yang lain:

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ  [ الحجر : 9]

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. [al-Hijr/15: 9].

Al-Khitabi mengatakan dalam sebuah komentarnya: “Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha Menjaga, yang menjaga langit dan bumi serta segala isinya, supaya bisa terus langgeng dan tidak hilang serta lenyap. Hal itu, seperti yang dijelaskan dalam sebuah firman -Nya:

 وَلَا يَ‍ُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ  [ البقرة: 255]

“Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar”. [al-Baqarah/2: 255].

Dan sebagaimana yang disebutkan dalam firman -Nya yang lain:

 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ  [ الصافات : 7]

“Dan telah memeliharanya (dengan sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka”. [ash-Shaaffat/37: 7].

Demikian pula berdasarkan firman Allah ta’ala yang lainnya:

 إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا  [ فاطر : 41]

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. [Faathir/35: 41].

Allah Shubhanahu wa ta’alla juga menjaga para hamba-Nya dari kebinasaan yang disebabkan oleh bencana serta kejelekan, hal itu berdasarkan firman-Nya:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ  [الرعد: 11]

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah”. [ar-Ra’du/13: 11].

Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaga umur mereka, serta mencatat ucapannya, menjaga para kekasih-Nya, dan menjaga mereka dari lumpur dosa dan tipu daya setan agar mereka bisa selamat dari fitnah serta kejelekannya”. [1]

Diantara efek keimanan yang muncul dengan dua nama Allah Shubhanahu wa ta’alla tadi ialah:

  1. Bahwa yang menjaga langit yang tujuh serta bumi ini dan yang ada padanya adalah Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi – Allah Shubhanahu wa ta’alla yang akan menjaga langit supaya tidak runtuh ke bumi. Hal itu, seperti dikatakan oleh Allah dalam firman -Nya:

 وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفٗا مَّحۡفُوظٗاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهَا مُعۡرِضُونَ  [الأنبياء: 32]

“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya”. [al-Anbiyaa/21′: 32].

Dan dalam firmannya yang lain Allah ta’ala berfirman:

 وَيُمۡسِكُ ٱلسَّمَآءَ أَن تَقَعَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦٓۚ ٞ [ الحج: 65]

“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? [al-Hajj/22: 65].

  1. Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaga amalan para hamba -Nya dan tidak menyia-yiakan amalan tersebut sedikitpun, lalu pada hari kiamat kelak Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membalasnya. Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا » [أخرجه  مسلم]

Wahai hambaKu, hanyalah itu amalan kalian yang Aku hitung kemudian Aku balas dengannya“. HR Muslim no: 2577.

Allah ta’ala berfirman dalam ayat -Nya:

 وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبٗا  [ النبأ: 29]

“Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab”. [an-Naba/78: 29].

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mewakilkan untuk menjaga amalan ini hamba -Nya yang mulia dari para malaikat. Seperti yang ditegaskan dalam firman -Nya:

 وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ ١٠ كِرَامٗا كَٰتِبِينَ ١١ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ [ الإنفطار: 10-12]

“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu). Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [al-Infithaar.82: 10-12].

Dan dijelaskan dalam sebuah ayat, bahwa didalam  mencatat mereka ini tidak menyisakan sedikitpun kecuali pasti ditulisnya. Lebih jelasnya simak dalam firman Allah ta’ala berikut:

 وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ  [ الكهف: 49]

“Dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya”. [al-Kahfi/18: 49].

  1. Bahwasannya Allah azza wa jalla Dialah yang menjaga hamba -Nya dari kejelekan dan kerusakan, menjaga mereka dari hukuman serta adzab -Nya, dengan syarat dirinya menjaga batasan-batasan Allah Shubhanahu wa ta’alla serta menjauhi larangan – Allah ta’ala menyatakan hal tersebut dalam firman -Nya:

 فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ  [ النساء: 34]

“Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)”. [an-Nisaa’/4: 34].

Dengan sebab mereka para wanita menjaga agama Allah Shubhanahu wa ta’alla atau menjaga syari’at lainnya, maka -Dia menjaga mereka. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi didalam sunannya sebuah hadits dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, kalau Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ » [أخرجه الترمذي]

Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engaku akan mendapatiNya dihadapanmu“.  HR at-Tirmidzi no: 2516. Beliau berkata Hadits hasan shahih.

  1. Allah azza wa jalla memuji orang-orang yang mau menjaga hak-hak serta batasan-basatan – Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan setelah menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka dalam firman -Nya:

 وَٱلۡحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [ التوبة: 112]

“Dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan berilah kabar gembira orang-orang mukmin itu”.  [at-Taubah/9: 112].

Dalam sebuah firman -Nya yang lain Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ٣٢ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ  [ ق: 32-33]

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan -Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat”.  [Qaaf/50: 32-33].

Dan diantara keharusan seorang mukmin yang wajib dijaga ialah menjaga kepala serta perutnya. Masuk dalam kategori menjaga kepala yaitu menjaga pendengaran, lisan, serta penglihatannya dari perkara-perkara yang haram. Sedang masuk dalam kategori menjaga perut ialah menjaga hati dari keinginan untuk menerjang perbuatan haram. Allah Shubhanahu wa ta’alla telah berfirman:

 وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ ٞ  [ البقرة: 235]

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada -Nya”. [al-Baqarah/2: 235].

Dan Allah ta’ala telah mengumpulkan hal tersebut semuanya dalam satu firman -Nya:

 وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولٗا  [ الإسراء : 36]

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. [al-Israa’/17: 36].

Dan masuk dalam bentuk menjaga perut adalah menjaganya dari memasukan makanan atau minuman yang haram. Dan diantara bentuk penjagaan yang ekstra diperhatikan ialah menjaga lisan serta kemaluan dari perkara yang dilarang. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan dalam firman -Nya:

 وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ  [ الأحزاب: 35]

“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya”. [al-Ahzab/33: 35].

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan sebuah hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: ‘Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallamu pernah bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ حَفِظَ مَا بَيْنَ فُقْمَيْهِ وَفَرْجَهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه أحمد]

Barangsiapa yang bisa menjaga antara dua bibir serta kemaluannya maka dirinya akan masuk surga“. HR Ahmad 32/330 no: 19559.

  1. Diantara perkara terbesar yang wajib dijaga oleh seorang muslim dari hak-hak Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah tauhid. Sesungguhnya barangsiapa yang mampu menjaga hak yang satu ini pasti –Dia akan menjaganya kelak pada hari kiamat serta memeliharanya dari siksaan – Lebih jelasnya perhatikan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla berikut ini:

 ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ  [ الأنعام:82]

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al-An’am/6: 82].

Dan dalam hal ini, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan melalui sabdanya yang shahih, sebagaimana dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan bahwa beliau pernah mengatakan padanya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا » [أخرجه البخاري و مسلم]

Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa haknya Allah atas para hambaNya? Serta apa hak hamba atas Allah?. Aku menjawab: ‘Allah dan RasulNya yang lebih tahu’. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah atas para hamba hendaknya mereka menyembah serta tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, sedangkan hak hamba atas Allah ialah Allah tidak akan mengadzab mereka yang tidak menyekutukanNya”. Mendengar itu maka aku katakan: “Ya Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, bolehkah kalau aku kabarkan pada manusia”. Beliau menjawab: “Jangan, nanti mereka menyandarkan (pada amalan tersebut)”.  HR Bukhari no: 2856. Muslim no: 30.

Kesimpulannya bahwa seorang muslim ditugaskan untuk menjaga seluruh bagian agamanya, dan tiap kali ada seorang muslim yang sangat menjaga agamanya maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjaganya lebih besar lagi. Allah Shubhanahu wa ta’alla mengatakan dalam firman -Nya:

 وَأَوۡفُواْ بِعَهۡدِيٓ أُوفِ بِعَهۡدِكُمۡ  [ البقرة: 40]

“Dan penuhilah janjimu kepada -Ku, niscaya Aku penuhi janji -Ku kepadamu”.[al-Baqarah/2: 40].

  1. Bahwa orang yang dijaga adalah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla kehendaki untuk dijaga oleh – Adapun orang yang Allah kehendaki untuk tidak dijaga maka dirinya akan dalam keadaan tersesat yang tidak ada lagi jalan keluar. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menjanjikan Dirinya untuk menjaga kitab -Nya dari perubahan serta pergantian sampai tegak hari kiamat. Hal itu, seperti yang dinyatakan dalam firman -Nya:

 إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ  [ الحجر : 9]

“Sesungguhnya Kami -lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. [al-Hijr/15: 9]. [2]

Kita akhiri kajian kita dengan mengucapkan segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb seluruh makhluk. Shalawat serta salam semoga -Dia curahkan kepada Nabi kita Muhammad, pada keluarga beliau serta para sahabatnya.

[Disalin dari من أسماء الله الحسنى (الحفيظ والحافظ)   Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Sya’nu Du’a hal: 67-68.
[2] Lihat pembahasan ini dalam kitab al-Minhaj al-Asma fii Syarhi Asmaillah al-Husna karya an-Najdi 1/339-354.

Penjelasan Nama Allah al-Halim

PENJELASAN NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA AL-HALIM

Segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasul Allah ShalAllah ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu ’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:

Allah Shubhanahu wa ta’alla tabaraka wa ta’ala berfirman tentang asma’ul husna ini dalam kitab-Nya:

 وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ  [الأعراف: 180]

“Hanya milik Allah Shubhanahu wa ta’alla asmaa-ul husna (nama-nama yang indah), Maka berdo’alah kepada -Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama -Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.  (QS al-A’raaf: 180).

Dan dijelaskan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasannya Nabi Muhammad ShalAllah Shubhanahu wa ta’allau ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ » [أخرجه البخاري ومسلم ]

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla memiliki sembilan puluh sembilan nama, barang siapa yang menghitung (dengan mengamalkannya) maka dia akan masuk surga“. HR Bukhari no: 2736. Muslim no: 2677.

Diantara nama-nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang indah tersebut, sebagaimana yang disebutkan didalam al-Qur’an serta hadits ialah nama Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala al-Halim (Maha Penyantun). Sebagian ulama ada yang menyebutkan, bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyebut nama ini secara khusus didalam al-Qur’an itu sebanyak sebelas kali. Diantaranya ialah yang tercantum dalam firman -Nya:

 وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٞ  [البقرة: 235]

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada -Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”. [al-Baqarah/2: 235]

Demikian pula dalam firman -Nya:

قَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞ وَمَغۡفِرَةٌ خَيۡرٞ مِّن صَدَقَةٖ يَتۡبَعُهَآ أَذٗىۗ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٞ  [البقرة: 263] 

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Kaya lagi Maha Penyantun”.[al-Baqarah/2: 263]

Dan sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditimpa kesusahan beliau berdo’a dengan membaca:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ  » [ أخرجه البخاري ومسلم ]

Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb pemilik Arsy yang besar. Tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb pemilik langit dan bumi serta Arsy yang mulia“. HR Bukhari no: 6345 . Muslim no: 2730.

Ibnu Jarir memberi makna nama Allah Shubhanahu wa ta’alla yang agung ini dengan mengatakan: ‘Yang dimaksud dengan Halim ialah Maha pemurah, dimana Dirinya tidak menjadikan dosa yang dilakukan oleh para hamba -Nya sebagai alasan untuk menghukumnya’.[1]

Sedangkan al-Khatabi, beliau mengatakan: ‘Dia adalah Maha Pengampun dan Penyabar yang tidak terkalahkan oleh sifat marah, dan tidak pula dibodohi oleh kebodohan, serta merugi oleh orang yang berbuat maksiat kepadanya. Dan tidak layak seseorang dikatakan pengampun dan menyandang nama penyantun apabila dirinya lemah. Akan tetapi penyantun ialah orang yang mengampuni manakala dirinya mampu untuk membalasnya dan tidak gegabah untuk memberi hukuman. Seorang penyair mengatakan:

Kemulian tak akan didapat walaupun dia dermawan
                     Sampai kiranya ia mau untuk merasa rendah diri
Jika dicela akan terlihat wajah aslinya
                     Bukanlah pemaaf itu yang lemah tapi yang memaafkan tatkala mampu

Berkata Ibnu Katsir: ‘Yang dimaksud dengan ‘Halim dan Ghofur‘ (Maha Penyantun lagi Pengampun) ialah bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla melihat kepada hamba -Nya yang mengkufuri dan berbuat maksiat kepada -Nya, dan Dia tetap bermurah hati, sabar, menunggu, membiarkan dan tidak terburu-buru, menutupi perbuatan mereka serta mengampuninya’.[2]

Diantara beberapa efek, dampak keimanan dengan nama yang agung ini ialah:

  1. Menetapkan sifat penyantun bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, yang isi kandunganya ialah bahwa –Dia memaafkan para pendosa dikalangan para hamba -Nya lalu membiarkan mereka tanpa dikenai hukuman secara langsung namun diakhirkan, barangkali pada mereka ada yang mau kembali serta bertaubat kepada -Nya.
  2. Bolehnya seorang mukmin bertawasul kepada Rabbnya ketika berdo’a dengan menggunakan sifat yang agung ini, seperti mengucapkan: ‘Wahai Maha Penyantun ampuni saya dan maafkan serta tutupi kesalahanku’.
  3. Sifat murah hatinya Allah Shubhanahu wa ta’alla kepada para hamba -Nya ialah dengan membiarkan tidak langsung memberi hukuman adzab kepada mereka para pendosa.[3]

Seorang penyair mengatakan:
Tidak ada orang yang lebih penyantun dari pada Allah Shubhanahu wa ta’alla kepadaku
                         Buktinya, dosa selalu ku perbuat dan Allah Shubhanahu wa ta’alla tetap menutupi dan membiarkanku

Dan apabila engkau ditanya tentang sifat pemaafnya Allah Shubhanahu wa ta’alla, maka jawablah, bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam memaafkan itu sudah sampai pada derajat sempurna, pada -Nya penyantun secara perfect yang meliputi langit dan bumi, masuk didalamnya bermurah hati terhadap hamba -Nya yang kafir, fasik dan orang yang berbuat maksiat, yaitu dengan membiarkan tidak langsung menurunkan adzab terhadap mereka, justru Allah Shubhanahu wa ta’alla mengampuni dan memberi batas tenggang atas mereka kiranya mereka mau bertaubat lalu menerima taubatnya, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang. Dalam keadaan seperti itu, Allah Shubhanahu wa ta’alla masih saja memberi mereka dengan berbagai macam kenikmatan dengan ke Maha kayaanya, yang kalau sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki tentu akan mengambil dosa yang mereka lakukan secepat mungkin, akan tetapi sifat murah hatinya Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan mengakhirkan untuk menurunkan adzab untuk para pendosa. Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala berfirman:

 وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا  [ فاطر: 45] 

“Dan kalau sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melatapun akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu; Maka apabila datang ajal mereka, Maka Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya”. [Faathir/35: 45]. [4]

Sedangkan Imam Ibnu Qoyim mengatakan dalam bait syairnya:
Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pemurah, yang tidak mengadzab
                     HambaNya dengan hukuman, supaya mereka bertaubat

Kalaulah bukan karena penyantun dan maha mengampuni yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, tentulah dunia beserta langit ini akan bergoncang oleh karena berbuat maksiat yang dilakukan oleh hamba -Nya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla  telah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا [ فاطر: 41]

“Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. [Faathir/35: 41].

Maka perhatikan terhadap penutup ayat ini dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menutupnya dengan menyebut dua nama diantara nama-nama -Nya yang lain, yaitu nama Maha Penyantun dan Maha Pengampun. Sehingga akan engkau simpulkan, bagaimana kalau sekiranya bukan karena penyantunnya terhadap para pelaku kejahatan dan ampunan -Nya terhadap para pendosa, tentu kiranya langit dan bumi ini tidak akan bisa tetap teguh dan langgeng.[5]

Dan didalam ayat diatas memberitahu kepada kita bahwa langit dan bumi tak kuat dan meminta izin kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla supaya dimusnahkan saja dengan sebab perbuatan yang dilakukan oleh makhluk, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menahan langit dan bumi dengan sifat penyantun dan pengampun yang dimiliki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla.[6]

1. Kemurahan Allah Shubhanahu wa ta’alla begitu besar dan itu bisa terlihat jelas dengan kesabaran Allah Shubhanahu wa ta’alla terhadap makhluk-Nya yang berbuat maksiat kepada-Nya. Dan sifat sabar tersebut masuk dalam sifat penyantun karena bisa dipastikan setiap pemaaf pasti penyabar. Dan didalam hadits telah dijelaskan adanya sifat sabar yang dimiliki oleh Allah azza wa jalla, sebagaimana sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Tidak ada seorangpun, atau tidak ada sesuatupun yang lebih sabar pendengarannya dari gangguan daripada Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) menyebut bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla punya anak, akan tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla membiarkan mereka dan tetap memberi rizki pada mereka“. HR Bukhari no: 6099. Muslim no: 2804.

Allah Shubhanahu wa ta’alla ialah Maha Besar dan Raja dari segala raja, Maha penyantun, kebaikan -Nya berada diatas seluruh kebaikan makhluk yang telah mencela dan mendustakan diri-Nya, namun tetap saja Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi rizki orang yang mencela serta berkata dusta atas -Nya, membiarkan dan memberi kesempatan, mengajak mereka kedalam surga-Nya, menerima taubatnya apabila mereka bertaubat, kemudian mengganti kejelekan yang pernah dilakukan dengan kebaikan, lemah lembut dengan mereka pada setiap keadaan, dan masih diutusnya rasul kepada mereka lalu menyuruh kepadanya supaya berkata lemah lembut terhadap mereka. Maka mana ada sifat pemaaf, penyantun dan sabar yang lebih agung dari pada ini semua?. [7]

Dan dalam sebuah ayat Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan tentang kenapa Dirinya menangguhkan didalam menurunkan adzab terhadap pendosa dari kalangan para hamba-Nya ketika didunia, yang menjelaskan bahwasannya kalau seandainya dosa-dosa mereka yang telah dikerjakan itu langsung diadzab sebagai balasan langsung , tentu tidak akan ada yang tersisa dimuka bumi ini seorangpun. Lebih jelasnya simak firman Allah Shubhanahu wa ta’alla berikut ini:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Jikalau Allah Shubhanahu wa ta’alla menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan -Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah Shubhanahu wa ta’alla menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya”. [an-Nahl/16: 61].

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya menjelaskan ayat mulia diatas: ‘Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala mengabarkan tentang sifat kemurahan-Nya terhadap para makhluk -Nya dengan perbuatan dhalim yang mereka lakukan. Yang seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghukum mereka dengan ulah tangan yang mereka kerjakan tentu tidak akan ada yang terisa dimuka bumi ini seekor binatang melatapun. Artinya, tentu semua binatang melata akan ikut hancur sebagai akibat hancurnya anak cucu Adam. Akan tetapi Rabb kita itu Maha Penyantun, Dirinya menutupi dan menangguhkan hukuman, sampai pada batas yang telah ditentukan, dan tidak langsung menurunkan hukuman terhadap mereka, yang sekiranya Allah Shubhanahu wa ta’alla melakukan hal tersebut atas mereka tentu tidak akan ada yang tersisa dimuka bumi’. [8]

Namun, terkadang hukuman ini bisa didapat ketika didunia sebagaimana yang terjadi pada sebagian negeri kafir, atau kaum yang sudah sangat sering dan banyak melakukan perbuatan maksiat, dan hukuman tersebut bisa berupa banjir bandang, tanah longsor, serta gempa bumi yang meluluh lantakan semua orang. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam firman -Nya:

 وَلَا يَزَالُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ تُصِيبُهُم بِمَا صَنَعُواْ قَارِعَةٌ أَوۡ تَحُلُّ قَرِيبٗا مِّن دَارِهِمۡ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ وَعۡدُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ  [الرعد : 31] 

“Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menyalahi janji”. [ar-Ra’du/13: 31].

2. Di bolehkan untuk memberi sifat penyantun ini kepada makhluk, dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla ta’ala sendiri telah mensifati para Nabi -Nya dengan sifat ini. Seperti yang tercantum didalam firmanNya:

 إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّٰهٞ مُّنِيبٞ  [هود : 75]

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla”. [Huud/11: 75].

Didalam ayat lain Allah Shubhanahu wa ta’alla menceritakan tentang keadaan kaumnya Syu’aib, Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

 إِنَّكَ لَأَنتَ ٱلۡحَلِيمُ ٱلرَّشِيدُ  [هود : 87]

“Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”. [Huud/11: 87].

Dan didalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia menceritakan: ‘Pada suatu hari aku melihat kepada Nab Muhammad Shalallahu‘alaihi wa sallam yang sedang mengisahkan seorang dari Nabi  dari kalangan para Nabi , yang dipukul oleh kaumnya hingga berdarah, maka Nabi  tersebut mengusap darah yang mengalir diwajahnya sambil mengucapkan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ » [أخرجه البخاري ومسلم]

Ya Rabbku ampunilah kaumku sesungguhnya mereka tidak mengetahui“. HR Bukhari no: 6929 , Muslim no: 1792.

Sifat penyantun ini termasuk dari sifat-sifat agung yang Allah Shubhanahu wa ta’alla inginkan supaya para hamba -Nya mengambil bagian dari sifat penyantun ini. Sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari al-Asaj bin Qois radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nabi  Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ  » [ أخرجه مشلم ]

Sesungguhnya engkau mempunyai dua sifat yang dicintai oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, yaitu sifat penyantun lagi sabar“. HR Muslim no: 18.

Dan kalau kita ingin melihat teladan dalam masalah ini, maka Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling penyantun. Sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, yang menceritakan: ‘Aku pernah berjalan bersama Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memakai burdah najran yang tepinya tebal. Di tengah jalan kami bertemu dengan arab badui yag langsung menarik burdah tersebut secara keras, sampai aku melihat bekas tersebut dipundak Nabi, karena kerasnya didalam menarik pakaian tersebut. Setelah itu arab badui tersebut berkata: ‘Beri saya dari harta Allah Shubhanahu wa ta’alla yang ada disisimu’. Maka Nabi  memalingkan tubuhnya kearahnya lalu tersenyum, kemudian memerintahkan pada para sahabatnya agar orang tersebut dipenuhi permintaannya’. HR Bukhari no: 3149. Muslim no: 1057.

Maha Benar Allah Shubhanahu wa ta’alla tatkala mensifati Nabi -Nya dengan akhlak yang mulia, seperti dalam firman -Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  [القلم : 4]

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [al-Qalam/68: 4].

Sedangkan sifat-sifat yang sama-sama di miliki oleh pencipta dan makhluk maka harus dipahami bahwa sifat yang ada pada pencipta yaitu Allah Shubhanahu wa ta’alla sesuai dengan keagungan dan ketinggian -Nya demikian pula yang ada pada makhluk harus didudukkan sesuai dengan porsinya. Jangan disama ratakan, karena jelas jauh berbeda antara sifat yang ada pada makhluk dan pencipta.

Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mencintai dari kalangan para hamba -Nya yang memiliki sifat ini yaitu penyantun, Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Penyantun dan mencintai orang-orang penyantun. Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Pemurah dan mencintai orang-orang yang bermurah hati, Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Penyabar dan mencintai orang-orang Penyabar.

Imam al-Qurthubi mengatakan: ‘Maka diantara kewajiban bagi siapa saja yang telah mengetahui bahwasannya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah Maha Penyantun terhadap orang-orang yang berbuat maksiat kepada-Nya. Hendaknya dia berusaha untuk sabar dan penyantun terhadap orang yang menyelisihinya, karena hal tersebut lebih utama, sampai kiranya dia menjadi seorang penyantun dan bisa mencapai derajat sifat yang mulia ini, sesuai dengan ukuran kemarahannya, dengan tidak membalas kejelekan terhadap orang yang berlaku buruk kepadanya. Namun, justru dirinya berusaha untuk memaafkan sampai akhirnya sifat penyantun tersebut tersemat sebagai karakter akhlaknya. Dan sebagaimana penciptamu senang kalau dirimu mempunyai sifat penyantun, maka berbuat santunlah terhadap siapa saja, karena sejatinya engkau sedang beribadah dengan menekuni sifat penyantun tersebut yang tentunya engkau akan meraih pahalanya kelak’. [9]

Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ [الشورى : 40] 

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah Shubhanahu wa ta’alla. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim”. [asy-Syuura/42: 40].

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman:

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ [الشورى : 43]

“Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan”.  [asy-Syuura/42: 43].

Diriwayatkan oleh Khatib al-Baghdadi didalam sebuah kitabnya[10] sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Nab Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ, وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ, مَنْ يَتَحَرَّى الْخَيْرَ يُعْطَهُ, وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ » [أخرجه الخطيب في تاريخ بغداد]

Ilmu itu hanya diperoleh dengan cara belajar, dan sifat penyantun diperoleh dengan cara sering berbuat santun, maka barangsiapa yang berusaha meraih kebajikan dirinya akan memperolehnya, dan siapa yang berhati-hati dari keburukan maka dirinya akan selamat“. Di Shahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah no: 342.

Sebagai penutup kita ucapkan segala puji hanya untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi  kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau dan para sahabatnya.

[Disalin dari من أسماء الله الحسنى (الحليم)  Penulis : Syaikh Dr Amin bin Abdullah asy-Syaqawi  Penerjemah Abu Umamah Arif Hidayatullah Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2013 – 1434]
_______
Footnote
[1] Lihat Jami’ul Bayan 2/1358.
[2] Tafsir Ibnu Katsir 11/338.
[3] An-Nahjul Asma fi Syarhi Asmailllah al-Husna oleh an-Najdi 1/276.
[4] Al-Asmaul Husna wa shifatil Ulya karya Syaikh Abdul Hadi Wahbi hal: 222.
[5] Idem hal: 222-223.
[6] Idatus Shabirin Ibnu Qoyim hal: 237.
[7] Syifaa’ul Alil oleh Ibnu Qoyim 2/654.
[8] Tafsir Ibnu Katsir 8/320.
[9] al-Kitab al-Asna fi Syarh Asmaa’ulllah Husna hal: 96-97.
[10] Tarikh Baghdad 9/127.

Allâh al-Hakîm, Maha Bijaksana

ALLAH AL-HAKIM, MAHA BIJAKSANA

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Sesungguhnya di antara sebab terbesar untuk menambah iman hamba adalah memahami sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla dan beribadah kepadaNya dengan kandungan sifat-sifat itu. Dan di antara sifat-sifat kesempurnaan Allâh Azza wa Jalla adalah sifat hikmah. Ulama Ahlus Sunnah sepakat menetapkan sifat hikmah bagi Allâh Azza wa Jalla , namun sebagian orang yang menyimpang menolaknya dengan akal atau perasaannya yang menyimpang.

Dalil Al-Qur’an
Allâh Azza wa Jalla memiliki asmaul husna (nama-nama yang paling indah), di antara asmaul husna Allâh adalah Al-Hakîm. Allâh Azza wa Jalla memberitakan nama-Nya Al-Hakîm di dalam al-Qur’an sebanyak 91 kali. Semuanya dirangkaikan dengan nama-Nya yang lain.

Allâh Azza wa Jalla memberitakan doa Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il, ketika keduanya membangun Ka’bah, dengan firman-Nya:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Al-‘Azîz (Yang Maha Kuasa) lagi Al-Hakîm (Maha Bijaksana).  [Al-Baqarah/2:129]

Di dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla merangkaikan nama al-Hakîm (Maha Bijaksana) dengan al-‘Azîz (Yang Maha Kuasa). Allâh Azza wa Jalla merangkaikan kedua nama ini dalam 50 tempat di dalam al-Qur’an.

Di dalam ayat-ayat lain Allâh Azza wa Jalla merangkaikan nama al-Hakîm (Maha Bijaksana) dengan al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui). Allâh Azza wa Jalla merangkaikan kedua nama ini di dalam 26 tempat di dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَقَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ 

Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam  nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah al-‘Alîm (Yang Maha Mengetahui) lagi al-Hakîm (Maha Bijaksana).” [Al-Baqarah/2:31-32]

Dalil As-Sunnah
Adapun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan nama Allâh al-Hakîm antara lain sebagai berikut:

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: عَلِّمْنِي كَلَامًا أَقُولُهُ، قَالَ: ” قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ”

Dari Mush’ab bin Sa’ad, dari bapaknya (Sa’ad bin Abi Waqqash), dia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ajarilah aku perkataan (dzikir) yang aku akan mengucapkannya!”.  Beliau bersabda, “Katakanlah: Laa ilaaha illallâh…(Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allâh Maha Besar sebesar-besarnya, segala puji yang banyak hanya milik Allâh, Maha Suci Allâh Rabb (Penguasa) seluruh makhluk. Tidak ada daya (untuk melakukan ketaatan) dan tidak ada kekuatan (untuk meninggalkan kemaksiatan) kecuali dengan (bantuan) Allâh al-‘Azîz (Yang Maha Kuasa) lagi al-Hakîm (Maha Bijaksana)”. [HR. Muslim, no. 33/2696]

Di dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu disebutkan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو عِنْدَ الكَرْبِ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الحَلِيمُ الحَكِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمُ”

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di saat kesusahan, “Laa ilaaha illallâh…(Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh, al-Halîm (Yang Maha Sabar) al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Tidak ada yang berhak diibadahi selain Allâh, Rabb (Penguasa) semua langit dan bumi, dan Rabb singgasana yang agung”. [HR. Tirmidzi, no. 3435. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

Kedua hadits di atas menyebut Al-Hakîm yang merupakan salah satu dari asmaul husna Allâh.

Dalil Akal
Demikian pula akal dan realita menetapkan bahwa Allâh Azza wa Jalla bersifat hikmah. Syaikhul Islam rahimahullah (wafat th 728 H) berkata:

وَالْغَايَاتُ الْمَحْمُودَةُ فِي مَفْعُولَاتِهِ وَمَأْمُورَاتِهِ – وَهِيَ مَا تَنْتَهِي إلَيْهِ مَفْعُولَاتُهُ وَمَأْمُورَاتُهُ مِنْ الْعَوَاقِبِ الْحَمِيدَةِ – تَدُلُّ عَلَى حِكْمَتِهِ الْبَالِغَةِ؛

Tujuan-tujuan yang terpuji pada semua perbuatan dan perintah Allah, yaitu akibat-akibat terpuji yang berakhir dari semua perbuatan dan perintah Allah, menunjukkan hikmahNya yang sempurna”. [Majmu’ al-Fatawa, 3/19]

Makna Nama Allâh al-Hakîm
Banyak sekali penjelasan para Ulama tentang makna al-Hakîm yang merupakan nama Allâh Azza wa Jalla.

Imam Ibnu Jarir ath-Thabariy rahimahullah (wafat th 310 H) berkata, “Al-Hakîm adalah Yang pengaturan-Nya tidak ada cacat dan kesalahan”.[1]

Imam Ibnu Katsir ad-Dimasyqiy rahimahullah (wafat th. 774 H) berkata, “Al-Hakîm di dalam semua perbuatan-Nya dan perkataan-Nya, meletakkan segala sesuatu di tempatnya, karena  ilmu-Nya, hikmah-Nya, dan keadilan-Nya”.[2]

Imam Ibnul Atsir rahimahullah (wafat th. 606 H) berkata, “Di antara nama-nama Allâh adalah al-Hakam dan al-Hakîm, keduanya berarti hakim, yaitu qadhi. Atau al-Hakîm bermakna Muhkim, yaitu yang melakukan atau membuat sesuatu dengan sempurna. Ada yang mengatakan: al-Hakîm bermakna Dzul hikmah (yang memiliki hikmah). Sedangkan hikmah adalah ungkapan tentang mengetahui sesuatu yang paling utama dengan ilmu yang paling utama. Dan orang yang mengetahui perincian-perincian barang buatan dan mampu membuatnya dengan sempurna disebut: hakîm”.[3]

Dengan memperhatikan asal kata dan penjelasan para ulama ahli bahasa Arab, bahwa nama Allâh Al-Hakîm memiliki tiga makna pokok:

  1. Hakîm dengan makna hâkim, artinya Yang memutuskan hukum.
  2. Hakîm dengan makna muhkim, artinya Yang membuat sesuatu dengan sempurna.
  3. Hakîm dengan makna dzul hikmah, artinya Yang memiliki sifat hikmah.

Penjelasan Mengenai Hikmah Allâh Azza wa Jalla
Hikmah Allâh terdapat di dalam ciptaan-Nya dan syari’at-Nya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (wafat 751 H) menjelaskan masalah ini di dalam sya’irnya, Nûniyyah:

والحكمة العليا على نوعين أيـ … ـضا حصلا بقواطع البرهان
إحداهما في خلقه سبحانه … نوعان أيضا ليس يفترقان
أحكام هذا الخلق إذ إيجاده … في غاية الإحكام والإتقان
وصدوره من أجل غايات له … وله عليها حمد كل لسان
والحكمة الأخرى فحكمة شرعه … أيضا وفيها ذانك الوصفان
غاياتها اللائي حمدن وكونها … في غاية الإتقان والإحسان

Hikmah Allâh yang paling tinggi terdapat di dalam dua jenis juga
Keduanya diketahui dengan bukti-bukti pasti yang nyata
Pertama: terdapat di dalam ciptaan-Nya
Ada dua jenis sifat yang keduanya tidak terpisahkan (pada ciptaan-Nya)
Kesempurnaan ciptaan-Nya, karena Dia menciptakannya di dalam puncak kesempurnaan
Dan terjadi ciptaan itu dari sebab tujuan-tujuannya…
Dan Allâh berhak dipuji oleh seluruh lidah pada tujuan-tujuan penciptaan
(Kedua) Hikmah yang lain, yaitu hikmah pada syari’at-Nya, padanya terdapat dua sifat itu juga Tujuan-tujuan syari’at yang dipuji, dan keadaannya yang berada di puncak kesempurnaan
(Al-Kâfiyah Asy-Syâfiyah, hlm. 206)

Di dalam sya’ir agung ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hikmah Allâh terdapat di dalam ciptaan-Nya dan syari’at-Nya.

Di dalam ciptaan-Nya, yaitu makhluk-Nya dan takdir-Nya, ada dua sifat yang menunjukkan hikmah-Nya:

  1. Keadaan ciptaan Allâh yang berada di puncak kesempurnaan. Kalau kita memperhatikan keadaan langit, bumi, daratan, lautan, hewan, tumbuhan, dan lainnya, kita akan mengetahui kesempurnaan ciptaan Allâh Azza wa Jalla.
  2. Tujuan-tujuan keberadaan makhluk Allâh. Kalau kita memperhatikan manfaat-manfaat dari makhluk Allâh, baik manfaat tanah, air, udara, hewan, tumbuhan, kita akan mengetahui sebagian hikmah dari ciptaan Allâh Azza wa Jalla . Bahkan berbagai kejadian, baik menyenangkan atau menyusahkan di sana terdapat hikmah dan tujuan, baik kita memahami atau tidak memahami.

Di dalam syari’at-Nya, yaitu agama-Nya dan peraturan-Nya, ada dua sifat yang menunjukkan hikmah-Nya:

  1. Keadaan syari’at Allâh yang berada di puncak kesempurnaan. Kalau kita memahami ajaran-ajaran Islam di dalam aqidah, ibadah, mu’amalah, dan lainnya, kita akan mengetahui kesempurnaan syari’at Allâh Azza wa Jalla.
  2. Tujuan-tujuan syari’at Allâh, baik di dalam perintah, larangan, atau keyakinan. Kalau kita memperhatikan syari’at Allâh, maka kita yakin semuanya memiliki manfaat-manfaat yang agung, karena syari’at ini datang dari Allâh al-Hakîm, yang Maha Bijaksana. Baik kita memahami secara rinci dari hikmah syari’at atau tidak memahami.

Dampak Iman Kepada Sifat Hikmah Allâh Azza wa Jalla
Seorang hamba yang meyakini sifat hikmah Allâh Azza wa Jalla , baik di dalam takdir-Nya, atau syari’at-Nya, maka dia akan selalu husnuzhan (berbaik sangka) kepada Penciptanya. Ketika dia melihat sebagian manusia ada yang diberi rezeki melimpah, ada yang disempitkan rezekinya; ada yang ditinggikan kedudukannya, ada yang direndahkan; ada yang diberi kekuasaan, ada yang dijatuhkan dari kekuasaannya, maka dia meyakini bahwa itu pasti karena hikmah dan tujuan yang terpuji yang Allâh kehendaki. Dengan demikian seorang hamba yang meyakini hikmah Allâh Azza wa Jalla tidak akan marah kepada takdir Allâh Azza wa Jalla , bahkan dia akan menerima dan memuji Allâh Azza wa Jalla Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji dari segala sisi.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan tentang keadaan orang Mukmin yang menakjubkan, yaitu karena semua urusannya baik baginya.

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Dari Shuhaib, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mengherankan urusan seorang Mukmin. Sesungguhnya semua urusan orang Mukmin itu baik, dan itu tidaklah ada kecuali bagi orang mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan  jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka sabar itu baik baginya.[HR. Muslim, no: 2999]

Banyak orang ketika menderita sakit, dia berkeluh kesah, bahkan terkadang berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allâh al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Padahal sakit bagi seorang Mukmin memiliki banyak manfaat dan hikmah bagi orang yang mengetahuinya.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا ابْتَلَى اللهُ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ بِبَلَاءٍ فِي جَسَدِهِ، قَالَ اللهُ: اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ، فَإِنْ شَفَاهُ غَسَلَهُ وَطَهَّرَهُ، وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ”

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika Allâh menguji hamba-Nya yang Muslim dengan penyakit di badannya, Allâh berfirman (kepada malikat pencatat amal): “Tulis pahala baginya amal shalih yang biasa dia lakukan (ketika sehat)”. Jika Allâh menyembuhkannya, Allâh membersihkannya dan menyucikannya (dari dosa-dosa), namun jika Allâh mewafatkannya, Allâh mengampuninya dan mengasihinya”. [HR. Ahmad, no. 12503; dihasankan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth di dalam Takhrij Musnad Ahmad; dan Syaikh Albani di dalam Irwaul Ghalil, penjelasan hadits no. 560; penjelasan dishahihkan]

Sebagian orang suka menyalahkan musibah dan bencana, padahal keduanya terjadi dengan takdir dan hikmah Allâh Azza wa Jalla. Maka  musibah dan bencana itu pasti memiliki manfaat dan tujuan yang agung, baik kita mengetahui hikmah itu atau tidak mengetahuinya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَقَدْ اَخَذْنٰهُمْ بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوْا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُوْنَ

Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka (orang-orang kafir)], maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri. [Al-Mukminûn/23:76]

Di dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sebagian dari hikmah bencana di dunia kepada orang-orang kafir, yaitu agar mereka merendahkan diri dan berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla .

Kita lihat di berbagai tempat, kaum  Muslimin ditindas dan dihinakan oleh orang-orang kafir, bahkan sebagian mereka dibunuh dengan mengenaskan. Tentu semua mengandung hikmah dari Allâh Azza wa Jalla .

Ketika banyak kaum sahabat Nabi terluka dan meninggal dunia di dalam perang Uhud, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allâh membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allâh tidak menyukai orang-orang yang zalim.  [Ali Imran/3:140]

Di dalam ayat ini Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sebagian dari hikmah kematian kaum Muslimin dalam perang Uhud adalah agar mereka menjadi orang-orang yang meraih syahadah (mati syahid). Kita tahu betapa kematian tertinggi adalah meraih syahadah!

Oleh karena itu terkadang musibah bisa menghantarkan seorang hamba menuju derajat tinggi di sisi Allâh Azza wa Jalla , ketika hamba tersebut terbatas amalannya. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ الْمَنْزِلَةُ عِنْدَ اللَّهِ فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَلَا يَزَالُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ حَتَّى يُبْلِغَهُ ذَلِكَ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ “

Abu Hurairah, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allâh, tetapi dia  tidak bisa memperolehnya dengan amalannya. Maka Allâh senantiasa terus mengujinya dengan sesuatu yang tidak disukainya, hingga dia mencapai kedudukan itu.” [HR. Al-Hakim, no. 1274; dan dia menshahihkannya]

Dengan memahami hikmah Allâh Azza wa Jalla , maka seorang hamba akan mengikuti syari’at dengan sebaik-baiknya, karena dia yakin syari’at Allâh merupakan hikmah yang agung, datang dari Allâh al-Hakîm. Dan hamba tersebut juga akan bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika mendapatkan musibah, sehingga dia akan meraih kebahagiaan di dunia sebelum di akhiratnya. Maka segala puji bagi Allâh Rabb semesta alam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XXI/1439H/2018M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]Tafsir ath-Thabariy, 3/88
[2]Tafsir Ibnu Katsir, 1/318; penerbit: Darul Kutub al-‘Ilmiyyah. Catatan: Di dalam Tafsir Ibnu Katsir cetakan lainnya ada sedikit perbedaan kalimat
[3] an-Nihâyah fii Gharibil Hadits wal Atsar, 1/419

Al-Hakim Hukumnya Tepat dan Bijaksana

AL-HAKÎM HUKUMNYA TEPAT DAN BIJAKSANA

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Al-Hakîm, salah satu nama Allah Azza wa Jalla yang sangat indah, namun jarang dihayati oleh kaum Muslimin. Itulah sebabnya, disamping tidak merasakan indahnya nama itu, juga banyak pelanggaran terhadap hukum Allah yang dilakukan oleh banyak kaum Muslimin, baik dalam konteks individual maupun sosial.

DALIL BAHWA AL-HAKIIM ADALAH NAMA ALLAH
Banyak dalil dari Al-Qur`ân Al-Karîm yang menunjukkan bahwa al-Hakîm merupakan salah satu nama Allah Azza wa Jalla . Di samping itu, banyak disebutkan secara bersamaan dengan nama Allah lainnya. Sebagai contoh, misalnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ                                       

Dan Allah adalah ‘Azîz (Maha Perkasa) lagi Hakîm (Maha Bijaksana). [Lihat surat Fathir/35:2, al-Hadîd/57:1, al-Hasyr/59:1& 24, al-Jumu’ah/62:3,dan lain-lain]

Juga firman Allah Azza wa Jalla :

وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

Dan Dia-lah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi Khobîr (Maha Mengetahui). [Saba`/34:1].

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para ulama menetapkan bahwa al-Hakîm merupakan salah satu nama Allah yang Husna (sangat indah). Di antaranya, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah (seorang ulama besar zaman ini yang telah wafat) dalam kitabnya, al-Qawa’id al-Mutsla fi Shifatillah wa Asma’ihi al-Husna.[1]

Juga Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr az-Zur’i ad-Dimasyqi (691-751 H). Dalam hal ini beliau membawakan firman Allah Azza wa Jalla :

إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Dialah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi ‘Alîm (Maha Mengetahui). [adz-Dzâriyât/51:30].[2]

MAKNA AL-HAKÎM
Syaikh Dr. Shâlih bin Fauzân al-Fauzân (salah seorang ulama besar zaman ini yang menjadi anggota dewan ulama besar dan anggota dewan tetap untuk fatwa di Saudi Arabia) menjelaskan, al-Hakîm mempunyai dua makna.

Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakîm (pembuat dan penentu hukum) bagi seluruh makhluk-Nya. Dan hukum Allah ada dua. Yaitu, hukum yang bersifat kauni (yakni, ketetapan taqdir) dan hukum yang bersifat syar’i (yakni, ketetapan syariat).

 Kedua, Allah Maha bijaksana, tepat, bagus dan meyakinkan dalam menetapkan semua hukumnya, baik hukum yang brsifat kauni maupun hukum yang bersifat syar’i. Makna kedua ini diambil dari kata hikmah, yang artinya meletakkan sesuatu tepat pada tempatnya.

Jadi, Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Hakîm, yang membuat dan menetapkan hukum kauni (taqdir) dan syar’i (syariat) bagi seluruh makhluk-Nya. Dan semua hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala ; semua ketetapan taqdir serta semua ketetapan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala , adalah ketetapan yang bijaksana, tepat dan bagus. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan apapun untuk tujuan yang sia-sia, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menetapkan hukum syariat apapun kecuali sesuatu yang pasti maslahat, bahkan syariat Allah Azza wa Jalla adalah kemaslahatan itu sendiri.[3]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, al-Hakîm (Maha Bijaksana) maksudnya, (bijaksana) dalam semua perkataan, perbuatan,syariat maupun taqdir-Nya.[4]

Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (wafat 1376 H) ketika menjelaskan makna al-Hakîm pada surat al-Baqarah/2 ayat 32 mengatakan: “Al-Hakîm, artinya Dzat Yang Maha memiliki hikmah sempurna. Tidak ada satu makhlukpun yang keluar dari lingkaran hikmah Allah, dan tidak ada satu perintahpun yang keluar dari lingkup hikmah-Nya. Allah tidak pernah menciptakan sesuatupun kecuali untuk suatu hikmah, dan tidak pernah memerintahkan sesuatupun kecuali untuk suatu hikmah. Hikmah ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya yang pas”.[5]

Dari uraian makna di atas, berarti nama al-Hakîm mengandung dua sifat, yaitu Allah bersifat Maha menetapkan hukum, dan bersifat Maha bijaksana dalam hukum-Nya.

Hukum Allah ada dua. Yaitu hukum kauni (ketetapan taqdir) dan hukum syar’i (ketetapan syariat). Maka setiap ketetapan taqdir Allah pasti bijaksana, tepat dan adil. Misalnya, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mentaqdirkan seseorang beriman, berarti itulah yang paling tepat dan bijaksana. Demikian pula ketika, misalnya, Allah mentaqdirkan seseorang mati dalam keadaan kafir, maka itu pulalah yang paling adil, bijaksana dan tepat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang harus Dia lakukan. Dia Maha Mengetahui segala-galanya, baik berkaitan dengan perbuatan-perbuatan diri-Nya maupun berkaitan dengan perbuatan-perbuatan para hamba-Nya.

Begitu pula, semua ketetapan syariat Allah, adalah syariat yang bijaksana, bagus dan tepat dipakai oleh siapapun, kapanpun dan di manapun. Syariat Allah tidak mengandung cacat sedikitpun, baik syariat yang berkaitan dengan pribadi, rumah tangga, sosial, politik, ekonomi dan lain-lainnya. Baik yang berkaitan dengan aqidah, ibadah maupun mu’amalah.

Apabila nama al-Hakîm digabungkan penyebutannya dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’alaainnya, maka akan memiliki kesempurnaan ganda. Misalnya apa yang disebutkan oleh Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr az-Zur’i ad-Dimasyqi rahimahullah. Beliau mengatakan:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Dialah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi ‘Alîm (Maha Mengetahui). [adz-Dzâriyât/51:30].

(Ayat ini) mengandung penetapan sifat hikmah dan ilmu bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala , yang merupakan asas bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menciptakan dan memerintahkan. Artinya, apa saja yang Allah Subhanahu wa Ta’ala  ciptakan, semuanya terlahir dari ilmu dan hikmah-Nya. Begitu pula perintah serta syariat-Nya pun terlahir dari ilmu dan hikmah-Nya. Ilmu dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengandung semua sifat sempurna bagi Allah.

  1. Karena ilmu Allah mengandung kesempurnaan sifat hidup bagi Allah dengan segala konsekuensinya seperti, sifat Maha Tegak (Qayyumiyyah), sifat Maha Kuasa (Qudrah), sifat kekal, sifat mendengar, melihat dan semua sifat lain yang menjadi konsekuensi dari ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sempurna.
  2. Sedangkan sifat hikmah-Nya, mengandung kesempurnaan sifat iradah (kehendak), sifat adil, sifat kasih sayang, sifat berbuat ihsan, sifat pemurah, sifat berbuat kebajikan dan sifat selalu meletakkan segala sesuatu tepat pada tempatnya yang terbaik. Mencakup pula hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengutus semua rasul-Nya dan dalam menetapkan pahala serta siksa.[6]

Jadi, dengan penggabungan dua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang umumnya terdapat pada penutup ayat, menunjukkan berlipatgandanya kesempurnaan Allah Azza wa Jalla . Padahal bila masing-masing nama Allah Subhanahu wa Ta’ala disebutkan secara sendiri-sendiri, maka sudah menunjukkan kesempurnaan secara khusus.

Ketika menyebutkan contoh penggabungan dua nama Allah Subhanahu wa Ta’ala , yaitu:

الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ                                            

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

Sesungguhnya banyak di dalam Al-Qur`ân, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan nama al-‘Azîz dan al-Hakîm. Maka masing-masing dari dua nama itu menunjukkan kesempurnaan khusus sesuai dengan tuntutan masing-masingnya, yaitu kesempurnaan sifat perkasa (‘izzah) pada nama al-‘Azîz, dan kesempurnaan hukum serta hikmah pada nama al-Hakîm. Penggabungan antara keduanya menunjukkan kesempurnaan lain, yaitu bahwa kesempurnaan sifat perkasa-Nya disertai dengan kesempurnaan sifat hikmah-Nya.

Dengan demikian, sifat perkasa (izzah) Allah Azza wa Jalla tidak menuntut adanya kezhaliman, kejahatan atau tindakan semena-mena. Tidak sebagaimana banyak dilakukan oleh para manusia yang menjadi raja perkasa. Biasanya keperkasaan seorang raja akan mendorongnya berbuat dosa; ia berbuat zhalim, jahat dan semena-mena.

Begitu pula hukum dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu disertai dengan kesempurnaan sifat perkasa-Nya. Berbeda dengan hukum serta hikmah (kebijaksanaan) manusia, akan senantiasa diwarnai kehinaan.[7]

Artinya, hukum dan kebijaksanaan (hikmah) manusia, bukan disebabkan oleh murni kekuatan dan keperkasaannya, namun senantiasa diwarnai oleh kelemahan dirinya. Misalnya karena tekanan, takut, atau membutuhkan pihak lain, maka suka atau tidak, ia harus menetapkan keputusan hukum atau harus bijaksana dalam menetapkan keputusan hukumnya. Sedangkan Allah tidak demikian. Hukum dan hikmah Allah murni karena kesempurnaan sifat perkasa (izzah)Nya. Begitu pula sifat perkasa Allah Azza wa Jalla , tidak pernah lepas dari sifat kuasa-Nya untuk menetapkan hukum dan untuk bersifat hikmah dalam menetapkan hukumNya. Allahu Akbar.

Karena itu, hendaklah kaum Muslimin senantiasa ingat akan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ; al-Hakîm, dan senantiasa berupaya menghayati nama-nama husna Allah serta sifat-sifat sempurna-Nya, supaya dengan demikian menjadi orang-orang yang benar-benar bertakwa.

Wa Billahi at-Taufîq.

Maraji`:

  1. Al-Qawa’id al-Mutsla fî Shifatillah wa Asma’ihi al-Husnâ. Tahqîq dan Takhrîj: Asyraf bin Abdul- Maqshud bin Abdur Rahim, Maktabah as-Sunnah, Cetakan I, 1411 H/1990 M.
  2. Asma’ullah al-Husnâ, karya Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr az-Zur’i ad-Dimasyqi. Tahqîq dan Takhrîj: Yûsuf Ali Badyawi & Aiman ‘Abdur-Razaq asy-Syawwa, Dâr al-Kalim ath-Thayyib, Dimasyq, Beirut, Cetakan II, 1419 H/1998 M.
  3. Syarh a-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakam VI, 1413 H/1993 M.
  4. Tafsir Ibnu Katsir, Taqdîm: ‘Abdul-Qadir al-Arna’ûth, Dâr al-Faihâ`, Dimasyq dan Dâr as-Salâm, Riyadh, Cetakan I, 1414 H/1994 M.
  5. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Mannân, Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat hlm. 10, 19, Tahqîq dan Takhrîj: Asyraf bin Abdul Maqshud bin ‘Abdur-Rahim, Maktabah as-Sunnah, Cetakan I, 1411 H/1990 M.
[2] Lihat kitab karya Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr az-Zur’i ad-Dimasyqi yang berjudul Asma’ullah al-Husnâ. Tahqîq dan Takhrîj: Yusuf Ali Badyawi dan Aiman ‘Abdur-Razaq asy-Syawwa, Dâr al-Kalim ath-Thayyib, Dimasyq, Beirut, Cetakan II, 1419 H/1998 M, hlm. 127.
[3] Lihat Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Shâlih bin Fauzân al-Fauzân, Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cetakan VI, 1413 H/1993 M, hlm. 31, dengan terjemah dan pemaparan bebas.
[4] Lihat Tafsir Ibnu Katsir, tentang surat Saba` ayat 1 (III/693), Taqdîm: ‘Abdul-Qadir al-Arna`ûth, Dâr al-Faihâ’, Dimasyq dan Dâr as-Salâm, Riyadh, Cetakan I, 1414 H/1994 M.
[5] Lihat Taisîr al-Karîm ar-Rahmân fi Tafsîr Kalâm al-Mannân, pada tafsir surat al-Baqarah/ ayat 32.
[6] Lihat kitab karya Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abi Bakr az-Zur’i ad-Dimasyqi yang berjudul: Asma’ullah al-Husnâ, hlm. 127.
[7] Lihat al-Qawa’id al-Mutsla fî Shifatillah wa Asma’ihi al-Husna, hlm. 10.

Ar-Razzâq, Rezeki Hanya Berasal Dari-Nya

AR-RAZZAQ, REZEKI HANYA BERASAL DARI-NYA

Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin

Hampir semua orang tahu bahwa rizki datangnya dari Allah. Dialah yang memberikannya kepada makhluk, baik melalui langit maupun melalui bumi, darat maupun laut. Bahkan para dukun serta orang-orang kafirpun meyakini hal itu, kecuali orang-orang yang sengaja mendustakan.

Allah Azza wa Jalla berfirman menceritakan pengakuan orang-orang musyrik bahwa rizki datang dari Allah:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ اَمَّنْ يَّمْلِكُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَمَنْ يُّخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَۗ فَسَيَقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚفَقُلْ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ

Katakanlah (Hai Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” [Yunus/10:31].

Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di, seorang ulama besar pada zamannya (wafat th. 1376 H) menjelaskan, bahwa rizki duniawi maupun rizki ukhrawi tidak akan dapat diperoleh kecuali dengan taqdir dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاللّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.[al-Baqarah/2:212].

Jadi, baik mukmin maupun kafir, mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan rizki duniawi serta kesenangan-kesenangan duniawi. Akan tetapi rizki yang bersifat hati; berupa ilmu, keimanan, rasa cinta kepada Allah, rasa takut dan harapan kepada Allah serta rizki-rizki lain yang bersifat hati, hanya dianugerahkan  oleh Allah kepada orang-orang yang Dia cintai.[1]

Dan salah satu di antara nama Allah yang sangat indah adalah ar-Razzâq. Dalilnya antara lain, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. [adz-Dzariyat/51:58].

Semua ulama yang menghimpun nama-nama Allah dalam kitabnya, memasukkan nama ar-Razzâq dalam kitab-kitab mereka.[2]

Imam Ibnu Mandah (wafat th. 395 H) memuat nama ar-Razzâq dalam kitab beliau: Kitab at-Tauhid wa Ma’rifat Asmâ’i Allah Azza wa Jalla wa Sifatihi ’alâ al-Ittifâq wa at-Tafarrud.[3] Beliau membawakan dalil dari hadits Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu yang mengatakan:

أَقْرَأَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِنِّى أَنَا الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ). رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.

 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan kepadaku (firman Allah Ta’ala, yang artinya): “Sesungguhnya Aku adalah ar-Razzâq (Maha Pemberi rizki), yang Maha Kuat lagi Maka Kokoh.” [HR Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lain-lain].

Imam at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits Hasan Shahîh.[4] Syaikh al-Albâni rahimahullah juga mengatakan, hadits ini shahîh matannya.[5]

Imam Mubarakfûri, dalam kitabnya Tuhfah al-Ahwadziy bi Syarhi Jaami’ at-Tirmidziy [6]  mengatakan: Ini adalah qira’ah (salah satu bacaan terhadap Al-Qur`ân dari) Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu. Sedangkan bacaan yang mutawatir adalah (yang terdapat dalam Mushaf, yaitu):

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rizki Yang Mempunyai Kekuatan lagi sangat Kokoh. [adz-Dzariyât/51:58].

Dengan demikian, ar-Razzâq adalah salah satu di antara nama Allah yang sangat indah. Dari nama ini dapat dimengerti bahwa Allah Azza wa Jalla Maha menganugerahkan rizki kepada setiap hamba-Nya, menurut kehendak-Nya.

Rizki Allah Subhanahu wa Ta’ala ada yang bersifat duniawi dan ada yang bersifat ukhrawi. Namun semuanya berdasarkan kehendak-Nya. Baik mukmin maupun kafir mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan rizki duniawi, bahkan binatang sekalipun. Bahkan terkadang orang kafir atau binatang justeru lebih banyak mendapatkan perolehan duniawi. Karena itu, jika seorang muslim hanya menitik beratkan usaha serta hidupnya untuk mendapatkan rizki duniawi serta perolehan dan sukses duniawi, maka apa bedanya ia dengan orang kafir dan binatang?

Mestinya, mencari rizki duniawi bagi seorang mukmin, tidak lepas dari konteks peribadatan kepada Allah, sehingga yang menjadi perhatian utamanya adalah mendapatkan rizki ukhrawi serta rizki-rizki yang dapat mengantarkannya kepada kebahagiaan ukhrawi.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah (wafat th. 751 H) menjelaskan bahwa sikap hidup seorang mukmin berbeda dengan sikap hidup orang-orang kafir. Orang mukmin, meskipun mendapatkan perolehan dunia dan kesenangannya, namun tidak akan ia pergunakan untuk bersenang-senang semata, dan tidak akan ia pergunakan untuk menghilangkan kebaikan-kebaikannya selama hidup di dunia. Tetapi akan ia pergunakan perolehan dunia itu untuk memperkuat diri dalam mencari bekal di akhiratnya kelak.[7]

Di samping itu, hendaknya kaum Muslimin bersyukur kepada Allah terhadap segala rizki yang telah dianugerahkan-Nya. Antara lain dengan menginfakkan sebagian harta yang telah didapatnya itu kepada orang-orang yang membutuhkan. Baik infak yang berbentuk wajib, seperti zakat jika sudah mampu, nafkah kepada isteri, sanak famili dan budak serta hewan peliharaan. Maupun yang berbentuk sunat, yaitu infak tidak wajib yang diberikan di jalan-jalan kebaikan. Sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Abdur-Rahmân bin Nashir as-Sa’di dalam Kitab Tafsirnya, Taisîr al-Karîm ar-Rahmân.[8]

Kaum Muslimin juga hendaknya tidak terpaku pada rizki duniawi, sehingga ketika menghadapi terpaan-terpaan duniawi, seperti krisis melonjaknya harga-harga kebutuhan pokok, kekurangan pangan dan krisis-krisis lain, tidak menjadi gundah dan gelisah. Karenanya tidak perlu melakukan hal-hal yang justeru sebenarnya merupakan penghamburan potensi dan pemubadziran energi sumber daya. Tetapi semua dikembalikan kepada taqdir Allah, kemudian melakukan-upaya-upaya positif yang dibenarkan syari’at; tidak merusak, dan tetap konsisten menjaga keutuhan persatuan,.serta selalu menghindari permusuhan serta saling balas membalas.

Rizki ukhrawi, rizki keimanan, ketaatan, rasa takut, cinta dan berpengharapan kepada Allah, justeru lebih penting dan harus diupayakan untuk mendapatkannya dengan sungguh-sungguh serta dengan selalu memohon pertolongan kepada Allah. Sehingga kehidupan akan menjadi berkah. Bukankah rizki hanya berasal dari Allah?

Nas’alullah lana wa lakum at-Taufiq.

Maraji`:

  1. Al-Jâmi’ ash-Shahîh wa Huwa Sunan at-Tirmidzi, Tahqîq: Kamal Yusuf al-Hût, Dâr al-Fikr.
  2. Kitab at-Tauhid wa Ma’rifat Asmâ`i Allah Azza wa Jalla wa Sifatihi ’alâ al-Ittifâq wa at-Tafarrud, Tahqîq, Ta’liq dan Takhrij Ahaditsihi: Dr. Ali bin Muhammad bin Nashir al-Faqihi, Maktabah al-Ghuraba’ al-Atsariyah, al-Madinah al-Munawarah.
  3. Miftah Dâr as Sa’adah, Imam Ibnu al-Qayyim t , Taqdim, Ta’liq dan Takhrij: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Muraja’ah: Syaikh Bakr bin ‘Abdillah Abu Zaid t , Dâr Ibni al-Qayyim, Riyadh dan Dâr Ibnu ‘Affân, Cairo, Cet. I, Th. 1425 H/2004 M.
  4. Mu’taqad Ahli as-Sunnah wal-Jama’ah fî Asmâ`i Allah al-Husnâ, Dr. Muhammad Khalifah at-Tamimi, Maktabah Adhwâ` as-Salaf, Riyadh.
  5. Shahîh Sunan Abi Dawud, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh.
  6. Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh.
  7. Taisîr al-Karîm ar-Rahmân, Syaikh Abdur Rahmân bin Nashir as-Sa’di.
  8. Tuhfah al-Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, Imam Mubarakfû

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
______
Footnote
[1] Lihat Taisir al-Karîm ar-Rahmân Qs. al-Baqarah/2 ayat 212, penutup ayat.
[2] Lihat Mu’taqad Ahli as-Sunnah wal Jama’ah fî Asmâ’i Allah al-Husnâ. Dr. Muhammad Khalifah at-Tamimi, Maktabah Adhwâ` as-Salaf, Riyadh, Cet. I, 1419 H/1999 M, hlm. 152-153.
[3] Lihat kitab tersebut dengan Tahqîq, Ta’liq dan Takhrij Ahaditsihi: Dr. Ali bin Muhammad bin Nashir al-Faqihi, Maktabah al-Ghuraba’ al-Atsariyah, al-Madinah al-Munawarah, Cet. II, Th. 1414 H/1994 M, hlm. 291.
[4] Lihat al-Jâmi’ ash-Shahîh wa Huwa Sunan at-Tirmidzi, Tahqiq: Kamal Yusuf al-Hût, Dâr al-Fikr (V/176), Kitâb al-Qirâât ‘an Rasulillah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzâriyât.
[5] Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albâni, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh, Cet. III, dari terbitan baru 1420 H/2000 M (III/173), dalam Kitab al-Qirâât ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzariyât. Lihat pula Shahîh Sunan Abi Dawud, Maktabah al-Ma’ârif, Riyadh, Cet. II dari terbitan baru th. 1421 H/2000 M (II/493 no. hadits 3993), Kitab al-Hurûf wa al-Qirâât.
[6] Lihat Kitab al-Qirâât ‘an Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bab 8 : Wamin Sûrah adz-Dzariyât, jilid VIII/220, no. Hadits 2940.
[7] Lihat Miftah Dâr as-Sa’adah, karya Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah, Taqdim, Ta’liq dan Takhrij: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Muraja’ah: Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid t , Dâr Ibni al-Qayyim, Riyadh, dan Dâr Ibnu ‘Affân – Cairo, cet. I – th 1425 H/2004 M – I/197, ketika membahas hal pertama dari dua hal yang menjadi penyakit generasi terdahulu dan generasi kemudian.
[8] Lihat pada pembahasan penutup ayat ke 3 dari surat al-Baqarah.

Penyimpangan Dalam Nama-Nama Dan Sifat-Sifat Allâh Azza Wa Jalla

PENYIMPANGAN DALAM NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH AZZA WA JALLA

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Pembahasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla memiliki kedudukan yang agung dan tinggi dalam Islam, bahkan merupakan salah satu tonggak utama dan landasan iman kepada Allâh Azza wa Jalla . Dan seorang hamba tidak mungkin dapat menunaikan ibadah yang sempurna kepada Allâh Azza wa Jalla sampai dia benar-benar memahami pembahasan ini dengan baik[1].

Oleh karena itu, penyimpangan dalam memahami masalah ini, akibatnya sangatlah fatal, karena kerusakan pada landasan iman ini akan mengakibatkan rusaknya semua bangunan agama seorang hamba yang berdiri di atasnya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menggambarkan hal ini dalam ucapan beliau: “Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya, hendaknya menguatkan dan mengokohkan pondasinya, dan bersungguh-sungguh memperhatikannya. Karena sesungguhnya ketinggian bangunan sesuai dengan kadar kekuatan dan kekokohan pondasinya. Maka amal perbuatan dan (tinggi-rendahnya) derajat (dalam Islam) adalah bangunan yang pondasinya adalah keimanan. Semakin kuat pondasi tersebut, maka akan (mampu) menopang bangunan yang berdiri di atasnya. Kalaupun (terjadi) sedikit kerusakan pada bangunan itu , maka (akan) mudah diperbaiki. Namun jika pondasinya tidak kuat, maka bangunan tidak akan (bisa) berdiri tegak (di atasnya) dan tidak kokoh. Dan jika (terjadi) sedikit (saja) kerusakan pada pondasi tersebut, maka bangunan akan roboh atau (minimal) hampir roboh.

Orang yang mengenal (Allâh Azza wa Jalla dan agama-Nya), perhatian (utama)nya (tertuju pada upaya) perbaikan dan penguatan pondasi (imannya). Sedangkan orang yang jahil (tidak paham agama) akan (berusaha) meninggikan bangunan, tanpa (memperhatikan perbaikan) pondasi, sehingga tidak lama kemudian bangunan tersebut akan roboh.[2]

Pengertian Al-Ilhâd (Penyimpangan) Dalam Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla
Perbuatan penyimpangan dalam nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla  dikenal dengan istilah al-ilhaad. Asal makna al-ilhad secara bahasa adalah menyimpang dan berpaling dari sesuatu[3]. Imam Ibnu Katsir berkata, “Asal (makna) al-ilhad dalam bahasa Arab adalah berpaling dari tujuan, dan (berbuat) menyimpang, aniaya dan menyeleweng. Di antara (contoh penggunaannya) adalah (kata) al-lahd (liang lahad) dalam kuburan. (Dinamakan demikian) karena liang lahad tersebut menyimpang dari pertengahan (lubang) kuburan ke arah kiblat”[4].

Sedangkan pengertian al-Ilhad (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla adalah seperti yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam ucapan beliau: “Hakikat al-ilhad dalam masalah ini adalah menyelewengkan nama-nama dan sifat-sifat Allah dari (pemahaman) yang benar, atau memasukkan makna asing yang bukan artinya ke dalam makna nama-nama dan sifat-sifat tersebut, atau memalingkannya dari maknanya yang sebenarnya. Inilah hakikat al-ilhad (dalam masalah ini). Barangsiapa  melakukan perbuatan ini, sungguh dia telah berdusta (besar) atas (nama) Allâh”[5].

Ancaman Keras Dan Dosa Yang Sangat Besar Karena Menyimpang Dalam Masalah Ini
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ

Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” [al-A’râf/7:180]

Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Azza wa Jalla menyampaikan dua ancaman keras bagi orang-orang yang menyimpang dalam memahami nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat maha sempurna yang dikandung nama-nama tersebut[6]:

Ancaman yang pertama, tertuang dalam bentuk perintah: “tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam (menyebut dan memahami) nama-nama-Nya”[7]. Perintah di sini berarti ancaman keras bagi orang-orang yang melakukan perbuatan buruk ini, sebagaimana makna firman-Nya:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) [al-Hijr/15:3][8]
Ancaman yang kedua: dalam firman-Nya: “Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka lakukan” [9]. Maksudnya, mereka akan mendapat balasan azab dan siksaan yang pedih di dalam neraka karena penyimpangan mereka tersebut[10].

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Katakanlah:”Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melampaui batas tanpa alasan yang benar, (mengharamkan perbuatan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan argumentasi (dalil) untuk itu dan (mengharamkan perbuatan) berkata (atas nama) Allah dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui (tidak dilandasi dengan pengetahuan yang benar)” [al-A’râf/7:33]

Dalam ayat yang mulia ini, Allâh Azza wa Jalla menyatakan besarnya keburukan dan dosa perbuatan berkata atas nama-Nya tanpa landasan ilmu yang bersumber dari petunjuk-Nya dan petunjuk rasul-Nya, yang merupakan perbuatan berbicara tentang nama-nama dan sifat-Nya tanpa landasan ilmu yang benar, karena perbuatan ini merupakan kejahatan, sikap lancang dan melampaui batas terhadap hak Allâh Azza wa Jalla[11]. Bahkan dalam ayat ini, Allâh Azza wa Jalla menjadikan kerusakan perbuatan tersebut di atas perbuatan syirik (menyekutukan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “(Dalam ayat ini), Allâh Azza wa Jalla menyebutkan urutan perbuatan-perbuatan yang diharamkan-Nya dalam empat tingkatan, mulai dari yang paling ringan (dibandingkan tiga tingkatan berikutnya), yaitu perbuatan keji (yang nampak maupun tersembunyi), kemudian (tingkatan) ke dua yang lebih besar larangannya dari yang pertama, yaitu perbuatan dosa dan kezhaliman (aniaya), kemudian (tingkatan) ke tiga yang lebih besar larangannya dari dua tingkatan sebelumnya, yaitu menyekutukan Allâh Azza wa Jalla (dengan makhluk), kemudian (tingkatan) ke empat yang lebih besar larangannya dari semua tingkatan sebelumnya, yaitu berkata atas (nama) Allâh tanpa (landasan) ilmu. Dan ini meliputi (semua bentuk) ucapan atas (nama) Allâh Azza wa Jalla tanpa (landasan) ilmu (yang benar) dalam (memahami) nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya, juga dalam (memahami) agama dan syariat-Nya”[12].

Bentuk-Bentuk Ilhâd (Penyimpangan) Dalam Memahami Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla
Bentuk ilhâd (penyimpangan) dalam memahami nama dan sifat Allâh Azza wa Jalla bermacam-macam. Sebagian hukumnya sampai pada tingkat kesyirikan dan ada yang sampai pada tingkat kekafiran, sesuai dengan petunjuk dalil-dalil syariat yang ada [13].

Macam-macam bentuk ilhâd tersebut adalah sebagai berikut:
1- Mengingkari sebagian dari nama-Nya atau mengingkari sifat-sifat dan hukum-hukum yang dikandung nama-nama tersebut, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu ta’thil (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla ) dari kelompok jahmiyah dan selain mereka.

Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd, karena kita wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla  serta sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya yang dikandung nama-nama tersebut. Maka mengingkari hal tersebut termasuk penyimpangan dalam masalah ini.

2- Menjadikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya menyerupai nama-nama dan sifat-sifat makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh ahlu tasybih (orang-orang yang menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk).

Perbuatan mereka ini termasuk ilhâd karena perbuatan menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk adalah kebatilan dan keburukan yang besar. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat [asy-Syuurâ/42:11]

فَلَا تَضْرِبُوْا لِلّٰهِ الْاَمْثَالَ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allah. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [an-Nahl/16:74]

3- Menetapkan bagi Allâh Azza wa Jalla nama yang tidak ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan nama bapak. Juga seperti perbuatan kaum filosof (ahli filsafat) yang menamakan Allâh Azza wa Jalla dengan al-‘illatul fâ’ilah (penyebab yang berbuat).

Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad,  karena penetapan nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil dari al-Qur’ân dan hadits yang shahih, tidak boleh ditambah dan dikurangi). Sebab, Allâhlah yang maha mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

4- Menamai berhala dengan mengambil dari nama-nama Allâh Azza wa Jalla , seperti perbuatan orang-orang musyrik yang mengambil nama untuk berhala mereka al-‘uzza dari nama Allâh al-‘Aziz (Yang Maha Mulia dan Perkasa), demikian juga nama al-lata dari nama-Nya “al-Ilah” (Dzat yang berhak diibadahi)

Perbuatan mereka ini termasuk al-ilhad karena nama-nama yang Allâh Azza wa Jalla tetapkan bagi diri-Nya adalah khusus untuk diri-Nya semata-mata, sebagaimana firman-Nya:

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ

Hanya milik Allah-lah asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu [al-A’râf/7:180]

Sebagaimana hak untuk diibadahi dan disembah khusus milik Allâh Azza wa Jalla semata, karena hanya Dia-lah semata yang menciptakan, memberi rezki, memberi kemanfaatan, mencegah kemudharatan, dan mengatur alam semesta, maka hanya Dia-lah yang khusus memiliki nama-nama yang maha indah, dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya[14].

5- Menyebut Allâh Azza wa Jalla dengan sifat-sifat yang menunjukkan kekurangan dan celaan, padahal Allâh Azza wa Jalla adalah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua sifat tersebut, sebagaimana ucapan sangat kotor dari orang-orang Yahudi yang mengatakan:

اِنَّ اللّٰهَ فَقِيْرٌ وَّنَحْنُ اَغْنِيَاۤءُ

Sesungguhnya Allâh miskin dan kami kaya [Ali-‘Imrân/3:181]

Juga ucapan kotor mereka:

يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ

Tangan Allâh terbelenggu [al-Mâidah/5:64][15].

Contoh-Contoh Penyimpangan Dalam Nama Dan Sifat Allâh Azza Wa Jalla Yang Tersebar Di Masyaraka
Banyak contoh perbuatan ini yang terjadi di masyarakat, karena ketidakpahaman mereka terhadap urusan agama mereka, terutama masalah yang berhubungan dengan keyakinan dasar dan keimanan mereka, meskipun kebanyakan penyimpangan tersebut tidak separah dan tidak sampai pada tingkat kekafiran seperti bentuk-bentuk penyimpangan di atas. Meskipun demikian, tentu semua ini harus dijauhi karena sedikit banyak akan merusak keimanan dan mendangkalkan keyakinan seorang Muslim terhadap Allâh Azza wa Jalla .

Beberapa contoh penyimpangan tersebut, di antaranya:
1- Keyakinan sebagian orang yang tidak paham agama bahwa masing-masing dari Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) mempunyai khasiat khusus untuk mengobati penyakit tertentu.

Perbuatan ini jelas merusak keyakinan, bahkan mengandung pelecehan terhadap nama-nama Allâh yang maha indah, disamping itu juga merupakan perbuatan bid’ah[16] yang sesat serta memalingkan manusia dari dzikir dan ruqyah[17] yang bersumber dari al-Qur’ân dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih.

2- Menjadikan nama-nama Allâh sebagai jimat dengan menulisnya pada kertas atau manik-manik kemudian di gantung pada kendaraan atau rumah, dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan dari pandangan mata jahat, kedengkian, gangguan setan dan lain sebagainya.

Perbuatan ini jelas diharamkan dalam Islam, berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka sungguh dia telah berbuat syirik”[18]

3- Menulis nama-nama Allâh Azza wa Jalla pada pigura yang indah dengan tulisan yang dihiasi (kaligrafi) untuk dijadikan sebagai hiasan dinding, sehingga orang yang melihatnya akan kagum dengan keindahan tulisan dan hiasannya, bukan pada keindahan nama-nama-Nya apalagi untuk meningkatkan keimanan.

Perbuatan ini jelas tidak disyariatkan, karena perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat . Juga karena nama-nama Allâh Azza wa Jalla terlalu agung dan mulia untuk dijadikan sebagai hiasan dinding dan rumah.

4- Menjadikan Asmâul Husnâ (nama-nama Allâh yang maha indah) sebagai bahan dzikir sehari-hari dengan membaca semua nama tersebut. Ada yang membacanya di waktu pagi dan sore, atau setelah shalat lima waktu, bahkan terkadang ada yang membacanya berulang-ulang sampai ratusan kali.

Adapun makna ‘berdoa dengan nama-nama Allâh’ seperti yang diperintahkan oleh Allâh Azza wa Jalla dalam surat al-A’râf ayat 180, juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yang barangsiapa menghafal (dan memahami kandungan)nya maka dia akan masuk surga”[19], adalah menghapal nama-nama tersebut, memahami kandungan maknanya, dan mengamalkannya serta berdoa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan menyebut nama-Nya yang sesuai dengan permintaan yang kita sampaikan kepada-Nya.

5- Termasuk kesalahan besar dalam masalah ini adalah memberi nama seseorang dengan nama yang berarti penghambaan kepada selain Allâh Azza wa Jalla, seperi ‘abdun nabi (hambanya Nabi) atau ‘abdul ka’bah (hambanya ka’bah) , ‘abdul Husain (banyak terdapat di kalangan Syiah) dan lain-lainnya.

Perbuatan ini diharamkan dalam Islam berdasarkan konsensus para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah, karena manghambakan diri kepada selain Allâh Azza wa Jalla adalah perbuatan syirik.

6- Juga termasuk kesalahan dalam masalah ini adalah membuang kertas, buku ataupun majalah yang bertulisakan nama-nama Allâh di sembarang tempat ataupun di tempat sampah yang bercampur dengan kotoran dan barang-barang buangan.

Perbuatan ini diharamkan dalam Islam, karena menunjukkan sikap tidak memuliakan dan mengagungkan nama-nama-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tidak menjawab salam seorang Sahabat  ketika beliau sedang berada di WC[20], dalam rangka memuliakan nama Allâh Azza wa Jalla dengan tidak menyebutkannya sewaktu berada di tempat yang kotor dan najis[21].

Cara Untuk Menyelamatkan Diri Dari Penyimpangan Dan Dosa Besar Ini
Satu-satunya cara untuk selamat dari penyimpangan besar ini adalah dengan berdoa memohon taufik kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita terhindar dari semua bentuk penyimpangan dan kesesatan dalam memahami dan mengamalkan agama ini.

Kemudian dengan berusaha mengikuti metode yang benar dalam memahami dan mengamalkan agama Islam, yaitu manhaj ulama Salaf, Ahlus sunnah wal jama’ah, yang telah direkomendasikan kebenaran pemahaman dan pengamalam Islam mereka oleh Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari (kalangan) orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar  [at-Taubah/9:100]

Oleh karena itulah manhaj Ahlus sunnah wal jama’ah digambarkan oleh para ulama sebagai metode berislam yang a’lam wa ahkam wa aslam[22] (yang paling sesuai dengan ilmu yang bersumber dari al-Qur’ân dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang paling bijaksana dan sesuai dengan hikmah yang agung, serta paling selamat dari kemungkinan menyimpang dan tersesat dari kebenaran)

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita untuk selalu berpegang teguh dengan metode Ahlus sunnah wal jama’ah dalam berislam agar kita terhindar dari segala bentuk kesesatan dan penyimpangan dalam memahami dan mengamalkan agama ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan hamba-Nya. Wallâhu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Al-Qawâ‘idul Mutslâ hlm. 17
[2] Al Fawâ-id  hlm. 175
[3] An-Nihâyah fi Gharîbil Hadîtsi wal Atsar 4/450
[4] Tafsir Ibnu Katsîr 2/357
[5] Madârijus Sâlikîn 1/30
[6] Adhwâul Bayân 2/146
[7] Ibid
[8] Tafsir Ibnu Jarîr ath-Thabari 13/285
[9] Adhwâul Bayân 2/146
[10] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 309
[11] Taisîrul Karîmir Rahmân hlm. 287 dan al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 34
[12] I’lâmul Muwaqqi’în 1/38
[13] al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 50
[14] Keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam al-Qawâ-‘idul Mutslâ hlm. 49-50 dengan ringkas dan penyesuaian. Lihat juga keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Badâ-i’ul Fawâ-id hlm.179-180
[15] Lihat Badâi’ul Fawâid  hlm.179
[16] Semua perbuatan yang diada-adakan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla yang tidak dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[17] Bacaan yang dibacakan kepada orang yang sakit untuk menyembuhkan penyakitnya dengan izin Allâh Azza wa Jalla
[18] HR. Ahmad (4/156) dan al-Hâkim no. 7513. Lihat Ash-Shahîhah no. 492
[19] HR. al-Bukhâri no. 2585 dan Muslim no. 2677
[20] Hadits hasan shahih riwayat Abu Dâwud no. 16 dan at-Tirmidzi no.90
[21] Keterangan Syaikh ‘Abdurrazzâq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr dalam Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 66-69 dengan ringkas dan penyesuaian
[22] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Dar-u Ta’ârudhil ‘Aqli wan Naqli 3/95 dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ash-Shawâ’iqul Mursalah 3/1134

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Hidup Tidak Akan Mati

ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MAHA HIDUP TIDAK AKAN MATI

Oleh
Ustazd Abu Ismail Muslim Al-Atsari

Allâh Pencipta seluruh makhluk, Dia memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan. Di antara sifat-sifat kesempurnaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat hayat (hidup). Sifat hidup bagi Allâh tidak ada permulaannya dan tidak ada akhirnya, karena sifat-Nya sempurna yang tidak ada kekurangan dari sisi manapun juga.

DALIL AL-QUR’AN
Sifat hidup bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala ditunjukkan dengan nama Allah, yaitu Al-Hayyu, artinya Dia Yang Maha Hidup. Nama Al-Hayyu Allâh sebutkan lima kali di dalam Al-Qur’an.

Antara lain firman Allâh Ta’ala:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Allâh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Al-Hayyu (Yang Hidup kekal)  Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. [Al-Baqarah/2: 255]

Juga firman-Nya:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allâh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Al-Hayyu (Yang Hidup kekal)  Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya). [Ali Imran/3: 2]

Juga firman-Nya:

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

Dan semua wajah  tunduk (dengan berendah diri) kepada Al-Hayyu (Tuhan Yang Hidup Kekal) Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. [Thaha/20: 111]

Di dalam tiga ayat di atas, nama Allâh Al-Hayyu, digabungkan dengan nama  Allâh Al-Qayyum. Nama Allâh Al-Hayyu berarti Maha Hidup, memuat sifat hidup bagi Allâh Ta’ala. Sedangkan nama Allâh Al-Qayyum berarti Maha Qayyumiyyah,  memuat sifat qayyumiyyah bagi Allâh Ta’ala, yang berarti berdiri sendiri dan mengurusi seluruh makhluk-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

هذان الاسمان فيهما الكمال الذاتي والكمال السلطاني، فالذاتي في قوله: {الْحَيُّ} والسلطاني في قوله: {الْقَيُّومِ}، لأنه يقوم على كل شيء ويقوم به كل شيء.

Di dalam dua nama Allâh ini terdapat kesempurnaan yang berkaitan dengan Dzat Allâh dan kesempurnaan yang berkaitan dengan kekuasaan-Nya.  Kesempurnaan yang berkaitan dengan Dzat Allâh berada di dalam firman Allâh  ‘Al-Hayyu’, sedangkan kesempurnaan yang dengan kekuasaan-Nya berada di dalam firman Allâh ‘Al-Qayyuum’. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu mengurusi segala sesuatu dan segala sesuatu berdiri dengan pertolonganNya. [Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah, 1/167]

Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah berkata: “Tonggak semua nama-nama Allâh adalah dua nama Allâh ini, makna semua nama-nama Allâh kembali kepada dua nama Allâh ini. Karena sifat hayat (hidup) mengharuskan semua sifat kesempurnaan. Tidak  ada satupun sifat kesempurnaan yang ketinggalan kecuali karena lemahnya sifat hidup. Maka jika sifat hidup Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu sifat hidup yang sempurna, hal ini mengharuskan penetapan semua sifat kesempurnaan. Sedangkan nama Allâh Al-Qayyuum maka memuat kesempurnaan kecukupan-Nya  dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Karena Allâh itu berdiri sendiri, sehingga tidak membutuhkan orang lain sama sekali, Dia yang mengurusi yang lain, sehingga yang lain tidak bisa berdiri kecuali dengan didirikan oleh-Nya. Maka dua nama ini merangkai semua sifat kesempurnaan dengan rangkaian yang sempurna”. [Syarah ath-Thahawiyah, 11/6, Syaikh Ibnu Jibrin]

Adapun ayat keempat dan kelima yang memuat nama Al-Hayyu adalah Al-Furqaan/25: 58 dan Ghafir/40: 65.

DALIL AS-SUNNAH
Sedangkan dalil dari as-Sunnah atau al-Hadits tentang sifat al-hayat (hidup) bagi Allâh maka banyak sekali. Di antara adalah:

عَنْ عُمَرَ بْنِ مُرَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيَّ القَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ.

Dari Umar bin Murrah, dia berkata: Aku mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid berkata: Bapakku bercerita kepadaku, dari kakekku, dia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan  ‘Astaghfirullah…(Aku memohon ampun kepada Allâh, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, Al-Hayyu Al-Qayyum (Yang Maha Hidup dan Maha Qayyumiyyah), aku bertaubat kepada-Nya’, diampuni dosanya, walaupun dia pernah lari dari medan perang”. [HR. Tirmidzi, no. 3577. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

Di dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ، وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah, “Apa yang mencegahmu mendengarkan apa yang aku wasiatkan kepadamu, yaitu jika engkau memasuki pagi dan sore engkau mengucapkan  “Yaa Hayyu Qayyum (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Qayyumiyyah), dengan rahmatMu aku memohon dihilangkan kesusahan, perbaikilah seluruh urusanku, janganlah Engkau menyerahkan kepada diriku sendiri, walaupun sekejap mata. [HR. An-Nasai di dalam ‘Amalul Yaum wal lailah, no. 570; Al-Bazzar, no. 6368; dan Al-Hakim, no. 2000. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 661]

DALIL AKAL
Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Keadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat hidup ditunjukkan oleh dalil akal dan sama’ (wahyu), yaitu ditunjukkan oleh al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah (al-Hadits). Sebelum kedatangan al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, akal telah menunjukkan bahwa Allâh itu wujud (ada), berdasarkan bukti yang sangat banyak terhadap keberadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dan keadaan Allâh Azza wa Jalla yang memiliki sifat ‘wujud’ menunjukkan dengan pasti bahwa Dia Maha Hidup, dan sifat hidup-Nya menunjukkan sifat-sifat yang banyak. Maka nama Allâh alHayyu ditunjukkan oleh akal sebelum kedatangan sama’ (wahyu). Demikian juga nama Allâh al-Qayyum dan sifat qayyumiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala , juga ditunjukkan oleh dalil akal dan sama’ (wahyu). Karena Allâh-lah yang mengurusi segala sesuatu. Akal menunjukkan bahwa keadaan Allâh sebagai Pencipta segala sesuatu, maka Dia juga yang mengurusinya, maka sifat qayyumiyyah ada pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ”. [Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal: 36, Syaikh Shalih Alu Syaikh]

Selain itu bahwa sifat hidup adalah sifat kesempurnaan, sehingga manusia dan binatang yang memiliki sifat hidup lebih sempurna dibandingkan dengan batu atau kayu yang mati. Karena sifat hidup adalah sifat kesempurnaan, maka Allâh Sang Pencipta lebih berhak memiliki daripada makhluk.

Demikian juga akal menetapkan, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak disifati dengan hidup, maka  Dia disifati dengan kebalikannya, yaitu kematian. Maka ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana sesuatu yang mati menciptakan semua makhluk?! Maka tetaplah bahwa akal menetapkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat hidup dengan sifat yang sempurna.

MAKNA AL-HAYYU (ALLÂH YANG MAHA HIDUP)
Sifat hidup Allâh Subhanahu wa Ta’ala diambil dari namaNya, Al-Hayyu, artinya Yang Maha Hidup. Syaikh Muhammad Khalil al-Harrâs rahimahullah berkata, Syarah Nûniyyah

ومعنى الحي: الموصوف بالحياة الكاملة الأبدية، التي لا يلحقها موت ولا فناء، لأنها ذاتية له سبحانه، وكما أنَّ قيوميته مستلزمة لسائر صفات الكمال الفعلية؛ فكذلك حياته مستلزمة لسائر صفات الكمال الذاتية من العلم والقدرة والإرادة والسمع والبصر والعزة والكبرياء والعظمة ونحوها اهـ.

“Makna Al-Hayyu adalah: Yang disifati dengan hidup yang sempurna dan abadi, tidak akan terkena kematian dan kebinasaan. Karena sifat hidup adalah sifat dzatiyah Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana sifat qayyumiyyah mengharuskan keberadaan seluruh sifat kesempurnaan yang berkaitan dengan perbuatan Allâh, demikian juga sifat hidup mengharuskan keberadaan seluruh sifat kesempurnaan yang berkaitan dengan dzat Allâh, yang berupa ilmu, kekuasaan, kehendak, mendengar, melihat, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan yang semisalnya”.

SIFAT ALLÂH SEMPURNA BERBEDA DENGAN SIFAT MAKHLUKNYA
Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat hidup, sebagian makhlukNya juga memiliki sifat hidup,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Sesungguhnya Allâh menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allâh, maka mengapa kamu masih berpaling? [Al-An’am/6: 95]

Tentang makna firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala ‘Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup’,   Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Dia mengeluarkan tangkai yang hidup dari biji tanaman yang mati dan mengeluarkan biji tanaman yang mati dari tangkai yang hidup, dan mengeluarkan pohon yang hidup dari biji buah yang mati, dan mengeluarkan biji buah yang mati dari pohon yang hidup”. [Tafsir ath-Thabari, 11/553]

Imam Ibnu Jarir rahimahullah juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang mengatakan, “Dia mengeluarkan air mani yang mati dari manusia yang hidup, kemudian mengeluarkan manusia yang hidup dari air mani”. [Tafsir ath-Thabari, 11/553-554]

Sehingga manusia itu memiliki sifat hidup, demikian juga binatang dan tumbuhan, walaupun dengan kehidupan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu bahwa sifat hidup Allâh berbeda dengan sifat hidup makhluk. Hal ini sebagaimana kaedah yang telah dijelaskan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Syûrâ/42: 11]

Pada permulaan ayat, Allâh Subhanahu wa Ta’ala meniadakan tamtsiil (penyerupamaan dengan makhluk); sedangkan pada akhir ayat, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penetapan sifat-sifat bagi-Nya dengan hakekatnya. Dengan demikian, dari ayat tersebut menjadi jelas bahwa wajib menetapkan sifat-sifat Allâh dengan hakekatnya dengan tanpa menyerupakan Allâh sifat dengan sifat makhluk.

HIDUP ALLÂH ABADI, HIDUP MAKHLUK AKAN BERHENTI
Sifat hidup bagi Allâh adalah kehidupan yang tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Berbeda dengan kehidupan seluruh makhluk, dimulai dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kebinasaan, kecuali makhluk yang Allâh jadikan kekal dengan kehendakNya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakkallâh kepada Allâh yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. [Al-Furqan/25: 58]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala ‘Allâh yang hidup (kekal) Yang tidak mati’, yaitu bahwa Allâh memiliki sifat hidup yang kekal, hidup yang sempurna, tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Sesuatu yang kehidupannya ada awalnya, ini merupakan sifat kekurangan; demikian juga sesuatu yang kehidupannya ada akhirnya, ini merupakan sifat kekurangan, sedangkan Allâh Maha sempurna.

Di dalam sebuah hadits yang shahih, diriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ: «أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, “A’uudzu…(Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, Yang tidak ada sesembahan haq selain Engkau, Yang Dia tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia akan mati”. [HR. Al-Bukhari, no: 7383]

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ: «اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, “Allaahumma…(Wahai Allâh, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku selalu bertaubat, hanya dengan pertolongan-Mu aku membantah. Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, Yang tidak ada sesembahan haq selain Engkau, janganlah Engkau menyesatkanku, Engkau Maha Hidup Yang Dia tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia akan mati”. [HR. Muslim, no: 2717]

HANYA ALLÂH YANG BERHAK DIIBADAHI
Karena hanya Allâh yang memiliki kesempurnaan di dalam sifat-sifatnya, memiliki sifat hidup yang kekal abadi selamanya, yang mengurusi seluruh makhluk-Nya, maka kewajiban hamba untuk beribadah kepada-Nya dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allâh Tuhan semesta alam. [Ghafir/40: 65]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir  as-Sa’diy rahimahullah berkata, “Dialah (Allâh) Yang hidup, yang memiliki sifat hidup yang sempurna, yang mengharuskan sifat-sifat dzatiyah,  yang sifat hidup tidak sempurna kecuali dengan sifat-sifat itu, seperti sifat mendengar, melihat, berkuasa, berilmu, berbicara, dan lainnya dari sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya.  Tidak ada Tuhan  yang berhak disembah melainkan Dia; maka berdoa-lah kepada-Nya, ini mencakup  doa ibadah dan doa permintaan. Yaitu niatkan semua ibadah, doa, dan amalan, untuk wajah Allâh Ta’ala, karena ikhlas  itu diperintahkan”.  [Tafsir As-Sa’diy, QS. Ghafir/40: 65]

Oleh karena itu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang musyrik jahiliyah yang beribadah kepada makhluk mati. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ ﴿٢٠﴾ أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. [An-Nahl/16: 20-21]

Semoga Allâh Azza wa Jalla selalu memudahkan kita untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya dengan mengikuti tuntunan Nabi-Nya yang mulia.

Wallahul Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

Sudahkah Kita Mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

SUDAHKAH KITA MENGAGUNGKAN ALLÂH SUBHANAHU WA TA’ALA?

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya dan tidak mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya serta tidak menyifati-Nya dengan sifat sebenarnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allâh? [Nuh /71:13]

Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Kalian tidak menginginkan keagungan bagi Allâh.”  [Tafsir ath-Thabari, 29/94].

Said bin Jubair berkata, “Mengapa kalian tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dengan pengagungan yang benar?” [Tafsir ath-Thabari, 29/95]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Perkataan-perkataan ini bermuara pada satu makna yang sama,  yaitu bila mereka mengagungkan Allâh Azza wa Jalla dan mengetahui hak pengagungan-Nya tersebut maka tentu mereka telah mentauhidkan (mengesakan) Allâh Azza wa Jalla , mentaati-Nya dan bersyukur kepada-Nya.” [al-Fawâid, hlm. 187]

Wahai saudara-saudara tercinta!
Sudahkah kita mengagungkan Allâh Azza wa Jalla ?
Untuk menjawab soal ini maka kita harus melihat keadaan kita ketika melaksanakan ketaatan. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, bagaimana kita melaksanakannya? Apakah kita telah melaksanakan ketaatan itu dengan penuh harap dan takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ?  Takut terhadap ancaman-Nya dan sangat menginginkan kebaikan yang ada di sisi-Nya? Atau apakah ketaatan yang kita lakukan itu hanya sekedar kebiasaan yang kita kerjakan berulang setiap hari dengan tanpa ada rasa apapun dan tanpa merasakan manfaatnya?

Apakah ketika kita melakukan maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla kita merasa seolah ada gunung di atas kita yang hampir menimpa kita ataukah kita merasa maksiat itu hanya seperti lalat yang hinggap di hidung kemudian dengan mudah diusir dan disingkirkan?

Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا –وَأَشَارَ الرَّاوِي- بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ

Sesungguhnya seorang Mukmin  memandang dosa-dosanya seperti seorang yang duduk di bawah gunung yang dia takutkan akan menimpanya. Sedangkan orang fajir, melihat dosa-dosanya hanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, maka dia berkata seperti ini (dengan sekali kibasan dia bisa mengusirnya) dan rawi berisyarat dengan tangannya (yang diletakkan) di atas hidungnya. [HR. Al-Bukhâri, no. 5949]

Apabila kita menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya, kita pasti tahu, ‘Apakah kita telah mengagungkan Allâh  pencipta kita ataukah belum?’

Sungguh para pendahulu kita, para Ulama (as-salafus shalih) adalah orang-orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam mengagungkan Allâh Azza wa Jalla . Karena mereka sangat bersemangatnya dalam menunaikan ketaatan kepada Allâh Azza wa Jalla dan sangat kuat menjauhi perbuatan bermaksiat.

Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullah mengatakan, “Mereka, para as salaf ash shalih sangat mengagungkan Allâh serta menyucikan Allâh Azza wa Jalla dari semua perkara yang tidak layak disandarkan kepada Allâh Azza wa Jalla .” [Qathfu ats-Tsamar Fî Bayân Aqîdati Ahlil Atsar, hlm. 48]

Oleh karena itu, tidak mengherankan, jika kita melihat bagaimana keadaan mereka dalam menjalankan ibadah. Mujahid bin Jabr rahimahullah mengatakan, “Dahulu, jika salah seorang dari mereka melaksanakan shalat, mereka mengagungkan Allâh ar-Rahman dengan tidak memandang sesuatu yang lain, tidak perhatian  atau tidak memainkan (sesuatu, seperti-red) kerikil atau tidak membisikkan  sesuatu ke hatinya tentang perkara dunia, kecuali lupa, selama mereka shalat”. [Ta’zhîmu Qadrish Shalât lil Marwazi, hlm. 188]

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah jika melaksanakan shalat bergetar anggota badannya sehingga kadang miring ke kanan atau ke kiri (karena pengagungannya kepada Allâh Azza wa Jalla ) [al-A’lamul A’liyyah Fî Manâqib Ibni Taimiyyah, karya Umar bin Ali al-Bazzâr, hlm. 36]

Para pembaca yang tercinta
Sungguh pengagungan kita kepada Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan kita tunduk dan taat kepada-Nya. Kita akan dengan mudah menjalankan perintah-Nya. Sehingga kita dapat melaksanakan ketaatan dengan penuh rasa terima dan cinta. Kita akan bisa menjauhi semua larangan dengan lapang dada dan gembira. Dengan demikian, kelezatan beribadah tidak akan pernah hengkang dari kita, baik saat menjalankan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. Alhamdulillâh

Setelah mengetahui jawaban dari pertanyaan pertama di atas, muncul pertanyaan berikutnya, yaitu tentang apa saja yang bisa membantu kita agar kita bisa mengagungkan Allâh al-Khâliq dalam hati kita  dengan izin Allâh-  ?

Maka jawabnya adalah sebagai berikut:

1. Doa
Yaitu dengan sering bersimpuh memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar menanamkan di hati kita rasa pengagungan terhadap-Nya, merasa rendah di hadapan-Nya, baik dalam keadaan tersembunyi atau pun dalam keadaan terang-terangan. Karena Dia lah Dzat yang paling mulia  yang telah memerintahkan kita untuk berdoa dan berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan kita. Ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghâfir/40:60]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah keutamaan yang dianugerahkan Allâh Azza wa Jalla dan kemuliaan dari Nya. Allâh Azza wa Jalla mendorong para hamba-Nya untuk berdoa dan berjanji akan mengabulkan doa mereka itu.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/153]

Syaikh as Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini termasuk kelembutan kasih sayang Allâh Azza wa Jalla terhadap para hamba-Nya dan kenikmatan-Nya yang besar. Karena Allâh Azza wa Jalla menyeru mereka untuk melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan agama dan dunia mereka. Allâh Azza wa Jalla memerintahkan mereka untuk berdoa, baik doa ibadah maupun doa mas’alah (permohonan) dan berjanji akan mengabulkan permohonan mereka serta mengancam orang yang enggan memohon kepada-Nya, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. [Ghâfir/40:60]

Yaitu dalam keadaan rendah lagi hina. Adzab dan kehinaan menjadi satu untuk mereka sebagai balasan atas kesombongan dan keangkuhan mereka.” [Tafsir as-Sa’di, 1/740]

Wahai saudaraku tercinta!
Doa adalah diantara sebab terkuat yang membantu kita dalam mengagungkan Allâh al-Bâri, jika terpenuhi syarat-syaratnya seperti niat yang benar dan tidak ada penghalangnya, seperti banyak melakukan perbuatan yang haram.

2. Menjauhi Perbuatan Maksiat
Kita berupaya menjauhi maksiat dengan segala bentuknya. Kita hadirkan keagungan Dzat yang kita maksiati, ketika terjerumus dalam perbuatan maksiat. Karena  perbuatan maksiat itu mempengaruhi pengagungan seseorang terhadap Rabb dan memperlemah rasa itu di dalam hatinya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara balasan perbuatan maksiat adalah perbuatan maksiat itu pasti akan melemahkan rasa pengagungannya terhadap Rabb di hati (para pelakunya) dan bisa dipastikan juga akan semakin memperlemah rasa hormatnya terhadap Rabb, baik dia mau ataupun tidak.  Jika penghormatan dan pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla telah bersemayam dalam lubuk hati (seorang hamba), maka dia tidak akan berani melakukan perbuatan maksiat.

Namun terkadang seseorang tertipu, dia berani mengatakan, ‘Aku berani melakukan perbuatan maksiat ini karena saya berpositif thingking (berperasangka baik) dan sangat berharap akan mendapatkan ampunan dari-Nya, bukan karena pengagungan terhadap-Nya di dalam hati ini mulai melemah!’

Ini hanya dalih dan pembelaan diri. Karena sesungguhnya rasa pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang bersemayam dalam hati seseorang akan menjadi penghalang antara dia dan perbuatan maksiat. Dan sejatinya, pelaku perbuatan maksiat itu tidak benar-benar mengagungkan Allâh dengan benar. Sebab, bagaimana mungkin orang yang memandang remeh perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla bisa dikatakan telah menghormati Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya! Atau disebut telah mengagungkan Allâh Azza wa Jalla ?!

Ini sesuatu yang mustahil dan kebatilan yang paling jelas. Dan cukuplah sebagai hukuman bagi orang yang telah bermaksiat yaitu melemahnya atau lenyapnya rasa pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari dalam hatinya dan pengagungan terhadap larangan-Nya.” [al-Jawâbul kâfi, hlm. 46]

3. Merenungi Penciptaan Allâh Azza wa Jalla
Kita bertafakkur tentang ciptaan Allâh Azza wa Jalla . Bagaimana Allâh Azza wa Jalla menciptakan segala sesuatu dengan sangat bagus?

Tafakkur ini termasuk sebab atau faktor yang paling penting yang bisa membantu kita untuk menumbuhkan rasa pengagungan dan penghormatan terhadap Allâh al-Bâri. Oleh karena itu, Allâh Azza wa Jalla memuji orang yang mau bertafakkur memikirkan makhluk-makhuk ciptaan-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ﴿١٩٠﴾ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allâh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Wahai Rabb kami! Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. [Ali Imran/3:190-191]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, ” Allâh Azza wa Jalla mengabarkan:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

Dalam ayat ini terdapat dorongan bagi para hamba untuk tafakkur memikirkan penciptaan (langit, bumi, malam dan siang) dan mengambil pelajaran dari tanda-tandanya serta merenungi penciptaan-Nya. (Dalam firman-Nya di atas-red) ketika menyebutkan kata âyât (tanda-tanda), Allâh Azza wa Jalla menyebutkannya dengan memubhamkan[2] kata âyât (tanda-tanda) dan tidak menyebutkannya secara gamblang,  “tanda-tanda ini dan itu…” Ini sebagai isyarat yang menunjukkan banyak dan umum. Karena di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat banyak banyak ayat (tanda) yang sangat menakjubkan, yang mencengangkan orang yang memperhatikannya secara seksama,  yang membuat orang-orang yang berpikir merasa terpuaskan, yang bisa memikat hati orang-orang yang jujur, serta bisa menyadarkan orang-orang yang berakal sehat terhadap semua tuntutan ilahiy. Adapun secara terperinci tentang seluruh kandungan ayat tersebut, maka itu tidak mungkin diketahui oleh siapapun. Mereka hanya mengetahui sebagiannya.

Kesimpulannya, apa pun yang ada pada penciptaan langit dan bumi yang begitu besar dan luas serta pergerakan yang menyebabkan siang dan malam, itu semua menunjukkan keagungan Penciptanya, kebesaran dan jangkauan kekuasaan-Nya yang tak terbatas.

Sementara pada kekokohan dan kekuatan, juga keindahan serta detail ciptaan-Nya terdapat tanda yang menunjukkan hikmah (kebijaksanaan) Allah  dan Dia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya  juga (menunjukkan) ilmu-Nya yang maha luas.

Dalam beraneka ragam manfaat yang ada di dalamnya untuk para makhluk-Nya terdapat tanda yang menunjukkan kasih sayang Allâh Azza wa Jalla yang begitu melimpah, anugerah-Nya yang merata dan kebaikan-Nya yang mencakup semua sehingga wajib bersyukur kepada-Nya.

Semua itu menunjukkan keterkaitan hati dengan sang Pencipta dan Pembuatnya, juga menunjukkan adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk menggapai ridha-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan siapapun yang tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas dirinya apalagi atas orang lain walaupun seukuran biji sawi, baik makhluk yang ada di bumi maupun yang ada di langit. [Tafsir as Sa’di, hlm. 161]

Di antara bentuk tafakkur yang harus senantiasa kita hadirkan dalam hati dan akal kita adalah merenungi keadaan orang-orang terdahulu. Sungguh pada zaman dahulu, telah hidup di atas bumi ini suatu kaum yang telah Allâh Azza wa Jalla berikan fisik kekar dan kuat, sebuah anugerah yang tidak diberikan kepada umat yang lain. Namun, ketika mereka kufur kepada Allâh Azza wa Jalla dan tidak mengimani serta menganggap para utusan Allâh Azza wa Jalla sebagai pendusta , Allâh Azza wa Jalla timpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan perbuatan yang telah mereka lakukan. Lihatlah mereka kaum ‘Aad!  Mereka mengatakan, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?” Disebabkan kekufuran mereka, Allâh Azza wa Jalla binasakan mereka:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ ﴿٦﴾ سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, Yang Allâh menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).[Al-Hâqqah/69:6-7]

Dan inilah kaum Tsamud yang dahulu mereka mahir memahat gunung untuk tempat tinggal namun Allâh Azza wa Jalla binasakan mereka dengan suara teriakan:

وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ﴿٦٧﴾كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا ۗ أَلَا إِنَّ ثَمُودَ كَفَرُوا رَبَّهُمْ ۗ أَلَا بُعْدًا لِثَمُودَ

Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zhalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. [Hûd/11:67]

Lalu, bagaimana dengan kita yang fisiknya lebih kecil dan lebih lemah dibandingkan mereka?! Tidakkah kita takut tertimpa adzab yang telah menimpa mereka atau adzab yang semisal?

Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah ditanya, “Masalah apakah yang paling mengherankanmu?” Dia rahimahullah menjawab, “Hati yang mengenal Allâh Azza wa Jalla kemudian dia berbuat maksiat kepada-Nya.” [Adabud Dunya Wad Dîn, karya Mâwardi, hlm. 117]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Diantara yang paling mengherankan:

  • engkau mengenal Allâh Azza wa Jalla namun engkau tidak mencintai-Nya
  • engkau mendengar panggilan-Nya namun terlambat memenuhi panggilan-Nya
  • engkau tahu besarnya nilai keuntungan bermuamalah dengan-Nya namun engkau bermuamalah dengan selain-Nya
  • engkau mengetahui betapa berat akibat kemurkaan-Nya namun engkau tetap menentang-Nya
  • engkau telah merasakan kepedihan akibat berbuat maksiat kepada-Nya namun engkau tidak berupaya mendapatkan ketenangan dengan mentaati-Nya
  • engkau telah merasakan betapa gelisahnya hati ketika engkau sibuk dalam pembicaraan yang tidak terkait dengan firman-Nya atau tidak terkait  Allâh Azza wa Jalla namun (anehnya) engkau tidak merindukan ketenangan hati dengan berdzikir dan bermunajat kepada-Nya
  • engkau telah merasakan adzab (kesengsaraan) ketika hati bergantung kepada selain-Nya namun engkau tidak bergegas lari menjauh menuju kenikmatan beribadah dan bertaubat kepada-Nya
  • dan yang paling mengherankan dari ini semua adalah engkau sudah sangat tahu bahwa sejatinya engkau sangat bergantung kepada-Nya serta sangat membutuhkan-Nya namun engkau malah berpaling dari-Nya dan menyukai segala sesuatu yang bisa menjauhkanmu dari-Nya.” [Al-Fawâid, hlm.47]

4. Mentadaburi kitab-Nya dan memahami makna-maknanya
Dengan mentadaburi kitab-Nya dan memahami maknanya, kita akan terbantu untuk mengagungkan Allâh al-Bâri Azza wa Jalla.

Imam Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Seyogyanya orang yang membaca al-Quran al-Azhim melihat bagaimana kelembutan Allâh Azza wa Jalla terhadap para makhluk-Nya dalam menyampaikan makna-makna firman-Nya ke akal-akal mereka. Seyogyanya, dia juga menyadari bahwa apa yang dia baca bukanlah perkataan manusia, lalu dia hadirkan dalam hatinya akan keagungan Allâh yang berbicara serta mentadabburi perkataan-Nya.” [Mukhtashar Minhâjul Qâshidîn, hlm. 53]

Wahai saudara saudara tercinta!

Hendaklah kita menghindar sejauh mungkin dari sekedar membaca lafadz al-Qur’an dan menghafalnya saja, tanpa berupaya memikirkan makna-maknanya. Sungguh Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang munafik ketika mereka tidak mau mentadabburri Kitabbullâh al-Azîz. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran? kalau kiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.[An-Nisa/4:82]

Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla mencela orang-orang munafik yang tidak mau mentadaburi al-Quran dan (tidak) mengambil pelajaran darinya dan makna-maknanya.” [Tafsir al-Qurtubi, 5/290]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maka membaca ayat dengan tafakkur dan memahaminya jauh lebih baik dari sekedar membaca sampai selesai tanpa tadabbur dan tanpa memahami, serta lebih bermanfaat buat hati dan lebih bisa diharapkan untuk menggapai keimanan dan merasakan manisnya al-Qur’an. Ini merupakan kebiasaan para salaf dahulu. Diantara mereka ada yang mengulang-ulang satu ayat sampai datang waktu shalat Shubuh.  Dalam sebuah hadits sah dari Nabi n disebutkan bahwa Beliau shalat dengan membaca satu ayat yang di ulang-ulang sampai tiba waktu Shubuh. Ayat tersebut adalah firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[Al-Mâidah /5:118]

Jadi, membaca al-Qur’an dengan tafakkur adalah dasar dari baiknya hati” [Miftâh Dâris Sa’âdah, 1/187]

Dan sebagai penutup dari peringatan ini wahai saudara-saudaraku tercinta maka hanya kepada Allâh sajalah aku meminta agar tulisan ini bermanfaat bagi penulisnya dan bagi pembacanya, dan semoga Allâh  Azza wa Jalla menganugerahkan kepada kita rasa pengagungan dan rasa takut kepada-Nya, baik dalam kesunyian maupun dalam keadaan terang benderang atau di tengah keramaian.

Semoga kita diberi petunjuk untuk taubat yang jujur yang akan membantu kita dalam menunaikan ketaatan kepada-Nya dan menjauhi perbuatan maksiat. Maka Allâh Azza wa Jalla yang maha mampu dan maha mengabulkan doa.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
__________
Footnote
[1] Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah
[2] Menyebutkan sesuatu secara samar tidak secara gamblang, sehingga akan menimbulkan pertanyaan. Misalnya firman Allah k , yang artinya, “sungguh terdapat tanda-tanda…” akan menimbulkan pertanyaan, tanda-tanda apa? Tanda-tanda kekuasaan-Nya? Ataukah kasih sayang-Nya? Ataukah keberadaan-Nya? Ataukah pemurah-Nya?

Ta’zhîm (Mengagungkan) Allâh Maksud dan Urgensi Mengimaninya

TA’ZHIM (MENGAGUNGKAN) ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA MAKSUD DAN URGENSI MENGIMANINYA

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Di antara faktor terbesar yang mendukung keshalihan (baiknya) hati seseorang dan kebahagiaannya adalah pengagungannya terhadap Allâh al-Khâliq.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, tidak pula kemenangan, keshalihan ataupun kenikmatanbagi hamba, kecuali bila ia mengenal Allâh yang menciptakan mereka dan beribadah kepada-Nya; dan menjadikan Allâh semata sebagai tujuan akhir yang mereka cari dan inginkan;Juga mengingat serta bertaqarrub kepada-Nya dapat mendatangkan kesejukan serta dapat menghidupkan hati mereka. Sehingga bila mereka kehilangan hal tersebut; maka keadaan mereka akan lebih buruk daripada binatang ternak. Karena binatang ternak lebih baik hidupnya di dunia daripada mereka, dan lebih selamat kesudahannya di akhirat.”[2]

Dari sini kita bisa mengetahui, betapa perlunya kita mengenal nama-nama Allâh dan sifat-sifat-Nya. Karena kadar pengagungan hati seseorang terhadap Dzat Yang Maha Pencipta, berbanding lurus dengan kadar ma’rifatnya (pengetahuannya) tentang Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata, “Kadar pengagungan seseorang terhadap Allâh Azza wa Jalla didalam hatinya seukurandengan kadar ma’rifat (pengetahuannya tentang Allâh Azza wa Jalla). Orang yang paling mengenal Allâh adalah orang yang paling besar dan kuat pengagungannya terhadap Allâh Azza wa Jalla .”[3]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Seukuran dengan ma’rifat seorang hamba terhadap Rabbnya, maka seukuran itulah kadar keimanannya. Ketika ma’rifat (pengetahuan) seseorang tentang Rabbnya bertambah, maka bertambah pula keimanannya. Begitu pula setiap kali ma’rifatnya kurang, maka imannya berkurang pula. Dan jalan terdekat yang bisa mengantarkannya menuju hal tersebut adalah dengan mentadabburi (merenungi dan menghayati) sifat-sifat dan nama-nama-Nya dari al-Qur’an.”[4]

Terkadang kita bertanya-tanya tentang cara menggapai ma’rifat ini, dan bagaimana jalan untuk sampai ke sana?

Dalam hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan jawabannya. Beliau berkata, “Ma’rifat mempunyai dua pintu yang begitu luas:

Pertama yaitu pintu tafakkur dan perenungan terhadap semua ayat-ayat al-Quran; dan pemahaman yang khusus tentang Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya n .

Pintu kedua adalah bertafakkur tentang ayat-ayat-Nya yang bisa disaksikan (di alam ini); dan merenungkan hikmah-Nya pada hal-hal tersebut, juga merenungkan qudrah (kuasa)-Nya, kelembutan-Nya, kebaikan-Nya, keadilan-Nya dan perlakuan-Nya yang adil terhadap makhluk-Nya.

Inti semua itu adalah memahami makna nama-nama-Nya yang maha indah, keagungan, kesempurnaan nama-nama itu; Memahamikeesaan-Nya dalam itu semuaserta memahami keterkaitannya dengan penciptaan dan segala urusan.

Dengan demikian, ia menjadi orang yang mengerti dan memahamiperintah dan larangan-Nya,mengerti tentang qadha’ dan qadar-Nya, mengerti tentangasma’ (nama-nama) dan sifat-Nya, memahamihukumdini syar’i (hukum Allâh Azza wa Jalla yang harus diamalkan oleh para hamba) dan hukum kauni qadari (taqdir kauni; semua yang Allâh Azza wa Jalla takdirkan dan pasti terjadi dan tidak itu mesti dicintai Allâh Subhanahu wa Ta’ala). Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Dan itu adalah anugerah Allâh; yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allâh lah Yang mempunyai anugerah yang agung [Al-Hadîd/57:21]”[5]

Oleh karena itu, sesuai kiranya bila kali ini kita mengupas dan mengkaji tentang salah satu nama Allâh Azza wa Jalla. Kita pahami dan tadabburi sebagian maknanya lalu kita resapi sebagian sebagian manfaatmengimaninama tersebut. Nama yang dimaksudkan di sini adalah nama Allâh Azza wa Jalla al-Azhîm.

Ayat-ayat al-Quran telah menetapkan nama yang mulia ini. Bagi yang memperhatikannya, ia akan dapati bahwa nama ini sesekali disebutkan secara sendirian, tidak diiringi dengan yang lain, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. [Al-Wâqi’ah/56:74]

Juga firman-Nya:

إِنَّهُ كَانَ لَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ

Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allâh yang Maha besar (agung) [Al-Hâqqah/69:33]

Terkadang nama ini juga disebutkan secara bergandengan dengan nama-Nya yang lain,seperti bergandengan dengan nama-Nya al-Aliyy; sebagaimanadalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allâh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allâh Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Al-Baqarah/ 2: 255]

Juga firman-Nya:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kepunyaan-Nya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [As-Syûrâ/42:4]

Berkenaan dengan sebagian rahasia di balik penggandengan dua nama Allâh yang mulia ini, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengulasnya. Beliau berkata, “Allâh l telah mensyariatkan terhadap para hamba-Nya untuk menyebut dua nama Allâh yang mulia ini; yaitu al-Aliyy dan al-Azhîm dalam ruku’ dan sujud. Sebagaimana hal itu telah datang dalam hadits shahih. Disebutkan bahwa tatkala ayat ke-74 dari surat al-Wâqi’ah ini diturunkan:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar. [Al-Wâqi’ah/56:74]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوْهَا فِي رُكُوْعِكُمْ

Jadikanlah ia dalam ruku’ kalian.

Lalu tatkala turun ayat:

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi, [Al-A’lâ/87: 1]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْعَلُوْهَا فِي سُجُوْدِكُمْ

Jadikanlah ia dalam sujud kalian.[6]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala dalam menyifati Diri-Nya seringkali menggandengkan dua nama ini, seperti firman Allâh Azza wa Jalla :

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Dan Allâh Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Al-Baqarah/ 2: 255]

Juga firman-Nya Azza wa Jalla:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Saba’/34:23]

Juga firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ

Yang mengetahui semua yang ghaib dan yang nampak; Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi. [Ar-Ra’d/ 13: 9].

Dengan itu, bisa ditetapkan adanya sifat ‘uluw bagi Allâh Azza wa Jalla dan juga sifat ‘azhamah (kebesaran Allâh Azza wa Jalla ). Al-Uluw maknanya Allâh Azza wa Jalla maha tinggi di atas mahkluk-Nya; sedangkan ‘azhamah bermakna Allâh Azza wa Jalla itu agung, baik secara Dzat maupun sifat-Nya.”

Dan di antara rahasia lain dari penggandengan dua nama ini adalah seperti yang juga dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Allâh menggandengkan dua nama-Nya yang mulia ini, yang menunjukkan ketinggian Allâh dan keagungan-Nya di akhir ayat Kursi, Surat asy-Syûrâ, Surat ar-Ra’d, dan Surat Saba’. Dalam Surat Saba’, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا الْحَقَّ ۖ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Rabb-mu?” Mereka menjawab,'(Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [Saba’/ 34: 23]

Dalam ayat Kursi, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan sifat al-hayât (sifat hidup) yang merupakan asal dari semua sifat.Dan disebutkan pula sifat-Nya al-Qayyum (Yang Berdiri sendiri dan mengatur semua urusan makhluk)yaitu sifat yang menunjukkan berdirinya Dzat-Nya secara sendiri, kelanggengan-Nya, dan bersihdari segala sifat kurang dan cacat, seperti tidur, mengantuk, ketidakmampuan dan sifat kuranglainnya. Kemudian Allâh Azza wa Jalla menyebutkan kesempurnaan kuasa kerajaan-Nya. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebutkan keesaan-Nya dalam kekuasaan,dimanatidak ada seorang pun yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya  kecuali dengan izin-Nya.

Lalu Dia menyebutkan keluasan ilmu dan jangkauan-Nya yang dilanjutkandengan menyebutkan bahwa tidak ada jalan bagi makhluk untuk mengetahui sesuatu apapun kecuali setelah Allâh Azza wa Jalla menghendaki mereka untuk mengetahuinya.

Setelah itu, Allâh Azza wa Jalla menyebutkan betapa luas Kursi-Nya[7] sambilmengingatkan kepada makhluk-Nya akan keluasan, keagungan dan ketinggian Allâh Azza wa Jalla . Ini semua adalah sebagai pendahuluan sebelum menyebut sifat uluw dan ‘azhamah-Nya. Kemudian Dia k mengabarkan tentang kesempurnaan kuasa-Nya dan penjagaannya terhadap alam semesta, baik alam langit maupun bumi, tanpa tersentuh rasa payah dan lelah. Kemudian Allâh Azza wa Jalla memungkasi ayat Kursi dengan dua nama-Nya yang mulia yang menunjukkan tingginya Dzat Allâh dan keagungan Diri-Nya.”[8]

Dalam hadits juga disebutkan nama Allah Azza wa Jalla al-‘azhîm. Di antaranya dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ,ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ , حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Ada dua kalimat yang ringan diucapkan lisan, berat dalam timbangan, dan  dicintai Allâh ar-Rahman (yaitu)Subhânallâh wa bihamdihi Subhânallâhil azhîm (Maha Suci Allâh seraya memanjatkan pujian kepada-Nya; Maha suci Allâh Yang Maha agung).[9]

Juga hadits dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk masjid, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

Aku berlindung kepada Allâh Yang Maha agung, dan dengan wajah-Nya yang mulia, serta kekuasaan-Nya yang telah lama (azali), dari syetan yang terkutuk.[10]

Juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan umat agar mereka mensucikan Allâh dengan nama ini di dalam ruku’; Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلّ

Adapun dalam ruku’, maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla di dalamnya.[11]

Nama ini juga disebutkan dalam sunnah dengan digandengkan dengan nama-Nya al-Halîm (Yang Maha Santun), sebagaimana disebutkan dalam hadits yang sah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saat kesusahan, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa:

لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، رَبُّ السَّموَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allâh, Yang Maha Agung lagi Maha Santun; tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allâh Rabb Pemilik Arsy yang agung; tidak ada sesembahan yang hak selain Allâh Rabb Pemilik langit, Pemilik bumi dan Pemilik arsy yang mulia.[12]

Alasan digandengankannya dua nama ini sudah jelas, yaitu meskipun Allâh Maha Agung, Maha berkuasa untuk memaksa; Maha Besar lagi Maha berkuasa di atas semua para hamba-Nya, namun Dia Maha Besar lagi Maha Penyayang lagi Pengasih terhadap para hamba-Nya. Dan menggabungkan antara dua nama mulia ini menunjukkan sifat kesempurnaan dan keindahan.

Keagungan Allâh dan Kekuasaan-Nya terhadap para makhluk-Nya tidak menghalangi-Nya untuk berbuat santun lembut dan memberi maaf kepada mereka. Dan sifat santun lembut Allâh l ini bukan karena lemah atau tidakberdaya, namun sifat santun lembut karena keagungan, kekuatan dan keperkasaan-Nya.[13]

Mengenai makna nama Allâh yang mulia ini, kita dapati tidak hanya seorang Ulama saja yang mengupasnya. Misalnya saja Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan nama-Nya yang agung (al-Azhîm) di beberapa tempat dalam kitab-kitab beliau. Beliau rahimahullah berkata, “Al-Azhîm adalah Dia yang menyandang banyak sifat dari sifat-sifat kesempurnaan.”[14]

Dalam Qashidah Nûniyyahnya, beliau rahimahullah berkata:

وَهُوَ الْعَظِيم بِكُلِّ مَعْنًى يُوجِبُ التَّــ           ـــــعْظِيمَ لَا يُحْصِيْهِ مِنْ إِنْسَانٍ

Dia adalah Al-Azhim (Yang Maha agung) dengan segala maknanya; yang mengharuskan (hamba) untuk mengagungkan-Nya, tak ada satu manusiapun yang bisa mendetailnya [15]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Azhîm adalah nama yang terhimpun pada-Nya semua sifat keagungan, kebesaran, kemuliaan, kemegahan, yang kecintaan kepada-Nya terpatri dalam hati, yang diagungkan ruh, di mana orang-orang arif (yang ma’rifat kepada-Nya) mengetahui bahwa kebesaran apapun, yang semegah apapun sifatnya, namun kebesaran tersebut sirna dibandingkan dengan kebesaran Allâh Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”[16]

Dia Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha agung dalam segalanya, dalam Dzat-Nya, juga dalam asma’ dan sifat-Nya. Syaikh as-Sa’di berkata, “Tidak ada siapapun yang bisa mendetail pujian kepada-Nya, namun Dia l adalah sebagaimana yang Dia pujikan sendiri atas Diri-Nya, melampaui apa yang disanjungkan semua hamba kepada-Nya.”[17]

Setelah kita mengetahui bahwa berbagai nash dari al-Kitab dan as-Sunnah telah menunjukkan nama-Nya yang mulia ini, dan telah kita renungi sebagian dari maknanya yang mulia, maka kitapun bertanya-tanya, apa kewajiban kita terhadap nama Allâh al-Azhîm?

Pembahasan ini akan kita lanjutkan pada pembahasan berikutnya, insya Allah Azza wa Jalla.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_________
Footnote
[1] Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah, 1/36-41
[2] Ash-Shawâ’iq al-Mursalah,1/ 366.
[3] Madârij as-Sâlikîn, 2/ 495.
[4] Tafsir As-Sa’di, 1/ 24.
[5] Al-Fawa-id, hlm. 170
[6] HR. Abu Daud, no. 869 dan Ibnu Majah, no. 887 dari hadits Uqbah bin Amir al-Juhani Radhiyallahu anhu . Hadits ini dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani rahimahullah
[7] Tempat dua kaki ar-Rahman, dan tak ada yang tahu sifatnya kecuali Allâh; demikian yang diungkapkan Ibnu Abbas-red
[8] Ash-Shawâ’iq al-Mursalah 4/ 1371.
[9] HR. Al-Bukhâri, no. 6043; Muslim,no. 2694 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu
[10] HR. Abu Daud, no. 466 dari jalur Uqbah bin Muslim dari Abdullah bin Amr. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani.
[11] HR. Muslim, no. 479 dari hadits Ibnu Abbas c
[12] HR. al-Bukhâri 6345, Muslim 2730 dari hadits Ibnu Abbas.
[13] Kitab wa Lillah al-Asma’ul Husna karya Abdul Aziz al-Jalil hlm. 244.
[14] Bada’I al-Fawa’id1/ 145.
[15] Al-Kâfiyah asy- Syâfiyah bait 3222.
[16] Al-Haqq al-Wâdhih al-Mubîn hlm. 27.
[17] Tafsir As-Sa’di hlm. 259.

Manfaat Mengimani Nama Allâh Subhanahu Wa Ta’ala ” Al-Azhîm”

MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA “AL-AZHIM”

Oleh
Abu Abdillah Hamzah an-Nayili[1]

Mengimani nama-nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala serta kandungan maknanya yang agung akan membuahkan banyak manfaat dalam hati hamba yang mengimaninya. Diantara manfaat ini ada yang bisa dipetik hasilnya dalam kehidupan di dunia dan ada pula yang ditunda perolehannya dalam kehidupan abadi di akhirat. Oleh karena itu, al-Izz Abdussalam rahimahullah mengatakan, “Mengetahui nama-nama Allâh yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi merupakan amalan termulia dan terbaik hasilnya.”[2]

Untuk itu pula, pada kesempatan kali ini, kami ingin menyebutkan beberapa manfaat yang bisa dipetik oleh orang yang beriman dari pohon pengetahuannya terhadap salah satu dari nama Allâh Azza wa Jalla yaitu al-‘Azhîm :

1. Menetapkan sifat keagungan yang hanya layak untuk Allâh Azza wa Jalla , tidak ada seorangpun atau sesuatupun yang menyerupai keagungan-Nya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat. [Asy-Syura/42:11]

Agung atau keagungan adalah sifat dzatiyah Allâh Azza wa Jalla (sifat yang tidak pernah lepas dari Allâh Azza wa Jalla). Sifat ini merupakan sifat pujian dan sifat kesempurnaan yang tidak bisa diketahui hakikatnya oleh siapapun juga, tidak terjangkau pikiran manusia juga tidak bisa digambarkan.

Penegak sunnah al-Asbahani rahimahullah mengatakan, “Diantara nama Allâh Azza wa Jalla adalah al-‘Azhîm (Yang mahaagung). Agung adalah salah satu sifat Allâh Azza wa Jalla yang tidak bisa ditandingi oleh satu makhluk pun. Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan sifat agung ditengah para mahkluknya. Dengan sifat itu mereka saling mengagungkan. Diantara manusia ada yang diagungkan karena hartanya; Ada yang diagungkan karena memiliki kelebihan; ada yang diagungkan karena memiliki ilmu; Ada yang karena kekuasaan dan ada juga yang disebabkan oleh wibawa yang dimilikinya. Masing-masing orang diagungkan karena suatu sebab bukan karena sebab yang lain, sementara Allâh Azza wa Jalla diagungkan dalam segala keadaan dan waktu.”[3]

Al-Imam al-Azhari rahimahullah mengatakan, “Diantara sifat Allâh Azza wa Jalla adalah yang maha tinggi dan maha agung … Keagungan Allâh Azza wa Jalla tidak bisa dijelaskan bagaimananya, tidak bisa dibatasi dan juga tidak diumpamakan dengan sesuatu apapun. Kewajiban para hamba adalah mengetahui bahwa Allâh Azza wa Jalla itu maha agung sebagaimana Allâh Azza wa Jalla menyifati diri-Nya dengan sifat itu, tanpa kaifiyah (tanpa menanyakan bagaimananya?) dan tanpa batasan.”[4]

2. Menghambakan diri dan berdoa dengan menggunakan nama-Nya al-‘Azhîm.
Kita menghambakan diri dengan nama-Nya dengan mengatakan, “Abdul ‘Azhîm“, tidak dengan sifat-Nya. Jadi, seseorang tidak boleh mengatakan, ‘Abdul ‘Azhamah.’[5]

Sebagaimana Allâh Azza wa Jalla juga diseru dengan menggunakan nama-Nya (bukan dengan sifat-Nya). Kita mengatakan:

يَا عَظِيْمُ ارْحَمْنَا

Wahai Allâh yang Mahaagung! Berilah kami rahmat-Mu

Kita tidak boleh menyeru Allâh Azza wa Jalla dengan menggunakan sifat-Nya, misalnya dengan mengatakan, “Ya ‘Azhamatallâh! Irhamna.” (Wahai keagungan Allâh! Berilah kami rahmat-Mu).

Keagungan hanyalah sebuah sifat, bukan Allâh Azza wa Jalla itu sendiri.

3. Meniadakan atau menolak keberadaan para sekutu bagi Allâh Azza wa Jalla .
Tidak boleh menyekutukan apapun dengan-Nya dan tidak boleh memberikan segala yang menjadi hak Allâh Azza wa Jalla kepada selain-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia [Al-Ikhlash/112:4]

4. Bisa khusyu’, khudhu’ (tunduk), tenang dan merendahkan diri kepada keagungan dan kekuasaan-Nya.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah  menerangkan kepada kita keadaan orang yang sedang shalat saat beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dalam posisi ruku’, “Kemudian dia kembali menekuk punggungnya, tunduk kepada keagungan Allâh Azza wa Jalla , menghinakan diri kepada kemuliaan Allâh Azza wa Jalla serta tunduk kepada kekuasaan-Nya sambil bertasbih dengan menyebut nama Allâh Azza wa Jalla (yaitu) al-Azhîm.”

5. Senantiasa bisa memuji Allâh Azza wa Jalla dengan nama-Nya al-‘Azhîm serta memohon pertolongan kepada-Nya dengan nama-Nya tersebut.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Agung (besar). [Al-Wâqi’ah/56:74]

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki masjid, Beliau n membaca doa:

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Aku berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla al-‘Azhîm (yang mahaagung), wajah-Nya yang mahamulia dan kekuasaan-Nya yang langgeng dari kejahatan syaitan yang terkutuk.[6]

Oleh karena itu, seyogyanya bagi soerang hamba untuk mensucikan Rabb dari segala yang tidak sesuai dengan keagungan kuasa-Nya. Caranya yaitu dengan menyebutkan berbagai sifat keagungan, keindahan dan kesempurnaan-Nya. Karena sesungguhnya tidak ada yang pujiannya bisa mendatangkan manfaat dan menambahkan keindahan sesuatu yang dipijinya itu serta tidak yang celaannya akan mendatangkan bahaya dan memperburuk sesuatu yang dicela itu selain pujian dan celaan Allâh Azza wa Jalla .

Dari Barra’ bin Âzib, dia mengatakan, “Ada seorang lelaki berdiri dan mengatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya pujianku[7] bisa membuat sesuatu itu indah dan celaanku menjadikannya jelek.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah Allâh Azza wa Jalla .”

6. Mengagungkan perintah dan larangan Allâh Azza wa Jalla .
Allâh Azza wa Jalla itu wajib ditaati bukan dimaksiati, wajib diingat bukan dilupakan dan wajib bersyukur kepada-Nya bukan dikufuri. Termasuk dalam kategori ini adalah mengagungkan nash-nash al-Qur’an dan sunnah, tunduk kepadanya dan tidak lancang mendahului Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, baik dengan pendapat atau ijtihad. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu! Mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [An-Nisa’/4:65]

Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allâh Azza wa Jalla menyampaikan kabar yang diantara kandungannya adalah perintah dan motivasi untuk taat dan tunduk kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . (karena) tujuan diutusnya seorang rasul yaitu agar ditaati dan orang yang menjadi obyek dakwahnya taat kepada semua perintah dan larangan mereka. Juga agar para rasul itu diagungkan sebagaimana orang taat mengagungkan orang yang ditaati.”[8]

7. Mengagungkan syi’ar-syi’ar dan kehormatan Allâh Azza wa Jalla.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [Al-Hajj/22:32]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Jadi perbuatan mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah itu bersumber dari ketakwaan yang di dalam hati. Orang yang mengagungkan tersebut menunjukkan bukti ketakwaannya dan kebenaran imannya, karena mengagung syi’ar-syi’ar Allah Azza wa Jalla itu berarti mengagungkan Allah Azza wa Jalla”[9]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

Demikianlah (perintah Allâh). dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allâh, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya. [Al-Hajj/22:30]

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa menjauhi perbuatan maksiat dan hal-hal yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla serta merasa bahwa melakukan pelanggaran adalah masalah yang besar.

فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ 

Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Rabbnya.

Maksudnya, dia berhak mendapatkan pahala yang banyak dan besar. Sebagaimana perbuatan taat bisa mendatangkan pahala yang banyak maka begitu juga meninggalkan semua yang diharamkan dan menjauhi semua dilarang.”[10]

Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Karena mengagungkan semua yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla termasuk perbuatan yang disukai oleh Allâh Azza wa Jalla , bisa mendekatkan pelakunya kepada Allâh Azza wa Jalla yang barangsiapa mengagungkan dan memandang besar semua yang diharamkan Allâh Azza wa Jalla maka Allâh Azza wa Jalla akan memberikan ganjaran pahala yang besar. Dan itu yang terbaik baginya, dalam agamanya, dunia, akhiratnya disisi Rabbnya.”[11]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya pengagungan terhadap Allâh Azza wa Jalla yang tertanam dalam hati seorang hamba dan pengagungan terhadap semua yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla bisa menghalangi seorang hamba dari berbagai perbuatan dosa. Adapun orang yang berani melakukan perbuatan maksiat berarti dia tidak menghargai Allâh Azza wa Jalla sebagaimana mestinya.”[12]

Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Termasuk kezhaliman yang paling berat dan kebodohan yang sangat parah jika engkau menuntut orang lain mengagungkan atau memuliakanmu sementara hatimu sama sekali tidak mengagungkan Allâh Azza wa Jalla .”[13]

8. Ketika hendak melakukan perbuatan maksiat hendaknya si pelaku melihat kehormatan dan keagungan Dzat yang akan dia maksiati. Dan sesungguhnya perbuatan itu sebentuk pelanggaran terhadap kehormatan-Nya.

Imam pembela sunnah al-Ashbahani t mengatakan, “Orang yang mengetahui hakikat keagungan Allâh Azza wa Jalla seyogyanya dia tidak mengucapkan kalimat yang dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla , dan semestinya tidak melakukan perbuatan maksiat yang tidak diridhai Allâh Azza wa Jalla . Karena Allâh Azza wa Jalla akan menegakkan hukum atas semua jiwa sesuai dengan perbuatannya.”[14]

Setelah kita mengetahui beberapa manfaat yang bisa dipetik dari keimanan kepada nama Allah al-‘Azhim, terkadang timbul pertanyaan dalam diri kita, ‘Apakah kita ini termasuk orang-orang yang mengagungkan Allah k ataukah tidak? Jika jawabnya, tidak, lalu bagaimana caranya agar kita menjadi orang-orang yang mengagungkan Allah Azza wa Jalla ? Jawabnya ada pada makalah berikutnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1]  Dari kitab Tanbîhul Ummah ‘ala Masâ-ila wa Ahkâm Syar’iyah Muhimmah, 1/36-41
[2]  Syajaratul Ma’ârif wal Ahwal karya al-Izz bin Abdussalam, hlm. 18
[3]  Al-Hujjah fi Bayânil Mahajjah, 1/130
[4]  Tahdzîbul Lughah, 2/303
[5]  Abdurrahîm atau Abdurrahman bukan ‘Abdurrahmah, ‘Abdurrauf bukan Abdurra’fah dan lain sebagainya-red
[6] HR. Abu Daud, no. 466 lewat jalur Uqbah bin Muslim dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma . Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah
[7] Orang ini bermaksud memuji dirinya sendiri dan memamerkan kedudukannya yang tinggi. Dia mengatakan bahwa jika dia memuji sesuatu maka pujiannya terhadap sesuatu itu akan menjadikan sesuatu itu terpuji dan indah. Sebaliknya, jika dia mencela sesuatu, maka sesuatu itu akan menjadi tercela dan dipandang buruk oleh orang.
[8]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 184
[9]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 538
[10]  Tafsir Ibnu Katsir, 5/419
[11]  Tafsir as-Sa’di, hlm. 538
[12]  Al-Jawâbul Kâfi, hlm. 46
[13]  Al-Fawâ-id, hlm. 187
[14]  Al-Hujjah fi Bayânil Mahajjah, 1/142