Category Archives: A4. Bahasan Tanda-Tanda Kiamat2 (Besar)

Asyraatush Saa’ah (Tanda-Tanda Besar Kiamat)

ASYRAATUSH SAA’AH (TANDA-TANDA BESAR KIAMAT )

Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan dalam kitab al-Ausath dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

خُرُوْجُ اْلآيَاتِ بَعْضُهَا عَلَـى إِثْرِ بَعْضٍ، يَتَتَابَعْنَ كَمَـا تَتَابَعَ الْخَرَزُ فِي النِّظَامِ.

Munculnya tanda-tanda (Kiamat) sebagiannya mengikuti bagian yang lain, saling mengikuti bagaikan mutiara pada sebuah rangkaian.”

Dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُوْمَاتٌ فِيْ سِلْكٍ، فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ؛ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا.

Tanda-tanda (Kiamat) bagaikan mutiara yang terangkai di dalam seutas benang, jika benang itu diputus, maka sebagiannya akan mengikuti sebagian yang lain.’”

Hemat kami –wallaahu a’lam– yang dimaksud dengan tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda besar Kiamat, karena zhahir dari hadits-hadits ini menunjukkan saling berdekatannya kemunculan tanda-tanda tersebut dengan jarak yang sangat dekat.

Hal ini diperkuat oleh keterangan yang telah berlalu tentang urutan tanda-tanda besar Kiamat, di mana sebagian hadits menyebutkan bahwa sebagian tanda-tanda itu muncul pada zaman yang saling berdekatan. Tanda besar Kiamat yang pertama setelah kemunculan al-Mahdi adalah keluarnya Dajjal, kemudian turunnya ‘Isa Alaihissalam untuk membunuhnya, selanjutnya datangnya Ya’-juj Ma’-juj, dan do’a Nabi ‘Isa Alaihissalam untuk kebinasaan mereka, akhirnya Allah membinasakan mereka, selanjutnya Nabi ‘Isa Alaihissalam berkata:

فَفِيْمَا عَهِدَ إِلَيَّ رَبِّـيْ k أَنَّ ذَلِكَ إِذَا كَانَ كَذَلِكَ؛ فَإِنَّ السَّاعَةَ كَالْحَامِلِ الْمُتِمِّ الَّتِـيْ لاَ يَدْرِيْ أَهْلُهَا مَتَـى تَفْجَؤُهُمْ بِوَلاَدِهَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا.

Maka di antara yang diwahyukan oleh Rabb-ku kepadaku, bahwa hal itu (Kiamat) terjadi jika demikian. Maka sesungguhnya Kiamat itu bagaikan wanita hamil yang telah sempurna (kehamilannya) sementara keluarganya tidak mengetahui kapan mereka dikagetkan oleh kelahirannya, malam harikah atau siang hari?”

Ini adalah dalil sangat dekatnya Kiamat, karena antara wafatnya Nabi ‘Isa Alaihissalam dan terjadinya Kiamat terdapat beberapa tanda-tanda besar Kiamat, seperti terbitnya matahari dari barat, munculnya binatang besar, asap, dan keluarnya api yang mengumpulkan manusia. Tanda-tanda Kiamat ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat sebelum tegaknya Kiamat. Perumpamaannya seperti ikatan yang terputus dari rangkaiannya, wallaahu a’lam.

Pembahasan Pertama: Urutan Tanda-Tanda Besar Kiamat      
Pembahasan Kedua: Berangkainya Kemunculan Tanda-Tanda Besar Kiamat 
Pasal Pertama: (1-2) AL-MAHDI    

  1. Nama dan Sifatnya
  2. Tempat Keluarnya
  3. Dalil-Dalil dari as-Sunnah yang Menunjukkan Akan Kedatangannya
  4. Sebagian Hadits Dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim yang Memiliki Keterkaitan dengan al-Mahdi 
  5. (5-6) Kemutawatiran Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi
  6. Beberapa Ulama yang Menulis Kitab Khusus Tentang al-Mahdi
  7. Orang-Orang yang Mengingkari Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi dan Bantahan Terhadap Mereka
  8. Hadits لاَ مَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَـى بْنُ مَرْيَمَ (Tidak Ada al-Mahdi Kecuali ‘Isa bin Maryam) dan Bantahannya

Pasal Kedua: (1-3) AL-MASIH AD-DAJJAL

  1. Makna al-Masiih
  2. Makna ad-Dajjal
  3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
  4. (1-4) Apakah Dajjal Masih Hidup (Sekarang Ini)? Dan Apakah Dia Sudah Ada Pada Zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
    1. Ibnu Shayyad
    2. Prihal Ibnu Shayyad
    3. Ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya
    4. Kematiannya
    5. Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal yang Sesungguhnya?
    6. (6-7) Beberapa Pendapat Ulama Tentang Ibnu Shayyad
    7. Ibnu Shayyad adalah Hakiki dan Bukan Khurafat
  5. (5-8) Tempat Keluarnya Dajjal
  6. Dajjal Tidak Akan Memasuki Makkah dan Madinah
  7. Pengikut Dajjal
  8. Fitnah Dajjal
  9. (9-11) Bantahan Terhadap Orang-Orang yang Mengingkari Kemunculan Dajjal
  10. Keluarbiasaan Dajjal adalah Hal yang Sebenarnya
  11. Bantahan Terhadap Mereka Dapat Diringkas dengan Beberapa Pernyataan Berikut
  12. Melindungi Diri dari Fitnah Dajjal
  13. (13-14) Penyebutan Dajjal Dalam al-Qur-an
  14. Binasanya Dajjal

Pasal Ketiga: (1-2) Turunnya Nabi Isa Alaihissallam

  1. Sifat Nabi ‘Isa Alaihissallam
  2. Sifat Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam
  3. Dalil-Dalil Turunnya ‘Isa Alaihissallam
    1. Dalil-Dalil turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di dalam al-Qur-an al-Karim
    2. Dalil-Dalil Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Dalam as-Sunnah al-Muthahharah
  4. Hadits-Hadits Tentang Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam Adalah Mutawatir
  5. (5-6) Hikmah Turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam, Bukan Nabi yang Lainnya
  6. Dengan Apa Nabi ‘Isa Alaihissallam Menetapkan Hukum?
  7. (7-8) Tersebarnya Rasa Aman dan Keberkahan Pada Zaman ‘Isa Alaihissallam
  8. Masa Menetap Nabi ‘Isa Alaihissallam di Dunia Setelah Turun dan Kewafatannya

Pasal Keempat: (1-2) Ya’-juj dan Ma’juj

  1. Asal Usul Mereka
  2. Sifat-Sifat Mereka
  3. Dalil-Dalil Akan Keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj
    • Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
    • Dalil-dalil dari as-Sunnah yang shahih
  4. Dinding Ya’-juj dan Ma’-juj

Pasal Kelima: Tiga Penenggelaman Ke Dalam Bumi

  1. Makna al-Khasf
  2. Dalil-Dalil dari as-Sunnah Tentang Akan Munculnya Penenggelaman ke Dalam Bumi
  3. Apakah Penenggelaman Tersebut Telah Terjadi?

Pasal Keenam: Asap
Dalil Kemunculannya

  • Dalil dari al-Qur-an al-Karim
  • Dalil-Dalil dari as-Sunnah al-Muthahharah

Pasal Ketujuh: Terbitnya Matahari dari Barat

  1. Dalil-Dalil Terbitnya Matahari dari Barat
    • Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
    • Dalil-dalil dari as-Sunnah
  2. Diskusi Bersama Rasyid Ridha Atas Bantahannya Terhadap Hadits Abu Dzar Tentang Sujudnya Matahari
  3. Setelah Matahari Terbit dari Barat Iman dan Taubat Tidak Lagi Diterima

Pasal Kedelapan: (1-3) Keluarnya Binatang dari Perut Bumi

  1. Dalil-Dalil Kemunculannya
  2. Dalil-dalil dari al-Qur-an al-Karim
  3. Dalil-dalil dari as-Sunnah al-Muthahharah.
  4. (4-6) Dari Jenis Binatang Apakah Binatang Bumi Tersebut?
  5. Tempat Keluarnya Binatang
  6. Aktivitas Binatang Tersebut

Pasal Kesembilan: (1-2) Api yang Mengumpulkan Manusia

  1. Tempat Keluarnya
  2. Cara Api Tersebut Mengumpulkan Manusia
  3. (3-4) Bumi Tempat Berkumpul
  4. Mahsyar Ini Terjadi di Dunia

Penutup dan Daftar Pustaka

Urutan Tanda-Tanda Besar Kiamat

Bab II TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pembahasan Pertama
URUTAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT
Kami belum pernah mendapatkan dalil yang secara jelas menerangkan urutan tanda-tanda besar Kiamat berdasarkan kejadiannya. Semuanya hanyalah diungkapkan dalam berbagai hadits tanpa urutan, karena urutan penyebutan di dalamnya sama sekali tidak mengandung arti urutan di dalam kejadian. Ungkapan di dalamnya menggunakan huruf sambung wawu, sementara huruf tersebut tidak mengandung makna urutan.

Ada beberapa nash yang urutannya menyalahi urutan yang disebutkan pada nash lainnya.

Agar hal ini menjadi lebih jelas, maka kami akan menyebutkan sebagian contoh dengan mengungkapkan beberapa hadits yang menyebutkan tanda-tanda besar Kiamat secara keseluruhan atau sebagiannya.

1. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Hudzaifah bin Asid al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada kami. Sedangkan kami tengah berbincang-bincang, lalu beliau bertanya:

مَا تَذَاكَرُوْنَ؟

‘Apa yang kalian bicarakan?

Mereka menjawab, ‘Kami sedang membicarakan Kiamat.’ Beliau berkata:

إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ.

Sesungguhnya ia (Kiamat) tidak akan terjadi hingga kalian melihat se-puluh tanda sebelumnya.’

Kemudian beliau menyebutkan asap, Dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam, Ya’-juj dan Ma’-juj, dan tiga khasf (penenggelaman ke dalam bumi); khasf di timur, khasf di barat, dan khasf di Jazirah Arab, dan yang terakhirnya adalah api keluar dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat mereka berkumpul.”[1]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits ini dari Hudzaifah bin Asid dengan lafazh lain, yaitu:

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّـى تَكُوْنَ عَشْـرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، وَدَابَّةُ اْلأَرْضِ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قُعْرَةِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ.

Sesungguhnya Kiamat tidak akan terjadi hingga ada sepuluh tanda (sebelumnya): khasf di timur, khasf di barat, khasf di Jazirah Arab, asap, Dajjal, binatang bumi, Ya’-juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari barat,dan api yang keluar dari jurang ‘Adn yang menggiring manusia.

Dalam riwayat lain:

وَالْعَاشِرَةُ: نُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ عَلَیهِ‌ السَّلام.

Dan yang kesepuluh: turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.”[2]

Ini adalah satu hadits dari seorang Sahabat yang diriwayatkan dengan dua lafazh (redaksi) yang berbeda mengenai urutan tanda-tanda besar Kiamat.

2. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا بِاْلأَعْمَـالِ سِتًّا: طُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، أَوِ الدُّخَانَ، أَوِ الدَّجَّالَ، أَوِ الدَّابَّةَ، أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ، أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ.

Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) enam hal: terbitnya matahari dari barat, asap, Dajjal, binatang, sesuatu yang khusus untuk kalian (kematian), atau masalah yang umum (hari Kiamat).”[3]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dengan lafazh lain:

بَادِرُوْا بِاْلأَعْمَالِ سِتًّا: اَلدَّجَّالَ، وَالدُّخَـانَ، وَدَابَّةَ اْلأَرْضِ، وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَأَمْرَ الْعَامَّةِ، وَخُوَيْصَةَ أَحَدِكُمْ.

Bersegeralah kalian dalam beramal (sebelum datang) enam hal: Dajjal, asap, binatang bumi, terbitnya matahari dari barat, masalah yang umum (hari Kiamat), dan sesuatu yang khusus untuk kalian (kematian).[4]

Ini pun satu hadits dari seorang Sahabat yang diriwayatkan dengan dua redaksi yang berbeda dalam urutan sebagian tanda-tanda besar Kiamat juga dalam penggunaan huruf athaf, di mana riwayat yang pertama menggunakan (أَوْ) sedangkan yang lain menggunakan (وَ), dan keduanya sama sekali tidak menunjukkan urutan.

Yang mungkin kita ketahui adalah urutan sebagian tanda dari segi kemunculan sebagiannya setelah yang lainnya, sebagaimana terdapat dalam beberapa riwayat, seperti yang dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, sebagaimana akan dijelaskan nanti insyaa Allah Ta’ala. Disebutkan di dalamnya sebagian tanda secara berurutan berdasarkan kejadiannya. Di dalamnya disebutkan keluarnya Dajjal kepada manusia terlebih dahulu, lalu turun-nya Nabi ‘Isa Alaihissalam untuk membunuhnya, setelah itu keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj pada masa Nabi ‘Isa Alaihissalam, dan menyebutkan do’a beliau agar mereka dihancurkan.

Demikian pula terdapat di sebagian riwayat bahwa tanda yang pertama adalah ini, sementara yang terakhir adalah ini. Walaupun demikian, sesungguh-nya ada perbedaan pendapat di antara para ulama tentang tanda yang pertama kali muncul, dan perdebatan ini sudah ada sejak zaman para Sahabat Radhiyallahu anhum. Imam Ahmad dan Muslim رحمهما الله meriwayatkan dari Abu Zur’ah[5], beliau berkata, “Ada tiga orang dari kalangan kaum muslimin yang duduk bersama Marwan bin Hakam di Madinah, mereka mendengarnya meriwayatkan hadits tentang tanda-tanda (Kiamat) bahwa yang pertama menjadi tandanya adalah keluarnya Dajjal. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Amr[6] rahimahullah berkata, “Marwan tidak mengatakan sesuatu (yang bisa dipegang), aku telah hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah hadits yang tidak pernah aku lupakan setelahnya, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ اْلآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحَى، وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا؛ فَاْلأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا.

Sesungguhnya tanda (Kiamat) yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari arah barat, lalu keluarnya binatang (dari dalam bumi) kepada manusia pada waktu dhuha. Dan mana saja di antara keduanya yang terlebih dahulu keluar, maka yang lainnya terjadi setelahnya dalam waktu yang dekat.”

Ini adalah redaksi dalam riwayat Muslim.

Sementara Imam Ahmad rahimahullah memberikan tambahan dalam riwayatnya, “‘Abdullah berkata -saat itu beliau membaca beberapa kitab- ‘Aku meyakini bahwa yang pertama kali keluar adalah terbitnya matahari dari barat.’”[7]

Benar, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menggabungkan antara (riwayat yang menjelaskan) bahwa keluarnya Dajjal adalah yang pertama kali dan (riwayat yang menjelaskan) bahwa terbitnya matahari dari barat adalah yang pertama kali, beliau berkata, “Pendapat yang paling kuat dari keseluruhan riwayat bahwa keluarnya Dajjal adalah tanda besar pertama yang mengisyaratkan per-ubahan keadaan secara umum di muka bumi, hal itu berakhir dengan wafatnya Nabi ‘Isa Alaihissalam. Sedangkan terbitnya matahari dari arah barat adalah tanda besar pertama yang mengisyaratkan perubahan alam atas (susunan tata surya), hal itu berakhir dengan datangnya Kiamat, dan saya kira keluarnya binatang besar (dari perut bumi) terjadi pada hari itu di mana matahari terbit dari barat.”

Kemudian beliau berkata, “Hikmah dalam hal itu bahwa ketika matahari terbit dari barat, pintu taubat ditutup, lalu binatang besar keluar. Binatang besar ini akan membedakan antara seorang mukmin dan kafir, sebagai penyempurna dari tujuan penutupan pintu taubat, dan tanda pertama yang mengisyaratkan tegaknya Kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia.”[8]

Adapun al-Hafizh Ibnu Katsir berpendapat bahwa keluarnya binatang besar yang aneh merupakan tanda Kiamat besar pertama yang terjadi di muka bumi (alam bawah), karena binatang yang berbicara dengan manusia dan membedakan antara seorang mukmin dan kafir adalah hal yang menyelisihi kebiasaan.

Sementara terbitnya matahari dari barat, maka hal itu merupakan hal yang sangat jelas dan merupakan tanda Kiamat pertama yang terjadi di langit.

Adapun munculnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa Alaihissalam dari langit, dan keluarnya Ya’-juj dan Ma’-juj, walaupun mereka keluar sebelum terbit matahari dari barat sebelum munculnya binatang karena mereka semua adalah manusia, menyaksikan mereka juga yang semisal dengan mereka, bukan hal aneh. Berbeda dengan keluarnya binatang dan terbitnya matahari dari barat, maka se-muanya adalah hal aneh.[9]

Nampaknya, pendapat yang dapat dijadikan sandaran adalah pendapat yang dipegang oleh Ibnu Hajar, karena keluarnya Dajjal dari keadaannya sebagai seorang manusia sama sekali bukan tanda Kiamat, yang menjadikannya sebagai tanda Kiamat adalah keadaannya sebagai manusia dengan kemampuan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan, maka hujan pun turun, dan memerintahkan bumi agar menumbuhkan tumbuhan, maka bumi pun menumbuhkan tumbuhan. Dia memiliki banyak kemampuan yang luar biasa, sebagaimana akan dijelaskan dalam pembahasan tentang Dajjal.

Maka Dajjal pada hakikatnya adalah tanda Kiamat besar pertama yang terjadi di bumi yang ada di luar kebiasaan.

Ath-Thaibi t[10] berkata, “Kejadian-kejadian luar biasa tersebut merupakan tanda-tanda Kiamat, sebagai tanda akan dekatnya Kiamat, atau tanda akan terjadinya Kiamat. Yang pertama adalah Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa, Ya’-juj Ma’-juj, dan penenggelaman ke dalam bumi. Bagian kedua adalah asap, terbit-nya matahari dari barat, keluarnya binatang, dan api yang mengumpulkan manusia.”[11]

Ini adalah urutan antara satu kelompok tanda-tanda Kiamat dengan kelompok yang lainnya tanpa berusaha mengurutkan setiap tanda yang ada di bawah dua kelompok tersebut, walaupun nampak bagi kami bahwa ath-Thaibi berpendapat adanya urutan Kiamat sesuai dengan yang beliau sebutkan pada setiap kelompok, karena pembagian ini -yang beliau pegang- adalah pembagian yang baik lagi teliti. Karena, jika bagian pertama yang menunjukkan dekatnya Kiamat telah keluar, maka hal itu bisa menyadarkan setiap manusia agar mereka bertaubat dan kembali kepada Rabb mereka, yang sebelumnya belum ada pembedaan antara seorang mukmin dan kafir. Tanda-tanda yang beliau sebutkan pada pembagian pertama telah kami nyatakan bahwa semua urutan-nya sesuai dengan kejadiannya, ditambah lagi dengan adanya penenggelaman ke dalam bumi, maka hal itu sesuai baginya.

Adapun jika bagian kedua telah muncul -yang menunjukkan datangnya Kiamat-, maka sesungguhnya manusia sudah dibedakan antara mukmin dan kafir, seperti yang akan dijelaskan nanti bahwa ketika munculnya asap yang menimpa setiap mukmin, maka mereka seperti dalam keadaan pilek, adapun orang kafir mengembung karena menghirup asap tersebut. Kemudian matahari terbit dari barat, maka tutuplah pintu taubat, sehingga keimanan seseorang yang sebelumnya kafir sama sekali tidak bermanfaat, demikian pula seseorang yang bertaubat. Setelah itu muncullah binatang besar yang akan membeda-bedakan manusia, sehingga seorang kafir bisa dibedakan dari seorang mukmin, karena binatang tersebut memberikan tanda bagi orang mukmin juga memberikan tanda (lain) bagi orang kafir sebagaimana akan dijelaskan. Dan akhir dari itu semua adalah munculnya api yang menggiring manusia.

Kami sengaja menyebutkan tanda-tanda besar Kiamat sesuai dengan urutan yang disebutkan oleh ath-Thaibi; karena pendapat itu -menurut hemat kami- lebih dekat kepada kebenaran, wallaahu a’lam.

Dan sebelum menyebutkan tanda-tanda besar yang sepuluh ini, kami akan berbicara terlebih dahulu tentang al-Mahdi, karena dia muncul sebelum tanda-tanda tersebut. Dialah yang bergabung dengan kaum mukminin untuk membunuh Dajjal, kemudian turunlah Nabi ‘Isa Alaihissalam, dan shalat di belakangnya sebagaimana akan dijelaskan, insya Allah.

Pembahasan Kedua
BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT
Jika tanda besar Kiamat yang pertama telah muncul, maka tanda-tanda yang lainnya akan keluar secara berurutan bagaikan mutiara di dalam sebuah rangkaian, salah satunya mengikuti yang lain.

Ath-Thabrani rahimahullah meriwayatkan dalam kitab al-Ausath dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

خُرُوْجُ اْلآيَاتِ بَعْضُهَا عَلَـى إِثْرِ بَعْضٍ، يَتَتَابَعْنَ كَمَـا تَتَابَعَ الْخَرَزُ فِي النِّظَامِ.

Munculnya tanda-tanda (Kiamat) sebagiannya mengikuti bagian yang lain, saling mengikuti bagaikan mutiara pada sebuah rangkaian.”[12]

Dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُوْمَاتٌ فِيْ سِلْكٍ، فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ؛ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا.

Tanda-tanda (Kiamat) bagaikan mutiara yang terangkai di dalam seutas benang, jika benang itu diputus, maka sebagiannya akan mengikuti sebagian yang lain.’”[13]

Hemat kami –wallaahu a’lam– yang dimaksud dengan tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda besar Kiamat, karena zhahir dari hadits-hadits ini menunjukkan saling berdekatannya kemunculan tanda-tanda tersebut dengan jarak yang sangat dekat.

Hal ini diperkuat oleh keterangan yang telah berlalu tentang urutan tanda-tanda besar Kiamat, di mana sebagian hadits menyebutkan bahwa sebagian tanda-tanda itu muncul pada zaman yang saling berdekatan. Tanda besar Kiamat yang pertama setelah kemunculan al-Mahdi adalah keluarnya Dajjal, kemudian turunnya ‘Isa Alaihissalam untuk membunuhnya, selanjutnya da-tangnya Ya’-juj Ma’-juj, dan do’a Nabi ‘Isa Alaihissalam untuk kebinasaan mereka, akhirnya Allah membinasakan mereka, selanjutnya Nabi ‘Isa Alaihissalam berkata:

فَفِيْمَا عَهِدَ إِلَيَّ رَبِّـيْ k أَنَّ ذَلِكَ إِذَا كَانَ كَذَلِكَ؛ فَإِنَّ السَّاعَةَ كَالْحَامِلِ الْمُتِمِّ الَّتِـيْ لاَ يَدْرِيْ أَهْلُهَا مَتَـى تَفْجَؤُهُمْ بِوَلاَدِهَا لَيْلاً أَوْ نَهَارًا.

Maka di antara yang diwahyukan oleh Rabb-ku kepadaku, bahwa hal itu (Kiamat) terjadi jika demikian. Maka sesungguhnya Kiamat itu bagaikan wanita hamil yang telah sempurna (kehamilannya) sementara keluarganya tidak mengetahui kapan mereka dikagetkan oleh kelahirannya, malam harikah atau siang hari?”[14]

Ini adalah dalil sangat dekatnya Kiamat, karena antara wafatnya Nabi ‘Isa Alaihissalam dan terjadinya Kiamat terdapat beberapa tanda-tanda besar Kiamat, seperti terbitnya matahari dari barat, munculnya binatang besar, asap, dan keluarnya api yang mengumpulkan manusia. Tanda-tanda Kiamat ini terjadi dalam waktu yang sangat singkat sebelum tegaknya Kiamat. Perumpamaannya seperti ikatan yang terputus dari rangkaiannya, wallaahu a’lam.

Dan kami telah mendapatkan sesuatu yang memperkuat pendapat yang telah kami sebutkan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah telah berkata, “Telah tetap bahwa tanda-tanda besar Kiamat bagaikan benang, jika ia putus, maka mutiara yang ada di dalamnya akan berjatuhan. Hadits ini dijelaskan di dalam riwayat Ahmad.”[15]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Shahiih Muslim , kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/27-28, Syarh an-Nawawi).
[2] Shahiih Muslim (XVIII/28-29, Syarh an-Nawawi).
[3] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab fii Baqiyyati min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/ 78, Syarh an-Nawawi).
[4] Ibid.
[5] Dikatakan bahwa namanya adalah Haram, ada juga yang mengatakan ‘Abdullah dan ada juga yang mengatakan ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali al-Kufi dari kalangan ulama Tabi’in. Beliau melihat ‘Ali z dan telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Mu’awiyah dan ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash g. Lihat Tahdziibut Tahdziib (XII/99).
[6] Di dalam teks asli bahasa Arab tertulis ‘Abdullah bin ‘Umar, sementara di dalam teks asli hadits saya temukan ‘Abdullah bin ‘Amr.-penj.
[7] Musnad Ahmad (II/110-111), tahqiq Ahmad Syakir, dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/77-78, dengan Syarh an-Nawawi).
[8] Fat-hul Baari (XI/353).
[9] Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/164-168), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10] Beliau adalah Syarafuddin al-Hasan bin Muhammad bin ‘Abdillah ath-Thaibi, termasuk kalangan ulama hadits, tafsir dan sastra. Beliau memiliki beberapa karya tulis, di antaranya: Syarh Misykaatil Mashaabiih, Syarh al-Kasyaaf, al-Khulaashah fii Ushuulil Hadiits, dan yang lainnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya, “Dia sangat piawai dalam mengeluarkan makna-makna mendalam di dalam al-Qur-an dan as-Sunnah, orang yang bersemangat dalam menyebarkan ilmu dan memiliki ‘aqidah yang shahih.” Beliau rahimahullah wafat pada tahun 743 H.
Lihat biografinya dalam kitab Syadzaraatudz Dzahab (VI/137-138), Kasyfudz Dzunuun (I/720), al-A’laam (II/256), karya az-Zarkali.
[11] Fat-hul Baari (XI/352-353).
[12] Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan perawinya adalah perawi ash-Shahiih selain ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Dawud az-Zahrani, keduanya tsiqah.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/331).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (III/110, no. 3222).
[13] Musnad Ahmad (XII/6-7, no. 7040) syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, dan di dalamnya ada ‘Ali bin Zaid, dia adalah perawi yang hasan haditsnya.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/321).
[14] Musnad Imam Ahmad dari hadits Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu (V/189-190, no. 3556), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[15] Fat-hul Baari (XIII/77).

Al-Mahdi

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
Pada akhir zaman akan keluar seorang laki-laki dari kalangan Ahlul Bait, Allah akan mengokohkan agama Islam dengannya, dia akan menjadi pemimpin selama tujuh tahun. Bumi akan dipenuhi dengan keadilan sebagaimana sebelum-nya dipenuhi dengan kezhaliman. Semua umat merasakan kenikmatan pada masanya dengan kenikmatan yang belum dirasakan sebelumnya; bumi mengeluarkan berbagai tumbuhan, langit menurunkan hujan, dan harta akan dilimpahkan tanpa batas.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Pada masanya, buah-buahan sangat melimpah, banyak tanaman tumbuh subur, harta melimpah, pemerintahan kuat, agama tegak, musuh tunduk, dan kebaikan langgeng di hari-harinya.”[1]

1. Nama dan Sifatnya
Nama laki-laki tersebut seperti nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan nama bapak-nya seperti nama bapak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka nama beliau adalah Muhammad -atau Ahmad- bin ‘Abdillah. Beliau berasal dari keturunan Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dari keturunan al-Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu anhuma.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang al-Mahdi, “Dia adalah Muhammad bin ‘Abdillah al-‘Alawi, al-Fathimi, al-Hasani Radhiyallahu anhu.”[2]

Dan sifatnya yang diterangkan dalam riwayat bahwa beliau memiliki dahi yang lebar, dan hidung yang mancung.

2. Tempat Keluarnya
Al-Mahdi akan keluar dari arah timur. Diterangkan dalam hadits, dari Tsauban Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلاَثَةٌ؛ كُلُّهُمْ اِبْنُ خَلِيْفَةٍ، ثُمَّ لاَ يَصِيْرُ إِلَـى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّوْدُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، فَيَقْتُلُوْنَكُمْ قِتْلاً لَمْ يَقْتُلْهُ قَوْمٌ… (ثُمَّ ذكر شَيْئًا لاَ أَحْفَظُهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ؛ فَبَايِعُوْهُ، وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ؛ فَإِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ اَلْمَهْدِيُّ.

Ada tiga orang yang akan saling membunuh di sisi simpanan kalian; mereka semua adalah putera khalifah, kemudian tidak akan kembali ke salah seorang dari mereka. Akhirnya muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lalu mereka akan memerangi kalian dengan peperangan yang tidak pernah dilakukan oleh satu kaum pun… (lalu beliau menutur-kan sesuatu yang tidak aku fahami, kemudian beliau berkata:) Jika kalian melihatnya, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya ia adalah khalifah Allah al-Mahdi.”[3]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan simpanan pada redaksi tersebut adalah simpanan Ka’bah. Tiga orang dari putera-putera khalifah akan saling membunuh di sisinya untuk memperebutkannya hingga tiba akhir zaman. Kemudian keluarlah al-Mahdi dan beliau datang dari arah timur, bukan dari Sardab Samira sebagaimana dikatakan oleh orang-orang bodoh dari ka-langan Rafidhah bahwa al-Mahdi saat ini ada di dalamnya, dan mereka sedang menunggu kemunculannya di akhir zaman. Ini adalah satu bentuk kebohongan, keterbelakangan yang sangat nampak, dan kehebatan tipu daya syaitan, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu, juga bukti dari al-Qur-an, as-Sunnah, akal sehat, dan anggapan yang benar.

Beliau pun berkata, “Beliau didukung oleh orang-orang dari timur yang menolongnya, menegakkan kekuasaannya, memperkuat sendi-sendinya, dan bendera mereka saat itu pun berwarna hitam, yang melambangkan ketenangan, sebagaimana bendera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu berwarna hitam dengan sebutan al-‘Uqaab.”

Sampai perkataan beliau, “Dan maksud dari pernyataan bahwa al-Mahdi yang dipuji lagi dijanjikan keberadaannya di akhir zaman, asal munculnya adalah dari arah timur. Dan dia akan dibai’at di Masjidil Haram (dekat Ka’bah), sebagaimana ditunjukan oleh sebagian hadits.”[4]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/31) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[2] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/29).
[3] Sunan Ibni Majah, kitab al-Fitan, bab Khuruujul Mahdi (II/1367), Mustadrak al-Hakim (IV/463-464), beliau berkata, “Hadits ini shahih dengan syarat asy-Syaikhani.” Disepakati oleh adz-Dzahabi.
Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah sanad yang kuat dan shahih.” An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/29) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
Al-Albani berkata, “Makna hadits ini shahih tanpa lafazh, فَإِنَّ فِيْهَا خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِيُّ, Ibnu Majah telah meriwayatkannya dari jalan ‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ seperti riwayat ‘Utsman yang kedua, dan sanadnya hasan, dan tidak didapatkan padanya ungkapan “Khalifatullah”. Tambahan ini tidak memiliki jalan yang tsabit (kuat) tidak pula memiliki riwayat yang dapat memperkuatnya, ia adalah tambahan yang munkar… dan di antara kemunkarannya bahwa di dalam hukum Islam tidak dibenarkan mengatakan “Khalifatullah”, karena ungkapan tersebut memberikan isyarat sesuatu yang tidak layak bagi Allah berupa kekurangan dan kelemahan.”
Kemudian beliau menukil perkataan dari al-Fataawaa’ karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t yang di dalamnya terdapat bantahan bagi orang yang berkata bahwa Khalifah itu adalah khalifah dari Allah, “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan khalifah, karena Allah adalah al-Hayy (Yang Maha-hidup), asy-Syahiid (Yang Mahamenyaksikan), al-Muhaimin (Yang Mahaperkasa), al-Qayyum (Yang Mahaberdiri sendiri), ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi), al-Hafiizh (Yang Mahamenjaga), dan al-Ghaniiy (Yang Mahakaya) atas semua alam. Dan sesungguhnya adanya khalifah ketika tidak adanya orang yang digantikan, dengan sebab kematian atau pergi, sementara Allah disucikan dari sifat seperti itu.”
Lihat Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah wal Maudhuu’ah, (I/119-121, no. 85).
[4] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/29-30).

Dalil Dari As-Sunnah yang Menunjukkan Akan Kedatangannya

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
3. Dalil-Dalil dari as-Sunnah yang Menunjukkan Akan Kedatangannya
Telah diriwayatkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan akan munculnya al-Mahdi. Di antara hadits-hadits ini ada yang khusus menyebutkan tentang al-Mahdi, ada juga yang hanya menyebutkan sifat-sifatnya.[1] Di sini kami akan menjelaskan sebagian hadits-haditsnya, dan hal itu sudah cukup dalam menetapkan kemunculannya pada akhir zaman sebagai tanda dari tanda-tanda Kiamat.

  • Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَخْرُجُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِـي الْمَهْدِيُّ؛ يُسْقِيْهِ اللهُ الْغَيْثَ، وَتُخْرِجُ اْلأَرْضُ نَبَاتَهَا، وَيُعْطِى الْمَالَ صِحَاحًا، وَتَكْثُرُ الْمَاشِيَةُ، وَتَعْظُمُ اْلأُمَّةُ، يَعِيْشُ سَبْعًا أَوْ ثَمَانِيًا (يَعْنِي: حِجَجًا).

Pada akhir umatku akan keluar al-Mahdi. Allah menurunkan hujan kepadanya, bumi mengeluarkan tumbuhannya, harta akan dibagikan secara merata, binatang ternak melimpah dan umat menjadi mulia, dia akan hidup selama tujuh atau delapan (yakni, musim haji).[2]

  • Dan darinya (Abu Sa’id) Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ؛ يُبْعَثُ عَلَـى اخْتِلاَفٍ مِنَ النَّاسِ وَزَلاَزِلَ، فَيَمْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ جُوْرًا وَظُلْمًا، يُرْضِـى عَنْهُ سَاكِنُ السَّمَاءِ وَسَاكِنُ اْلأَرْضِ، يَقْسِمُ الْمَالَ صِحَاحًا.

Aku berikan kabar gembira kepada kalian dengan al-Mahdi, yang diutus saat manusia berselisih dengan banyaknya keguncangan. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kelaliman dan kezhaliman sebelumnya. Penduduk langit dan penduduk bumi meridhainya, ia akan membagikan harta dengan cara shihaah (merata).’

Seseorang bertanya kepada beliau, ‘Apakah shihaah itu?’ Beliau men-jawab, ‘Dengan merata di antara manusia.’”

Beliau bersabda:

وَيَمْلأُ اللهُ قُلُوْبَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غِنًـى، وَيَسَعُهُمْ عَدْلُهُ، حَتَّى يَأْمُرَ مُنَادِيًا، فَيُنَادِيْ، فَيَقُوْلُ: مَنْ لَهُ فِـي مَالٍ حَاجَةٌ؟ فَمَا يَقُوْمُ مِنَ النَّاسِ إِلاَّ رَجَلٌ، فَيَقُوْلُ: اِئْتِ السَّدَّانَ -يَعْنِي: الْخَازِنَ-، فَقُلْ لَهُ: إِنَّ الْمَهْدِيَّ يَأْمُرُكَ أَنْ تُعْطِيْنِيْ مَالاً. فَيَقُوْلُ لَهُ: اِحْثِ، حَتَّـى إِذَا حَجَرَهُ وَأَبْرَزَهُ؛ نَدِمَ، فَيَقُوْلُ: كُنْتُ أَجْشَعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ نَفْسًا، أَوْ عَجِزَ عَنِّي مَا وَسِعَهُمْ؟ قَالَ: فَيَرُدُّهُ، فَلاَ يُقْبَلُ مِنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: إِنَّا لاَ نَاْخُذُ شَيْئًا أَعْطَيْنَاهُ، فَيَكُوْنُ كَذَلِكَ سَبْعَ سِنِيْنَ أو ثَمَانِ سِنِيْنَ أَوْتِسْعَ سِنِيْنَ، ثُمَّ لاَ خَيْرَ فِي الْعَيْشِ بَعْدَهُ أَوْ قَالَ: ثُمَّ لاَ خَيْرَ فِي الْحَيَاةِ بَعْدَهُ.

Dan Allah memenuhi hati umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kekayaan (rasa puas), meliputi mereka dengan keadilannya, sehingga dia memerintah seorang penyeru, maka penyeru itu berkata, ‘Siapakah yang memerlukan harta?’ Lalu tidak seorang pun berdiri kecuali satu orang. Dia (al-Mahdi) berkata, ‘Temuilah penjaga (gudang harta) dan katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya al-Mahdi memerintahkan mu untuk memberikan harta kepadaku.’ Kemudian dia (penjaga) berkata kepadanya, ‘Ambillah sedikit!’ Sehingga ketika dia telah menyimpan di pangkuannya dan menampakkannya, dia menyesal dan berkata, ‘Aku adalah umat Muhammad yang jiwanya paling rakus, atau aku tidak mampu mencapai apa yang mereka capai?’” Beliau berkata, “Lalu dia mengembalikannya dan harta itu tidak diterima, maka para penjaga gudang harta berkata padanya, ‘Sesungguhnya kami tidak menerima apa-apa yang telah kami berikan.’ Demikian-lah yang akan terus terjadi selama tujuh tahun atau delapan tahun atau sembilan tahun, kemudian tidak ada lagi kehidupan yang baik setelah itu.” Atau beliau berkata, “Kemudian tidak ada lagi hidup yang baik setelahnya.”[3]

Hadits ini menunjukkan bahwa setelah kematian al-Mahdi akan muncul kejelekan dan berbagai fitnah besar.

  • Diriwayatkan dari ‘Ali Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَهْدِيُّ مِنَّا أَهْلَ الْبَيْتِ، يُصْلِحُهُ اللهُ فِيْ لَيْلَةٍ.                  

Al-Mahdi dari keturunan kami; Ahlul Bait, Allah akan memperbaikinya dalam satu malam.’”[4]

Ibnu Katsir berkata, “Maknanya adalah memberikan taubat, memberikan taufik kepadanya, mengilhaminya, dan membimbingnya padahal sebelumnya tidak demikian.”[5]

  • Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَهْدِيُّ مِنِّي، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، أَقْنَى اْلأَنْفِ، يَمْلأُ اْلأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجُوْرًا، يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِيْنَ.

‘Al-Mahdi dari keturunanku, dahinya lebar, hidungnya mancung. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana bumi telah dipenuhi dengan kezhaliman dan kelaliman sebelumnya. Dia akan berkuasa selama tujuh tahun.’”[6]

  • Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمَهْدِيُّ مِنْ عِتْرَتِيْ، مِنْ وَلَدِ فَاطِمَةَ.

Al-Mahdi berasal dari Ahlul Baitku, dari keturunan Fathimah.’”[7]

  • Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ اَلْمَهْدِيُّ: تَعَالَ صَلِّ بِنَا، فَيَقُوْلُ: لاَ؛ إِنَّ بَعْضَهُمْ أَمِيْرُ بَعْضٍ؛ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

‘‘Isa bin Maryam turun, lalu pemimpin mereka, al-Mahdi berkata, ‘Shalat-lah mengimami kami!’ Dia berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lainnya, sebagai suatu ke-muliaan yang Allah berikan kepada umat ini.’”[8]

  • Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنَّا الَّذيْ يُصَلِّي عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ خَلْفَهُ.

Orang yang menjadi imam bagi ‘Isa bin Maryam di dalam shalatnya adalah dari golongan kami.’”[9]

  • Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَذْهَبُ أَوْ لاَ تَنْقَضِي الدُّنْيَا حَتَّى يُمْلِكَ الْعَرَبُ رَجَلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ، يُوَاطِىءُ اِسْمُهُ اِسْمِيْ.

Dunia tidak akan hilang atau tidak akan lenyap hingga seseorang dari Ahlul Baitku menguasai bangsa Arab, namanya sama dengan namaku.”[10]

Dalam satu riwayat:

يُوَاطِىءُ اِسْمُهُ اِسْمِيْ وَاسْمُ أَبِيْهِ اِسْمَ أَبِيْ.

Namanya sama dengan namaku dan nama bapaknya sama dengan nama bapakku.”[11]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Syaikh ‘Abdul ‘Alim bin ‘Abdil ‘Azhim telah melakukan penelitian berbagai pendapat tentang hadits-hadits al-Mahdi di dalam risalahnya yang berjudul al-Ahaadiits fil Mahdi fii Miizaanil Jarh wat Ta’diil untuk mendapatkan gelar S2. Beliau menyebutkan para imam yang meriwayatkannya, menyebutkan pendapat para ulama tentang sanad untuk setiap hadits, hukum atasnya, kemudian hasil yang didapatkannya. Maka siapa saja yang ingin mendapatkan penjelasan lebih luas, hendak-lah ia membaca risalah tersebut, karena ia adalah rujukan paling luas dalam pembicaraan tentang hadits-hadits al-Mahdi, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad di dalam Majallah al-Jaami’ah al-Islaamiyah (edisi 45/hal. 323).
Kesimpulan dari yang beliau sebutkan adalah berupa hadits-hadits marfu’, demikian pula atsar-atsar dari para Sahabat dan yang lainnya sebanyak 336 riwayat. Di antaranya 32 hadits dan 11 atsar, semua-nya ada di antara shahih dan hasan, yang secara jelas menyebutkan kata al-Mahdi sebanyak 9 hadits dan 6 atsar, sementara selebihnya hanyalah menyebutkan sifat-sifat dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa semuanya ada pada diri al-Mahdi.
Banyak dari kalangan para Hafizh (ahli hadits) yang menshahihkan hadits-hadits al-Mahdi. Di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaamisy Syii’ah wal Qadariyyah (IV/211), al-‘Allamah Ibnul Qayyim dalam kitabnya al-Manaarul Muniif fish Shahiihi wadh Dha’iif (hal. 142 dan yang setelahnya), tahqiq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, dan dishahihkan pula oleh al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/24-32) tahqiq Dr. Thaha Zaini, dan para ulama lainnya sebagaimana akan dijelaskan.
[2] Mustadrak al-Hakim (IV/557-558), beliau berkata, “Sanad hadits ini shahih, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.” Dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
Al-Albani berkata, “Ini adalah sanad yang shahih, perawinya tsiqat.” Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (II/336, no. 711).
Dan lihat Risalah ‘Abdul ‘Alim Ahaadiitsul Mahdi fii Miizaanil Jarh wat Ta’diil (hal. 127-128).
[3] Musnad Imam Ahmad (III/37, Muntakhab al-Kanz).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya dengan banyak diringkas, dan diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad-sanadnya, Abu Ya’la dengan sangat diringkas dan para perawi keduanya tsiqat.” Majmaa’uz Zawaa-id (VII/313-314).
Lihat Aqidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdil Muntazhar (hal. 177), karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad.
[4] Musnad Ahmad (II/58, no. 645), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan Sunan Ibni Majah (II/1367).
Dan hadits ini dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (VI/22, no. 6611).
[5] An-Nihaayah fil Fitan wal Malaahim (I/29) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[6] Sunan Abi Dawud, kitab al-Mahdi (XI/375, no. 4265), dan Mustadrak al-Hakim (IV/557), beliau berkata, “Hadits ini shahih dengan syarat Muslim, akan tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.”
Adz-Dzahabi berkata, “‘Imran (salah satu perawi hadits) lemah, dan Muslim tidak menjadikannya sebagai perawi.”
Al-Mundziri mengomentari sanad Abu Dawud, “Di dalam sanadnya ada ‘Imran al-Qaththan, dia adalah Abul ‘Awam ‘Imran bin Dawir al-Qaththan al-Bashri. Al-Bukhari menjadikannya sebagai penguat, ‘Affan bin Muslim mentsiqatkannya, dan Yahya bin Sa’id al-Qaththan memujinya, sedangkan Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i melemahkannya.” Aunul Ma’buud (XI/375).
Adz-Dzahabi berkata dalam al-Miizaan, “Ahmad berkata, ‘Aku berharap dia sebagai perawi yang haditsnya shalih (baik).’” Abu Dawud berkata, “Lemah.” Miizaanul I’tidaal (III/236).
Ibnu Hajar mengomentarinya, “Shaduq Yuhammu, dan dituduh sebagai orang yang berpola pikir Khawarij.” Taqriibut Tahdziib (II/83).
Ibnul Qayyim mengomentari sanad Abu Dawud, “Jayyid, al-Manaarul Muniif (hal. 144) tahqiq Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Al-Albani berkata, “Sanadnya hasan,” Shahiihul Jaami’ (VI/22-23, no. 6616).
[7] Sunan Abi Dawud (XI/373), dan Sunan Ibni Majah (II/1368).
Al-Albani berkata dalam Shahiihul Jaami’, “Shahih.” (VI/22, no. 6610).
Lihat Risalah ‘Abdul ‘Alim tentang al-Mahdi (hal. 160).
[8] HR. Al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya, begitu juga diriwayatkan dalam al-Manaarul Muniif, karya Ibnul Qayyim (hal. 147-148), dan al-Haawi fil Fataawaa’, karya as-Suyuthi (II/64).
Ibnul Qayyim berkata, “Ini adalah sanad yang jayyid.”
Dishahihkan oleh ‘Abdul ‘Alim di dalam risalahnya tentang al-Mahdi (hal. 144).
[9] HR. Abu Nu’aim dalam Akhbaarul Mahdi sebagaimana dikatakan oleh as-Suyuthi di dalam al-Haawi (II/64), dan beliau memberikan lambang dengan dha’if, demikian pula al-Manawi dalam Faidhul Qadiir (VI/17).
Al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (V/219, no. 5796).
‘Abdul ‘Alim berkata dalam risalahnya, “Sanadnya hasan dengan beberapa penguat.” (hal. 241).
[10] Musnad Ahmad (V/199, no. 485), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
At-Tirmidzi (VI/485), beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dan Sunan Abi Dawud (XI/371).
[11] Sunan Abi Dawud (XI/370).
Al-Albani berkata, “Shahih,” Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (V/70-71, no. 5180). Lihat Risaalah ‘Abdul ‘Alim fil Mahdi (hal. 202).
Kedua riwayat ini semuanya berporos kepada ‘Ashim bin Abi an-Najwad, dia perawi tsiqah dengan haditsnya yang hasan.
Imam Ahmad mengomentarinya, “Dia seorang yang shalih, dan aku memilih riwayat dari sahabat-sahabatnya,” Abu Hatim mengomentari beliau, “Ia terdaftar dalam catatanku sebagai orang yang jujur, haditsnya shalih, dan dia tidak disebut sebagai orang yang banyak hafal hadits dengan keadaan-nya itu.” Al-‘Uqaili berkata, “Tidak ada apa-apa pada dirinya kecuali hafalannya yang jelek,” ad-Daraquthni berkata, “Di dalam hafalannya ada kelemahan,” adz-Dzahabi berkata, “Beliau tsabit (bagus) dalam membaca (qira-ah), akan tetapi di dalam menyampaikan hadits beliau tidak demikian, beliau perawi jujur namun sering salah, haditsnya hasan.” Dan beliau berkata, “Ahmad dan Abu Zur’ah berkata, ‘Tsiqah,’” dia pun berkata, “Asy-Syaikhani meriwayatkannya, akan tetapi mengguna-kan penyerta yang lainnya, tidak menjadikannya sebagai landasan dan tidak pula diriwayatkan secara menyendiri.” Ibnu Hajar berkata, “Shaduq, beliau memiliki wahm (keragu-raguan), hujjah di dalam qira-ah.”
Lihat Miizaanul I’tidaal (II/357), Taqriibut Tahdziib (I/383), dan ‘Aunul Ma’buud (XI/372).

Hadits Shahiih al-Bukhari Dan Muslim yang Keterkaitan al-Mahdi

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
4. Sebagian Hadits Dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim yang Memiliki Keterkaitan dengan al-Mahdi

  • Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ اِبْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ، وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ؟

Bagaimanakah keadaan kalian ketika putera Maryam turun di tengah kalian, sedangkan imam kalian dari kalangan kalian?!’”[1]

  • Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى الْحَقِّ، ظَاهِرِيْنَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. قال: فَيَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمْ: تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُوْلُ: لاَ؛ إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمْرَاءُ؛ تَكْرِمَةَ اللهِ هَذِهِ اْلأُمَّةَ.

Senantiasa sekelompok dari umatku berjuang di atas kebenaran, mereka akan tetap ada sampai hari Kiamat.’ Beliau bersabda, ‘Lalu ‘Isa bin Maryam Alaihissalam turun, pemimpin mereka berkata, ‘Kemarilah, shalatlah meng-imami kami.’ Lalu dia berkata, ‘Tidak, sesungguhnya sebagian dari kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lainnya sebagai kemuliaan yang Allah berikan kepada umat ini.’[2]

  • Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثِي اْلَمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا.

Di akhir umatku akan ada seorang khalifah yang akan membagi-bagikan harta dengan kedua tangannya tanpa ada yang dapat menghitungnya.’”

Al-Jurairi[3] -salah seorang perawinya- berkata:

قُلْتُ لأَبِيْ نَضْرَةَ وَأَبِي الْعَلاَءِ: أَتَرَيَانِ أَنَّهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدَالْعَزِيْزِ؟ فَقَالاَ: لاَ.

Aku berkata kepada Abu Nadhrah[4] dan Abil ‘Ala,[5] ‘Apakah kalian berpendapat bahwa ia  adalah ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz?’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’”[6]

Hadits-hadits yang terdapat dalam ash-Shahiihain ini menunjukkan dua hal:

Pertama, bahwa ketika ‘Isa bin Maryam q turun dari langit, maka orang yang akan mengatur urusan kaum muslimin adalah seorang laki-laki dari kalangan mereka.

Kedua, bahwa kehadiran pemimpin mereka untuk melakukan shalat, dan mengimami kaum muslimin, serta permohonannya kepada Nabi ‘Isa agar maju menjadi imam bagi shalat mereka, semua ini menunjukkan keshalihan pemimpin tersebut dan keadaannya yang berada di dalam petunjuk (hidayah). Hadits tersebut walaupun tidak mengandung penyebutan yang jelas dengan kata al-Mahdi, namun hadits tersebut menunjukkan kepada seorang laki-laki shalih yang menjadi imam bagi kaum muslimin saat itu. Telah diriwayatkan berbagai hadits di dalam kitab-kitab as-Sunan, Musnad dan selainnya yang memberikan penafsiran terhadap hadits-hadits yang ada di dalam ash-Shahiihain, dan menunjukkan bahwa laki-laki shalih tersebut bernama Muhammad bin ‘Abdillah, yang dijuluki dengan al-Mahdi, sedangkan as-Sunnah saling menafsirkan satu sama lainnya.

Di antara hadits-hadits yang menunjukkan hal itu adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnadnya dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ، فَيَقُوْلُ أَمِيْرُهُمُ الْمَهْدِيُّ…

‘‘Isa bin Maryam akan turun, sementara pemimpin mereka al-Mahdi berkata….’”[7]

Hadits ini menunjukkan bahwa pemimpin tersebut adalah pemimpin yang disebutkan dalam Shahiih Muslim yang meminta kepada Nabi ‘Isa Alaihissallam agar maju untuk menjadi imam dalam shalat; namanya adalah al-Mahdi.

Syaikh Shiddiq Hasan Khan menyebutkan hadits yang banyak tentang al-Mahdi di dalam kitabnya al-Idza’ah. Beliau menjadikan hadits Jabir yang disebutkan di dalam riwayat Muslim di bagian akhir, kemudian beliau berkata, “Di dalamnya tidak ada ungkapan al-Mahdi, akan tetapi tidak ada makna lain di atas hadits tersebut dan hadits yang semisalnya selain al-Mahdi yang dinantikan, sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa hadits terdahulu juga atsar yang banyak.”[8]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Shahiih al-Bukhari, kitab Ahaadiitsul Anbiyaa’, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam q (VI/491), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Nuzuulu ‘Isaa bin Maryam Alaihissallam Haakiman (II/193, Syarh an-Nawawi).
[2] Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Nuzuulu ‘Isa bin Maryam Alaihissallam Haakiman (II/193-194, Syarh an-Nawawi).
[3] Beliau adalah Abu Mas’ud Sa’id bin Iyas al-Jurairi al-Bashri, seorang ahli hadits di Bashrah, tsiqah, dan mukhthalat (hafalannya kacau) 3 tahun sebelum dia wafat. Wafat pada tahun 144 H rahimahullah.
Lihat Tahdziibut Tahdziib (IV/5-7).
[4] Beliau adalah al-Mundzir bin Malik bin Qith’ah al-‘Abadi al-Bashri, perawi tsiqah, beliau meriwayat-kan dari beberapa Sahabat. Wafat pada tahun 108 H rahimahullah.
Lihat Tahdziibut Tahdziib (X/302-303).
[5] Beliau adalah Yazid bin ‘Abdillah bin asy-Syikhir al-‘Amiri, seorang Tabi’in, tsiqah, beliau me-riwayatkan dari sekelompok Sahabat. Wafat pada tahun 108 H t. Lihat Tahdziibut Tahdziib (XI/341).
[6] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/38-39, Syarh an-Nawawi), dan diriwayat-kan pula oleh al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah bab al-Mahdi (XV/86-87), tahqiq Syu’aib al-Arna-uth.
Al-Baghawi berkata, “Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Muslim.”
[7] Telah dijelaskan takhrij hadits ini sebelumnya.
[8] ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdi al-Muntazhar (hal. 175-176), karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd al-Hammad, seorang dosen di Universitas Islam Madinah di Madinah al-Munawwarah, cet. I, th. 1402 H, cet. ar-Rasyid, Madinah, lihat al-Idza’aah (hal. 144).

Kemutawatiran Hadits Tentang al-Mahdi

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
5. Kemutawatiran Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi
Hadits-hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya juga yang tidak kami nukil pada pembahasan ini -khawatir terlalu panjang- menunjukkan bahwa hadits-hadits yang menerangkan al-Mahdi memiliki derajat mutawatir ma’nawi (mutawatir secara makna) dan hal itu telah dinyatakan oleh para imam. Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan sebagian pernyataan mereka.

  • Al-Hafizh Abul Hasan al-Abari berkata, “Khabar-khabar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang al-Mahdi telah mencapai derajat mutawatir, sesungguhnya dia dari kalangan Ahlul Bait. Dia berkuasa selama tujuh tahun, memenuhi bumi dengan keadilan, dan Nabi ‘Isa Alaihissallam akan turun lalu membantunya untuk membunuh Dia (al-Mahdi) mengimami shalat umat Islam, dan Nabi ‘Isa shalat di belakangnya.”[1]
  • Muhammad al-Barzanzi rahimahullah[2] dalam kitabnya al-Isyaa’ah li Asyraathis Saa’ah berkata, “Bab ketiga tentang tanda-tanda besar Kiamat yang ber-lanjut dengan kedatangan Kiamat, dan hal itu banyak sekali, di antaranya adalah al-Mahdi, sebagai tanda yang pertama. Dan ketahuilah bahwa hadits-hadits yang menjelaskannya dengan berbagai redaksi yang berbeda hampir-hampir tidak tidak dapat dihitung.”[3]

Beliau pun berkata, “Engkau telah mengetahui tentang hadits-hadits yang menjelaskan akan keluarnya al-Mahdi, dan sesungguhnya beliau dari keturunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari putera Fathimah Radhiyallahu anha di mana telah mencapai batasan mutawatir ma’nawi, (mutawatir secara makna). Maka tidak ada alasan lagi untuk mengingkarinya.”[4]

  • Al-‘Allamah Muhammad as-Safarini rahimahullah [5]berkata, “Telah banyak riwayat yang menerangkan keluarnya -al-Mahdi-, hingga mencapai derajat mutawatir secara makna. Dan hal itu telah tersebar di antara para ulama Sunnah, sehingga diperhitungkan sebagai prinsip ‘aqidah mereka.”

Kemudian beliau menuturkan beberapa hadits juga atsar yang menjelaskan keluarnya al-Mahdi, dan nama sebagian Sahabat yang meriwayatkannya, lalu beliau berkata, “Telah diriwayatkan dari kalangan Sahabat yang telah disebutkan namanya dan yang tidak disebutkan Radhiyallahu anhum dengan beberapa riwayat yang beragam, juga dari para Tabi’in setelah mereka. Semuanya memberikan faidah adanya ilmu yang qath’i (pasti), maka beriman akan keluarnya al-Mahdi adalah wajib sebagaimana ditetapkan oleh para ulama, dan dibukukan dalam ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.”[6]

  • Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits mutawatir tentang kedatangan al-Mahdi al-Muntazhar yang mungkin dijadikan sebagai landasan, ada lima puluh hadits. Di antaranya ada yang shahih, hasan, dan dha’if yang mencapai puluhan, maka semuanya tidak diragukan dan tanpa ada kesamaran merupakan hadits mutawatir, bahkan dianggap tepat mensifati dengan mutawatir beberapa riwayat yang kurang dari jumlah lima puluh riwayat berdasarkan semua istilah yang ada dalam ilmu hadits. Adapun atsar para Sahabat yang menjelaskan kedatangan al-Mahdi, maka hal itu banyak sekali, semuanya memiliki hukum marfu’, karena tidak ada ruang ijtihad dalam masalah seperti ini.”[7]
  • Shiddiq Hasan rahimahullah[8] berkata, “Hadits-hadits yang ada tentang -al-Mahdi- dengan riwayatnya yang beragam adalah sangat banyak, mencapai derajat mutawatir. Hadits-hadits tersebut ada di dalam kitab-kitab as-Sunan juga kitab-kitab Islam lainnya berupa kitab-kitab Mu’jam dan Musnad.”[9]
  • Syaikh Muhammad bin Ja’far al-Kattani rahimahullah[10] berkata, “Kesimpulannya bahwa hadits-hadits yang menerangkan tentang al-Mahdi al-Muntazhar adalah mutawatir, demikian pula yang menjelaskan tentang Dajjal dan yang menjelaskan tentang turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam Alaihissallam.”[11]

6. Beberapa Ulama yang Menulis Kitab Khusus Tentang al-Mahdi
Selain kitab-kitab hadits yang masyhur, seperti Sunan yang empat juga kitab-kitab Musnad, seperti Musnad Ahmad, Musnad al-Bazzar, Musnad Abu Ya’la, Musnad al-Harits bin Abi Usamah, Mustadrak al-Hakim, Mushannaf Ibni Abi Syaibah, Shahiih Ibni Khuzaimah, dan selainnya yang di dalamnya menjelas-kan al-Mahdi. Sekelompok ulama telah menulis tentang al-Mahdi al-Muntazhar secara khusus di dalam beberapa karya tulis yang di dalamnya menuturkan beberapa hadits tentangnya, di antara karya tulis tersebut adalah:

  1. Al-Hafizh Abu Bakar bin Abi Khaitsamah rahimahullah[12] mengumpulkan be-berapa hadits tentang al-Mahdi, sebagaimana hal itu diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya yang dinukil dari as-Suhaili.[13]
  2. As-Suyuthi menulis satu juz dengan judul al-‘Urful Wardi fi Akhbaaril Mahdi dicetak bersama kitab al-Haawi lil Fataawaa’.[14]
  3. Al-Hafizh Ibnu Katsir menyebutkan di dalam kitabnya an-Nihaayah/ al-Fitan wal Malaahim, beliau menulis satu juz khusus tentang al-Mahdi.[15]
  4. Demikian pula ‘Ali al-Muttaqa al-Hindi rahimahullah [16] memiliki satu risalah khu-sus tentang hal ihwal al-Mahdi.[17]
  5. Ibnu Hajar al-Makki rahimahullah [18] memiliki sebuah karya tulis yang diberi judul al-Qaulul Mukhtashar fii ‘Alaamatil Mahdi al-Muntazhar.[19]
  6. Al-Mulla ‘Ali al-Qari rahimahullah [20] menulis sebuah buku yang diberi judul al-Masyrabul Wardi fii Madzhabil Mahdi.[21]
  7. Mar’i bin Yusuf al-Hanbali rahimahullah [22] menulis kitab Fawaa-idul Fikr fii Zhu-huuril Muntazhar.[23]
  8. Asy-Syaukani rahimahullah menulis sebuah kitab dengan judul at-Taudhiih fii Tawaaturi maa Jaa-a fil Mahdil Muntazhar wad Dajjal wal Masiih.[24]
  9. Shiddiq Hasan berkata, “Sayyid al-‘Allamah Badrul Millah al-Munir Muhammad bin Isma’il al-Amir al-Yamani rahimahullah [25] telah mengumpulkan hadits-hadits yang menunjukkan keluarnya al-Mahdi dari keluarga Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dia akan muncul pada akhir zaman.”[26]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Tahdziibul Kamaal fii Asmaa-ir Rijaal (III/1194), karya Abul Hajjaj Yusuf al-Mazzi, tulisan yang dicopy dari tulisan tangan Darul Kitab al-Mishriyyah, al-Manaarul Muniif (hal. 142), tahqiq ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah, Fat-hul Baari (VI/493-494), al-Haawi lil Fataawaa’ di dalam juz al-‘Urful Wardi fi Akhbaaril Mahdi (II/85-86). Dan lihat pula kitab Aqiidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdil Muntazhar (hal. 171-172), karya Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad.
[2] Beliau adalah Syaikh Muhammad bin ‘Abdirrasul bin ‘Abdissayyid al-Hasani al-Barzanzi, salah seorang ahli fiqih madzhab asy-Syafi’i, beliau memiliki keilmuan di bidang tafsir dan sastra, me-lakukan perjalanan ke Baghdad, Damaskus dan Mesir. Beliau menetap di Madinah, belajar, dan wafat di sana pada tahun 1103 H. Beliau memiliki beberapa karya tulis rahimahullah. Lihat al-A’laam, karya az-Zarkali (VI/203-204).
[3] Al-Isyaa’ah (hal. 87).
[4] Al-Isyaa’ah (hal. 112).
[5] Beliau adalah al-‘Allamah Muhammad Salim as-Safarini, seorang ulama hadits, ushul fiqh dan sastra, juga seorang muhaqqiq. Dilahirkan di Safarin, perkampungan di Nablus. Beliau memiliki beberapa karya tulis, beliau memiliki sebuah mauzhumah (kumpulan sya’ir) tentang ‘aqidah juga syarahnya (penjelasannya) yang diberi nama Lawaami’ atau Lawaamih al-Anwaaril Bahiyyah wa Sawaati’il Asraar al-Atsariyyah al-Mudhii-ah li Syarhid Durratil Mudhii-ah fii ‘Uqdatil Firqatil Mardhiyyah, beliau menulis kitab Ghidaa-ul Albaab Syarh Manzhuumatul Aadaab dan kitab Nafatsaat Shadril Makmad juga Qurratu ‘Ainil Mas’ad Syarh Tsulaatsiyyat al-Imam Ahmad juga yang lainnya. Beliau t wafat pada tahun 1118 H di Nablus.
Lihat biografinya dalam kitab al-A’laam, karya az-Zarkali (VI/14).
[6] Lawaami’ul Anwaaril Bahiyyah (II/84), dan lihat kitab ‘Aqiidatu Ahlis Sunnah wal Atsar (hal. 174).
[7] Dari risalah asy-Syaukani yang diberi judul at-Taudhiih fii Tawaaturi ma Jaa-a fil Mahdi al-Muntazhar wad Dajjal wal Masiih, diungkapkan oleh Shiddiq Hasan Khan dalam kitabnya al-Idzaa’ah (hal. 113-114), al-Kattani juga menukil hal itu dari asy-Syaukani dalam kitabnya Nazhmul Mutanaatsir minal Hadiitsil Mutawaatir (hal. 145-146).
Lihat pula kitab ‘Aqiidatu Ahlis Sunnah wal Atsar fil Mahdil Muntazhar (hal. 173-174).
[8] Beliau adalah al-‘Allamah Muhammad Shiddiq Khan bin Hasan al-Husaini al-Bukhari al-Qanuji, pemilik beberapa karya tulis di bidang tafsir, hadits, fiqih dan ushul. Singgah di Bahwabal, menikah dengan ratunya di sana, dan wafat pada tahun 1307 H rahimahullah. Lihat al-A’laam (VI/167-168), karya az-Zarkali.
[9] Al-Idzaa’ah limaa Kaana wamaa Yakuunu bainai Yadayis Saa’ah (hal. 112).
[10] Beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ja’far bin Idris al-Kattani al-Hasani al-Farisi, seorang pakar sejarah, ahli hadits yang dilahirkan di Persia, melakukan perjalanan ke Hijaz dan Damaskus, kemudian kembali ke Maghrib dan wafat di Faas t pada tahun 1345 H. Beliau memiliki banyak karya tulis.
Lihat al-A’laam (VI/72-73).
[11] Nazhmul Mutanaatsir minal Hadiitsil Mutawaatir (hal. 147), karya Syaikh Muhammad bin Ja’far al-Kattani.
[12] Beliau adalah al-Hafizh al-Kabir Abu Bakar Ahmad bin Abi Khaitsamah. Ayahnya adalah Zuhair bin Harb, seorang hafizh dan salah seorang guru Imam Muslim. Abu Bakar mengambil ilmu dari Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Ma’in, beliau juga seorang periwayat tentang adab. Beliau memiliki kitab at-Taarikhul Kabiir, adz-Dzahabi berkata tentangnya, “Aku tidak mengenal orang yang lebih banyak ilmu daripadanya,” wafat pada tahun 279 H t.
Lihat Siyar A’laamin Nubalaa’ (XI/492-493), Tadzkiratul Huffaazh (II/596), dan Thabaqaat al-Hanaabilah (I/44).
[13] Lihat Taariikh Ibni Khaldun, Muqaddimah (hal. 556).
[14] Al-Haawi lil Fataawaa’ (II/57).
[15] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/30) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16] Beliau adalah ‘Ali bin Husamuddin al-Hindi. Beliau adalah salah seorang yang menyibukkan dirinya dengan hadits, tinggal di Makkah dan wafat pada tahun 975 H rahimahullah.
Lihat Syadzaaratudz Dzahab (VIII/379), dan al-A’laam (IV/271).
[17] Lihat al-Isyaa’ah li Asyraathis Saa’ah (hal. 121).
[18] Beliau adalah Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al-Haitsami, seorang ahli fiqih madzhab Syafi’i, penulis beberapa karya tulis, wafat di Makkah pada tahun 973 H, ada juga yang mengatakan pada tahun 984 H rahimahullah. Lihat Syadzaaratudz Dzahab (VIII/370), dan al-A’laam (I/234).
[19] Lihat al-Isyaa’ah (hal. 105), Lawaami’ul Anwaar (II/72), dan Risaalah ‘Abdil ‘Alim fil Mahdi (hal. 43).
[20] Beliau adalah ‘Ali bin Sulthan Muhammad Nuruddin al-Harawi. Ahli fiqih madzhab Hanafi. Tinggal di Makkah dan wafat di sana pada tahun 1014 H rahimahullah. Beliau memiliki beberapa karya tulis.
Lihat al-A’laam (V/12).
[21] Al-Isyaa’ah (hal. 113).
[22] Beliau adalah Mar’i bin Yusuf al-Kirmi al-Maqdisi, seorang ahli sejarah dan pembesar ahli fiqih. Beliau memiliki karya tulis kurang lebih tujuh puluh kitab. Wafat di Kairo pada tahun 1033 H rahimahullah.
Lihat al-A’laam (VII/203).
[23] Lawaami’ul Anwaar (II/76), dan al-Idzaa’ah (hal. 147-148).
[24] Lihat al-Idzaa’ah (hal. 113).
[25] Beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Shalah bin Muhammad al-Hasani al-Kahlani kemudian ash-Shan’ani, penulis kitab Subulus Salaam Syarh Buluughil Maraam. Beliau memiliki beberapa karya tulis, wafat di Shan’a pada tahun 1182 H rahimahullah. Lihat al-A’laam (VI/38).
[26] Al-Idzaa’ah (hal. 114).

Orang yang Mengingkari Hadits Al-Mahdi dan Bantahannya

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
7. Orang-Orang yang Mengingkari Hadits-Hadits Tentang al-Mahdi dan Bantahan Terhadap Mereka
Telah kami ungkapkan sebelumnya hadits-hadits shahih yang merupakan dalil secara qath’i akan kemunculan al-Mahdi di akhir zaman sebagai seorang hakim dan pemimpin yang adil. Demikian pula kami telah menukil beberapa pendapat ulama yang mengungkapkan secara jelas bahwa hadits tentang al-Mahdi adalah mutawatir, juga sebagian karya tulis yang disusun oleh para ulama tentangnya.

Di antara hal yang sangat disayangkan bahwa ada sebagian penulis[1] di zaman sekarang ini mengingkari kemunculan al-Mahdi. Mereka mensifati berbagai hadits tentangnya dengan kontradiktif dan kebathilan (tidak benar), dan sesungguhnya al-Mahdi hanyalah cerita bohong yang dibuat oleh kaum Syi’ah, kemudian masuk ke dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah.

Para penulis tersebut telah terpengaruh dengan pendapat yang telah masyhur dari Ibnu Khaldun, seorang ahli sejarah rahimahullah,[2] di mana beliau telah mendha’ifkan hadits-hadits tentang al-Mahdi. Padahal Ibnu Khaldun bukanlah pakar di bidang ini sehingga pendapatnya dalam menshahihkan dan mendha’if-kan hadits bisa diterima. Sungguh pun demikian beliau telah berkata -setelah menuturkan hadits yang banyak tentang al-Mahdi, dan melemahkan sebagian besar sanadnya-, “Inilah beberapa hadits yang ditakhrij oleh para al-Imam ten-tang al-Mahdi, yang akan keluar di akhir zaman, yaitu: -sebagaimana kamu lihat- hadits-hadits tersebut tidak terlepas dari kritikan kecuali sedikit sekali atau lebih sedikit.”[3]

Ungkapan beliau menunjukkan adanya sedikit hadits yang selamat dari kritikan.

Kami katakan: Seandainya ada satu hadits saja yang shahih, maka hal itu sudah cukup sebagai hujjah bagi adanya al-Mahdi. Bagaimana (mungkin) sementara hadits-hadits tersebut shahih bahkan mutawatir?!

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata sebagai bantahan terhadap pendapat Ibnu Khaldun, “Sesungguhnya Ibnu Khaldun tidak memahami benar perkataan para ahli hadits ‘al-Jarhu Muqaddamun ‘alat Ta’dil,’ dan seandainya saja dia menelaah perkataan para pakar hadits dan pemahamannya, niscaya dia tidak akan pernah mengatakan apa-apa yang telah dia katakan. Mungkin pula se-benarnya dia telah membaca dan mengetahuinya, akan tetapi melemahkan hadits al-Mahdi karena keadaan politik yang menekannya saat itu.”[4]

Kemudian beliau menjelaskan bahwa apa yang ditulis oleh Ibnu Khaldun di dalam pembahasan ini tentang al-Mahdi dipenuhi dengan kekeliruan dalam nama-nama perawi dan penukilan/penyebutan illah-illahnya (cacat hadits). Beliau memakluminya karena hal itu bisa saja bersumber dari para penulis dan karena kelalaian orang-orang yang menshahihkannya, wallahu a’lam.

Di sini kami akan menjelaskan secara ringkas apa-apa yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridha tentang al-Mahdi. Hal itu merupakan contoh bagi yang lainnya dari para pengingkar hadits tentang al-Mahdi.

Beliau t berkata, “Adapun tentang kontradiksi di dalam hadits-hadits tentang al-Mahdi, maka hal itu sangat kuat dan sangat nampak. Demikian pula menyatukan berbagai riwayat tentangnya lebih sulit, dan orang-orang yang mengingkarinya lebih banyak. Begitu juga kerancuan yang ada di dalamnya lebih jelas, karena itulah Imam al-Bukhari dan Muslim tidak menyebutkan sedikit pun tentangnya di dalam kitab Shahiih keduanya. Dan hal itu (penye-butan riwayat tentang Mahdi) merupakan sumber (pendorong) kerusakan dan fitnah yang paling besar di masyarakat muslim.”[5]

Selanjutnya beliau menuturkan berbagai contoh kontradiksi di dalam hadits tentang al-Mahdi -menurut sangkaannya- di antaranya perkataan beliau, “Sesungguhnya riwayat yang paling masyhur tentang namanya dan nama bapaknya menurut Ahlus Sunnah adalah Muhammad bin ‘Abdillah, dan di dalam riwayat yang lain Ahmad bin ‘Abdillah. Sementara Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa namanya adalah Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari. Kedua-nya (Muhammad dan al-Hasan) adalah urutan kesebelas dan kedua dua belas dari para imam mereka yang mereka anggap maksum (suci dari dosa). Mereka memberi julukan al-Hujjah, al-Qa-im dan al-Muntazhar…. Sementara al-Kisa-niyyah[6] menyangka bahwa al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hanafiyyah (keturunan ‘Ali z dari isteri beliau selain Fathimah), dan sesungguhnya dia masih hidup serta bermukim di gunung radhawa….[7]

Beliau pun berkata, “Yang masyhur dari nasabnya bahwa dia adalah keturunan Ali dan Fathimah dari anaknya al-Hasan, sementara di sebagian riwayat dari keturunan al-Husain, sesuai dengan perkataan Syi’ah al-Imamiy-yah, dan ada beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa dia dari keturunan al-’Abbas.”[8]

Kemudian beliau menuturkan bahwa banyak cerita Israailiyat (yang ber-sumber dari bani Israil) yang telah masuk ke dalam kitab-kitab hadits; “Demi-kian pula sesungguhnya orang-orang yang fanatik terhadap keturunan ‘Ali, ‘Abbas dan Persia memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membuat hadits palsu tentang al-Mahdi, setiap kelompok mengaku bahwa dia (al-Mahdi) ber-asal dari kelompoknya, sementara kaum Yahudi dan orang Persia telah me-nyebarluaskan riwayat-riwayat ini dengan tujuan mengelabui kaum muslimin, sehingga mereka bersandar kepada kedatangan al-Mahdi yang akan diberikan pertolongan oleh Allah untuk menegakkan agama ini, dan menyebarkan ke-adilan ke seluruh alam.”[9]

Adapun jawaban atas pernyataan-pernyataan Syaikh Rasyid Ridha ini bahwa berbagai riwayat yang menjelaskan keluarnya al-Mahdi adalah shahih bahkan mutawatir secara makna, sebagaimana sebagian haditsnya telah kami sebutkan, juga para ulama yang secara jelas menyebutkan keshahihan hadits juga kemutawatirannya.

Adapun pengakuan bahwa asy-Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim) tidak memasukkan sedikit pun hadits tentang al-Mahdi, maka kami katakan: Se-sungguhnya seluruh Sunnah tidak termaktub di dalam ash-Shahiihain saja, bahkan di dalam kitab lainnya ada banyak hadits shahih; baik di dalam kitab-kitab as-Sunan, Musnad, Mu’jam dan yang lainnya dari kitab-kitab hadits.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya al-Bukhari dan Muslim tidak memaksakan diri untuk meriwayatkan seluruh hadits yang dihukumi shahih, bahkan keduanya telah menshahihkan hadits-hadits yang tidak ada di dalam kitab Shahiih keduanya, sebagaimana dinukil oleh at-Tirmidzi juga yang lainnya dari al-Bukhari tentang penshahihan hadits-hadits yang tidak ada di kitab-nya tetapi ada di dalam as-Sunan dan yang lainnya.”[10]

Adapun tentang keadaan hadits yang telah dimasuki dengan banyak cerita israiliyyat dan sebagiannya adalah hadits palsu yang dibuat kaum Syi’ah juga yang lainnya dari golongan yang fanatik, maka sesungguhnya hal ini benar adanya. Akan tetapi para imam di bidang hadits telah menjelaskan yang shahih dari selainnya. Mereka telah menulis kitab-kitab tentang hadits-hadits palsu, menjelaskan riwayat-riwayat yang lemah, bahkan meletakkan kaidah-kaidah yang sangat teliti dalam menghukumi para perawi hadits, sehingga tidak tersisa seorang ahli bid’ah dan pendusta pun melainkan mereka jelaskan jati dirinya. Maka Allah-lah yang telah menjaga as-Sunnah dari perbuatan orang yang sia-sia, dari perbuatan merubah orang-orang yang melewati batas, dan dari sikap meniru orang-orang yang berlaku sesat, dan ini merupakan penjagaan dari Allah atas agama ini.

Dan jika memang ada riwayat maudhu’ (palsu) tentang al-Mahdi akibat sikap fanatik kesukuan, maka sesungguhnya hal itu tidak menjadikan kita meninggalkan berbagai riwayat shahih tentangnya. Sementara berbagai riwayat shahih telah menjelaskan namanya dan nama bapaknya, lalu jika ada manusia yang menentukan seseorang dan mengaku bahwa ia adalah al-Mahdi tanpa didukung dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskannya, maka sesungguh-nya hal itu tidak menjadikan pengingakaran terhadap al-Mahdi yang disebutkan di dalam hadits.

Kemudian sesungguhnya al-Mahdi yang sebenarnya sama sekali tidak membutuhkan seseorang yang mempropagandakannya, akan tetapi Allah-lah yang akan menampakkannya jika Dia menghendaki, dan manusia akan mengenalnya dengan berbagai tanda yang menunjukkannya. Adapun sangkaan adanya kontradiksi riwayat-riwayat yang ada, maka hal itu ada di beberapa riwayat yang tidak shahih, adapun hadits-hadits shahih sama sekali tidak me-ngandung kontradiksi. Hanya milik Allah-lah segala puji.

Demikian pula tentang penyelisihan Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah (dalam masalah al-Mahdi) tidak perlu dihiraukan, sebab penentu yang adil adalah al-Kitab juga as-Sunnah yang shahih, sementara berbagai cerita dusta dari orang-orang Syi’ah dan berbagai kebathilan mereka, maka tidak boleh dijadikan acuan untuk menolak hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika berbicara tentang al-Mahdi, “Adapun kaum Rafidhah Imamiyyah, maka sesungguhnya mereka memiliki pendapat yang keempat, yaitu bahwa al-Mahdi adalah Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari al-Muntazhar, dari keturunan al-Husain bin ‘Ali, bukan dari keturunan al-Hasan, dialah yang selalu hadir di setiap negeri tetapi tidak nampak dari pandangan, yang mewariskan tongkat dan yang akan mengakhiri, masuk ke Sardab Samura (gua) ketika masih kecil lebih dari lima ratus tahun yang lalu, setelah itu tidak ada satu pun mata yang bisa melihatnya dan tidak diketahui lagi tentangnya dengan kabar maupun bukti. Mereka (orang Syi’ah) senantiasa menunggunya sampai hari ini!! Mereka menempatkan seekor kuda di pintu Sardab (goa), dan berseru agar dia keluar kepada mereka dengan berkata, “Keluarlah wahai tuan kami! Keluarlah wahai tuan kami!” lalu mereka kembali dengan kehampaan. Inilah kebiasaan yang mereka lakukan dan sung-guh indah ucapan seseorang yang berkata:

مَا آنَ لِلسَّرْدَابِ أَنْ يَلِدَ الَّذِيْ     كَلَّمْتُمُوْهُ بِجَهْلِكُمْ مَا آنَا؟
فَعَلَى عُقُوْلِكُمُ الْعَـفَاءُ فَإِنَّكُمْ     ثَلَّثْتُـمُ الْعَنْقََاءَ وَالْغَيْلاَنَـا

Sardab tidak akan pernah melahirkan apa-apa yang kalian seru
dengan kebodohan kalian ia tidak akan datang.

Pada otak kalian ada debu (yang menutup)
Kalian telah menjadikan bencana dan tipu daya yang ketiga

Mereka telah mempermalukan diri mereka dan menjadi bahan tertawaan bagi manusia, setiap orang yang berakal pasti akan mengejek mereka.[11]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Di antara tokoh mereka adalah Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsiirnya al-Manaar (IX/ 499-504), Muhammad Farid Wajdi dalam kitabnya Daa-irah Ma’aarifil Qarnil ‘Isyriin (X/480), Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuhal Islaam (III/237-241), ‘Abdurrahman Muhammad ‘Utsman dalam ta’liqnya terhadap kitab Tuhfatul Ahwadzi (VI/474), Muhammad ‘Abdullah ‘Annan dalam kitabnya Mawaaqif Haasimah fii Taarikhil Islaam (hal. 359-364), Muhammad Fahim Abu ‘Ubayyah dalam ta’liqnya terhadap kitab an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim, karya Ibnu Katsir (I/37), ‘Abdul Karim Khatib dalam kitabnya al-Masiih fil Qur-aan wat Taurah wal Injiil (hal. 539), dan yang terakhir Syaikh ‘Abdullah bin Zaid Aal Mahmud dalam kitabnya La Mahdiyya Yuntazharu ba’dar Rasuul J Khairil Basyar.
Semuanya telah dibantah oleh Syaikh Muhammad ‘Abdul Muhsin bin Muhammad al-‘Abbad dalam kitabnya yang bermutu ar-Radd ‘alaa Man Kadzaba bil Ahaadiitsish Shahiihah al-Waaridah fil Mahdi, khususnya sebagai bantahan bagi risalah Syaikh Ibnu Mahmud, di mana beliau menjelaskan bahwa di dalam risalah tersebut ada sisi kebenarannya. Maka semoga Allah membalasnya atas kebaikan yang beliau lakukan untuk Islam juga kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.
[2] Beliau adalah Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Khaldun Abu Zaid, Waliyuddin al-Hadhrami al-Isybili, terkenal dengan kitabnya al-‘Ibar wa Diiwaanil Mubtada wal Khabar fi Taariikhil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar dicetak dalam tujuh jilid, yang pertama adalah al-Muqaddimah. Beliau pun memiliki beberapa karya tulis dan sya’ir. Beliau dibesarkan di Tunisia, melakukan per-jalanan ke Mesir, dan menduduki jabatan sebagai hakim di sana, wafat di Kairo pada tahun 808 H rahimahullah
Lihat Syadzaraatudz Dzahab (VII/76-77), dan al-A’laam (III/330).
[3] Muqaddimah Taariikh Ibni Khaldun, (I/574).
[4] Ta’liq (komentar) Syaikh Ahmad Syakir untuk kitab Musnad Imam Ahmad (V/197-198).
[5] Tafsiir al-Manaar (IX/499).
[6] Al-Kisaniyyah adalah salah satu sekte dari Syi’ah Rafidhah. Mereka adalah pengikut al-Mukhtar bin Abi ‘Ubaid ats-Tsaqafi sang pendusta. Dia menisbatkan dirinya kepada Kaisan maula (budak) ‘Ali Radhiyallahu anhu. Ada juga yang mengatakan bahwa Kaisan adalah julukan bagi Muhammad al-Hanafiyyah.
Lihat al-Farqu bainal Firaq (hal. 38), tahqiq Syaikh Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid.
[7] Tafsiir al-Manaar (IX/501).
[8] Tafsiir al-Manaar (IX/501).
[9] Lihat Tafsiir al-Manaar (IX/501-504).
[10] Al-Baa’itsul Hatsiits Syarh Ikhtishaar ‘Uluumil Hadiits li Ibni Katsir (hal. 25), karya Ahmad Syakir, cet. Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[11] Al-Manaarul Muniif (hal. 152-153).

Tidak Ada Al-Mahdi Kecuali ‘Isa bin Maryam dan Bantahannya

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Pertama AL-MAHDI
8. Hadits لاَ مَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَـى بْنُ مَرْيَمَ (Tidak Ada al-Mahdi Kecuali ‘Isa bin Maryam) dan Bantahannya
Sebagian orang yang mengingkari hadits-hadits tentang al-Mahdi berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, juga al-Hakim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزْدَادُ اْلأَمْرُ إِلاَّ شِدَّةً، وَلاَ الدُّنْيَا إِلاَّ إِدْبَارًا، وَلاَ النَّاسُ إِلاَّ شُحًّا، وَلاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ، وَلاَ الْمَهْدِيُّ إِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ.

Suatu urusan tidak akan bertambah melainkan akan semakin sulit, dunia semakin mundur, dan manusia semakin kikir, tidaklah Kiamat terjadi kecuali kepada manusia yang paling buruk, dan tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam.[1]

Jawaban atas pernyataan mereka bahwa hadits tersebut adalah dha’if, karena semuanya bersumber kepada Muhammad bin Khalid al-Jundi.

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya, “Al-Azdi berkata, ‘Dia adalah munkarul hadits.’ Abu ‘Abdillah al-Hakim berkata, ‘Dia majhul.’” Saya (adz-Dzahabi) katakan, “Haditsnya, ‘Tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa bin Maryam’ adalah khabar yang munkar, diriwayatkan oleh Ibnu Majah.”[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ini dha’if, Abu Muhammad bin al-Walid al-Baghdadi dan yang lainnya telah menjadikannya sebagai sandaran, sementara hadits tersebut tidak bisa dijadikan sebagai san-daran. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Yunus, dari asy-Syafi’i, asy-Syafi’i meriwayatkannya dari seseorang, dari penduduk Yaman yang bernama Muhammad bin Khalid al-Jundi, padahal dia adalah orang yang tidak bisa dijadikan hujjah, dan hadits ini tidak termaktub di dalam Musnad asy-Syafi’i. Ada juga yang mengatakan, ‘Sesungguhnya asy-Syafi’i tidak mendengarnya dari al-Jundi, dan Yunus tidak mendengarnya dari asy-Syafi’i.’”[3]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Dia seorang perawi yang majhul (tidak dikenal).”[4]

Pendapat itu telah ditentang oleh al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah, beliau berkata, “Sesungguhnya hadits tersebut terkenal dari Muhammad bin Khalid al-Jundi ash-Shan’ani, guru asy-Syafi’i dan lebih dari satu orang yang me-riwayatkan darinya. Dia bukanlah seorang perawi yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana disangka oleh al-Hakim. Bahkan telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’in bahwa ia telah mentsiqahkannya. Akan tetapi sebagian perawi ada yang meriwayatkannya dari beliau, dari Aban bin Abi ‘Iyasy dari al-Hasan al-Bashri secara mursal. Hal itu diungkapkan oleh guru kami (al-Mizzi) dalam kitab at-Tahdziib[5] dari sebagian mereka bahwa beliau bermimpi melihat asy-Syafi’i berbicara, ‘Yunus bin Abdil ‘A’la ash-Shadafi telah berdusta atas namaku, hadits ini bukan riwayatku.’” Saya (Ibnu Katsir) katakan, “Yunus bin Abdil ‘A’la ash-Shadafi termasuk orang-orang yang tsiqah, tidak bisa dituduh dengan hanya berdasarkan mimpi, dan hadits ini bagi orang awam bertentangan dengan hadits-hadits yang telah kami sebutkan tentang penetapan al-Mahdi selain ‘Isa bin Maryam, baik sebelum turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam ke bumi -sebagaimana hal itu lebih kuat, wallaahu a’lam– atau setelahnya. Dan apabila kita fahami dengan seksama, maka keduanya sama sekali tidak bertentangan, bahkan yang dimaksud dengan hal itu bahwa al-Mahdi sebenar-benarnya al-Mahdi adalah ‘Isa bin Maryam, akan tetapi hal itu tidak menafikan adanya al-Mahdi yang lainnya, wallaahu a’lam.”[6]

Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Dimungkinkan bahwa yang dimaksud dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Dan tidak ada al-Mahdi kecuali ‘Isa’ adalah tidak ada al-Mahdi yang sempurna, yang maksum kecuali ‘Isa. Dengan pemahaman tersebut maka berbagai hadits bisa disatukan dan hilang pertentangan karenanya.”[7]

Kami katakan: Seandainya hadits tersebut benar-benar tetap, maka tidak bisa mengalahkan banyak hadits yang tetap tentang al-Mahdi, yang semuanya lebih shahih secara sanad daripada hadits yang dipertentangkan oleh para ulama tentang shahih dan tidaknya, wallaahu a’lam.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Sunan Ibni Majah (II/1340-1341) dan Mustadrak al-Hakim (IV/441-442). Al-Hakim berkata, “Lalu aku menuturkan illah hadits yang telah sampai kepadaku ini sebagai suatu yang dianggap aneh, akan tetapi tidak dijadikan sebagai hujjah di dalam kitabku al-Mustadrak ‘alasy Syaikhaini, karena yang lebih tepat untuk diungkapkan pada pembahasan ini adalah hadits Sufyan… dari ‘Ashim bin Bahdalah, dari Zirrin bin Hubais, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidaklah hari-hari dan malam akan lenyap hingga dia berkuasa (lalu beliau menuturkan hadits sampai akhirnya, sebagaimana telah diungkapkan).
[2] Miizaanul I’tidaal (III/535).
[3] Minhaajus Sunnah an-Nabawiyyah (IV/211).
[4] Taqriibut Tahdziib (II/157).
[5] Tahdziibul Kamaal fii Asmaa-ir Rijaal (III/1193-1194), karya Abul Hajjaj al-Mizzi.
[6] An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/32) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[7] At-Tadzkirah fii Ahwaalil Mautaa’ wa Umuuril Aakhirah (hal. 617).

Al-Masih Ad-Dajjal

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Kedua AL-MASIH AD-DAJJAL
1. Makna al-Masiih
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dua puluh tiga pendapat tentang asal kata tersebut.[1] Sementara penulis kitab al-Qaamuus melanjutkan-nya menjadi lima puluh pendapat.”[2]

Lafazh ini dimutlakkan untuk orang yang benar, juga dimutlakkan untuk orang yang sesat lagi pendusta.

Al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissalam adalah orang yang benar, sementara al-Masih ad-Dajjal adalah yang sesat lagi pendusta.

Allah menciptakan dua al-Masih, salah satu dari keduanya adalah lawan untuk yang lain.

Nabi ‘Isa Alaihissalam adalah al-Masih yang membawa petunjuk, dia menyem-buhkan orang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta, juga menghidupkan yang mati dengan seizin Allah.

Sementara Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah al-Masih yang membawa kesesatan. Dia menguji manusia dengan sesuatu yang diberikan kepadanya berupa kemampuan-kemampuan yang luar biasa, seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dan hal-hal lain yang diluar kebiasaan.

Dajjal dinamakan juga dengan al-Masih karena salah satu matanya buta, atau karena dia mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari.[3]

Pendapat pertamalah yang paling kuat, karena adanya hadits:

إِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ.

Sesungguhnya Dajjal itu terhapus (buta) sebelah matanya.”[4]

2. Makna ad-Dajjal
Lafazh ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab (دَجَلَ الْبَعِيْرَ), maknanya adalah dicat dengan ter dan menutupi dengannya.[5]
Makna asal dari kata (الدَّجَلُ) ad-Dajalu adalah mencampuradukkan, dikatakan دَجَلَ إِذَا لَبِسَ وَمَوَّهَ maknanya adalah merancukan dan mengaduk-aduk.

Jadi, Dajjal adalah orang yang merancukan, pendusta dan yang diberikan sesuatu yang luar biasa. Kata tersebut termasuk bentuk mubaalaghah (melebihkan) dengan wazan (فَعَّالٌ), jadi maknanya adalah banyaknya kebohongan juga kerancuan darinya.[6] Bentuk jamaknya (دَجَّالُوْنَ), sementara Imam Malik menjamakkannya dengan kata (دَجَاجَلَةُ), dan termasuk jama’ taksir.[7]

Al-Qurthubi menuturkan bahwa Dajjal secara bahasa memiliki sepuluh makna.³

Dan lafazh Dajjal menjadi sebutan nama untuk al-Masih yang buta lagi pendusta. Jika dikatakan “Dajjal”, orang langsung ingat hanya kepadanya.

Dajjal dinamakan Dajjal karena dia telah menutupi kebenaran dengan kebathilan, atau karena dia telah menutupi kekufurannya di hadapan manusia dengan kebohongan, juga perancuannya kepada mereka. Ada juga yang mengatakan bahwa dia menutupi perkara yang benar dengan jumlah pengikutnya yang banyak,[8] wallaahu a’lam.

3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam. Dia memiliki ba-nyak sifat yang dijelaskan dalam berbagai hadits agar manusia mengenalnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas kejelekannya, sehingga ketika dia keluar maka orang-orang yang beriman akan mengenali dan tidak terkena fitnahnya. bahkan mereka akan tetap mengetahui sifat-sifatnya yang dikabar-kan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sifat-sifat ini dapat membedakannya dari manusia yang lain. Maka tidak akan ada yang tertipu kecuali orang bodoh yang telah ditetapkan kesengsaraan baginya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.

Di antara sifat-sifat tersebut bahwa dia seorang laki-laki, masih muda, berkulit merah, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan (leter o), berambut keriting, keningnya lebar, dadanya bidang, mata yang kanannya buta, mata tersebut tidak muncul tidak pula tertancap dalam seakan-akan buah anggur yang menonjol, sementara di atas matanya yang kiri ada daging keras yang tumbuh, di antara kedua matanya tertulis huruf ك، ف، ر dengan huruf yang terputus-putus, atau (كافـر) dengan bersambung, setiap muslim dapat membacanya, baik dia orang yang buta huruf maupun tidak. Dan di antara sifatnya bahwa dia orang yang mandul, tidak memiliki anak.

Berikut ini sebagian hadits shahih yang menjelaskan berbagai sifatnya di atas, dan hadits-hadits tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan kemunculan Dajjal.

  • Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوْفُ بِالْبَيْتِ… (فَذَكَرَ أَنَّهُ رَأَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ q، ثُمَّ رَأَى الدَّجَّالَ، فَوَصَفَهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيْـمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيٍنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ؛ قَالُوْا: هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا اِبْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ.

Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah….” (Kemudian beliau menuturkan bahwa beliau melihat Nabi ‘Isa Alaihissallam, lalu melihat Dajjal dan mensifatinya, beliau berkata), “Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dengan badan yang besar, merah (kulitnya), rambutnya keriting, matanya buta sebelah, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menonjol.” Mereka (para Sahabat) berkata, “Orang yang paling mirip dengan Dajjal ini adalah Ibnu Quthn,[9] seorang laki-laki dari Khuza’ah.”[10]

  • Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan Dajjal di tengah-tengah manusia, lalu beliau bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak picek (buta sebelah), dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Mata-nya bagaikan anggur yang menonjol.”[11]

  • Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mensifati Dajjal:

إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ.

“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.”[12]

  • Dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.

Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesung-guhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”[13]

  • Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا مَسِيْحُ الضَّلاَلَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيْضُ النَّحْرِ، فِيْهِ دَفَأٌ.

Adapun Masihud Dhalalah (Dajjal), maka sesungguhnya dia buta se-belah matanya, keningnya lebar, atas dadanya bidang dan badannya agak bongkok.”[14]

  • Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

اَلدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ.

Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, dan berambut gembal.”[15]

  • Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوْبٌ كَافِرٌ.

Dan sesungguhnya di antara dua matanya tertulis Kaafir.[16]

Dalam satu riwayat:

ثُمَّ تَهَجَّاهَا (ك، ف، ر)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ.

Kemudian beliau mengejanya kaaf faa’ raa’, setiap muslim dapat membacanya.”[17]

Sementara dalam riwayat lain:

يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٌ وَغَيْرُ كَاتِبٍ.

Setiap mukmin dapat membacanya, baik yang bisa menulis atau tidak.”[18]

Tulisan tersebut nampak secara hakiki.[19] Semua manusia tidak memiliki masalah dalam tulisan ini, yang pintar maupun yang bodoh. Demikian pula orang yang ummi (buta huruf), “Hal itu karena sesungguhnya kemampuan mata diciptakan oleh Allah untuk para hamba sesuai dengan kehendak-Nya dan kapan Dia menghendakinya. Seorang mukmin akan dapat melihatnya dengan mata penglihatannya walaupun dia tidak bisa menulis; sementara orang kafir tidak melihatnya walaupun dia bisa menulis, sebagaimana orang-orang yang beriman bisa melihat berbagai macam dalil dengan pandangannya se-mentara orang kafir tidak bisa melihatnya. Maka Allah menciptakan kemam-puan untuk melihat (lagi membaca) tanpa harus belajar terlebih dahulu, karena pada zaman tersebut banyak hal yang terjadi diluar kebiasaan.”[20]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar berdasarkan pendapat para ulama bahwa tulisan tersebut nampak secara nyata. Ia adalah tulisan secara hakiki, Allah menjadikannya sebagai tanda dari berbagai tanda yang pasti atas kekufuran, kebohongan dan kebathilannya. Allah Ta’ala menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis atau tidak, dan menyembunyikannya dari setiap orang yang Allah kehendaki kesengsaraan baginya dan terfitnah olehnya, hal itu sama sekali tidak mustahil.”[21]

  • Dan di antara sifatnya adalah apa yang dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anha tentang kisah al-Jassasah. Di dalam hadits tersebut, Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu berkata, “Akhirnya kami pergi dengan cepat hingga kami masuk ke sebuah kuil, ternyata di dalamnya ada seorang yang sangat besar yang tidak pernah kami lihat sama sekali sebelumnya, dan dia di-ikat dengan sangat kuat.”[22]
  • Dan di dalam hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ.

Sejak penciptaan Adam sampai hari Kiamat tidak ada satu makhluk yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal.”[23]

  • Adapun (sifat) Dajjal bahwa dia tidak memiliki keturunan, dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad, dia berkata kepada Abu Sa’id, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهُ لاَ يُوْلَدُ لَهُ.

Sesungguhnya dia (Dajjal) tidak bisa memiliki keturunan?

Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Benar,’ jawabku.”[24]

Yang perlu diperhatikan dari berbagai riwayat terdahulu bahwa pada sebagian riwayat dijelaskan mata yang kanannya buta, sementara pada riwayat lainnya mata kirilah yang buta, padahal semua riwayat tersebut adalah shahih, maka ada sesuatu yang musykil di dalamnya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain dan hadits yang menjelaskan bahwa mata kanannya yang buta adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa mata kirinya yang buta, karena hadits yang disepakati atas keshahihannya lebih kuat daripada yang lain.[25]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa kedua mata Dajjal adalah cacat, karena semua riwayat adalah shahih. Mata yang dihapus adalah mata yang padam, maksudnya yang hilang cahayanya, yaitu mata yang sebelah kanan sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu ‘Umar. Adapun mata yang kiri adalah mata yang di depannya ada daging tebal, maksudnya mata yang ter-tutupi tetapi masih ada cahayanya, ini pun cacat. Jadi dia adalah orang yang cacat kedua matanya, karena kata al-a’war untuk semua anggota badan artinya buruk/cacat, terutama jika berhubungan dengan mata. Maka kedua mata Dajjal adalah cacat, salah satunya hilang penglihatannya dan yang lain dengan kecacatannya.

An-Nawawi rahimahullah mengomentari penggabungan dalil ini dengan perkata-annya, “Penggabungan inilah yang paling tepat.”[26]

Pendapat ini dianggap yang paling kuat oleh Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah.[27]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Lihat at-Tadzkirah (hal. 679).
[2] Lihat Tartiibul Qaamuus (IV/239), penulis al-Qaamuus menuturkan bahwa beliau memaparkan berbagai pendapat ini dalam kitab Syarhu Masyaariqil Anwaar dan yang lainnya.
[3] Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/326-327), Lisaanul ‘Arab (II/594-595).
[4] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjaal (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[5] Lihat Lisaanul ‘Arab (XI/236), Tartiibul Qaamuus (II/152).
[6] Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/102).
[7] Lisaanul ‘Arab (XI/236).
³ At-Tadzkirah (hal. 658).
[8] Lisaanul ‘Arab (XI/236-237), dan Tartiibul Qaamuus (II/152).
[9] Ibnu Quthn. Namanya adalah ‘Abdul Uzza bin Quthn bin ‘Amr al-Khuza’i, ada yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, dia bukan seorang Sahabat. Meninggal pada zaman Jahiliyyah. Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah berdampak negatif penyerupaannya?” beliau men-jawab, “Tidak, engkau seorang muslim sementara dia adalah kafir.” Ini adalah tambahan yang lemah dari al-Mas’udi dalam riwayat Ahmad, dan hadits ini telah bercampur-baur dengan hadits lain.
Lihat komentar Ahmad Syakir terhadap kitab Musnad Ahmad (XV/30-31), lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (IV/239), dan Fat-hul Baari (VI/488, XIII/101).
[10] Shahiihul al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam q wal Masiihid Dajjal (II/237, Syarh an-Nawawi).
[11] Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[12] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[13] Sunan Abi Dawud (XI/443-‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/317-318, no. 2455).
[14] Musnad Imam Ahmad (XV/28-30) tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/130) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[15] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/60-61, Syarh an-Nawawi).
[16] Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/91, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[17] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[18] Shahiih Muslim (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[19] Berbeda dengan orang yang berkata, “Tulisan tersebut adalah kiasan dari tanda sesuatu yang terjadi,” sesungguhnya ini adalah pendapat yang lemah. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/ 60-61), dan Fat-hul Baari (XIII/100).
[20] Fat-hul Baari (XIII/100).
[21] Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/60).
[22] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).
[23] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Baqiyatu min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/86-87, Syarh an-Nawawi).
[24] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikri Ibni Shayyad (XVIII/50, Syarh an-Nawawi).
[25] Fat-hul Baari (XIII/97).
[26] Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/235).
[27] At-Tadzkirah (hal. 663).

Apakah Dajjal Masih Hidup (Sekarang Ini)?

BERANGKAINYA KEMUNCULAN TANDA-TANDA BESAR KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

Pasal Kedua AL-MASIH AD-DAJJAL
4. Apakah Dajjal Masih Hidup (Sekarang Ini)? Dan Apakah Dia Sudah Ada Pada Zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa sallam?
Sebelum menjawab dua pertanyaan ini, hendaknya kita mengetahui ke-adaan Ibnu Shayyad, apakah dia Dajjal atau bukan?

Jika Dajjal itu bukan Ibnu Shayyad, apakah dia sudah ada sebelum ia menampakkan fitnahnya atau belum?

Dan sebelum menjawab pertanyan-pertanyaan ini, kami akan mengenalkan Ibnu Shayyad terlebih dahulu.

a. Ibnu Shayyad.
Namanya adalah Shafi -ada juga yang mengatakan ‘Abdullah- bin Shayyad atau Shaaid.[1]

Ia dari kalangan Yahudi Madinah, ada juga yang mengatakan dari kalangan Anshar. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, ia masih kanak-kanak.

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa ia masuk Islam, dan anaknya adalah ‘Umarah yang termasuk di antara Tabi’in yang terkemuka. Imam Malik t dan yang lainnya meriwayatkan darinya.[2]

Imam adz-Dzahabi rahimahullah memuat biografi tentangnya dalam kitab ‘Tajriidu Asmaa-ish Shahaabah’, beliau berkata, “‘Abdullah bin Shayyad, Ibnu Syahin [3] menyebutkan dalam periwayatannya, ia berkata, ‘Dia adalah Ibnu Sha-id, ayahnya seorang Yahudi, ‘Abdullah dilahirkan dalam keadaan buta dan dalam keadaan telah dikhitan, dialah yang dikatakan orang sebagai Dajjal. Kemudian ia masuk Islam, ia termasuk kalangan Tabi’in, dan pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika masih kafir).”[4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitabnya al-Ishaabah, menyebutkan biografinya sebagaimana yang diutarakan oleh Imam adz-Dzahabi, selanjutnya ia berkata, “Di antara anaknya adalah ‘Umarah bin ‘Abdullah bin Shayyad, ia termasuk orang terkemuka di antara kaum muslimin, dan termasuk rekan Sa’id bin Musayyib. Imam Malik dan yang lainnya telah meriwayatkan hadits darinya.”

Kemudian Ibnu Hajar menyebutkan sejumlah hadits tentang Ibnu Shay-yad, sebagaimana akan kita sebutkan pada kesempatan berikutnya.

Selanjutnya beliau berkata, “Secara garis besar, mengkategorikan Ibnu Shayyad dalam golongan Sahabat tidak memiliki arti penting, sebab apabila ia benar-benar Dajjal, maka secara pasti ia tidak mungkin tergolong Sahabat karena kematiannya pasti dalam keadaan kafir. Akan tetapi jika tidak seperti itu, maka keadaan bertemunya dia dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah saat dirinya belum masuk Islam.”[5]

Akan tetapi jika setelahnya ia masuk Islam, maka ia termasuk Tabi’in yang melihat wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelumnya), sebagaimana yang dikatakan oleh adz-Dzahabi.

Ibnu Hajar dalam kitabnya Tahdzibut Tahdziib memuat biografi ‘Umarah bin Shayyad dan berkata, “‘Umarah bin ‘Abdillah bin Shayyad al-Anshari, Abu Ayyub al-Madani, ia meriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah, Sa’id bin Musayyib, ‘Atha’ bin Yasar. Adapun para perawi yang meriwayatkan darinya adalah adh-Dhahhak bin ‘Utsman al-Khuzami, Imam Malik bin Anas dan selainnya. Ibnu Ma’in dan an-Nasa-i berkata, “Ia tsiqah.” Abu Hatim berkata, “Haditsnya baik.” Dan Ibnu Sa’ad berkata, “Ia tsiqah tetapi periwayatannya sedikit.” Imam Malik bin Anas tidak mengunggulkan keutamaan yang lain darinya, dan mereka berkata: kami bani Usyaihib  bin an-Najjar, dan terkenal dengan sebutan bani Najjar, dan mereka sekarang sekutunya bani Malik bin an-Najjar, namun tidak diketahui asal-usul mereka [6].

b. Prihal Ibnu Shayyad.
Ibnu Shayyad adalah tukang dusta, terkadang ia menjadi dukun yang ucapannya bisa jadi benar atau salah. Kemudian tersebar kabar tentangnya di tengah-tengah manusia bahwasanya dia adalah Dajjal. Sebagaimana akan dijelaskan berikutnya dalam pembahasan ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.

c. Ujian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya.
Ketika tersebar berita tentang Ibnu Shayyad bahwa dia adalah Dajjal, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin mengetahui keadaannya. Ketika itu beliau pergi dengan sembunyi-sembunyi sehingga Ibnu Shayyad tidak merasakannya dengan harapan agar beliau mendengarkan sesuatu darinya. Dan ketika itu beliau mengajukan beberapa pertanyaan yang dapat menjelaskan jati dirinya.

Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya ‘Umar pergi bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sekelompok Sahabat, sehingga mereka mendapati sedang bermain bersama anak-anak di sebuah bangunan tinggi seperti benteng Ibnu Maghalah.[7] Ketika itu Ibnu Shayyad telah mendekati baligh, dia tidak merasakan sesuatu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuknya dengan tangan beliau, lalu berkata kepada Ibnu Shayyad, “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah?” Kemudian Ibnu Shayyad menatapnya, lalu berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusannya orang-orang yang ummi (buta huruf),” selanjutnya Ibnu Shayyad berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah engkau bersaksi bahwasanya aku adalah utusan Allah?” Beliau menolaknya dan berkata, “Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya.” “Apa yang engkau lihat?” Lanjut Nabi. Ibnu Shayyad berkata, “Datang kepadaku seorang yang jujur dan seorang pendusta.” Kemudian Nabi berkata, “Pikiranmu kacau balau, apakah aku menyembunyikan sesuatu darimu?” Kemudian Ibnu Shayyad menjawab, “Ad-Dukh.”[8] “Duduklah, sesungguhnya engkau tidak akan pernah melampaui kedudukanmu,” kata Nabi. Lalu ‘Umar Radhiyallahu anhu berkata, “Biarkan-lah aku memenggal lehernya!” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika dia memang (Dajjal), maka engkau tidak akan bisa mengalahkannya, dan jika dia bukan (Dajjal), maka tidak ada kebaikan bagimu membunuhnya.”[9]

Dalam riwayat lain, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apa yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Aku melihat singgasana di atas air, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau melihat singgasana iblis di atas lautan, apa lagi yang engkau lihat?” Dia menjawab, “Aku melihat dua orang yang jujur dan satu orang pendusta, atau dua orang pendusta dan satu orang yang jujur.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Pikirannya telah kacau, tinggalkanlah dia!”[10]

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Ubay bin Ka’ab bertolak ke sebuah perkebunan kurma yang di dalamnya ada Ibnu Shayyad. Dengan sembunyi-sembunyi beliau berusaha untuk mendengarkan sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum Ibnu Shayyad melihat beliau. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya sedang berbaring -dengan mengenakan pakaian kasar yang ada tandanya-. Lalu ibu Ibnu Shayyad melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang bersembunyi di balik batang pohon kurma, dia berkata kepada Ibnu Shayyad. “Wahai Shafi -nama Ibnu Shayyad- ini adalah Muhammad,” lalu dia meloncat, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Seandainya ibunya membiarkannya, niscaya perkaranya akan jelas.”[11]

Abu Dzarr Radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutusku untuk menemui ibunya, beliau berkata, ‘Tanyalah berapa lama dia mengandungnya?’ Lalu aku mendatanginya dan bertanya kepadanya, kemudian dia menjawab, ‘Aku mengandungnya selama 12 bulan.’” (Abu Dzarr) berkata, “Kemudian beliau mengutusku (lagi) kepadanya, ‘Tanyakanlah kepadanya tentang jeritannya ketika lahir?’” (Abu Dzarr) berkata, “Lalu aku kembali kepadanya, dan bertanya, dia menjawab, ‘Dia menjerit bagaikan anak yang berumur satu bulan.’” Selanjutnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (anak itu), ‘Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu kepadamu.’ Dia menjawab, ‘Engkau telah merahasiakan bagian depan dari hidung dan mulut seekor domba yang berwarna hitam (seperti tanah) dan asap (ad-dukhan) dariku.’” (Abu Dzarr) berkata, “Dia hendak mengatakan ad-dukhan, lalu tidak dapat melakukannya, sehingga dia hanya mengatakan ad-dukh, ad-dukh.”[12]

Maka pertanyaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya dengan ad-dukhan (asap) dituju-kan untuk mengetahui hakikat dirinya.

Yang dimaksud dengan ad-dukhan di sini adalah apa yang ada pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

Maka tunggulah hari ketika langit membawa asap yang nyata.” (Ad-Dukhaan/44: 10)

Sementara dalam hadits Ibnu ‘Umar pada riwayat al-Imam Ahmad, “Sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu kepadamu.” Beliau me-yembunyikan firman Allah:

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.” (Ad-Dukhaan/44: 10)[13]

Ibnu Katsir رحمه الله berkata, “Sesungguhnya Ibnu Shayyad sebagai penyingkap sesuatu dengan cara dukun, dengan lisan jin-jin yang memutus-mutuskan perkataan, karena itulah dia berkata, ‘Ia adalah ad-dukh,” maksudnya ad-Dukhaan. Ketika itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui sumber perkataannya bahwa itu adalah dari syaithan. Lalu beliau berkata, ‘Duduklah! Karena engkau tidak akan melebihi kedudukanmu.’”[14]

d. Kematiannya
Diriwayatkan dari Jabir  Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Kami kehilangan Ibnu Shayyad pada peristiwa al-Harrah.”[15]

Ibnu Hajar telah menshahihkan riwayat ini dan melemahkan pendapat yang mengatakan bahwa dia meninggal di Madinah dan mereka (para Sahabat) membuka wajahnya lalu menshalatkannya.[16]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1] Lihat Fat-hul Baari (III/220, VI/164), ‘Umdatul Qaari Syarh al-Bukhari (VIII/170, XIV/278-303), karya Badruddin al-‘Aini, cet. Darul Fikr, an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128), Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/46), ‘Aunul Ma’buud (XI/) (lembarannya tidak ada).
[2]. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/128), tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[3]. Beliau adalah al-Hafizh Abu Hafs ‘Umar bin Ahmad bin ‘Utsman bin Syahin al-Baghdadi, al-waa’izh (ulama yang selalu mamberi nasehat), pakar tafsir, termasuk juga pakar hadits, banyak menguasai bidang ilmu. Ia memiliki banyak karya tulis, yang paling banyak dalam bidang tafsir dan tarikh. Wafat tahun 385 H rahimahullah. Lihat biografinya dalam Syadzaraatudz Dzahab (III/117), al-A’laam (V/40) karya az-Zarkali.
[4]. Lihat Tajriid Asmaa-ish Shahaabah, (I/319, no. 3366), karya al-Hafizh adz-Dzahabi, cet. Darul Ma’arif Beirut.
[5]. Lihat al-Ishaabah fii Tamyiizis Shahaabah, bag. ke 4, di antara yang memiliki awal nama (‘Abdullah), (III/133, no. 6609), karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Cet. as-Sa’adah – Mesir cet. I, th. 1328 H.
[6]. Lihat: kitab Tahdzibut tahdziib, VII/418, (no: 681).
[7] (مَغَالَة) dengan huruf mim yang difat-hahkan, diberi titik dan tanpa syiddah, maknanya adalah salah satu nama kabilah di kalangan Anshar. Fat-hul Baari (III/220).
[8] Maksudnya adalah ad-Dukhaan (asap), akan tetapi dia mengungkapkannya secara terputus-putus seperti cara para dukun, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti.
[9] Shahiih al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz bab Idzaa Aslamash Shabiyyu fa Maata Hal Yushalla ‘Alaihi wa Hal Yu’radhu ‘alash Shabiyyil Islaam (III/318, al-Fat-h).
[10] Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikru Ibni Shayyad (XVIII/49-50, Syarh an-Nawawi).
[11] Shahiih al-Bukhari, kitab al-Janaa-iz bab Idzaa Aslamash Shabiyyu fa Maata hal Yushalla ‘alaihi (III/ 318, al-Fath).
[12] Musnad Ahmad (V/148, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
Ibnu Hajar berkata tentang sanadnya, “Shahih,” Fat-hul Baari (XIII/325).
Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam al-Ausath, dan perawi Ahmad adalah perawi ash-Shahiih, selain al-Harits bin Hushairah, dia adalah tsiqah.” Majmaa’uz Zawaa-id (VIII/2-3).
[13] Musnad Ahmad (IX/139, no. 6360), tahqiq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih.”
[14] Tafsiir Ibni Katsir (VII/234).
[15] Sunan Abi Dawud (XI/476, ‘Aunul Ma’buud).
[16] Lihat Fat-hul Baari (XIII/328).