Category Archives: A8. Ringkasan Fiqih Islam 01 Bab Tauhid dan Iman

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya

SIFAT NERAKA

Keluarnya Orang-orang Beriman Pelaku Maksiat dari Neraka.
Dari Jabir Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُعَذَّبُ ناسٌ مِنْ أَهْلِ التّوْحِيْدِ فِى النَّارِ حَتَّى يَكُوْنُوْا فِيْهَا حُمَمًا ثُمَّ تُدْرِكُهُمْ الرَّحْمَةُ فَيُخْرَجُوْنَ وَيُطْرَحُوْنَ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ. قَالَ: فَيَرُشُّ عَلَيْهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْمَاءِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا يَنْبُتُ الْغِثاَءُ فِى حِمَالَةِ السَّيْلِ ثُمَّ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ.

Segolongan manusia yang bertauhid disiksa di neraka sehingga mereka menjadi hitam di dalamnya. Akhirnya, mereka mendapat rahmat, lalu dikeluarkan dari neraka dan dilemparkan di hadapan pintu-pintu surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka penghuni surga memercikkan air kepada mereka, lalu mereka tumbuh seperti tumbuhnya buih yang dibawa banjir, kemudian mereka masuk ke dalam surga“.[1]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ بُرَّةً. ثُمَّ يُخْرَجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ اِلهَ إِلاَّ اللهُ وَكَانَ فِى قَلْبِهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يَزِنُ ذُرَّةً. متفق عليه.

Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan: laailaaha illallah (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), dan dihatinya ada kebaikan sebarat biji gandum. Kemudian dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan: laailaaha illallah (Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan di hatinya ada kebaikan seberat biji sawi.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Penghuni Neraka yang Paling Berat Siksanya.
Kenikmatan yang paling utama di dalam surga adalah kesenangan dan kebahagiaan mereka melihat Rabb mereka dan ridha-Nya terhadap mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ [القيامة: ٢٢،  ٢٣] 

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. [Al-Qiyamah/75: 22-23]

Dan siksaan di neraka yang paling berat adalah terhijabnya penghuni neraka dari melihat Rabb mereka Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

كَلَّآ إِنَّهُمۡ عَن رَّبِّهِمۡ يَوۡمَئِذٖ لَّمَحۡجُوبُونَ ١٥ ثُمَّ إِنَّهُمۡ لَصَالُواْ ٱلۡجَحِيمِ [المطففين: ١٥،  ١٦] 

“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.  Kemudian, Sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka”. Muthaffifiin: 15-16

Kekalnya Penghuni Neraka
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَمَّا ٱلَّذِينَ شَقُواْ فَفِي ٱلنَّارِ لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٞ وَشَهِيقٌ ١٠٦ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٞ لِّمَا يُرِيدُ ١٠٧ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُواْ فَفِي ٱلۡجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَۖ عَطَآءً غَيۡرَ مَجۡذُوذٖ [هود: ١٠٦،  ١٠٨] 

Adapun orang-orang yang celaka. Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).  Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”. [Hud/11: 106-108]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡ أَنَّ لَهُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لِيَفۡتَدُواْ بِهِۦ مِنۡ عَذَابِ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَا تُقُبِّلَ مِنۡهُمۡۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ٣٦ يُرِيدُونَ أَن يَخۡرُجُواْ مِنَ ٱلنَّارِ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنۡهَاۖ وَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّقِيمٞ [المائ‍دة: ٣٦،  ٣٧] 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.  Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal”. [Al-Maidah/5: 36-37]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ جِيْءَ بِاْلمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ثُمَّ يُذْبَحَ ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ وَياَ أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ. فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ.

Apabila penghuni surga sudah berada di surga dan penghuni neraka sudah berada di neraka, didatangkanlah kematian sehingga dijadikan di antara surga dan neraka, kemudian disembelih. Lalu terdengarlah suara seruan: “Hai penghuni surga, tidak ada lagi kematian! wahai penghuni neraka tidak ada lagi kematian” Maka bertambahlah kesenangan para penghuni surga atas kesenangan yang telah mereka rasakan dan bertambah kesedihan para penghuni neraka di atas kesedihan yang telah mereka rasakan .”Muttafaqun ‘alaih.[3]

Pemisah Antara Surga dan Neraka.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِاْلمَكَارِهِ

Neraka kelilingi oleh segala kenikmatan (hawa nafsu) dan surga dikelilingi oleh segala yang dibenci.”[4]

Dekatnya Jarak Antara Surga dan Neraka.
Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الجَنَّةُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ وَالنَّارُ مِثْلُ ذلِكَ.

Surga itu lebih dekat kepada seseorang dari kamu dari tali sendalnya, dan nerakapun seperti itu juga.”[5]

Perdebatan antara surga dan neraka serta keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala antara keduanya:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

تَحَاجَّتِ النَّارُ وَاْلجَنَّةُ فَقَالَتِ النَّارُ: أُوْثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِيْنَ وَالْمُتَجَبِّرِيْنَ. وَقاَلَتِ الْجَنَّةُ: فَمَالِي لاَ يَدْخُلُنِي إِلاَّ ضُعَفَاءُ النَّاسُ وَسَقَطُهُمْ وَعَجْزُهُمْ. فَقَالَ اللهُ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِك مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي. وَقَالَ لِلنَّارِ: أَنْت عَذَابِي أُعَذِّبُ بِك مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمْ مِلْؤُهَا…

Surga dan neraka saling berdebat. Neraka berkata: “Aku diutamakan untuk orang-orang yang sombong dan orang-orang besar diri. Dan surga berkata: ‘Tidak ada yang memasukiku kecuali manusia-manusia yang lemah, rendah dan lemah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada surga: “Engkau adalah rahmat-Ku. Aku memberi rahmat denganmu kepada hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada neraka: “Engkau adalah siksaan-Ku. Aku menyiksa denganmu hamba-hamba-Ku yang Kukehendaki. Dan untuk setiap kalian akan mendapat penghuninya masing-masing…”[6]

Berlindung dari Neraka dan Berdo’a Meminta Surga.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ ١٣١ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ [ال عمران: ١٣١،  ١٣٢] 

Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. [Ali Imran/3: 131-132]

Dari ‘Adi bin Hatim Radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang neraka, lalu beliau mengisyaratkan dengan wajahnya dan berlindung darinya. kemudian memalingkan wajahnya lalu berlindung darinya. kemudian beliau bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لمَ ْيَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah dirimu dari neraka sekalipun hanya dengan sebelah kurma, dan barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka hendaklah dengan kata-kata yang baik.”[7]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ  وَمَنْ أبَى. قَالَ: َمنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga, kecuali orang yang enggan. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?’ Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya ia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, berarti ia berbuat durhaka“.[8]

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon surga kepada Engkau dan apa yang mendekatkan kepada keduanya baik perkataan atau ucapan. Dan kami berlindung kepada-Mu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya baik perkataan dan perbuatan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Ahmad no 15268, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 2451, dan at-Tirmidzi no. 2597, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2094.
[2] HR. al-Bukhari no 44 dan Muslim no. 197, ini adalah lafazhnya.
[3] HR. al-Bukhari no. 6548, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2850
[4] HR. al-Bukhari no. 6487, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 2823
[5] HR. al-Bukhari no. 6488.
[6] HR. al-Bukhari no. 4850 dan Muslim no. 2846, ini adalah lafazhnya.
[7] HR. al-Bukhari no. 6563, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1016.
[8] HR. al-Bukhari  no. 7280, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1835

Iman Kepada Qadar

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Qadar: yaitu ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap segala sesuatu, dan tentang apa saja yang dikehendakiNya ada atau dikehendaki terjadi dari setiap makhluk, alam semesta, segala sesuatu, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mentaqdirkan hal itu, serta menulisnya di Lauhul Mahfudz. Al-Qadar adalah rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala terpadap makhluk-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat yang dekat dan tidak pula nabi yang diutus.

Iman Kepada Qadar.
Yaitu meyakini dengan keyakinan yang pasti bahwa segala kebaikan, keburukan segala sesuatu yang terjadi, adalah dengan qadha dan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ [القمر: ٤٩] 

Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. [Al-Qamar/54: 49]

Beriman Kepada Qadar Mencakup Empat Perkara.
Pertama: Percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala sesuatu secara umum dan terperinci. Baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan, dan semisal dengan yang demikian itu. Atau mengetahui perkara yang berhubungan dengan perbuatan makhluk, seperti semua ucapan, perbuatan dan keadaan manusia dan keadaan seluruh hewan, tumbuhan dan benda-benda padat serta segala sesuatu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا [الطلاق : ١٢] 

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan Sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu“.[Ath-Thalaq/65: 12]

Kedua : Percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menulis taqdir (ketentuan) segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh, yaitu ketentuan segala makhluk, keadaan, rizqi. Allah Subhanahu wa Ta’ala menulis jumlahnya, tata caranya, waktunya dan tempatnya. Maka ketentuan itu tidak berubah dan tidak berganti. Tidak bertambah dan tidak berkurang, kecuali dengan perintah-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ [الحج : ٧٠] 

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [Al-Hajj/22: 70]

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Amr Radhiyallahu anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan ketentuan-ketentuan makhluk limapuluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” Rasulullah bersabda: Dan arsy-Nya berada di atas air.”

Ketiga: Percaya bahwa semua makhluk tidak ada kecuali dengan kehendak dan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka semua itu terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, apapun yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti terjadi, dan yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi., baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya Subhanahu wa Ta’ala, seperti menciptakan, mengatur, menghidupkan, mematikan dan semisal yang demikian itu, atau  yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan makhluk berupa tingakh lakunnya, ucapan, dan keadaannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ [القصص: ٦٨] 

 Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. [Al-Qashash/28: 68]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ [ابراهيم: ٢٧] 

“..dan memperbuat apa yang dia kehendaki“. [Ibrahim/14: 27]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ [الانعام: ١٣٧] 

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. [Al-An’aam/6: 112]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [التكوير: ٢٨،  ٢٩] 

“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”. [At-Takwiir/81: 28-29]

Keempat: percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu, menciptakan semua alam dengan zat, sifat, dan geraknya. Tidak ada pencipta dan Rabb selain-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ [الزمر: ٦١] 

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu”. [Az-Zumar/39: 62]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ [القمر: ٤٩] 

“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. [Al-Qamar/54: 49]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. [Ash-Shaaffat/37: 96]

Berhujjah (Beralasan) Dengan Qadar
Apa yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi manusia terbagi menjdi dua:

Pertama: Sesuatu yang ditaqdirkan dan ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa perbuatan dan keadaan yang keluar dari kehendak manusia: baik seperti tinggi dan pendeknya seseorang, baik dan buruknya (dalam penampilan lahiriyahnya), hidup dan matinya, atau apa saja yang terjadi atas dirinya di luar kehendaknya, seperti terjadinya musibah, penyakit, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan musibah-musibah lainnya yang terkadang sebagai hukuman terhadap hamba, dan terkadang sebagai cobaan baginya, dan terkadang pula untuk mengangkat derajatnya.

Perbuatan-perbuatan ini atau yang terjadi atas dirinya tanpa kehendaknya, maka seseorang tidak akan ditanya dan dihisab atasnya. Ia harus beriman kepadanya bahwa semua itu terjadi dengan ketentuan dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia harus sabar, ridha, dan berserah diri. Tidak ada satu peristiwa apapun yang terjadi di alam semesta melainkan ada hikmah yang telah ditentukan oleh Yang Maha Mengetahui padanya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ [الحديد: ٢٢] 

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Al-Hadid/57: 22].

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Aku berada di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا غُلاَمُ أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احَفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ. احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ. إِذَا سَأَلْتَ فاَسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَاْعلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ. وَلَوْ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ. رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Wahai gulam, sesungguhnya aku mengajarkanmu beberapa kalimah: jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjagamu. Jagalah Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya engkau mendapatkan-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta maka memintalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketahuilah, sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk membahayakanmu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering. HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قاَلَ اللهُ تعالى: يُؤْذِيْنِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ, بِيَدِي اْلأَمْرُ, أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Manusia menyakiti-Ku, ia mencela masa, padahal Akulah masa itu. Ditangan-Ku semua perkara, Aku membalikkan malam dan siang.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Kedua: Sesuatu yang ditentukan dan taqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa segala perbuatan yang mampu dan bisa dilakukan oleh manusia, dengan bekal yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa akal, kemampuan dan kebebasan memilih, seperti memilih antara iman dan kafir, antara taat dan maksiat, juaga memilih antara perbuatan baik dan perbuatan buruk.

Maka hal ini dan semisalnya manusia dihisab atasnya, dan dengan hisab itulah diadakannya pahala dan hukuman, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab untuk menjelaskan kebenaran dari kebatilan, mendorong kepada iman dan ketaatan dan memperingatkan dari perbuatan kafir dan maksiat. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah membekali manusia dengan akal dan memberikannya kemampuan untuk memilih dengannya. Maka ia sebenarnya menempuh jalan yang dikehendaki menurut pilihannya. Namun, pilihan apapun yang diambilnya, ia termasuk dalam kehendak dan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam kerajaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa pengetahuan dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ [الكهف: ٢٩] 

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir. [Al-Kahfi/18: 29]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ [فصلت: ٤٦] 

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”. [Fushshilat/41: 46]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَن كَفَرَ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِأَنفُسِهِمۡ يَمۡهَدُونَ [الروم: ٤٤] 

Barangsiapa yang kafir Maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan). [Ar-Ruum/30: 44]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ٢٧ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ [التكوير: ٢٧،  ٢٩] 

Al Qur’aan itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta Alam.  (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.  Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. [At-Takwiir/81: 27-29]

Kapan Boleh Berhujjah Dengan Qadar

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  Shahih/ HR. Ahmad no 2669, dan at-Tirmidzi no. 2516, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2043.
[2]  HR. al-Bukhari no. 4826, dan Muslim no. 2246.

Disyari’atkan Menolak Taqdir Dengan Taqdir

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Kapan Boleh Berhujjah Dengan Qadar.
1. Manusia boleh berhujjah dengan qadar pada musibah (yang menimpanya), seperti yang dijelaskan pada bagian pertama. Apabila seseorang sakit, atau meninggal dunia, atau mendapat musibah di luar kehendaknya, maka ia boleh berhujjah dengan taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, Hendaklah dia mengucapkan:

َقَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukannya  dan apa yang dikehendakiNya mesti terjadi“.

Maka dia harus bersabar dan ridha jika ia mampu, demi untuk mendapatkan pahala. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٥ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ ١٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ [البقرة: ١٥٥،  ١٥٧] 

“… Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.  (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.  Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-Baqarah/2: 155-157]

2. Manusia tidak boleh beralasan dengan taqdir atas kemaksiatan yang dilakukannya, sebab mengakibatkan seseorang meninggalkan kewajiban, atau melakukan apa yang diharamkan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh berbuat taat dan meninggalkan maksiat, menyuruh bekerja dan melarang berpegang kepada taqdir. Jika taqdir boleh menjadi hujjah bagi seseorang, tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyiksa orang-orang yang mendustakan para rasul, seperti kaum nabi Nuh u, kaum ‘Aad, kaum Tsamud, dan semisal mereka, dan tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memerintahkan untuk menegakkan hukum kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran.

Dan barangsiapa yang menganggap taqdir sebagai hujjah bagi pelaku maksiat, maka hal itu  berarti akan menghapuskan kebolehan mencela dan menghukum manusia (yang berbuat buruk). Sehingga seseorang tidak boleh mencela dan menghukum orang yang melakukan aniaya terhadap dirinya, dan tidak pula boleh membedakan di antara orang yang melakukan perbuatan baik atau perbuatan jahat. Dan ini jelas merupakan pendapat yang batil.

Sesuatu yang telah ditaqdirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba, berupa kebaikan atau keburukan, tergantung pada sebab-sebabnya. Suatu kebaikan memiliki sebab-sebabnya yaitu keimanan dan ketaatan, dan bagi keburukan ada sebab-sebabnya, yaitu kufur dan maksiat. Dan manusia beramal menurut kehendak yang telah ditentukan Allah Subhanahu wa Ta’ala baginya, dan berhak memilih apa yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Dan seorang hamba tidak bisa mencapai ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ditaqdirkan baginya, baik berupa keberuntungan atau kecelakaan, kecuali setelah menjalani sebab-sebab yang telah dilakukannya dengan ikhtiar yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya. Oleh karenanya, untuk memasuki surga ada sebab-sebabnya dan untuk memasuki neraka ada sebab-sebabnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ [الانعام: ١٤٨] 

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun.” demikian pulalah orang-orang sebelum mereka Telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta”. [Al-An’aam/6:148]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ [ال عمران: ١٣٢] 

“Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat”. [Ali ‘Imraan/3: 132]

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن علي رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ فَلِمَ نَعْمَلُ؟ أَفَلا نَتَّكِلُ؟ قَالَ: «لَا، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ» ثم قرأ: {فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (5) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (6) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (7) وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (8) وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (9) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (10)} متفق عليه.

Tidak ada satu jiwapun darimu kecuali telah diketahui tempatnya, surga atau neraka.’ Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita mesti beramal?”. Tidakkah kita berserah diri tanpa beramal?. Beliau menjawab: ‘Tidak, beramallah, sebab setiap orang dimudahkan untuk sesuatu yang ia diciptakan untuknya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca:

فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ ٧ وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ ٨ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ ٩ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ [الليل: ٥، ١٠]

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, Serta mendustakan pahala terbaik,  Maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. [Al-Lail/92: 5-10]

Disyari’atkan Menolak Taqdir Dengan Taqdir.

  1. Menolak taqdir yang sungguh tersimpul sebab-sebabnya dan belum terjadi dengan sebab-sebab lain dari taqdir yang berlawanan, seperti menolak musuh dengan memeranginya, menolak panas dan dingin serta semisal yang demikian itu.
  2. Menolak taqdir yang telah terjadi dengan sesuatu yang ditaqdirkan bisa mengangkat dan menghilangkannya, seperti menolak taqdir sakit dengan taqdir berobat, menolak taqdir dosa dengan taqdir bertaubat, menolak taqdir berbuat jahat dengan taqdir berbuat baik dan seterusnya.
  3. Perbuatan baik dan buruk yang muncul dari hamba tidak menafikan penyandarannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menciptakan dan mengadakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu, yaitu menciptakan manusia dan perbuatannya. Namun, adanya kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala (pada sesuatu) bukan sebagai bukti atas keridhaan-Nya.

Kekafiran, perbuatan maksiat, dan kerusakan terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukainya, tidak meridhainya, dan tidak pula memerintahkannya. Bahkan, Dia membenci dan melarangnya. Keadaan bahwa sesuatu hal dibenci dan tidak diredhai tidak mengeluarkannya dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang meliputi penciptaan semua makhluk. Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadung hikmah sesuai dengan apa yang diatur-Nya pada kerajaan dan ciptaan-Nya Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia yang paling sempurna dan paling utama adalah manusia yang mencintai apa-apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membenci apa saja yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak mempunyai rasa cinta dan benci kepada selainnya. Mereka menyuruh kepada apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan tidak memerintahkan kepada selain itu, begitulah seterusnya. Setiap saat, hamba selalu membutuhkan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mesti dijunjungnya dan larangan yang dijauhinya, serta taqdir yang diridhainya.

Ridha Terhadap Taqdir Terbagi Menjadi Tiga:

  1. Ridha dalam melaksanakan ketaatan. Hal ini diperintahkan.
  2. Ridha dengan musibah yang menimpa. Perkara dianjurkan.
  3. Kekafiran, kefasikan dan maksiat. Hal ini tidak diperintahkan untuk meridhainya. Bahkan diperintahkan membencinya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai dan tidak meridhainya. Sekalipun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakannya dan tidak menyukainya, namun sesungguhnya hal itu membawa kepada sesuatu yang Dia cintai, sebagaimana Dia telah menciptakan syetan. Maka kita redha dengan  apa yang telah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun terhadap perbuatan yang tercela dan orang yang melakukannya, maka kita tidak ridha dan tidak menyukainya.

Oleh karenanya, suatu perkara, disukai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain, seperti obat yang tidak disukai, dia zat yang dibenci, akan tetapi membawa kepada hal yang disukai. Dan jalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan membuat Allah redha (kepada kita), dengan melaksanakan apa yang disukai dan diridhai, bukan ridha dengan segala yang terjadi dan terwujud. Kita tidak diperintahkan untuk meridhai setiap apa yang ditentukan dan ditaqdirkanNya. Akan tetapi kita diperintahkan untuk meridhai apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya untuk meridhainya.

Ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Baik dan Buruk Mempunyai Dua Sisi:

  1. Salah satunya: Hubungan dan penisbatannya kepada Allah. Dari sisi ini seorang hamba mesti ridha dengannya, sebab semua qadha Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah baik, adil, dan bijaksana.
  2. Kedua: Hubungan dan penisbatannya kepada hamba. Dalam hal ini, ada yang diridhai, seperti keimanan dan ketaatan, dan di antaranya ada yang tidak diridhai seperti kekafiran dan kemaksiatan. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meridhai, tidak menyukai, dan tidak pula memerintahkannya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ [القصص: ٦٨] 

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dia kehendaki dan memilihnya. sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). [Al-Qashash/28: 68]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡۗ [الزمر: ٧] 

 Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu. [Az-Zumar/39: 7]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.[Ash-Shaaffat/37: 96]

Perbuatan Hamba Adalah Makhluk.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan hamba dan menciptakan segala perbuatannya, Dia mengetahui hal itu, serta menulisnya sebelum terjadinya. Maka apabila hamba melakukan kebaikan atau keburukan, maka terbukalah bagi kita apa yang telah diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang telah diciptakan dan ditulis-Nya. Pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapperbuatan hamba adalah pengetahuan yang bersiafat menyeluruh. Ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi segala sesuatu, tidak ada yang terlupakan dari-Nya seberat biji sawi di bumi dan tidak pula di langit.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ [الصافات : ٩٦] 

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu” [Ash-Shaaffat/37: 96]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ [الانعام: ٥٩] 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).  [Al-An’aam/6: 59]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ [يونس : ٦١] 

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Yunus/10: 61]

  1. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kami, dan beliau adalah yang benar dan dibenarkan;

إَنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا, ثُمَّ يَكُوْنُ فِى ذلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذلِكَ, ثُمَّ يَكُوْنُ فِى ذلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذلِكَ. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ وَيُؤمَرُ بِأَرْبَعُ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيْدٌ.   فَواَلَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا. وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ  حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.

Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah seperti itu. Kemudian menjadi segumpal daging seperti itu. Kemudian diutus kepadanya malaikat, lalu meniupkan padanya ruh dan dia disuruh dengan empat kalimat: menulis rizqinya, ajalnya, amalnya, dan celaka atau beruntung. Demi Allah yang tidak ada Ilah selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga tidak ada di antaranya dan di antara surga kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu ia berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga ia memasukinya. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian berbuat dengan perbuatan penghuni neraka, sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali satu hasta, namun catatan taqdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga dia memasukinya.” Muttafaqun ‘alaih.[1]

Adil dan Ihsan

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 3208 dan Muslim no. 2643, ini adalah lafazhnya.

Adil dan Ihsan

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Adil dan Ihsan.
Perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala beredar antara adil dan ihsan. Mustahil Allah Subhanahu wa Ta’ala berbuat zalim kepada seseorang. Bisa jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlakukan hamba-Nya dengan adil, dan bisa jadi Dia memperlakukan mereka dengan ihsan. Terhadap orang yang jahat, Dia perlakukan dengan keadilanNya, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَجَزَٰٓؤُاْ سَيِّئَةٖ سَيِّئَةٞ مِّثۡلُهَاۖ [الشورى: ٤٠]

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa”.. [Asy-Syura/42: 40]

Sementara itu, Dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperlakukan orang yang baik dengan karunia dan sifat ihsan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ [الانعام: ١٦٠] 

“Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”. [Al-An’aam/6: 160]

Perintah-perintah Syar’iah dan Kauniah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai dua macam perintah: Perintah yang bersifat kauniyah dan perintah yang bersifat syari’iyah.

  • Perintah-perintah kauniah terbagi menjadi tiga:
  1. Perintah untuk menciptakan dan mengadakan. Perintah ini berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada semua makhluk, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ [الزمر: ٦2] 

Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu. [Az-Zumar/39: 62]

  1. Perintah untuk tetap. Perintah ini berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada semua makhluk untuk berada dalam kondisi tetap.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا [فاطر: ٤١] 

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. [Fathir/35: 4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن تَقُومَ ٱلسَّمَآءُ وَٱلۡأَرۡضُ بِأَمۡرِهِۦۚ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمۡ دَعۡوَةٗ مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ إِذَآ أَنتُمۡ تَخۡرُجُونَ [الروم: ٢٥] 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). [Ar-Ruum/30: 25]

  1. Perkara manfaat dan mudharat, gerak dan diam, hidup dan mati, …dst, adalah perintah berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada semua makhluk.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ [الاعراف: ١٨٧]

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. dan sekiranya Aku mengetahui yang ghaib, tentulah Aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. [Al-A’raaf/7: 188]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ ٱلَّذِي يُسَيِّرُكُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۖ حَتَّىٰٓ إِذَا كُنتُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ وَجَرَيۡنَ بِهِم بِرِيحٖ طَيِّبَةٖ وَفَرِحُواْ بِهَا جَآءَتۡهَا رِيحٌ عَاصِفٞ وَجَآءَهُمُ ٱلۡمَوۡجُ مِن كُلِّ مَكَانٖ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُمۡ أُحِيطَ بِهِمۡ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ لَئِنۡ أَنجَيۡتَنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ [يونس : ٢٢] 

Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka Telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): “Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, Pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur”.[Yunus/10: 22]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

هُوَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ [غافر: ٦٨] 

Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, dia Hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia. [Ghafir/40: 68]

Adapun perintah-perintah syari’iyah Ilahiyah, hanya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang ditujukan kepada bangsa jin dan manusia, itulah (tuntunan) agama . Yaitu meliputi iman, ibadah, mu’amalah, pergaulan, dan akhlak. Setingkat tingginya keyakinan terhadap perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat kauniyah, setingkat itu pula akan tertanam sisi hamba rasa rindu, senang, dan nikmat dalam melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat syar’i. Orang paling beruntung dengan hal itu adalah orang yang paling besar ma’rifahnya kepada Rabb mereka. Mereka adalah para nabi, kemudian orang yang berjalan di atas petunjuk mereka. Dan dengan menjunjung perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bersifat syar’i, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membukakan kepada kita berkah langit dan bumi di dunia dan memasukkan kita ke dalam surga di akhirat.

Perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala Terbagi Dua.
Perintah-perintah syar’iah yang kadang terjadi, dan terkadang manusia menyalahinya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, di antaranya:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ [الاسراء: ٢٣] 

“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. [Al-Isra/17: 23].

Perintah-perintah kauniyah yang harus terjadi dan manusia tidak mungkin menghindarinya, dan ia terbagi dua:
Perintah Rabbani yang bersifat langsung yang harus terjadi, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡ‍ًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ [يس: ٨٢] 

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. [Yasiin/36: 82]

Perintah-perintah Rabbani yang bersifat kauniyah, adalah sunnah kauniyah berupa hubungan sebab dan akibat yang saling mempengaruhi satu sama lain, dan bagi setiap sebab yang bersifat kauni akan menimulkan akibat. Dan termasuk sunnah kauniyah adalah:

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ [الانفال: ٥٣] 

 (Siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri”. [Al-Anfaal/8: 53]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِذَآ أَرَدۡنَآ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡيَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَٰهَا تَدۡمِيرٗا [الاسراء: ١٦] 

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. [Al-Israa/17: 16]

Iblis dan para pengikutnya berusaha menundukkan sunnah kauniyah ini agar menjadi sebab bagi kebinasaan sebagian manusia. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan bagi kita untuk berdo’a dan beristigfar agar selamat dari kebinasaan tersebut. Dan tidak ada yang bisa menolak qadha kecuali do’a. Do’a adalah kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan sunnah kauniyah. Maka Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Kuasa menggagalkan suatu reaksi atau merubah sebuah akibat di saat yang dikehendakiNya dan bagaimana Dia menghendakinya, sebagaimana Dia menggagalkan reaksi panas api terhadap nabi Ibrahim u:

قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ [الانبياء: ٦٩] 

Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, [Al-Anbiyaa/21: 69]

Jenis-jenis Kebaikan dan Keburukan
Kebaikan yang penyebabnya adalah keimanan dan amal shalih, yaitu ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kebaikan yang penyebabnya adalah nikmat Ilahi kepada manusia, yaitu apa-apa yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa harta, kesehatan, pertolongan, kemuliaan, dan semisal dengannya.

Dan Keburukan Terbagi Dua:
Keburukan yang penyebabnya adalah kesyirikan dan kemaksiatan, yaitu apa yang muncul dari manusia dari perbuatan syirik dan maksiat.

Keburukan yang penyebabnya adalah cobaan atau siksaan Ilahi, seperti penyakit tubuh, hilangnya harta, kekalahan, dan semisal dengannya.

  • Maka kebaikan dalam arti taat, tidak disandarkan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyari’atkannya bagi hamba, mengajarkannya kepadanya, memerintahkan melaksanakannya dan menolongnya atasnya.
  • Keburukan dalam arti maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila hamba melakukan dengan kehendak dan pilihannya mengutamakan maksiat atas taat. Maka keburukan ini disandarkan kepada hamba sebagai pelakunya dan tidak disandarkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mensyari’atkannya, tidak memerintahkannya. Bahkan Dia mengharamkannya dan memberikan ancaman atasnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٖ فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولٗاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا [النساء : ٧٩] 

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.[An-Nisaa/4: 79]

Adapun kebaikan dalam pengertian nikmat seperti harta, anak, sehat, pertolongan dan kemuliaan, dan kebaikan dalam arti siksaan dan cobaan seperti berkurangnya harta, jiwa dan buah-buahan, kekalahan dan semisalnya, maka kebaikan dan keburukan dengan pengertian ini berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-Nya sebagai cobaan dan siksaan serta meninggikan sebagai pendidikan bagi hamba-hamba-Nya, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٞ يَقُولُواْ هَٰذِهِۦ مِنۡ عِندِكَۚ قُلۡ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِۖ فَمَالِ هَٰٓؤُلَآءِ ٱلۡقَوۡمِ لَا يَكَادُونَ يَفۡقَهُونَ حَدِيثٗا [النساء : ٧٨] 

“Dan jika mereka memperoleh kebaikan mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraansedikitpun?”. [An-Nisaa/4: 78]

Menolak Akibat Keburukan.
Apabila seorang mukmin melakukan kesalahan, maka hukumannya tertolak darinya dengan yang berikut ini:
Bisa jadi ia bertaubat, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya, atau ia meminta ampun lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya, atau ia melakukan kebaikan yang menghapusnya, atau saudara-saudaranya yang beriman mendoakan dan memohon ampunan untuknya, atau menghadiahkan untuknya dari pahala amal perbuatan mereka yang Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat dengannya, atau Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya di dunia dengan berbagai macam musibah yang menjadi penebus darinya, atau Allah Subhanahu wa Ta’ala mengujinya di alam barzakh dengan teriakan lalu Dia Shallallahu ‘alaihi wa sallam menebusnya dengannya, atau mengujinya di hari kiamat yang menjadi penebus darinya, atau nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberi syafaat padanya, atau Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling pengasih memberi rahmat kepadanya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Taat dan Maksiat

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]

Taat dan Maksiat

PERCAYA KEPADA QADAR ALLAH

Taat dan Maksiat.
Taat melahirkan manfaat dan membuahkan akhlak yang baik, dan maksiat melahirkan kemudharatan dan membuahkan akhlak yang buruk. Maka matahari, bulan, tumbuhan, hewan, daratan dan lautan taat kepada Rabb-nya, maka keluarlah darinya manfaat yang banyak, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan para nabi tatkala taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, keluarlah dari mereka kebaikan yang tidak bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan iblis, tatkala durhaka kepada Rabb-nya, enggan, dan sombong, karena sebab itu keluarlah keburukan dan kerusakan di bumi yang tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seperti inilah manusia, apabila taat kepada Rabb-nya, keluarlah darinya kebaikan dan manfaat untuknya dan orang lain, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan apabila ia durhaka kepada Rabb-nya, keluarlah darinya keburukan dan mudharat baginya dan bagi orang lain, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dampak Taat dan Maksiat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan bagi taat dan kebaikan dampak-dampak yang nikmat, baik lagi dicintai. Kenikmatannya di atas kenikmatan maksiat berlipat ganda. Dan Dia Subhanahu wa Ta’ala menjadikan bagi maksiat dan keburukan dampak-dampak dan rasa sakit yang tidak disukai, yang mewariskan kerugian dan penyesalan, dan menambah kenikmatan mengecapnya berlipat ganda. Tidak pernah terjadi  kondisi yang dibenci kecuali karena dosa dan yang dimaafkan Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih banyak.

Dan dosa-dosa membahayakan hati seperti racun membahayakan badan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia di atas fitrah sebagai kebaikan yang sangat indah. Maka jika ia tercemar dengan segala dosa dan kesalahan niscaya diambil darinya kebaikan dan keindahannya. Dan apabila ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala niscaya kembalilah kepadanya kebaikan dan keindahannya, dan mencapai kesempurnaannya di surga.

Petunjuk dan Penyesatan.
Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala penciptaan dan perkara, Dia Subhanahu wa Ta’ala melakukan apa yang Dia kehendaki dan memantapkan apa yang Dia Subhanahu wa Ta’ala kehendaki, memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan orang yang dikehendakinya. Kerajaan adalah kerajaan-Nya dan ciptaan adalah ciptaan-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan dan mereka akan ditanyakan. Dan termasuk rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia mengutus para rasul, menurunkan kitab-kitab, menjelaskan segala jalan, menyingkirkan berbagai ‘illah, dan menekankan berbagai sebab petunjuk dan taat dengan pendengaran, penglihatan, dan akal, dan setelah hal itu:

  1. Maka barangsiapa yang mengutamakan hidayah, mendorong padanya, mencarinya, mengerjakan sebab-sebabnya, dan berusaha untuk memperolehnya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menuntunnya kepadanya, menolongnya untuk memperolehnya dan menyempurnakannya. Ini adalah rahmat dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ [العنكبوت: ٦٩] 

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. [Al-‘Ankabuut/29: 69]

  1. Dan barangsiapa yang mengutamakan kesesatan, mendorong padanya, mencarinya, dan mengerjakan sebab-sebab-Nya niscaya sempurnalah baginya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menguasakan kepadanya apa-apa yang dikuasainya, dan ia tidak mendapatkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memalingkan darinya. Dan ini adalah keadilan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا [النساء : ١١٥] 

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu[348] dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An-Nisaa/4: 115]

Buah Beriman Kepada Qadar.
Beriman kepada qadha` dan qadar adalah sumber kesenangan, ketenangan, dan keberuntungan bagi setiap muslim. Maka denganya dia mengetahui bahwa segala sesuatu terjadi dengan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia tidak merasa bangga dengan dirinya sendiri saat memperoleh keinginannya dan tidak gelisah saat tidak mendapatkan apa yang disukai atau terjadi (sesuatu) yang dibencinya, karena dia mengetahui bahwa semua itu terjadi dengan qadar Allah Subhanahu wa Ta’ala, suatu hal yang pasti terjadi, tidak mustahil.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ٢٢ لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ [الحديد: ٢٢،  ٢٣] 

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.  (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. [Al-Hadid/57:22-23]

  1. Dari Shuhaib Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذلِكَ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ. إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

Sungguh mengagumkan perkara orang mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah baik dan hal itu tidak pernah terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia bersyukur, maka itu lebih baik baginya. Dan jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar, dan hal  itu lebih baik baginya.” HR. Muslim.[1]

  1. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللهَ وَشَكَرَ. وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيْبَةٌ حَمِدَ اللهَ وَصَبَرَ. فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِى كُلِّ أَمْرِهِ, حَتَّى يُؤْجَرَ فِى اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ.

Aku merasa kagum terahdap perkara orang mukmin, jika ia mendapatkan kebaikan, ia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya. Dan jika dia mendapat musibah, dia memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam semua perkaranya, bahkan diberi pahala pada suapan (makanan) yang diberikannya pada mulut istrinya.” HR. Ahmad dan Abdurrazzaq.[2]

Setelah selesainya pembahasan ini dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka selesailah pembahasan tentang enam rukun iman, yaitu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan qadar baik dan buruk-Nya. Dan setiap rukun tersebut memberikan faedah  yang bermanfaat bagi seorang mukmin.

Buah-buah Rukun Iman
1. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala : Membuahkan cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengagungkan-Nya, bersyukur kepada-Nya, menyembah-Nya, taat dan takut kepada-Nya, dan menjunjung perintah-perintah-Nya.

2. Beriman kepada malaikat: membuahkan cinta kepada mereka, merasa malu terhadap mereka, dan mengambil pelajaran dengan ketaatan mereka.

3-4. Beriman kepada kitab-kitab dan rasul-rasul: Membuahkan kekuatan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencintai-Nya, mengenal syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa-apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan apa-apa yang dibenci-Nya, mengenal negeri akhirat, dan mencintai rasul-rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentaati kepada mereka.

5. Beriman kepada hari akhir: membuahkan keinginan untuk melakukan taat dan kebaikan, dan berlari dari maksiat dan kemungkaran.

6. Beriman kepada qadar: membuahkan ketenangan jiwa dan ridha dengan apa yang ditaqdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.  Dan apabila hal itu terealisasikan dalam kehidupan seorang muslim, tentu ia berhak masuk surga, dan hal itu tidak sempurna kecuali dengan taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ وَذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ [النساء : ١٣] 

“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar”.[An-Nisaa/4: 13]

Segala apa yang dilakukan, ditentukan, dan ditaqdirkan- oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi makhluk-Nya mengandung mashlahat dan hikmah. Maka apa yang dilakukan-Nya berupa yang ma’ruf dan kebaikan menunjukkan atas rahmat-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya berupa siksaan dan hukuman menunjukkan murka-Nya.  Dan apa yang dilakukan-Nya berupa kelembutan dan kemuliaan menunjukkan cinta-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya berupa penghinaan menunjukkan kemurkaan dan kebenciaan-Nya. Dan apa yang dilakukan-Nya terhadap semua makhluk yang berwal dari sebuah kekurangan, kemudian berubah menjadi sempurna menunjukkan akan terjadinya hari kebangkitan.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim no. 2999
[2]  Hasan/ HR. Ahmad no 1492, dan ini adalah lafazhnya. Al-Arna’uth berkata: Sanadnya hasan. Dan diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 20310.

I h s a n

I H S A N

11. Ihsan (الإحسان) :  أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك.

Menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala melihatmu.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ [النحل: ١٢٨] 

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. [An-Nahl/16: 128]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨ وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ ٢١٩ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ [الشعراء : ٢١٧،  ٢٢٠] 

Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.  Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), 219.  Dan (melihat pula) perobahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.  Sesungguhnya dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.  [Asy-Syu’araa/26: 217-220]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِۚ وَمَا يَعۡزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثۡقَالِ ذَرَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصۡغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡبَرَ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍ [يونس : ٦١] 

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). [Yunus/10: 61]

Tingkatan-tingkatan Agama Islam.
Agama Islam terdiri dari tiga tingkatan, sebagiannya di atas yang lain, yaitu: Islam, iman, dan ihsan, dan ihsan inilah tingkatan yang tertinggi, dan setiap tingkatan terdiri dari beberapa tingkatan.

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: بَيْنَما نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَومٍ، إذْ طَلَعَ عَلَينَا رَجُلٌ شَدِيدُ بِيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لا يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم-، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإسْلامِ؟
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-: «الإسْلامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لا إلَهَ إلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-، وَتُقِيمَ الصَّلاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إنِ اسْتَطَعْتَ إلَيهِ سَبيلاً». قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإيمانِ؟
قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَومِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» قَالَ: صَدَقْتَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإحْسَانِ؟
قَالَ: «أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإنَّهُ يَرَاكَ» قَال: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ؟
قَالَ: «مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا بَأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَتِهَا؟
قَالَ: «أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الحفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي البُنْيَانِ» قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ، فَلَبِثْتُ مَلِيّاً ثُمَّ قَالَ لِي: «يَا عُمَرُ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإنَّهُ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ». أخرجه مسلم

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata: “Tatkala kami berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, rambut sangat hitam, tidak ada bekas perjalanan jauh yang tanpak padanya, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Sehingga ia duduk kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia menyandarkan dua lututnya kepada kedua lututnya, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, ia berkata: “Wahai Muhammad, beritakanlah kepadaku tentang Islam?”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke baitullah jika engkau mampu berjalan kepadanya“. Ia berkata: “Engkau benar”. “Umar Radhiyallahu anhu berkata: “Kami heran karenanya, di mana dia bertanya lalu dia sendiri yang membenarkannya. Ia bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang iman?”.  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Iman adalah engkau beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar yang baik dan buruk. Lelaki itu berkata: ‘Engkau benar”. Lalu Ia bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan?”. Beliau bersabda:  Bahwa engkau menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak bisa (seolah-olah) melihatnya, maka sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala melihatmu”. Ia bertanya kembali: “Beritakanlah kepadaku tentang hari kiamat?”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya tidak lebih mengetahui dari pada yang bertanya”. Ia bertanya: “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tanda-Nya?“. Beliau menjawab: Seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan engkau melihat orang-orang yang tidak bersendal, tidak berpakaian, fakir, pengembala kambing berlomba-lomba dalam bangunan”. Kemudian laki-laki itu pergi, lalu aku berdiam beberapa saat, kemudian beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai Umar, apakah engkau tahu siapakah yang bertanya itu?’ Aku menjawab, ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia adalah Jibril Alaihissallam, dia datang kepadamu mengajarkan agamamu.’ HR. Muslim.[1]

Ihsan Terdiri dari Dua Tingkatan.
Tingkatan pertama: Bahwa manusia menyembah Rabb-nya seolah-olah dia melihat-Nya dalam  melaksanakan ibadah yang bersifat permohonan (ibadah thalab), rasa rindu, mengharap dan cinta. Dia meminta kepada Zat yang dicintanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia menuju dan menyembah-Nya seolah-olah melihat-Nya. Ini adalah tingkatan yang tertinggi dari dua tingakatan ihsan, yaitu engkau menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala seolah-olah melihat-Nya”.

Tingkatan kedua: Apabila  saat dirimu  menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa bersikap seakan-akan melihat-Nya dan meminta-Nya, maka sembahlah Dia seakan-akan Dia melihatmu, sebagai penyembahan orang yang takut dari-Nya, berlari dari siksa dan hukuman-Nya, merendahkan diri bagi-Nya ” maka jika engkau tidak bisa (seolah-olah) melihatNya, maka sesungguhnya Dia Subhanahu wa Ta’ala melihatmu”.

Menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didasarkan dua perkara: Ketinggian cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan pengagungan yang tinggi dan sikap merendahkan diri yang dalam kepada-Nya. Maka rasa cinta melahirkan rindu dan menuju (hanya kepadaNya), sementara mengagungkan dan merendahkan diri kepada-Nya melahirkan sikap takut dan bergegas lari (menuju kepadaNya). Inilah ihsan dalam penyembahan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat baik.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنۡ أَحۡسَنُ دِينٗا مِّمَّنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِيمَ حَنِيفٗاۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبۡرَٰهِيمَ خَلِيلٗا [النساء : ١٢٥] 

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus”.

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ [لقمان: ٢٢] 

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. [Luqman/31: 22]

  1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ [البقرة: ١١٢] 

 (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[Al-Baqarah/2: 112]

Perniagaan yang Menguntungkan.
Di dalam al-Qur`an disebutkan dua jenis perniagaan: perniagaan orang-orang beriman … dan perniagaan orang-orang kafir:

Perniagaan orang-orang beriman adalah perniagaan yang menguntungkan dan mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dan itulah agama, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَىٰ تِجَٰرَةٖ تُنجِيكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ١٠ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ [الصف: ١٠،  ١١] 

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?.  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui. [Ash-Shaff/61: 10-11]

Dan perniagaan orang-orang munafik adalah merugi, membawa kepada kecelakaan di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang orang-orang munafik:

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمۡ قَالُوٓاْ إِنَّا مَعَكُمۡ إِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَهۡزِءُونَ ١٤ ٱللَّهُ يَسۡتَهۡزِئُ بِهِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ ١٥ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ [البقرة: ١٤،  ١٦] 

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.. Mereka Itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk”.

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. Muslim no. 8.

Kitab Ilmu

KITAB ILMU

Keutamaan Berilmu.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ  [المجادلة: ١١] 

” …Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Mujadilah/58: 11]

Dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu anhu berkata, diceritakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dua orang laki-laki, salah satunya adalah ahli ibadah dan yang lain adalah seorang yang berilmu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كََفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas yang terendah darimu“.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَمَوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِى حُجْرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut di dalam lobangnya sampai ikanpun berdo’a bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” HR. at-Tirmidzi.[1]

Keutamaan Menuntut Ilmu dan Menuntutnya Sebelum Mengajarkan dan Beramal Denganya.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ  [محمد : ١٩] 

“Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal”. [Muhammad/47: 19]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَقُل رَّبِّ زِدۡنِي عِلۡمٗا  [طه: ١١٤] 

“Dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [Thaaha/20: 114]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Dan barangsiapa yang menjalani satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan baginya jalan menuju surga.” HR. Muslim.[2]

Keutaman Orang yang Menyeru Kepada Petunjuk.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْل ُأُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ, لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا, وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, niscaya ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, dan tidak mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. dan barangsiapa yang mengajaka kepada kesesatan, niscaya ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak mengurangi sedikitpun dari dosa mereka.’ HR. Muslim.

Kewajiban Menyampaikan Ilmu.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 هَٰذَا بَلَٰغٞ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُواْ بِهِۦ وَلِيَعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ وَلِيَذَّكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ [ابراهيم: ٥٢] 

“(Al Quran) Ini adalah penjelasan yang Sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. [Ibrahim/14: 52]

Dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, di saat haji waja`, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 لِيُبَلِّغَ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ, فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ

Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir, karena sesungguhnya orang yang hadir barangkali menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘

بَلِّغُوْا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikanlah dariku, seklipun hanya satu ayat…”. HR. al-Bukhari.[4]

Hukuman Bagi yang Menyembunyikan Ilmu.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيۡهِمۡ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ  [البقرة: ١٥٩،  ١٦٠] 

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,  Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah/2: 159-160]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أَلْجَمَهُ اللهُ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengekangnya dengan tali kekang dari neraka di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.[5]

Hukuman Orang yang Menuntut Ilmu Bukan Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهَ اللهِ عَزَّ وَجَلّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang diharuskan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, niscaya ia tidak mendapatkan aroma surga di hari kiamat.” HR. Abu Daud dan Ibnu Majah.[6]

Dari Ka’ab bin Malik Radhiyallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوْهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارُ

Barangsiapa yang menuntut ilmu bertujuan untuk mengalahkan para ulama atau untuk membantah orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan pandangan manusia kepadanya, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkannya ke dalam neraka.” HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.[7]

Hukuman Berdusta Terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗا لِّيُضِلَّ ٱلنَّاسَ بِغَيۡرِ عِلۡمٍۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ  [الانعام: ١٤٤] 

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.  [Al-An’aam/6: 144]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦ مَتَٰعٞ قَلِيلٞ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ  [النحل: ١١٦،  ١١٧] 

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.  (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih”.  [An-Nahl/16: 116-117].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَذَّبَ عَلَيَّ مُتَعَمِْدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Barangsiapa yang berbohong terhadapku secara sengaja, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka.” Muttafaqun ‘alaih.[8]

Keutamaan Orang yang Berilmu dan Mengajarkannya.
Firman Subhanahu wa Ta’ala:

 وَلَٰكِن كُونُواْ رَبَّٰنِيِّ‍ۧنَ بِمَا كُنتُمۡ تُعَلِّمُونَ ٱلۡكِتَٰبَ وَبِمَا كُنتُمۡ تَدۡرُسُونَ [ال عمران: ٧٩] 

“Akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. [Ali ‘Imran/3: 79]

Dari Abu Musa Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

عن أبي موسى رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الهُدَى وَالعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيْثِ الكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضاً، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ المَاءَ فَأَنْبَتَتِ الكَلأَ وَالعُشْبَ الكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ المَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا، وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لا تُمْسِكُ مَاءً وَلا تُنْبِتُ كَلأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْساً وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ». متفق عليه

Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusku dengannya yaitu seperti air melimpah yang tercurah ke bumi. Maka di antara bumi itu ada yang bersih, menerima air lalu menumbuhkan rerumputan yang banyak dengannya. Dan ada di antaranya ada yang gersang yang mampu menahan air, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepada manusia dengannya, lalu mereka meminum, menyirami tanaman dan bertani dengannya. Dan ada bagian air yang menimpa bagian lain dari bumi, dia adalah permukaan yang lereng, yang tidak bisa menahan (menyimpan) air dan tidak bisa menumbuhkan rerumputan. Maka itulah perumpamaan orang yang mengerti tentang agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memberi manfaat kepadanya risalah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutusku dengannya, lalu ia mengetahui dan mengajarkan. Dan perumpamaan orang yang tidak perduli terhadap hal itu dan tidak mau menerima petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang aku diutus dengannya.” Muttafaqun ‘alaih.[9]

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh dengki kecuali kepada pada dua orang: Seseorang yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala harta, lalu ia menyalurkannya di dalam kebenaran, dan seseorang yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hikmah (ilmu), dan ia memutuskan hukum dengannya dan mengajarkannya.” Muttafaqun ‘alaih.[10]

Cara Diangkat dan Diambilnya Ilmu.

  1. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu berkata: Maukah kalian aku ceritakan satu hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak ada seorangpun yang menceritakannya kepadamu setelahku, yang pernah mendengarnya dari beliau:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ  وَيَفْشُوَ الزِّنَى وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ وَتَبْقَى النِّسَاءُ حَتَّى يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.

Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat: diangkatnya ilmu, nampaknya kebodohan, tersebarnya perzinahan, diminumnya arak, berkurangnya para laki-laki, dan tersisalah para wanita, sehingga bagi lima puluh orang perempuan hanya ada seorang (laki-laki) sebagai penanggung jawab.” Muttafaqun ‘alaih.[11]

  1. Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إَنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاء,ِحَتىّ إِذَا لمَ ْيَبْقَ عَالِمٌ اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوْا.

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengambil ilmu secara langsung yang diambilnya dari seorang hamba, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak ada lagi orang yang berilmu, manusia memilih para pemimpin yang bodoh, maka mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” Muttafaqun ‘alaih.[12]

Keutamaan Paham di Dalam Agama.

  1. Dari Humaid bin Abdurrahman Radhiyallahu anhu sesungguhnya ia mendengar Mu’awiyah Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّيْنِ وَاللهُ الْمُعْطِي وَأَنَا الْقَاسِمُ وَلاَ تَزَالُ هذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِيْنَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى َيأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُوْنَ.

Barangsiapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan baginya, niscaya Dia memberinya kepahaman dalam agama, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberi dan akulah yang membagi. Dan senantiasa umat ini nampak (menang) terhadap orang yang menyalahi mereka sampai datang perkara Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka tetap nampak (menang).” Muttafaqun ‘alaih.[13]

  1. Dari Utsman Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya.” HR. al-Bukhari.[14]

Keutamaan Majelis Dzikir.
Di dunia ini ada dua taman surga, salah satunya tetap dan yang lain selalu berganti pada setiap waktu dan tempat.

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِيْ رَوْضَةٌُ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ, وَمِنْبَرِيْ عَلَى حَوْضِي

Tempat di antara rumahku dan minbarku adalah satu taman dari taman-taman surga, dan minbarku di atas telagaku.” Muttafaqun ‘alaih.[15]

  1. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا. قَالُوْا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ.

Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka bersenang-senanglah’ Mereka bertanya, ‘Apakah taman-taman surga itu? Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis dzikir.’ HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[16]

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, sesungguhnya keduanya menyaksikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزّ وجل إِلاَّ حَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ  وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السّكِيْنَةُ وَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

Tidaklah suatu kaum duduk-duduk untuk mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, melainkan mereka dikelilingi para malaikat, diliputi rahmat, dan turunlah ketenangan kepada mereka, serta Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. HR. Muslim.[17]

Adab Menuntut Ilmu.

  • Ilmu adalah ibadah, dan ibadah mempunyai dua syarat: yaitu ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan ilmu terdiri dari beberapa bagian: yang tertinggi, yang paling mulia dan yang paling bersih adalah ilmu yang dibawa oleh para nabi dan rasul, berupa ilmu tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala, asma-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya, agama-Nya, dan syari’at-Nya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ  [محمد : ١٩] 

Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. [Muhammad/47: 19]

  • Dan ilmu mempunyai beberapa adab, di antaranya yang berkaitan dengan pengajar (guru, ustadz), pelajar (santri), dan ini adalah sebagian darinya:

Adab Seorang Pengajar

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan B imbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] Shahih/ HR. at-Tirmidzi no. 2685, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2161
[2] HR. Muslim no. 2699
[3] HR. al-Bukhari no. 67, ini adalah lafazhnya,  dan Muslim no. 1679.
[4] HR. al-Bukhari no. 3461
[5] Hasan Shahih HR. Abu Daud no. 3658, Shahih Sunan Abu Daud
[6] Shahih Abu Daud no. 3664, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan Abu Daud, dan Ibnu Majah no. 252, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 204.
[7] Hasan HR. at-Tirmidzi no 2654, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no 2138, dan Ibnu Majah no. 253, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 205..
[8] HR. al-Bukhari no. 110, dan Muslim no. 3, ini adalah lafazhnya.
[9] HR. al-Bukhari no. 79, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2282.
[10] HR. al-Bukhari no. 73, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 816
[11] HR. al-Bukhari no. 81, dan Muslim no. 2671, ini adalah lafazhnya.
[12] HR. al-Bukhari no. 100, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2673.
[13] HR. al-Bukhari no. 3116, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 1037.
[14] HR. al-Bukhari no. 5027
[15] HR. al-Bukhari no. 1196, dan Muslim no. 1391
[16] Hasan HR. Ahmad no. 12551, lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 2562, dan at-Tirmidzi no. 3510, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2787.
[17] HR. Muslim no. 2700

Adab Seorang Pengajar

KITAB ILMU 

1. Adab Seorang Pengajar
Tawadhu’ dan rendah diri.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya:

 وَٱخۡفِضۡ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  [الشعراء : ٢١٥] 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman”. [Asy-Syu’araa/26: 215]

Memiliki akhlak yang terpuji.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ  [القلم: ٤] 

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. [Al-Qalam/68: 4]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ  [الاعراف: ١٩9]

“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh”. [Al-A’raaf/7:199]

Hendaklah seorang pengajar memperhatikan keadaan seseorang saat memberikan nasehat dan ilmu agar mereka tidak merasa jemu, lalu menjauh:

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

عن ابن مسعود رضي الله عنه قال: كَانَ النَّبِيُّ- صلى الله عليه وسلم- يَتَخَوَّلُنَا بِالموْعِظَةِ فِي الأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا. متفق عليه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan keadaan kami pada hari-hari beliau memberi nasehat karena khawatir jika ada rasa jemu yang menyentuh kami.’Muttafaqun ‘alaih.[1]

Meninggikan suara saat menyampaikan ilmu dan mengulanginya dua atau tiga kali, agar dapat dipahami:

Dari Abdullah bin ‘Amar Radhiyallahu anhu berkata:

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال: تخلف النبي- صلى الله عليه وسلم- في سفرة سافرناها، فَأَدْرَكَنا وقد أَرْهَقَتْنا الصلاة ونحن نتوضأ، فجعلنا نمسح على أرجلنا، فنادى بأعلى صوته: «وَيْلٌ للأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ» مرتين أو ثلاثاً. متفق عليه

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertinggal dalam sebuah perjalanan kami lakukan, dan beliau menyusul kami, sementara waktu shalat telah masuk dan kami sedang berwudhu’. Maka kami mengusap kaki kami, lalu beliau berseru dengan suara yang tinggi: “Celakalah tumit (yang tidak tersentuh oleh air wudhu’) karena (akan disiksa dengan) api neraka.’ Dua kali atau tiga kali.” Muttafaqun ‘alaih.[2]

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم-: أَنَّهُ كَانَ إذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاثاً حَتَّى تُفْهَمَ، وإذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلاثاً. أخرجه البخاري

Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa apabila beliau berbicara dengan suatu kata, maka beliau mengulanginya tiga kali, sehingga dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum, maka beliau memberi salam kepada mereka sebanyak tiga kali.” HR. al-Bukhari.[3]

Bernada marah dalam memberi nasehat dan mengajar, apabila melihat atau mendengar hal yang tidak disukai.
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: “Seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah!, hampir saja aku tidak mendapatkan shalat, karena fulan (yang mengimami shalat) selalu memperpanjang shalatnya dengan kami”. Maka aku tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam marah melebihi marahnya daripada hari itu dalam memberi nasehat beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُوْنَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنْ فِيْهِمُ الْمَرِيْضَ وَالضَّعِيْفَ وَذَا الْحَاجَةِ.

Wahai manusia, sesungguhnya kalian membuat orang berlari (dari agama ini). Barangsiapa (yang mengimami) manusia dalam shalatnya, maka hendaklah ia memperpendeknya. Karena sesungguhnya di antara jama’ah ada orang yang sakit, lemah, dan mempunyai kebutuhan.” Muttafaqun ‘alaih.[4]

Terkadang memberi jawaban kepada penanya dengan jawaban yang lebih banyak daripada pertanyaannya.
Dari Ibnu Umar, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pakaian yang boleh dipakai oleh orang yang sedang berihram? Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَلاَتَلْبَسُوْا الْقُمُصَ وَلاَالْعَمَائِمَ وَلاَ الْسَرَاوِيْلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ الْخِفَافَ إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسِْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ, وَلاَ تَلْبَسُوْا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلاَ الْوَرَسُ.

Janganlah engkau memakai kemeja, dan jagan pula memakai surban, celana, baju mantel yang bertedung kepalanya, sepatu, kecuali orang yang tidak mendapatkan dua sendal, maka hendaklah ia memakai dua sepatu (khuf) dan hendaklah dia memotongnya sehingga menjadi lebih rendah dari dua mata kaki. Dan janganlah kamu memakai pakaian yang terkena za’faran dan waras.” Muttafaqun ‘alaih.[5]

Melontarkan pertanyaan kepada murid-muridnya untuk mengetahui tingkat keilmuan mereka.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةٌ لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُوْنِي مَا هِيَ؟ فَوَقَعَ النَّاسُ فِى شَجَرِ الْبَوَادِي. قَالَ عَبْدُ الله:  وَوَقَعَ فِى نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فاَسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قاَلُوْا: حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُوْلَ الله؟ قَالَ: هِيَ النَّخْلَةُ.

Sesungguhnya di antara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan sesungguhnya ia adalah perumpamaan seorang muslim, beritahukanlah aku, apakah nama pohon itu?’. Orang-orang menduga bahwa nama pohon tersebut adalah pohon bawadi. Abdullah Radhiyallahu anhu berkata: Aku menduga bahwa pohon itu adalah pohon kurma, namun aku merasa malu mengatakannya. Kemudian para shahabat berkata: beritahukanlah kepada kami pohon apakah itu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: Ia adalah pohon kurma.” Jawab Rasulullah. Muttafaqun ‘alaih.[6]

Tidak melontarkan perkara yang samar di tengah umum, dan tidak mengkhususkan ilmu tertentu bagi suatu kaum, karena khawatir jika mereka tidak mengerti.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

عَن أَنَسِ بنِ مَالكٍ رَضِيَ اللهُ عَنهُ أَنَّ نَبِيَّ الله- صلى الله عليه وسلم- ومعاذُ بنُ جَبَلٍ رَدِيفُهُ عَلى الرَّحْلِ، قَالَ: «يَا مُعاذُ» قالَ: لَبَّيكَ رَسُولَ الله وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: «يَا مُعاذُ» قالَ: لَبَّيكَ رَسُولَ الله وَسَعْدَيْكَ، قَالَ: «يَا مُعاذُ» قالَ: لَبَّيكَ رَسُولَ الله وَسَعْدَيْكَ، قال: «مَا مِنْ عَبِدٍ يَشْهَدُ أَنْ لا إلَهَ إلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ».قالَ: يا رَسُولَ الله، أَفَلا أُخْبِرُ بِها النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا؟ قَالَ: «إذاً يَتَّكِلُوا» قَأَخْبَرَ بِها مُعاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأثُّماً. متفق عليه

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membonceng Mu’adz Radhiyallahu anhu. Beliau bersabda: “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab, “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab. “Wahai Mu’adz!”. “Ya, wahai Rasulullah”. Kata Mu’adz menjawab. Beliau bersabda: ‘Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah dengan sebenarnya) selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sesungguhnya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan benar dari hatinya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkannya atas dirinya api neraka. Mu’adz bertanya: “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukannya kepada manusia agar mereka bergembira dengannya?”. Beliau bersabda: “Niscaya mereka akan bersandar (tidak beramal)”. Namun, akhirnya Mu’adzpun membeitahukan tentang hadits tersebut saat akan meninggalnya karena takut berdosa (jika menyembunyikannya)”. Muttafaqun ‘alaih.[7]

Meninggalkan merubah kemungkaran, apabila khawatir akan terjadi kemungkaran yang lebih berat dengan sebab itu:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, ”

يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ أَنَّ قَوْمُكِ حَدِيْثَ عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ َلأَمَرْتُ بِاْلبَيْتِ فَهُدِمَ فَأَدْخَلْتُ فِيْهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ. وَأَلْزَقْتُهُ بِاْلأَرْضِ وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ, بَابًا شَرْقِيًّا وَبَابًا غَرْبِيًّا فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيْمَ

Wahai ‘Aisyah, kalau bukan karena kaummu masih baru meninggalkan masa jahiliyah, niscaya aku memerintahkan untuk meruntuhkan Ka’bah, lalu aku memasukkan padanya yang telah dikeluarkan darinya (hijir Ismail) dan aku melekatkannya dengan bumi, dan aku menjadikannya dua pintu, satu pintu di Timur dan satu pintu di Barat, sehingga dengannya aku mencapai pondasi yang telah dibangun nabi Ibrahim Alaihissallam.’ Muttafaqun ‘alaih.[8]

Mengajarkan ilmu baik kepada laki-laki dan perempuan secara khusus:
Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata: Para wanita berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kaum lelaki telah mengalahkan kami atas dirimu, maka berikanlah bagi kami satu hari dari dirimu”. Maka beliau menjanjikan kepada mereka satu hari di mana beliau bertemu dengan mereka padanya. Maka beliau memberi nasehat dan memerintahkan kepada mereka. Maka di antara nasehat beliau kepada mereka:

مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ حِجَابًا لَهَا مِنَ النَّارِ. فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: وَاثْنَيْنِ.

Tidak ada seorang wanita yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya melainkan mereka menjadi penghalang baginya dari nereka.’ Maka seorang wanita berkata: “Dan bagaimana dengan dua orang?”.  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan begitu juga dua orang”. Muttafaqun ‘alaih.[9]

Seorang yang berilmu hendaknya memberi nasehat dan mengajar manusia di malam atau siang hari, di atas tanah atau kendaraan.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga pada satu malam, lalu bersabda:

سُبْحَانَ اللهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتَنِ وَمَاذَا فُتِحَ مِنَ الْخَزَائِنِ, أَيْقِظُوْا صَوَاحِبَ الْحُجَرِفَرُبَّ كَاسِيَةٍ فِى الدُّنَْيا عَارِيَةٍ فِى اْلآخِرَةِ

Maha suci Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apakah yang telah diturunkan pada malam ini dari fitnah. Apakah yang telah dibuka dari perbendaharaan. Bangunkanlah orang-orang yang ada di dalam kamar, berapa banyak yang berpakaian di dunia, bertelanjang di akhirat. HR. al-Bukhari.[10]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat ‘Isya bersama kami di akhir hayatnya. Maka tatkala beliau salam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هذِهِ فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ اْلأَرْضِ أَحَدٌ

Bagaimana pendapatmu tentang malam kamu ini, sesungguhnya awal seratus tahun yang akan datang tidak ada seorang pun dari yang hidup masa ini yang masih tersisa di atas muka bumi.” Muttafaqun ‘alaih.[11]

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu berkata:

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه قال: كنت ردف رسول الله- صلى الله عليه وسلم- على حمار يقال له عُفيرٌ قال: فقال: «يَا مُعَاذُ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ؟» قال: قلت: الله ورسوله أعلم قال: «فَإنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ وَلا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَحَقُّ العِبَادِ عَلَى اللهِ عَزّ وَجَلَّ أَنْ لا يُعَذِّبَ مَنْ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيئاً» قال قلت: يا رسول الله أفلا أبشر الناس؟ قال «لا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا». متفق عليه.

Aku berada pada boncengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas keledai yang dinamakan ‘Ufair, beliau berkata: “Wahai Mu’adz, apakah engkau tahu hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hambaNya? Dan apakah hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala? Mu’adz berkata: “Aku menjawab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba bahwa mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan hak hamba terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Mu’adz melanjutkan: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan berita gembira kepada manusia?”. Beliau menjawab: “Janganlah engkau memberitahukan tentang kabar gembira ini kepada mereka, agar mereka tidak  bersandar tanpa amal. Muttafaqun ‘alaih.[12]

Doa dan dzikir yang dibaca pada penutup majelis.
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu ia berkata, ‘Jarang sekali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dari majelis, sehingga beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:

اللّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتِكَ, وَمِنْ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ مُصِيْبَاتِ الدُّنْيَا وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَاوَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala berikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yang menghalangi antara kami dan bermaksiat kepada-Mu, dan dengan taat kepada-Mu yang menyampaikan kami kepada surga-Mu, dan dengan keyakinan yang memudahkan kami menghadapi musibah-musibah dunia. Berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama hidup kami. Jadikanlah ia sebagai warisan dari kami. Jadikanlah pembalasan dendam kami kepada yang berbuat zalim kepada kami. tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah dalam agama kami. Janganlah engkau jadikan dunia menjadi tujuan terbesar kami, dan jangan pula menjadi kesudahan pengetahuan kami. dan jangankan Engkau kuasakan kepada kami orang yang tidak sayang kepada kami”. HR. at-Tirmidzi.[13]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ جَلَسَ فِى مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيْهِ اللَّغَطُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذلِكَ: سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ:  إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِى مَجْلِسِهِ ذلِكَ.

“Barangsiapa yang duduk di suatu majelis yang banyak terjadi kegaduhan padanya, lalu sebelum berdiri dari majelisnya ia membaca:

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ, أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

(Maha suci Engkau, ya Allah, dan segala pujian bagi-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Engkau, aku meminta ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu). Melainkan diampuni baginya apa yang telah terjadi di majelisnya itu.” HR. Ahmad dan at-Tirmidzi.[14]

Adab Menuntut Ilmu

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1]  HR. al-Bukhari no. 68, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2821
[2]  HR. al-Bukhari no. 60, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 241
[3]  HR. al-Bukhari no. 95.
[4]  HR. al-Bukhari no. 90, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 466.
[5]  HR. al-Bukhari no. 1542, dan Muslim no. 1177, ini adalah lafazhnya.
[6] HR. al-Bukhari no. 61, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2811
[7]  HR. al-Bukhari no. 128, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 32.
[8]  HR. al-Bukhari no. 1586, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no 1333.
[9]  HR. al-Bukhari no. 101, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2633
[10] HR. al-Bukhari 115.
[11] HR. al-Bukhari no. 116, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2537.
[12]  HR. al-Bukhari no. 2856,dan Muslim no. 30, ini adalah lafazhnya.
[13]  Hasan. HR. at-Tirmidzi no 3502,Shahih  Sunan at-Tirmidzi no.2783, lihat Shahih al-Jami’, no 1268
[14]  Shahih HR. at-TAHmad no. 10420, dan at-Tirmidzi no 3433, ini adalah lafazhnya, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2730.

Adab Menuntut Ilmu

KITAB ILMU

2. Adab Menuntut Ilmu
Tata cara duduk untuk menuntut ilmu:

1. Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata:

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال: بَيْنَما نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَومٍ، إذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ… متفق عليه.

Tatkala kami duduk di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba seorang laki-laki  datang,  berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. tidak terlihat pada dirinya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun di antara kami yang mengenalinya. Iapun duduk menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan merapatkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi Shallallahu alaihi wa sallam …”[1]

2. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.

وعن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- خرج فقام عبد الله بن حذافة فقال: مَنْ أَبِي؟ فَقَالَ: «أَبُوكَ حُذَافَةُ» ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ يَقُولَ: «سَلُونِي» فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكْبَتَيهِ فَقَالَ: رَضِينَا بِاللهِ رَبّاً، وَبِالإسْلامِ دِيْناً، وَبِمُحَمَّدٍ- صلى الله عليه وسلم- نَبِيّاً فَسَكَتَ. أخرجه البخاري

Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam keluar lalu Abdullah bin Huzafah Radhiyallahu anhu bertanya: “Siapakah ayahku?”. Beliau menjawab: “Huzafah”. Kemudian mengucapkan secara berulang-ulang: “Bertanyalah kepadaku”. Lalu Umar Radhiyallahu anhu bersimpuh di atas kedua lututnya seraya berkata: “Aku ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam sebagai Nabi, lalu beliau terdiam”. HR. al-Bukhari.[2]

Selalu menghadiri majelis ilmu dan majlis zikir di masjid, dan memperhatikan tempat duduk yang sesuai saat masuk dan orang-orang telah berada di sekelilingnya:
Dari Abu Waqid al-Laitsi Radhiyallahu anhu bahwa dia saat duduk di masjid dan para shahabat yang lain  telah berada di sekelilingnya lalu datanglah tiga orang memasuki majlis. Lalu dua orang menuju kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sementara yang lainnya  pergi meninggalkan majlis. Keduanya berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, kemudian salah seorang dari keduanya melihat ada celah di tengah lingkaran lalu ia duduk padanya. Sementara yang lain, duduk di belakang mereka. sedangkan yang ketiga berlalu pergi meninggalkan majlis. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah selesai, beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاَثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَآوَا إِلَى اللهِ فَآوَى اللهُ عَنْهُ. وَأَمَّا اْلآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ, وَأَمَّا اْلآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ.

Maukah kalian jika aku memberitahukan kalian tentang tiga orang ini? Adapun salah seorang dari mereka, maka ia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkannya. Adapun yang kedua, maka ia merasa malu maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun merasa malu darinya. adapun yang lain, maka ia berpaling, maka berpalinglah Allah Subhanahu wa Ta’ala darinya.” Muttafaqun ‘alaih.[3]

Mengembara dalam menuntut ilmu, berkorban dalam menuntut dan memperbanyak ilmu, serta selalu rendah diri dalam segala kondisi
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu berkata:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: سمعت رسول الله- صلى الله عليه وسلم- يقول: «بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلإٍ مِنْ بَنِي إسْرَائِيلَ، جَاءَهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: هَلْ تَعْلَمُ أَحَداً أَعْلَمَ مِنْكَ؟ قَالَ مُوسَى: لا، فَأَوْحَى اللهُ إلَى مُوسَى: بَلَى عَبْدُنَا خَضِرٌ، فَسَأَلَ مُوسَى السَّبِيْلَ إلَيْهِ، فَجَعَلَ اللهُ لَهُ الحُوتَ آيَةً وَقِيلَ لَهُ: إذَا فَقَدْتَ الحُوتَ، فَارْجِعْ فَإنَّكَ سَتَلْقَاهُ، وَكَان يَتَّبِعُ أَثَرَ الحُوتِ فِي البَحْرِ، فَقَالَ لِمُوسَى فَتَاهُ: أَرَأَيْتَ إذْ أَوَيْنَا إلَى الصَّخْرَةِ فَإنِّي نَسِيْتُ الحُوتَ، وَمَا أَنْسَانِيْهُ إلا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَه، قَالَ: ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي، فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا فَوَجَدَا خَضِراً فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا الَّذِي قَصَّ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ». متفق عليه

Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ketika Musa Alaihissallam berada di tengah-tengah kaum Bani Israil, datanglah seorang lelaki sraya bertanya: “Apakah engkau mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih alim darimu? Musa Alaihissallam menjawab:  “Tidak”. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu kepada Musa: “Bahwa hamba Kami Khadhir (lebih alim dari engkau)”. Lalu Musa Alaihissallam bertanya bagaimana jalan mencarinya.  Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ikan sebagai tanda baginya.

Dikatakan kepadanya: “Apabila engkau kehilangan ikan, maka kembalilah, sesungguhnya engkau akan menemukannya. Dan ia mengikuti bekas jalan ikan di laut. Pembantunya berkata kepada Musa Alaihissallam: Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan Musa berkata:”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (al-Kahfi/18:64)

Lalu mereka bertemu dengan Khadhir. Maka cerita keduanya seperti apa yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya (surah al-Kahf).” Muttafaqun ‘alaih.[4]

Bersungguh-sungguh mencari ilmu
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أنه قال: قيل يا رسول الله: مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَومَ القِيَامَةِ؟ قَالَ رسولُ الله- صلى الله عليه وسلم-: «لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَاهُرَيرةَ أَنْ لا يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الحَدِيثِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَومَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لا إلَهَ إلَّا اللهُ خَالِصاً مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ». أخرجه البخاري

Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah!, “Siapakah orang yang paling beruntung mendapat syafaatmu di hari kiamat?”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjawab: “Sungguh!, wahai Abu Hurairah aku telah menduga bahwa tidak ada seorangpun yang mendahuluimu bertanya tentang persoalan ini, sebab aku melihat kesungguhanmu dalam menuntut hadits. Manusia yang paling beruntung mendapatkan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan: “Laailaaha illallah” (tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala) tulus dari hatinya atau jiwanya.” HR. al-Bukhari.[5]

Menulis ilmu:
1. Dari Abu Juhaifah Radhiyallahu anhu berkata:

عن أبي جحيفة قال: قلت لعلي: هَلْ عِنْدَكُمْ كِتَابٌ؟ قَالَ: لا، إلَّا كِتَابُ اللهِ، أَوْ فَهْمٌ أُعْطِيَهُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ، أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيْفَةِ، قَالَ: قُلْتُ: وَمَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ؟ قَالَ: العَقْلُ، وَفَكاكُ الأَسيرِ، وَلا يُقْتَلُ مسْلِمٌ بِكَافِرٍ. أخرجه البخاري.

Aku bertanya kepada Ali Radhiyallahu anhu: Apakah kamu mempunyai Kitab?. Ia menjawab: ‘Tidak, kecuali Kitabullah (al-Qur‘an), atau pemahaman yang diberikan kepada seorang lelaki muslim, atau yang apa ada di lembaran ini”. Ia berkata: Aku bertanya: “Apakah yang ada di dalam lembaran ini?”. Ali Radhiyallahu anhu menjawab: “Diyat, masalah pembebasan tawanan, dan seorang muslim tidak dibunuh karena membunuh orang kafir.” HR. al-Bukhari.[6]

2. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ- صلى الله عليه وسلم- أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثاً عَنْهُ مِنِّي إلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِاللهِ بنِ عَمْرو، فَإنَّه كَانَ يَكْتُبُ وَلا أَكْتُبُ. أخرجه البخاري

Tidak ada seorang sahabatpun yang mempunyai hadits lebih banyak dari padaku kecuali Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, maka sesungguhnya ia menulis (hadits) dan aku tidak menulisnya.” HR. al-Bukhari.[7]

Apabila seseorang malu bertanya, maka memintalah kepada orang lain untuk menanyakan masalahnya.
Dari Ali Radhiyallahu anhu berkata:

عن علي رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً، وَكُنْتُ أَسْتَحِيي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمْرتُ المِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ، فَسَأَلَهُ، فَقَالَ: «يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ». متفق عليه.

Aku seorang yang banyak keluar mazi dan merasa malu bertanya kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam karena kedudukan putri beliau (Fathimah). Maka akupun meminta al-Miqdad bin al-Aswad Radhiyallahu anhu (untuk bertanya masalah ini). Ia bertanya tentang masalah itu. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah dia membersihkan zakarnya lalu berwudhu”. Muttafaqun ‘alaih.[8]

Mendekati imam saat memberi nasehat.
Dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه أن نبي الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «احْضُرُوا الذِّكْرَ، وَادْنُوا مِنَ الإمَامِ، فَإنَّ الرَّجُلَ لا يَزَالُ يَتَبَاعَدُ حَتَّى يُؤَخَّرَ فِي الجَنَّةِ وَإنْ دَخَلَهَا». أخرجه أبو داود

Hadirilah majlis zikir dan dekatlah dengan imam, maka sesungguhnya seorang laki-laki senantiasa menjauh sehingga dimundur di surga, sekalipun dia memasukinya.” HR. Abu Daud.[9]

Beradab dengan adab yang disyari’atkan pada saat berada pada majelis, di antaranya:
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١ ﴾ [المجادلة: ١١] 

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Mujadilah/58: 11]

2. Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda:

وعن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُقِيمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَلَكِنْ تَفَسَّحُوا وَتَوَسَّعُوا». متفق عليه

Janganlah seseorang meminta orang lain berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia duduk menempati tempat orang itu. Akan tetapi berlapang-lapanglah dan memperluas.’ Muttafaqun ‘alaih.[10]

3. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «مَنْ قَامَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ رَجَعَ إلَيْهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ». أخرجه مسلم.

Barangsiapa yang berdiri dari tempat duduknya kemudian ia kembali kepadanya, maka ia lebih berhak dengannya.’ HR. Muslim.[11]

4. Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu anhu berkata:

وعن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال: كُنَّا إذَا أَتَيْنَا النَّبِيَّ- صلى الله عليه وسلم- جَلَسَ أَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهِي. أخرجه أبو داود والترمذي

Apabila kami mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam maka salah seorang dari kami duduk di tempat di mana dia sampai.” HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi. [12]

5. Dari Amar bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وعن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: «لا يُجْلَسْ بَيْنَ رَجُلَينِ إلَّا بِإذْنِهِمَا». أخرجه أبو داود.

Tidak boleh dipisah di antara dua orang laki-laki yang sedang duduk kecuali dengan izin keduanya.[13]

6. Dari asy-Syarid bin Suwaid Radhiyallahu anhu berkata:

وعن الشريد بن سويد رضي الله عنه قال: مَرّ بِي رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا جَالِسٌ هَكَذَا، وَقَدْ وَضَعْتُ يَدِيَ اليُسْرَى خَلْفَ ظَهْرِي وَاتَّكَأْتُ عَلَى أَلْيَةِ يَدِي، فَقَالَ «أَتَقْعُدُ قِعْدَةَ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ». أخرجه أحمد وأبو داود

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melewati aku, sedangkan aku sedang duduk seperti ini, dan aku meletakkan tangan kiriku di belakang punggungku, dan aku bersandar di atas tanganku. Maka beliau bersabda: “Apakah engkau duduk seperti duduknya orang-orang yang dimurkai?”. HR. Ahmad dan Abu Daud.[14]

7. Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: قال رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم-: «إذَا كُنْتُمْ ثَلاثَةً فَلا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ صَاحِبِهِمَا فَإنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ» متفق عليه

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik dan meninggalkan yang ketiga, karena sesungguhnya hal itu menyakiti hatinya.’ Muttafaqun ‘alaih.[15]

[Disalin dari مختصر الفقه الإسلامي   (Ringkasan Fiqih Islam Bab :  Tauhid dan keimanan التوحيد والإيمان ). Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri  Penerjemah Team Indonesia islamhouse.com : Eko Haryanto Abu Ziyad dan Mohammad Latif Lc. Maktab Dakwah Dan B imbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2012 – 1433]
_______
Footnote
[1] HR. al-Bukhari no. 50, dan Muslim no. 8, ini adalah lafazhnya.
[2]  HR. al-Bukhari no. 93.
[3]  HR. al-Bukhari  no. 66, ini adalah lafazhnya dan Muslim no. 2176.
[4]  HR. al-Bukhari no. 74, ini adalah lafazhnya, dan Muslim no. 2380.
[5]  HR. al-Bukhari no. 99
[6]  HR. al-Bukhari no. 111.
[7]  HR. al-Bukhari no. 113.
[8]  HR. al-Bukhari no. 269, dan Muslim no. 303, ini adalah lafazhnya.
[9]  Hasan HR. Abu Daud no. 1108, Shahih Sunan Abu Daud no. 980.
[10]  HR. al-Bukhari no. 6270, dan Muslim no. 2177
[11] HR. Muslim no. 2179.
[12]  Shahih HR. Abu Daud no. 4825, Shahih Sunan Abu Daud no. 4040, dan at-Tirmidzi no. 2725, Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2193
[13]  Hasan HR. Abu Daud no. 4844, Shahih Sunan Abu Daud no. 4054.
[14]  Shahih HR. Ahmad no. 19683, dan Abu Daud no. 4848, Shahih Sunan Abu Daud no. 4058.
[15]  HR. al-Bukhari no. 6290, dan Muslim no 2184, ini adalah lafazhnya.