almanhaj.or.id news feed  [Valid RSS]

Berdakwah Dengan Akhlak Mulia

Rabu, 15 Mei 2013 23:38:45 WIB
Kategori : Akhlak

Memilih kata-kata yang baik dan memperhatikan psikologis seseorang sangat menentukan keberhasilan dakwah. Penulis pernah mendapatkan cerita dari saksi mata obrolan antara seorang ikhwan yang sudah ngaji dengan seorang awam yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Orang awam tadi membuka obrolannya dengan kekagumannya akan perkembangan pembangunan fisik kota tempat mereka berdua tinggal yang begitu cepat dan maju. Namun ikhwan tadi langsung menangkis, "Ya, itukan cuma lahiriahnya saja. Tapi kalau kita lihat jiwa-jiwa penduduknya, ternyata kosong dan rapuh!". Begitu mendengar balasan lawan bicaranya, muka orang awam tadi langsung berubah dan terdiam. Kita bukan sedang meragukan niat baik ikhwan tadi, namun tidakkah ada kata-kata yang lebih santun? Haruskah kita 'menabrak' langsung lawan bicara kita. Bukankah itu akan mengakibatkan dakwah kita sulit untuk diterima? Bukankah akan lebih enak didengar dan diterima jika ikuti alur pembicaraannya, lalu secara perlahan kita arahkan kepada poin yang kita sampaikan? Misalnya kita katakan pada orang awam tersebut, "Betul Pak, pembangunan fisik kota kita ini memang amat membanggakan, dan ini amat bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi masyarakat.
 

Metode Pendekatan Akhlak Ibnu Taimiyah Dalam Mendakwahi Masyarakat

Selasa, 14 Mei 2013 23:41:27 WIB
Kategori : Akhlak

Para dai akan menghadapi masyarakat yang memiliki hawa nafsu dan kesenangan yang susah mereka tinggalkan. Musuh dakwah pada umumnya adalah orang-orang yang hidup bergelimang kemewahan. Mereka takut kehilangan kedudukan bila dakwah Islamiyah menang. Dengan kekayaan yang dimiliki, mereka dapat memanfaatkan orang-orang bayaran untuk melawan dakwah. Tidak dipungkiri, menghadapi orang-orang seperti itu tentu sangat beresiko, karena kemungkinan besar akan mengadakan perlawanan. Namun, perlu diketahui, bahwa ini selalu menjadi jalan para dai ilal haq, sebab jalan para dai tidak pernah dihiasai dengan bunga-bunga yang wangi. Seorang dai yang mengemban tugas menyelamatkan mereka (orang-orang yang bergelimang kemewahan) dari pengaruh buruk hawa nafsu mereka sendiri dan mengentaskan umat dari mereka memerlukan kesiapan seperti keimanan kuat dan akhlak yang mulia. Maka, menjadi kewajiban para dai untuk memperbekali diri dengan akhlak mulia dimana yang paling penting dari akhlak itu adalah kesabaran, lemah-lembut, dan mudah memberi maaf serta berbuat baik kepada mereka.
 

Mengimani Shirâth, Jembatan Di Atas Neraka

Senin, 13 Mei 2013 23:21:53 WIB
Kategori : Bahasan : Aqidah

Meski banyak sekali dalil yang mengharuskan umat mengimani adanya shirâth, namun ada saja kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, yaitu kaum Mu’tazilah. Mereka tidak mengimani adanya shirâth yang hakiki pada hari Kiamat, karena –menurut mereka- hal itu tidak masuk akal dan tidak logis (?!). Syubhat yang merasuki hati mereka dalam pengingkaran ini, bagaimana mungkin manusia bisa melewati di atas benda yang lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang, amat licin dan selalu bergerak-gerak? Para Ulama telah membantah dan menjawab pernyataan aneh mereka ini dan orang-orang yang meragukan wujud shirâth, seperti Imam al-Qurthubi rahimahullah. Setelah menyebutkan perkataan mereka, beliau berkata, "Apa yang disebutkan oleh orang ini adalah tertolak berdasarkan hadits-hadits yang kita sebutkan, bahwa beriman dengan hal itu adalah wajib. Sesungguhnya (Allâh) Dzat yang mampu menahan burung di udara, tentu sanggup menahan orang Mukmin di atas shirâth tersebut. Baik, dengan berlari maupun berjalan. Tidak boleh dialihkan dari makna hakiki kepada makna majazi kecuali bila mustahil..."
 

Keluasan Ampunan Allah Subhanahu Wa Ta'ala Yang Maha Luas

Minggu, 12 Mei 2013 21:53:01 WIB
Kategori : Bahasan : Hadits (1)

Tauhid merupakan faktor terbesar penyebab ampunan. Barangsiapa tidak mempunyai tauhid, ia tidak mendapatkan ampunan. Barangsiapa membawa tauhid, sungguh ia membawa aspek terbesar penyebab ampunan. Allâh Azza wa Jalla berfiman : "Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki…” Barangsiapa datang dengan bertauhid dan membawa kesalahan-kesalahan seberat bumi, ia ditemui Allâh dengan ampunan seberat bumi pula, namun ini sesuai dengan kehendak Allâh Azza wa Jalla . Jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya. Jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya karena dosa-dosanya, namun dia tidak kekal di neraka dan akhirnya akan dimasukkan surga. Jika tauhid seorang hamba dan keikhlasan kepada Allâh sempurna, syarat-syaratnya ditunaikan dengan hati, lisan dan anggota tubuhnya, atau dengan hati dan lisannya ketika hendak meninggal dunia, maka itu semua menyebabkan dirinya mendapatkan ampunan dari dosa-dosa silamnya dan menghalanginya masuk neraka. Jadi, barangsiapa mengisi hatinya dengan tauhid, maka semua yang bertentangan dengannya akan tersingkir. Ketika itulah, seluruh dosa dan kesalahan-kesalahannya akan sirna meski sebanyak buih di laut.
 

Jangan Memberontak Kepada Penguasa Zhalim!

Sabtu, 11 Mei 2013 22:09:25 WIB
Kategori : Bahasan : Manhaj

Dahulu, orang-orang mulia dari kaum muslimin melarang kaum Muslimin untuk keluar dan ikut berperang saat fitnah (pemberontakan; perang antar umat Islam karena dunia berkobar). Sebagaimana Abdullâh bin Umar, Sa’id bin al-Musayyib, ‘Ali bin al-Husain, dan lainnya yang melarang pemberontakan terhadap Yazîd pada tahun Harrah (waktu pemberontakan penduduk Madinah). Begitu juga al-Hasan al-Bashri, Mujâhid, dan lainnya yang melarang ikut memberontak pada waktu pemberontakan Ibnul Asy’ats berkobar. Oleh karena sikap Ahlus Sunnah untuk meninggalkan peperangan saat fitnah (perang antar umat Islam karena dunia; ketika tidak jelas kebenaran; dan semacamnya) berdasarkan hadits-hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ahlus Sunnah menyebutkan masalah ini dalam aqidah-aqidah mereka, dan mereka memerintahkan bersabar dalam menyikapi kezhaliman para penguasa dan tidak memerangi mereka. Walaupun banyak ahli ilmu dan agama yang telah ikut berperang di zaman fitnah. Karena memang masalah memerangi bughât (pemberontak) dan amar ma’ruf nahi mungkar mirip dengan berperang di zaman fitnah, namun bukan di sini penjabarannya.
 

Kaya Dan Sukses Dunia Akhirat, Mungkinkah?

Jumat, 10 Mei 2013 07:40:57 WIB
Kategori : Risalah : Rizqi & Harta

Perlu dicamkan di sini, bahwa ayat-ayat al-Qur`ân dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berisi celaan terhadap harta dan dunia, bukanlah berarti celaan terhadap zat harta dan dunia itu sendiri. Akan tetapi, maksudnya adalah celaan terhadap kecintaan yang berlebihan terhadapnya sehingga melalaikan manusia dari mengingat Allâh Azza wa Jalla , dan tidak menunaikan hak Allâh Azza wa Jalla padanya, sebagaimana firman-Nya: "Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allâh, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih". Imam Ibnu Muflih al-Maqdisi rahimahullah berkata: "Dunia (harta) tidaklah dilarang (dicela) pada zatnya, tapi karena (dikhawatirkan) harta itu menghalangi (manusia) untuk mencapai (ridha) Allâh Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana kemiskinan tidaklah dituntut (dipuji) pada zatnya, tapi karena kemiskinan itu (umumnya) tidak menghalangi dan menyibukkan (manusia) dari (beribadah kepada) Allâh Azza wa Jalla . Berapa banyak orang kaya yang kekayaannya tidak melupakannya dari (beribadah kepada) Allâh Subhanahu wa Ta’ala, seperti Nabi Sulaimân Alaihissallam, demikian pula (Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) 'Utsmân (bin 'Affân) Radhiyallahu anhu dan 'Abdur Rahmân bin 'Auf Radhiyallahu anhu.
 

First  Prev  1  2  3  4  5  6  7  8  9  10  Next  Last

Bismillaahirrahmaanirrahiim Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasul termulia, juga kepada seluruh keluarga dan shahabatnya. Amma ba'du. Website almanhaj.or.id adalah sebuah media dakwah sangat ringkas dan sederhana, yang diupayakan untuk ikut serta dalam tasfiyah (membersihkan) umat dari syirik, bid'ah, serta gerakan pemikiran yang merusak ajaran Islam dan tarbiyah (mendidik) kaum muslimin berdasarkan ajaran Islam yang murni dan mengajak mereka kepada pola pikir ilmiah berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari website ini datangnya dari Allah Ta'ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati. Semua tulisan atau kitab selain Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahihah dan maqbul, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan dibenarkan. Barangsiapa yang melihat adanya kesalahan hendaknya meluruskannya. Hati kami lapang dan telinga kami mendengar serta bersedia menerima. Semoga Allah menjadikan upaya ini sebagai amalan shalih yang bermanfaat pada hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, melainkan orang yang menemui Rabb-nya dengan amalan shalih. Jazaakumullahu khairan almanhaj.or.id Abu Harits Abdillah - Redaktur Abu Khaulah al-Palimbani - Web Admin