Korelasi Antara Iman Dan Keamanan

STABILITAS KEAMANAN NEGARA[1]

KORELASI ANTARA IMAN DAN KEAMANAN
Antara keamanan dan iman terdapat korelasi dan ikatan yang sangat erat. Keamanan akan semakin kuat dengan kuatnya iman; dan sebaliknya keamanan akan semakin melemah seiring dengan melemahnya iman. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [Al-An’am/ 6: 82]

Iman dan keamanan merupakan dua sejoli yang selalu beriring sejalan. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Setiap kali iman menguat, maka keamanan pun akan menguat. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. [Al-An’am/ 6: 48]

Allâh Azza wa Jalla telah menghilangkan rasa takut dari mereka, sebagai buah dari keimanan mereka dan usaha perbaikan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, seperti telah disebutkan, bila keimanan seorang hamba semakin kuat dan menanjak, maka menguat pula bagian keamanan yang ia raih, sesuai dengan kadar kuatnya iman yang ada padanya. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala , Dialah yang memberikan rasa aman kepada orang yang merasa takut, dan memberi perlindungan kepada orang yang meminta perlindungan kepada-Nya. Dan Allâh pula yang memberi penjagaan kepada para hamba-Nya; yakni dengan memberikan bantuan dan pertolongan, taufiq serta kemenangan dari-Nya; tak ada sekutu sama sekali bagi-Nya.

Hendaknya kita merenungi janji Allâh Azza wa Jalla kepada para kaum Mukmin. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allâh telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. [An-Nûr/ 24: 55]

Di sini Allâh Azza wa Jalla menegaskan :

وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا 

Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa Bahwa Allâh akan menukar rasa takut mereka dengan rasa aman. Dan perubahan yang dirasakan manusia dari rasa takut menjadi rasa aman, termasuk diantara buah keimanan dan buah dari amal-amal shalih berupa ketaatan dan taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla . Berdasarkan ini, kita bisa diketahui bahwa siapa yang menginginkan keamanan, baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakatnya, maka hendaknya ia memperhatikan masalah iman dan amal shalih. Yaitu dengan menunaikan dan mewujudkannya dalam dirinya, juga dengan mendakwahkannya kepada orang lain, serta dengan tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Sebagaimana yang Allâh Azza wa Jalla firmankan:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Al-Ashr/ 103: 1-3]

Maka apabila kita menginginkan agar di tengah masyarakat kita terwujud keamanan dan keimanan serta ketenangan, maka hendaknya mereka merealisasikan iman. Dan hendaknya mereka bahu membahu untuk mewujudkannya di tengah masyarakat. Dan janganlah mereka menyia-nyiakan iman. Sebab menyia-nyiakan iman sama saja dengan menghalangi diri dari keamanan.

Bila ini adalah janji Allâh untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka hendaklah kita merenungkan juga tentang ancaman dari Allâh Azza wa Jalla dalam masalah ini bagi orang yang menodai dan merusak keimanannya. Kita akan menilik perumpamaan yang Allâh Azza wa Jalla buat dalam al-Quran di bagian akhir dari Surat an-Nahl. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

Dan Allâh telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allâh; karena itu Allâh merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. [An-Nakhl/ 16: 112]

Dalam ayat tersebut terdapat ancaman, deskripsi yang menakutkan, dan peringatan terhadap para hamba, agar jangan sampai mereka melakukan suatu hal yang mengakibatkan sirnanya rasa aman dari diri mereka dan mendatangkan kerugian mereka, baik di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, tanggung jawab manusia dalam memelihara dan menjaga keamanan adalah tanggungjawab yang sangat besar. Yaitu dengan berjuang melawan nafsu untuk dapat merealisasikan keimanan yang membuahkan keamanan. Juga dengan bekerja sama untuk tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, berdakwah mengajak manusia menuju agama Allâh, memberi nasihat kepada sesama, serta memotivasi mereka untuk berbuat kebaikan dan kebajikan. Karena ini semua adalah di antara hal utama yang bisa menghadirkan rasa aman di negeri dan tanah air.

Terkadang sebagian manusia diberi ujian fitnah yang begitu mengguncang. Ada pihak-pihak yang mengobarkannya. Dan di belakangnya ada pihak-pihak yang menggerakkannya. Dalam menghadapi fitnah-fitnah seperti ini, sudah seyogyanya bagi seorang Muslim untuk tidak turut andil dalam mengoyak dan menyia-nyiakan rajut keamanan. Banyak orang yang lengah mengenai hal ini. Mereka justru bergegas-gegas untuk ikut terjun ke dalam lingkaran fitnah tersebut. Ia tampil ke hadapan untuk menghadapi fitnah ini, sehingga iapun justru melakukan tindakan yang melukai dan mencelakakan dirinya dan juga orang lain.

Ali bin Abi Thalib berkata seperti disebutkan secara shahih dalam kitab al-Adabul Mufrad, karya al-Imam al-Bukhâri rahimahullah :

لَا تَكُونُوا عُجُلًا مَذَايِيعَ بُذُرًا فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ بَلاءً مُبَرِّحًا مُكْلِحًا. وَأُمُورًا مُتَمَاحِلَةً رُدُحاً

Janganlah kalian menjadi orang yang tergesa-gesa; yang menjadi sumber penebar berita, dan penanam benih-benih fitnah (atau yang suka mengumbar rahasia). Karena sesungguhnya akan muncul di belakang kalian cobaan yang begitu berat dan membuat orang bermuram durja; akan ada hal-hal (berbagai fitnah) yang begitu panjang lagi memayahkan.

 Di sini Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu memperingatkan akan tiga hal di atas, namun banyak manusia yang bergegas-gegas melakukannya sehingga mereka pun menjadi sebab terganggunya stabilitas keamanan di tengah masyarakatnya tatkala terjadi fitnah dan kekacauan. Di sini Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Janganlah kalian menjadi orang yang tergesa-gesa (dalam suatu hal), yang mudah menebarkan dan menyiarkan sesuatu dan menyemai benih-benih (kerusakan).” Beliau z memperingatkan dari tiga hal tersebut.

Pertama: Sikap tergesa-gesaan. Sikap ini berbahaya bagi seseorang. Yang baik bagi seseorang adalah bersikap perlahan-lahan. Sikap ini menjadikan seseorang aman terjaga dari kesalahan. Karena itulah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata:

إِنَّهَا سَتَكُونُ أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ , فَعَلَيْكُمْ بِالتُّؤَدَةِ , فَإِنَّكَ أَنْ تَكُونَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَكُونَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

Sungguh, akan ada perkara-perkara yang samar-samar; maka dari itu bersikaplah dengan tenang dan pelan-pelan (tidak tergesa-gesa). Sesungguhnya ketika engkau menjadi pengikut dari kebaikan, itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin (tapi dalam-red) keburukan.

Karena itu sudah seyogyanya bagi seorang Muslim untuk tidak tergesa-gesa dan terburu-buru. Hendaknya ia bersikap tenang, perlahan-lahan, tidak grusa-grusu (terburu-buru), melakukan sesuatu dengan gegabah tanpa berpikir dulu. Ini supaya ia tidak berbuat keburukan yang menimpa dirinya dan juga orang lain.

Kedua: Adalah agar ia tidak menjadi orang yang dengan mudah menebarkan sesuatu berita. Janganlah ia menebar berita dan isu sesuka hatinya, tanpa memeriksanya terlebih dahulu, tanpa berpikir dan berhati-hati. Ini adalah petaka besar. Karena ada orang yang memang suka menyiarkan dan menyebarkan berita yang bisa mengganggu keamanan masyarakat, membahayakan masyarakat, padahal berita itu sama sekali tidak benar dan tidak berdasar. Itu hanya berita bohong yang tidak ada faktanya, namun berita ini berpotensi menanamkan kegelisahan yang besar dan rasa takut serta membuka pintu keresahan.

Maka janganlah menjadi orang yang mudah menebarkan berbagai berita. Jangan sampai menjadi perangkat yang kerjanya adalah menebarkan berita tanpa kehati-hatian, tanpa memeriksa keabsahannya. Maka orang yang seperti ini, ia akan menjadi bibit penyakit dan malapetaka di tengah masyarakat.

Ketiga: Suka menyemai fitnah dan mendorong untuk membangkitkannya di tengah masyarakat. Ada orang yang memang suka melakukan hal ini. ia menyemai dan menebar fitnah di tengah masyarakat. Bisa saja ia tidak ikut serta dalam tindakan tersebut, namun ia menyemaikan benih-benih yang mengobarkan fitnah di masyarakat. Memang benih-benih fitnah seperti ini telah terjadi di masa-masa pertama, namun dalam koridor dan ruang lingkup yang sempit. Namun pada masa kita sekarang ini, dengan keberadaan berbagai media informasi dan teknologi modern, benih-benih fitnah tersebut muncul dan terjadi di tengah masyarakat dengan begitu cepat dan luas. Sebagian orang ketika menyemai benih-benih fitnah, ia menyebarkannya dengan tenang dan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui bahwa ialah dalang dari fitnah tersebut. Namun sejatinya ia lupa atau lengah, bahwa Allâh Azza wa Jalla maha mengetahui segala gerak-geriknya. Dan Allâh Azza wa Jalla akan menghisabnya atas semua yang telah ia lakukan, atas andil yang ia berikan dan apa yang telah ia sebabkan di tengah kaum Muslimin.

Banyak orang jika fitnah telah berkobar, mereka ingin terlibat dalam fitnah tersebut, mungkin dengan pendapat atau perkataan, perbuatan atau dengan yang lainnya. Namun hakekatnya ini adalah musibah yang besar bagi orang yang nekat masuk dalam fitnah dan melibatkan dirinya di dalam fitnah walaupun dengan pendapatnya atau fikirannya atau dukungannya dan yang semisalnya.

Hendaklah dalam menyikapi hal ini, seyogyanya seorang tetap tenang dan tidak tergesa gesa karena inilah yang diwasiatkan Allâh kepada hamba-Nya dan memerintahkan mereka untuk itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allâh kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu). [An-Nisâ/4:83]

Perhatikan kalimat “mereka lalu menyiarkannya”

Maka berdasarkan ini, untuk menjaga keamanan masyarakat haruslah dengan memperhatikan sisi ini (yaitu tidak langsung menyiarkan setiap berita yang datang), dan menjaga agar tetap tenang (tidak tergesa gesa) serta mengembalikan segala perkara kepada Ulama, ahli ilmu, yang keilmuannya mapan, ahli bashîroh, mempunyai pengetahuan yang benar terhadap agama Allâh Azza wa Jalla .

Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya,”Kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka,” yaitu para Ulama yang mapan dalam keilmuannya. Yang agamanya kuat, ahli diroyah yang mengambil hukum dengan benar dari kitab Allâh, “tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka.”

Adapun jika dia mengemukakan pendapat atau perkataannya sendiri dan yang semisalnya, padahal dia tidak punya pandangan yang benar dan tidak punya ilmu maka ini adalah musibah besar serta tindakan kriminal terhadap dirinya sendiri dan terhadap masyarakatnya. Oleh karena itu, wajib bagi orang-orang awan dalam menyikapi perkara yang seperti ini untuk segera (mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla ) dengan beribadah kepada-Nya. Ini dari satu sisi dan merujuk kepada para Ulama dari sisi yang lain, mendengarkan perkataan mereka dan mengambilnya dari mereka. sebagaimana datang dalam sebuah hadits yang shahih Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

Beribadah di musim fitnah seperti berhijrah kepadaku [HR. Imam Muslim]

Perhatikan bagaimana keutamaan beribadah dan bersandar kepada Allâh disaat fitnah!

Para Ulama telah menjelaskan penyebab pahala yang begitu besar yang bisa diraih dengan ibadah yaitu seperti berhijrah kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Karena kebanyakan orang ketika timbul fitnah di tengah-tengah masyarakat justru mereka ikut terlibat baik dengan pendapat, perkataan dan perbuatan dan yang lainnya. Sedikit sekali yang kembali (mendekatkan diri) dengan ibadah, berlindung kepada Allâh Azza wa Jalla dan menundukkan diri dihadapan-Nya, karena itulah dalam hadits yang shahih Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مَا فُتِحَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْخَزَائِنِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجْرَةِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٌ فِي الْآخِرَةِ

 La ilâha illallâh, betapa banyak perbendaharaan harta yang Allâh turunkan pada malam ini. La ilâha illallâh, betapa banyak fitnah yang Allâh turunkan pada malam hari ini. Siapakah yang membangunkan para pemillik kamar ini untuk shalat? (Maksudnya adalah para istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Betapa banyak wanita yang memakai baju di dunia namun dia telanjang pada hari kiamat

Ringkasnya adalah Rasûlullâh menunjukkan bila terjadi fitnah, hendaklah kita mendekatkan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan ibadah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجْرَةِ

Siapa yang akan membangunkan para pemilik kamar ini (untuk melakukan shalat)?

Oleh karena itu, hendaklah diketahui bahwa shalat adalah saat memohon perlindungan. Dahulu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , apabila kesulitan dalam suatu perkara, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas melaksanakan shalat. Sedikit sekali, orang yang bergegas menunaikan shalat ketika terjadi musibah dan fitnah dan memohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla , memohon kepada-Nya, menyerahkan urusannya kepada Allâh Azza wa Jalla , terlebih lagi di sepertiga malam terakhir. Perkataan Beliau, yang artinya, “Siapakah yang membangunkan para pemilik kamar untuk melaksanakan shalat?” maksudnya, shalat di sepertiga malam terakhir. Karena waktu itu adalah waktu yang paling diharapkan untuk dikabulkannnya doa para hamba, sebagaimana dalam hadits. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

 Rabb kita turun ke langit dunia (langit terendah) tatkala tersisa sepertiga malam yang terakhir kemudian Allâh berfirman , ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan! Barangsiapa meminta kepada-Ku maka akan Aku berikan dia dan barangsiapa meminta ampun kepada-Ku, maka akan Aku ampuni dia. [HR. Al-Bukhâri]

Sesungguhnya manusia sebagaimana telah dikabarkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua kelompok. Dalam sebuah hadits dalam sunan Timidzi dengan sanad yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ فقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang terbaik diantara kalian dari orang yang terburuk diantara kalian? Seorang Sahabat berkata, “Tentu, wahai Rasûlullâh!” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan tidak ditakutkan keburukannya. Sedangkan yang terburuk diantara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan  tidak merasa aman dari gangguannya”

Jadi, manusia ada dua macam.

Kelompok Pertama; Kelompok orang baik lagi mulia, kegiatannya menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat, menyebarkan kasih sayang dan rasa cinta, saling menolong dalam kebaikan, menyambung silaturrahmi, bekerja sama dan mengajak kepada kebaikan, membantu anak yatim, membantu orang miskin dan yang membutuhkan, memperhatikan para janda serta amal kebaikan lainnya. Semua yang dilakukannya mendatangkan manfaat besar, hingga masyarakat mengharapkan kebaikannya. Bahkan banyak yang membicarakan kebaikan kelompok pertama ini. Berbagai pujian terus terlontar, meski mereka tidak berharap; Masya Allâh, Alangkah baiknya! Masya Allâh, Alangkah bagus perbuatan yang dilakukannya! Masya Allâh, Alangkah banyak kebaikan yang dia lakukan dan kalimat sanjungan  lainnya. Dan pada waktu yang sama, masyarakat merasa aman dari kejelekannya; Mereka tidak khawatir akan muncul ganguan darinya atau melakukan keburukan terhadap orang-orang yang ada disekitarnya.

Kelompok Kedua; sekelompok orang yang telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sifat mereka:

مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ

Orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak merasa aman dari gangguannya

Ini adalah musibah bagi manusia dan bencana atas masyarakat. Oleh karenanya, disebutkan dalam hadits yang lain yang diriwayatkan Ibnu Majah rahimahullah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu kejelekan dan sesungguhnya diantara manusia ada yang menjadi pembuka pintu-pintu kejelekan dan penutup pintu- pintu kebaikan. Maka beruntunglah orang-orang yang Allâh jadikan kunci-kenci kebaikan ada tangannya dan celakalah orang yang Allâh jadikan kunci-kunci kejelekan ada tangannya”

Ya, diantara manusia ada yang menjadi kunci kebaikan untuk orang lain. Dia membukanya walaupun tidak langsung melalui tangannya atau perbuatannya, akan tetapi melalui pendapatnya, pikirannya, dengan motivasinya dan lain sebagainya sehingga pintu-pintu kebaikan terbuka.

Sebaliknya, ada juga sebagian orang yang menjadi pembuka pintu kejelekan untuk orang lain dan masyarakat sekitarnya, sehingga dia mendatangkan petaka besar untuk mereka.

Di antara mereka ada mendatangkan keamanan, ketentraman, ketenangan dan kebahagiaan dan sebaliknya ada yang menjadi sumber keburukan dan mengundang bahaya, bahkan ada yang menjadi pembesar kejelekan, ketika ia menjadi penyeru suatu pemikiran tertentu dan menyuarakan fitnah dan kejelekan.

Kejelekan mempunyai dua sumber dan memiliki dua akibat. Seyogyanya seorang Muslim mengetahui dua sumber kejelekan ini dan dua akibat kejelekan ini, disamping dia juga harus senantiasa memohon perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla agar Allâh melindunginya dari hal tersebut.

Maka marilah kita renungi bersama, jaga dan hafalkan doa yang telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk di baca tiga kali sehari, dibaca sekali diwaktu pagi, sekali di sore hari dan sekali ketika hendak tidur. Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa mengamalkannya.

اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ , أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ , وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Ya Allah! Wahai Rabb! Pencipta langit dan bumi; Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata; Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang Muslim

Keempat hal yang disebutkan dalam doa ini berhubungan dengan kejelekan. Dua yang pertama adalah sumber kejelekan yaitu hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kejelekan dan syaitan.

أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, syaitan dan balatentaranya

Oleh karena itu setiap Muslim perlu di setiap paginya, sore dan ketika menjelang tidur untuk meminta perlindungan kepada Allâh Azza wa Jalla dari dua sumber kejelekan ini dan dijauhkan darinya.

Dan pada waktu yang sama juga memohon perlindungan dari akibat kejelekan dan apa yang ditimbulkannya.

وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

aku (berlindung kepada-Mu) dari berbuat kejelekan terhadap diriku atau menyeretnya kepada seorang Muslim

 Jika keburukan sudah bercokol di dalam jiwa seseorang, maka akibatnya dia menimpakan kejelekan bagi dirinya sendiri atau kepada orang lain, sehingga dengan demikian dia membahayakan dirinya dan orang lain.

Semua ini termasuk faktor-faktor yang bisa menciptakan rasa aman dan menjauhkan dari kejelekan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XX/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Disarikan dari ceramah Syaikh Prof Dr Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al-Abbad di Masjid Istiqlal Jakarta pada tanggal 26 Februari 2017M